RSS

Super Junior FanFiction : “Beautiful Housekeeper” [Part III]

04 Nov

 

Kim Kibum 10

“Oppa..” panggil Hyeo lemah dan pasrah.

     “Akhirnya aku menemukanmu. Kau kemana saja? Kenapa ganti nomor hp tak memberitahuku? Rumah pun kau pindah. Pindah kemana? Apa kau baik-baik saja? Kau sekolah dimana sekarang?” Kibum mulai memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

     “Kalian sudah saling kenal?” tanya Kyu heran yang dibalas anggukan semangat dari Kibum.

     “Kami satu sekolah saat SMP, dia juniorku. Aku sudah mencarinya kemana-mana. Akhirnya sekarang ketemu juga..”

     “Ya sudah, kalian nostalgia saja sana. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Kyu tak tertarik.

 

 __________

 

KYU mendengar suara tawa saat turun ke bawah. Dilihatnya Hyeo dan Kibum sedang asyik masak berdua. Tak jarang Kibum mencomot makanan yang baru saja matang dan Hyeo memarahinya.

     “Jangan diambil terus, Oppa!”

     “Aku kangen sekali sama telur gulung ini. Hampir tiga tahun aku tak memakannya. Dulu kan kau selalu membawakanku bekal,” bela Kibum.

     “Mmm.. Baiklah, mulai besok aku akan membawakanmu bekal lagi setiap hari seperti dulu. Oppa mau?”

     “Tentu saja aku mau. Si kyuhyun itu aku minta satu saja dia sudah marah-marah. Pelit sekali..”

     “Hya~ Tak baik membicarakan orang di belakang!” potong Kyu.

     Hyeo dan Kibum menoleh berbarengan. Mereka berdua tertawa. Kibum menghampiri Kyu dan memasangkannya celemek.

     “Apa ini?! Aku tak mau pakai!” tolaknya berusaha melepaskan celemek itu dari tubuhnya.

     “Ikutlah memasak dengan kami, Kyuhyun-sshi!” ajak Hyeo dengan nada memerintah.

     “Shiruh!” Kyu berhasil melepaskan diri dari Kibum. Dia menjauh dari dapur menuju ruang tengah dan menyalakan laptopnya.

     “YEE~~ STARCRAFT!!” teriak Kibum, “Beraninya kau bermain tanpa mengajakku.”

     Hyeo mendongak, “Oppa~ Katanya mau membantuku!”

     “Kami bantu makan~” sahut Kibum dan Kyu bersamaan.

     “Aiishhh~~” Hyeo mendelik sebal.

 

Beberapa menit kemudian..

     “Kibum-oppa, Kyuhyun-sshi, makanannya sudah siap. Ayo cepat kemari!” panggil Hyeo.

     “Iya sebentar lagi,” sahut Kibum.

     Sudah hampir lima belas menit Hyeo menunggu. Tetapi Kyu dan Kibum masih anteng melototin layar laptopnya masing-masing.

     “Oppa, Kyunnie, makanannya keburu dingin, nih.”

     “Iya sebentar lagi.” Kali ini Kyu yang menjawab.

     “BERHENTI SEKARANG JUGA ATAU LAPTOP KALIAN KULEMPAR?!” teriak Hyeo marah benar-benar mengejutkan mereka berdua.

     “Ne~” sahut mereka buru-buru ngesave gamenya dan berlari menuju meja makan.

     Kibum berdecak kagum saat melihat berbagai macam makanan di hadapannya. “Wow, kau memang hebat, Hyeori-ah!” pujinya seraya tersenyum.

     “Kibummie, bukankah aku sudah bilang, jangan tertipu dengan penampilan!” sindir Kyu.

     Hyeo langsung cemberut mendengarnya. Kibum yang melihat ekspresi Hyeo itu langsung tertawa dan menghiburnya, “Jangan dengarkan omongan anak ini, Hyeori. Bicara seenaknya, sekarang aku ingin tanya padamu, Kyuhyun. Siapa yang tadi siang ketika di kelas memuji-muji masakannya, hah?”

     Kyu memalingkan wajahnya. Dia pura-pura tak mendengar lalu menarik kursi dan duduk. “Aku sudah lapar, sebaiknya kita makan sekarang. Kazha!

