AKU demam. Entah karena syok melihat Siwon bermesraan dengan wanita lain atau karena pernyataan cinta Donghae. Sudah empat hari ini aku menginap di villa milik harabuchi. Sendirian ketika sakit membuatku benar-benar menderita. Mungkin semua orang sedang kalang kabut mencariku, terutama Donghae. Tadi saat mengaktifkan hp, Donghae lebih banyak menelepon dan mengirimiku sms ketimbang Siwon.
Sebelum kemari, aku mengirimkan dokumen gugatan ceraiku pada Siwon. Pilihanku mantap dan aku mulai memikirkan tawaran Donghae. Dia benar, aku masih mempunyai pilihan. Percuma saja jika melanjutkan hidup bersama orang yang dicintai tetapi hanya membuatku menderita. Toh, jika aku memilih untuk hidup bersama Donghae, lambat laun cinta akan tumbuh kan seiring dengan kebersamaan?
Kutekan nomor Donghae dan memanggilnya. “Yoboseyo? CHAESA-YA…,” sapanya sangat antusias.
“Aigoo, telingaku. Donghae-ya, aku sakit. Datanglah ke tempatku, aku akan mengirimkan alamatnya lewat sms. Oke? Sampai jumpa…”
Kuletakkan punggung tanganku ke pipi. Masih panas. Setelah diukur thermometer, panasku masih berkisar antara 38 derajat celcius. Aku hanya bisa memandangi langit-langit kamar. Dari kemarin kerjaanku hanya tidur. Lee Donghae, cepatlah datang!
Read the rest of this entry




