
Super Junior’s Dorm, Korea – Evening
Teuki berkacak pinggang, Hankyung menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Donghae dan Eunhyuk duduk bersimpuh dengan kedua tangan ke atas dan kepala menunduk.
“Apa sih yang ada di pikiran kalian? Masa tingkah seorang idol seperti itu? Lee Donghae, Lee Hyukjae, berapa umur kalian?” tanya Teuki tegas.
“Dua puluh empat, Hyung.”
“Apa pantas seorang namja melompat-lompat di atas sofa beradu bantal?” Teuki mulai mengedarkan pandangannya mengawasi ruang tengah yang sudah berantakan penuh bulu yang berasal dari bantal yang Donghae dan Eunhyuk pukulkan untuk berperang.
Donghae menyikut lengan Eunhyuk, menyalahkan sahabatnya itu.
“Bersihkan!” teriak Teuki. “Hyukjae, jangan cari masalah di dorm orang. Balik sana ke dorm-mu!”
Mereka berdua menurut. Hankyung tidak tertarik melihat mereka menyapu, maka dari itu ia masuk ke kamarnya. Pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang Xiao You.
Jika dari dua hari yang lalu dia kemari, mengapa sampai sekarang dia belum juga menemuiku? Ada apa dengannya? Batinnya.
“Hankyung-ah,” Heechul muncul dari balik tembok dan menghambur ke pelukan Hankyung dan menyerangnya dengan kecupan.
“HYAAA, apa-apaan sih ah!” teriaknya seraya melepaskan diri dari Heechul dan melap pipinya.
Heechul melayang-layang sinting dan gelayutan di lemari, “Aku sudah tahu namanya. Ah, gadis yang manis, cantik, dan lembut. Kalau kau melihatnya…,” ia berpikir sejenak, “…ah jangan deng. Nanti kau ambil.”
“Aish, sudah kubilang aku takkan mungkin menyukai hantu!” Hankyung berbalik menghadap Heechul, “Siapa namanya?” Read the rest of this entry →