     Kibum tersenyum melihat tingkah Kyu, “Cih~ Dasar anak ini.”

     “Ohhh~ Mashdaa~” puji Kyu, “Nah, kalau yang ini baru enak. Tidak seperti kemarin. Mengerikan!”

     Hyeo tidak memedulikan omongan Kyu, dia lebih memilih memperhatikan Kibum, “Enak tidak, Oppa?”

     Kibum mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aah~ Mashissuhyo!

     “Hya~ Kenapa memanggilnya oppa?” tanya Kyu.

     “Karena dia lebih tua dariku, Kyuhyun!” jawab Hyeo polos.

     “Aku juga lebih tua darimu, Nenek lampir!”

     “Mwo?! Kau bilang aku apa? Ahh, aku makin tak ingin memanggilmu oppa. Nanti kepalamu makin besar!”

     Kyu benar-benar kesal. Dia mengacungkan sumpitnya hendak melemparkannya ke kepala Hyeo namun Kibum menahannya.

     “Jangan kasar pada seorang gadis!”

     “Dia bukan gadis! Dia bocah tengik!”

     “Jangan kasar pada gadisku!” ulang Kibum.

     Hyeo dan Kyu terperangah. Keduanya sama-sama terkejut mendengar hal itu.

     “Kau bilang apa?” tanya Kyu.

     “Ani..ani… Sebaiknya aku pulang sekarang. Hyeori-ah, besok aku kemari lagi. Jangan lupa janjimu membuatkan bekal untukku!”

     “Siap, Oppa.”

     “Sebentar.. Kau tadi bilang apa, Bum? Besok kau kemari lagi? Kau pikir ini panti asuhan? Seenaknya kemari seperti jam besuk. Shiruh! Besok jangan datang lagi!!” tolak Kyu.

     “Kenapa? Dia kan tamuku,” ujar Hyeo.

     “Tamumu? DIA TEMANKU DAN INI RUMAHKU!” teriak Kyu membuat Hyeo kaget dan refleks mundur.

     “Ya sudah kapan-kapan saja. Kita belum mengobrol banyak, Hyeo. Lain kali kita harus mengobrol!” pinta Kibum.

     Hyeo mengangguk dan berjalan keluar rumah mengantar Kibum sampai pagar.

     “Gomawoyo makan siangnya. Enak sekali. Annyong..

 

__________

 

     “Kyuhyun-sshi, aku titip ini buat Kibum-oppa,” pinta Hyeo saat Kyu hendak pergi ke sekolah.

     “Kenapa kau membuatkannya bekal?” tanya Kyu sinis.

     “Karena aku sudah janji padanya kemarin.”

     Kyu masuk lagi ke dalam yang diikuti oleh Hyeo dari belakang dan berhenti di meja makan. Lantas ia membuka kotak bekal miliknya dan milik Kibum. Dia mengerutkan dahi saat melihat ada perbedaan di keduanya.

     “Hya~ Kenapa punya Kibum lebih banyak telur gulungnya?” protesnya.

     “Karena dia suka sekali sama telur gulung buatanku. Sudah jangan protes lagi!”

     “Aku juga su…” kata-katanya terpotong saat melihat ekspresi Hyeo yang berubah menjadi senang setengah mati. “Ya sudah. Aku pergi sekarang.”

     “Lanjutkan!”

     “Apanya?”

     “Kata-katamu barusan. Tadi kau mau bilang suka telur gulung buatanku, kan?”

     “Aniyo~” elaknya sembari buru-buru jalan ke pintu keluar. “Aku pergi!”

 

Di sekolah saat jam istirahat..

     Kyu tak henti-hentinya melirik Kibum saat makan. Dia benar-benar iri dengan bekal Kibum yang telur gulungnya lebih banyak. Sedangkan miliknya, telur gulung hanya ada lima, sisanya sayur-mayur yang dia benci.

     “Kibummie, tolong tukar sampah hijau ini dengan telur punyamu!” pintanya sedikit memaksa.

     “Cih~ SHIRUH!!!” tolaknya mentah-mentah.

     “Hyyaaaaisshhh~~ Itu juga kan buatan pelayanku!” teriak Kyu.

