
KUKAITKAN rambutku ke belakang telinga. Memicingkan mata pada alat yang sedang kupegang. Dadaku sesak sekali. Air mataku menggenang di pelupuk mata. Rasanya kiamat akan segera tiba. Tak percaya sampai di situ, aku mengambil tester pack lainnya dan menyentuhkannya ke air seniku. Hasilnya tetap sama, “POSITIF”.
Napasku terengah-engah bersamaan dengan air mata yang terus mengalir. Hati ini sakit sekali. Aku tak menginginkannya, aku tak pernah melakukan apapun. Mengapa hasilnya seperti ini? Apa yang harus kuperbuat?
Kupakai lagi celanaku. Meraup seluruh tester pack yang berserakan di porselen dan membuangnya ke tempat sampah. Aku hanya mengambil satu dan menggenggamnya erat-erat. Kutarik pintu toiletnya dan berlari ke ruang tengah. Kebetulan seluruh keluargaku sedang berkumpul.
Mereka iba ketika melihatku menangis tertahan. Dadaku naik turun menahan amarah. Eomma lebih dulu menyambutku, “Sooran-ah, gwaenchana?”
Read the rest of this entry