     “Sudah kubilang tak mau!” Kibum menyembunyikan kotak bekalnya di balik punggung. “Oya, bagimu dia hanyalah pelayan, tapi bagiku dia adalah dongsaeng terbaik yang pernah kumiliki. Arasseo?! Jangan bicara sembarangan!”

     Dengan kesal Kyu memasukkan sisa telur dan nasi ke mulutnya. Dengan mulut penuh dia keluar kelas dan membuang sayuran di kotak bekalnya ke tempat sampah.

     KLIK~ KLIK~ KLIK~

     Beberapa anak cewek mengambil potretnya. Kyu yang terkejut langsung tersedak lalu memuntahkan makanan dari mulutnya.

     “Kyaaaa.. Cepat ambilkan minum untuknya. Kasihan sekali..” ujar salah satu cewek yang ada di sana.

     Hyeo yang kebetulan baru datang dari arah kantin langsung berlari ke arah Kyu dan memberikan minumnya saat melihat wajah Kyu sudah mulai memerah.

     “Kamsahamnida,” ucap Kyu sambil ngos-ngosan.

     Hyeo hanya mengangguk dan segera pergi dari tempat itu sebelum Kyu menyadari kalau itu dirinya.

     “Gwaenchana?” tanya Kibum tanpa ekspresi berdiri di ambang pintu yang tetap makan menenteng kotak bekalnya.

     Kyu mendelik sebal ke arahnya dan masuk lagi ke dalam kelas. Sedangkan para cewek-cewek tadi sibuk membahas hasil jepretan mereka dan saling blututan.

     “Cho Kyuhyun-sshi lucu sekali dengan mulut penuh makanan seperti ini.”

     “Lihat, aku berhasil memotretnya ketika muntah. Omooo~~ Dia tetap tampan.”

     “Tapi berani sekali si culun tadi memberi uri Kyuhyun minuman,” timpal cewek lainnya.

     “Biar saja. Kyuhyun-sshi tak akan tertarik sama cewek macam dia. Lagipula aku tak ingin Kyuhyun-sshi mati gara-gara tersedak!”

     Berengsek sekali mereka menyebutku culun. Huh.. Menjengkelkan! Gara-gara mereka Kyuhyun jadi seperti itu, kan. Ujar Hyeo dalam hati yang saat itu bersembunyi di balik semak-semak di belakang mereka. Hyeo berbalik meninggalkan tempat itu ketika hpnya bergetar.

     “Yoboseyo?” sapanya.

     “Hyeori-ah, kau masih di sekolah?” tanya seseorang.

     “Jam segini? TENTU SAJA!!” teriak Hyeo jengkel mendengar pertanyaan bodoh macam itu. “Ini siapa?”

     “Aku majikanmu. Cho Kyuhyun!”

     Hyeo terkejut, dia menoleh ke kelas Kyu karena takut suaranya yang keras tadi terdengar lelaki itu. Lantas dia berlari menjauh dari sana menuju tempat sepi, “Cih~ Bangga sekali kau menjadi majikanku. Tahu dari mana nomor hpku?”

     “Dari noona. Hya~ Pulang sekolah nanti kau datang ke sekolahku. Aku ingin minta antar membeli sesuatu.”

     “Mwo?! Ke sekolahmu? Shiruh! Kau minta antar Kibum-oppa saja. Aku tak mau.” Dari kejauhan dia melihat Kyu berjalan keluar kelas.

     “Aku sedang sebal sama Kibum. Pokoknya jam pulang nanti kau segera ke sekolahku! Jangan menolak atau kau kupecat!” ancam Kyu.

     “Hyaissshhh~ Aku tak mauuu~~”

     “…”

     “Yoboseyo? Hya~ Kyuhyun-sshi?! Aishh~ Ditutup.. Aaahh~ Bagaimana ini?” Hyeo menatap seragamnya, “Aku tak bawa jaket. Bagaimana caranya menyembunyikan seragam ini?”

     Hyeo tak sengaja melirik Kim In Young ketika cewek itu muncul dari toilet. Dia segera menghampirinya. “In Young-ah!” panggilnya.

     Kim In Young menoleh, “Hyeori-ah, ada apa? Lho, kenapa mukamu pucat? Gwaenchanayo?

     Hyeo mengerutkan dahinya. “Wajahku pucat?”

     Kim In Young mengangguk. Hyeo jadi mendapat ide. “In Young-ah, aku tak enak badan. Boleh kupinjam mantelmu? Sepertinya hangat..”

     Kim In Young tersenyum, “Tentu saja. Apa perlu kuantar pulang nanti?”

     “Ani..ani.. Biar aku pulang sendiri saja.”

 

Pulang sekolah..

     Hyeo berjalan buru-buru meninggalkan kelas. Dia sengaja menghindari In Young. Kemudian dia masuk ke toilet, menggerai rambut dan melepas kacamatanya. Setelah itu dia memakai mantel yang meyerupai jubah panjang milik In Young.

     Setelah memastikan keadaan aman, Hyeo berlari menuju gerbang sekolah. Untunglah Kyu belum ada dan dia melihat Kim In Young serta teman-temannya yang lain sudah pulang. Dia berdiri di samping gerbang dan terus-terusan melirik ke dalam mencari Kyu. Setiap orang yang melintas di depannya, baik cowok maupun cewek, terus-terusan memandang kagum. Mereka terpesona melihat kecantikan Hyeo.

     Lima menit kemudian Kyu baru muncul sambil berlari-lari. “Kazha!” ajaknya seraya menarik tangan Hyeo.

     “Berhenti! Capek tahu,” erang Hyeo ngos-ngosan ketika mereka sudah hampir sampai di halte bus.

“Kenapa harus lari?”

     “Kau ini lemah sekali. Masa lari segitu saja sudah capek,” protes Kyu yang tetap menyeret Hyeo menuju halte. “Aku menghindari Kibum. Jika dia tahu aku pergi bersamamu, dia pasti ingin ikut. Aisshh~ Aku sedang sebal dengannya hari ini.”

     “Sebal kenapa?”

     “Gara-gara kau!”

     “Naneun?” tanya Hyeo tak percaya.

     “Ne. Gara-gara kau memasukkan sampah-sampah hijau di kotak bekalku. Aku minta tukar telur dengannya, tapi dia tak mau. Aishh~ Menyebalkan sekali.”

     Hyeo tertawa. “Jadi hanya karena itu?”

     Kyu mendelik sebal. Setelah bus datang, mereka segera naik dan menempati kursi yang kebetulan kosong.

     “Kita mau kemana?” tanya Hyeo.

     “Electronic center. Game consoleku sudah mulai rusak. Aku mau beli baru.”

     Hyeo mengangguk-angguk, “Apa kau tak bisa pergi sendiri?”

     “Kau mengajakku berdebat? Geure..”

     “Aniyo~ Sudah pasti aku kalah beradu mulut denganmu. Huh, wajah dinginmu padahal sama sekali tidak memperlihatkan kalau kau super cerewet!”

     “Mwoyaa~?” Kyu melotot.

     Hyeo tersenyum dan hal ini membuat Kyu kehilangan seluruh kata-kata yang siap ditembakkannya pada Hyeo.

     “Jangan tersenyum!” larang Kyu.

     “Wae?!

     Kyu jadi salah tingkah, wajahnya sedikit memerah. “Itu bisa melumpuhkanku!” gumam Kyu lirih sembari memalingkan mukanya.

     “Ha?! Kyuhyun-sshi, bicara yang jelas! Aku tak bisa mendengarnya.”

     “Aniyo~

     “Cih~ Ngomong-ngomong.. Kyuhyun-sshi, kau belum melepaskan tanganku,” ujar Hyeo mengingatkan.

     Kyu melirik tangannya yang masih menggenggam tangan Hyeo. Dia langsung melepaskan genggamannya. Wajahnya benar-benar merah. “Mian.. Aku lupa…”

 

__________

 

SESAMPAINYA di Electronic center, Kyu dan Hyeo langsung menuju ke tempat jual game console. Di sana Kyu lama sekali memilih-milih sampai membuat Hyeo bosan. Dia sama sekali tak mengerti masalah game. Baru setelah lebih dari empat puluh menit mereka meninggalkan tempat itu.

     “Kita ke supermarket dulu. Persediaan telur sudah habis,” pinta Hyeo yang dibalas anggukan oleh Kyu.

     Mereka menyeberang karena letak supermarket tepat di depan gedung Electronic center. Dan lagi-lagi Kyu menggenggam tangan Hyeo membantunya menyebrang. Hal ini membuat jantung Hyeo berdebar tak terkendali. Dan dia merasa semakin menyukai Kyu.

     Kyu menarik troli dari tempatnya. Lantas berjalan di samping Hyeo yang sedang memilih-milih telur. Kyu yang penasaran ikut bantu memilihkan telurnya.

     “Jangan ambil yang itu!” pekik Hyeo hampir membuat Kyu menjatuhkan telurnya karena kaget. Hyeo merebut telur dari tangan Kyu, “Apa kau tak melihat kotoran ayam yang menempel ini?”

     “Ko..kotoran?!” tanya Kyu shok dan langsung memandang jijik ke tangan kanannya. “Aku cuci tangan dulu. Kau jangan kemana-mana!”

     Sepuluh menit kemudian Kyu kembali. Hyeo masih berada di tempatnya, tapi troli sudah penuh berisi barang-barang. Kyu memandangnya tak percaya.

     “Kenapa bisa jadi penuh?” tanyanya.

     “Ya karena sudah terisi, Kyu. Lagi-lagi kau melontarkan pertanyaan babo!”

     “Bukankah tadi kau bilang hanya ingin membeli telur?”

     “Beli sesuatu itu nggak boleh nanggung. Ayo bayar ini semua!”

     “Uangku?”

     “KYUU~~” pekik Hyeo kesal. “Kenapa pertanyaanmu selalu babo? Tentu saja uangmu. Bukankah tadi siang baru saja kau bilang kalau kau adalah majikanku?!”

     Kyu mengangguk pasrah. Mereka berdua berjalan menuju kasir lantas keluar dari supermarket setelah semuanya selesai. Di luar langit sudah gelap dan udara sangat dingin.

     “Hyeo-ah, ayo kita ke café di ujung jalan sana. Kutraktir kau makan.”

     Hyeo mengangguk. Namun saat mereka berjalan menuju café, seseorang memanggil Kyu. Dan ia pun menoleh. Ia terkejut ketika mendapati seorang wanita cantik berdiri di seberangnya. Ia mematung dan menjatuhkan kantong belanjaan dari tangannya.

     “Kyunnie!” panggil cewek itu lagi seraya berlari menghampiri Kyu lalu memeluknya. “Aku sudah mencarimu kemana-mana. Akhirnya bertemu juga.”

 

 

..to be continued..

 

Tags: , ,

7 responses to “Super Junior FanFiction : “Beautiful Housekeeper” [Part III]

  1. Mitmit Hyunie

    November 5, 2009 at 2:54 AM

    masih bersambung????

    aq ngakak pas baca si kyu muntah…..aduh..aduh..jd ngebayangin…
    wkwkkw

    diya…nih bakal berapa chapter???

     
  2. diya.wonnie

    November 5, 2009 at 1:14 PM

    hahaha.
    udah pasti dibayangin.
    kyu mu gmn” jg psti tetep ganteng!!

    gatau nih brp chapter.
    hehe~~

     
  3. yesung.aishiteru

    November 6, 2009 at 11:44 AM

    jadi pengen telor dadar *ga nyambung*

    btw ada kata yg ga enak deh~
    pas bagian “ngesave game” nya asa rancu gimana~ gtu. Hoho~

    tapi seru ko ^^v

     
  4. diya.wonnie

    November 6, 2009 at 2:05 PM

    dari pada jadi, “nyimpen gamenya.”
    lebih gak enak, gwen!
    hahah.
    but thx buat kritikannya.

     
  5. han teuk-hae

    November 14, 2009 at 3:02 AM

    kapan nih ceritanya dilanjutin lagi?

    menunggu, menunggu, dan menunggu,,,

     
  6. Rus Inriana (@Rhyrien_RhyHyun)

    August 17, 2011 at 8:36 AM

    hwa….cewek itu siapa???

     
  7. nine

    January 14, 2012 at 8:35 PM

    itu sapa???
    lanjuuuuuuutttt!!!!!!!!!!!!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: