RSS

Super Junior Fanfiction: Hanna’s Phobia

17 Jan

TING TONG! TING TONG!

Hanna setengah berlari menuju pintu, “Eomma, Appa!”

“Hanna,” teriak eomma maju selangkah hendak memeluk anak bontotnya itu, namun Hanna mundur menghindari pelukan eommanya. “Hyaaa, kenapa mundur?!”

“Eomma kehujanan. Basah, lembab… Pasti kotor! Aku nggak suka bau hujan!”

“Aish, sampai kapan penyakit benci hujanmu itu sembuh? Menyebalkan sekali!” protes eomma seraya mendelik dan masuk ke dalam.

Hanna berlari ke lemari mengambil spray pengharum ruangan dan menyemprotnya ke bekas eomma dan appanya lewat. “Hyaaa Kim Hanna, aku tidak bau sampah!” teriak appa tersinggung.

Hanna tak menggubris protesan tersebut. Dia malah asyik menyemprot kesana kemari.

“Oh iya, Hanna-ah,” panggil appa, “Kita membawa seseorang dari Kanada. Dia menumpang di sini selama empat hari karena belum menemukan apartement, sekaligus mempersiapkan diri mengikuti tes masuk universitas. Dia teman SMA oppamu. Ah aneh sekali, oppamu ngebet sekolah di Kanada, sedangkan yang dari Kanada ingin kuliah di Korea . Hanna-ah, baik-baiklah dengannya!”

“Mana orangnya?” tanya Hanna celingak-celinguk.

“Oh iya, mana dia? Yun Eun, kau melihatnya?” tanya appa.

“Mana kutahu. Bukankah tadi dia sepayung denganmu?” eomma malah balik bertanya dan mereka saling berpandangan, “HANNA, CEPAT CARI DIA!!!” teriak eomma dan appa bersamaan.

“Tapi diluar hujan deras.” Hanna memandang ngeri tetesan hujan dan becekan di luar rumahnya melalui jendela.

“Ayolah, Hanna. Kami lelah sekali. Kau tega membiarkan kami tidak istirahat? Kanada itu jauh tahu!”

Hanna menyerah. Dia bergegas menuju kamarnya mengambil sarung tangan vynil dan memakainya. Menyambar jas hujan, payung, masker, dan sepatu boot khusus untuk hujan.

Aku benci sekali hujan! Becek dimana-mana, jas hujan yang lembab jadi sarang panu, air kotor yang dicipratkan mobil ke arahku, tetesan air hujan yang nggak jelas berasal dari air apa bisa membuat kita jadi kadas-kurap-kutu air. Ahhh~ Lebih baik hibernasi di rumah dari pada mempertaruhkan higienitasku!

Ini semua mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun lalu. Ketika aku dirampok dan dipukul hingga pingsan. Mereka yang menganggapku telah mati, melemparku ke sungai Han. Saat itu hujan deras…

Hanna membuka pintu. Embusan angin menerpa wajah dan rambutnya. “EOMMAAA~ Hujannya deras sekali. Aku takuuutttt!!!” rengek Hanna gemetar.

Eomma berdiri semeter di belakangnya sambil berkacak pinggang. “Tak ada oleh-oleh kalau begitu!” ancamnya.

Hanna mendelik kesal. Dia membuka payung dan berjalan sangat hati-hati lantas menggapai pagar hendak membukanya. Namun sebuah tangan juga hendak membuka pagar dan hinggap di atas tangan Hanna.

“Kyaaa~ Jijik! Jijik!” teriaknya histeris.

“ Kan sudah pakai sarung tangan vynil,” sahut orang itu.

Hanna mendongak dan mendapati seorang cowok yang basah kehujanan dan kotor berlumuran lumpur. Dia memekik dan mundur selangkah.

Orang asing!!! Pekiknya dalam hati.

“Haiii, kamu Hanna anaknya Ji Oh ahjussi kan ?” sapa cowok itu sambil cengar-cengir.

Spontan Hanna maju mendekati cowok itu untuk mengendus baunya dan…

DEEEESSSHHH!!!

“BAUUUUU~~~” Hanna refleks menonjok cowok itu sampai mental.

__________

Eomma membantu Henry mengobati memar akibat ditonjok Hanna. Hanna diam di pojok ruangan karena merasa bersalah. Berkali-kali dia mengatakan maaf. Henry cuma bisa cengar-cengir kesakitan.

“Ahjumma, kenapa dia begitu?”

“Dulu dia pernah dirampok, kebetulan rampoknya itu bau badan. Karena hal itu, dia jadi phobia orang asing dan setiap ada cowok yang mendekatinya pasti diendus dulu. Heran… Padahal sewaktu hamil dulu, aku tak pernah menghina-hina anjing atau menginjak kotoran anjing!”

“Eomma, tak ada hubungannya!” protes Hanna kesal sedangkan Henry cekikikan.

“Nih,” Henry melemparkan handuk ke arah Hanna, “Gomawo.”

“Kyaaa~ Ini kan handukku! JIJAAAAAAYYYYY…”

DRAP DRAP DRAP!

Hanna mengambil langkah seribu menuju mesin cuci. Dia masukkan handuknya dan membubuhkan banyak deterjen ke dalamnya.

Sial… Sial…!!! Handuk yang baru kubeli ini dipakai sama cowok asing yang nggak jelas juntrungannya. Cuma dia dan Tuhan yang tahu dipakai untuk menggosok bagian tubuh yang mana. Henry Lau, mati kau!!!

“Kalau begini terus, bagaimana bisa punya pacar apalagi menikah?” Tiba-tiba Henry sudah berada di belakangnya.

JLEB!

“Hey, itu sangaaaat menyinggung perasaanku!”

“Oya? Cukhae, Hanna-ah!”

Aish~ Bocah tengik ini minta digorok rupanya!

“Aku akan membantumu menyembuhkannya.”

“Benarkah?” sahut Hanna berbinar-binar, lupa kalau dia sedang marah.

__________

Hanna sudah berada di depan pintu kamar yang dipakai Henry. Dengan rambut yang masih acak-acakan dan mengantuk, dia disuruh eomma untuk membangunkan cowok itu. Walaupun sudah mati-matian dia perang mulut dengan eommanya, tetap saja kalah. Dia tetap harus membangunkan Henry.

Diketuknya pintu itu dan Henry menyahut menyuruhnya masuk. KLEK… Pintu dibuka. “Kyaaa~,” Hanna syok melihat Henry yang hanya bertelanjang dada. “Henry-ah, pakai dulu bajumu!”

Hanna menutup setengah wajahnya. Oh, jadi begitu ya bentuk badan cowok? Baru sekali ini aku melihatnya langsung.

“Lihat apa kamu?” tanya Henry.

“Ah? Oh, aniyo.”

“Aku kan sudah janji akan membantumu. Jadi ini… Gomawo,” ujar Henry sambil nyengir kuda menyodorkan sebuah sikat gigi.

“HAHHH??? Itu kan sikat gigi punyaku. Menjijikan! Henryyyy… Rrrrwwwwaaaarrrr!!!”

Henry menatap Hanna dengan wajah innocent, setelah itu nyengir lagi.

“Walaupun aku nggak phobia, tetap saja aku nggak bakalan mau pakai sikat gigi bekas orang lain!”

“Oh ya? Aku nggak keberatan tuh…”

“AKU KEBERATAN!!!”

Perjalanan menuju sekolah…

“Ngapain ngikutin aku?” protes Hanna.

“Siapa yang ngikutin? Aku kan mau nyari apartement!”

Hanna mendelik sebal. Aneh sekali kenapa bisa ada makhluk secuek dia. Sepanjang perjalanan, Hanna berjalan sangat hati-hati sekali karena becek dimana-mana. Ingin sekali rasanya cepat-cepat berganti musim. Musim penghujan adalah musim yang paling dibencinya.

“Memang boleh ya ke sekolah pakai sepatu boot super duper tinggi gitu?” tunjuk Henry.

Hanna melirik sepatu bootnya, “Aku bawa dua sepatu, kok.”

Henry mengangguk-angguk dan melirik Hanna, “Habiskan susunya! Bukan cuma dipelototin seperti itu!”

“Aku…aku nggak bisa minum susu. Biasanya suka sakit perut. Ini terpaksa bawa karena eomma pasti ngomel kalau aku nggak minum susu,” keluh Hanna seraya meneguk sekali susu kotaknya.

Henry menyambar susu kotak itu dan meneguknya sampai habis.

Hiyaaa~ Jorok… Minum bekas orang lain!!! Apa di Kanada memang biasa seperti itu? Tapi, tadi itu… Bisa dibilang ciuman nggak langsung kan ?

BYURRR!

Henry mendorong Hanna ke sebuah becekan. “Kyaaaa~ Henry-ah, kau sengaja mendorongku!”

“Haha~ Langsung ngamuk. Kan biar terbiasa. Siapa tahu proses kesembuhannya lebih cepat.”

Aishhh~ Kubunuh kau!!!

“Sudah sampai di sekolahmu. Masuk sana !” perintah Henry.

“Ne, arasseo!” teriak Hanna kesal.

__________

Sepulang sekolah, Hanna mendapati Henry tak ada di rumah. Lantas diam-diam ia masuk ke kamar cowok tengil itu. Dia membuka-buka buku yang dipakai Henry belajar semalam dengan perasaan ngeri.

Hanna menemukan sikat giginya yang tadi pagi digunakan Henry dan berusaha menyentuhnya. “Hiyaa… Sedikit lagi… Hiyaa… Aish susahnya. Ah, eomma ini jijiiiiikkkk!!!”

“Lagi apa kamu di kamarku?” tanya Henry.

Hanna spontan berbalik, “Ani… Aku hanya mencarimu.”

“Nih,” Henry menyodorkan kotak kue ke wajah Hanna.

“Gomawo,” ucap Hanna senang dan segera memakan kuenya.

“Kau tahu kan toko kue ‘Wonder Bakery’ yang ada di ujung jalan sana , yang memperbolehkan pelanggannya membuat kue sendiri?” tanyanya dan Hanna mengangguk, “Kue itu buatanku… dan aku lupa nggak cuci tangan pas buatnya. Hehe, mianhae.”

Hanna tersedak tapi tak ada niat memuntahkannya, “Gwaenchana, enak kuenya. Kamsahamnida, Henry-ah.”

“Oya? Ah syukurlah, ini pertama kalinya aku memasak. Kau mencariku ada apa?”

“Mmm… Aku hanya minta kau membantuku menyembuhkan penyakitku ini.”

“Oh, okay. Tapi besok ya. Hari ini aku mau belajar. Nggak apa-apa ‘ kan ?”

Hanna mengangguk semangat dan pamit keluar kamar.

“Hya, Hanna!” panggil Henry, “Kue itu kubuatkan khusus untukmu. Habiskan ya!”

Seketika wajah Hanna memerah, “Ne, kamsahamnida.”

__________

Sore Keesokan Harinya…

Henry mengajak Hanna ke pinggiran sungai Han. “KENAPA HARUS KE SINI???” teriak Hanna murka.

“Bukankah kau memintaku untuk membantu menyembuhkan phobiamu?”

“Iya, tapi kenapa harus ke sini?” teriaknya seraya melihat ngeri sekeliling daerah itu. Ingatannya terlempar ke kejadian beberapa tahun lalu.

Henry melihat tubuh Hanna yang gemetar ketakutan, lantas ia berjalan menghampirinya dan menutup mata gadis itu dengan sehelai kain. “Dengan begini kau takkan bisa melihat sungai. Cukup dengarkan suara biola yang kumainkan.”

Henry segera mendemonstrasikan kepiawaiannya memainkan biola.

“Waaawww… Hebaaattt!!!” Hanna berdecak kagum. “Kupikir makhluk asing sepertimu itu nggak becus ngapa-ngapain. Ternyata…”

Henry tidak menghiraukan ejekan Hanna. Dia malah terus asyik menggesek biolanya yang mengeluarkan nada-nada harmoni.

“Aku kebelet,” celetuk Henry, “Aku cari toilet dulu, ya!”

Hanna mengangguk, “Awas nyasar!”

Hanna memegang lehernya yang agak hangat. Badannya terasa tak enak. Kemudian dengan perlahan ia melepas ikatan matanya. Dia tetap tak ingin melihat sungai, makanya dia tetap menunduk. Tak sengaja pandangannya jatuh ke biola cokelat yang diletakkan sembarangan oleh empunya. Dulu ia pernah berniat belajar biola, tapi karena guru privatnya brewokan menyeramkan, mengerikan, dan mencurigakan, ia tolak mentah-mentah tawaran eommanya.

Ia mencoba meraih biola itu.

“Waw kemajuan pesat, nih!”

Hanna tersentak dan menoleh ke belakang, “Aku hanya…hanya…”

“Ayo pegang lagi!” Hanna menurut, dia menyentuh biolanya lagi. “Waw, Hanna hebat! Sekarang coba sentuh telapak tanganku!”

Hanna menurut lagi, tapi kali ini seribu kali lipat lebih sulit. Pikiran phobianya masih berpikir kalau Henry adalah orang asing. “Henry-ah, setelah pipis kamu sudah cuci tangan kan ?”

Henry tertawa, dan ini membuat Hanna silau. Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Baru kali ini dia sadar kalau Henry itu sebenarnya ganteng. Hanya saja image cueknya menutupi itu semua.

“Udah dong! Aku nggak secuek yang kamu pikirkan tahu!”

Telunjuk Hanna semakin dekat ke telapak tangan Henry. Keringat dingin mulai muncul dari pelipisnya. Sedikit lagi, sedikit lagi… Batinnya berperang.

TUK… Telunjuk Hanna berhasil mendarat di telapak tangan Henry dan GREP… Henry menggenggam telunjuk itu.

“Kyaaa~ Lepaskan!!!” Hanna menarik telunjuknya lantas mengeluarkan spray pengharum ruangan dari tasnya. Namun ia kalah cepat karena Henry sudah memegang benda itu duluan.

“Ini buat apa?” selidik Henry ngeri.

“Untuk jaga-jaga dari orang asing! Kalau mereka berulah, kusemprotkan spray itu ke matanya.”

“Jadi selama denganku kau juga selalu membawa ini?”

Hanna mengangguk perlahan.

“Kapan sembuhnya kalau kau ketergantungan dengan benda ini?!” Henry melempar spray itu ke sungai. “Beres. Kau pasti sembuh. Percaya padaku!”

“Kau ini… Aish~”

“Aku mau pamer lagi nih. Sekarang aku bakalan maen biola sambil break dance. Lihat, ya! Pusatkan pandanganmu padaku, maka kau takkan melihat sungai.”

Hanna mengangguk semangat, tapi… BUK!!!

Badan biola itu membentur kepala Hanna saat Henry hendak mengambilnya. Hanna limpung, penglihatannya kurang jelas. “Henry-ah,” panggilnya lemas.

“Hanna,” teriak Henry berusaha menyadarkan gadis itu. “Hanna, mianhae! Hanna bangun!”

Hanna tak menjawab, matanya makin lama makin menutup. Henry lantas menggendong Hanna dan berlari pulang.

Sesampainya di rumah, Henry berteriak histeris meminta tolong, “Yun Eun ahjumma, Ji Oh ahjussi… Ahjumma, Ahjussi!!!” Tak ada yang menyahut.

Henry melihat ada kertas kecil tertempel di kulkas: Eomma dan appa pergi nonton namhansangsung. Pulang agak larut \(^o^)/

“Ya ampuuuuunnnnn…,” teriak Henry putus asa.

Dia berjalan mondar-mandir dengan Hanna di punggungnya. “Hanna, bertahanlah!” Dia memasukkan Hanna ke kamar dan menidurkannya. Setelah itu ia mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat untuk mengompres.

“Hanna, mianhae. Kumohon sadarlah! Gara-gara aku kau jadi begini. Mianhae, Hanna! Mianhae…”

__________

Hanna tersentak bangun dari tidurnya. Eomma dan appa menghambur memeluknya. Tapi dia tak peduli, dia mencari sosok yang lain.

“Hannaaa~~ Kau sudah tidur seharian tanpa gerak karena demam tinggi. Kupikir kau mati! Huweee~~~”

“Yun Eun, jangan seperti anak kecil!” protes appa.

“Mana Henry?”

“Beberapa menit yang lalu baru saja dia pergi. Katanya mau tes dan pulangnya langsung ke apartement barunya. Semalaman dia di sini menemanimu sambil belajar. Dia tak henti-hentinya meminta maaf pada kami. Dia pikir kau sakit gara-gara dia yang telah memaksamu untuk sembuh dan katanya kepalamu kepentok biolanya. Apa itu benar, Hanna?”

Hanna tak menjawab pertanyaan appanya, dia malah menyibakkan selimut dari tubuhnya dan menyambar mantel. Lantas ia pergi keluar menerobos hujan tanpa peralatan perangnya.

“Hanna!” teriak eomma. “Kau masih sakit.”

Hanna berlari menuju stasiun subway. Tak peduli akan ketakutannya pada hujan, ia terus berlari. Setelah sampai di stasiun, ia hampir saja limpung saat berdesakan dengan puluhan orang asing. Tapi itu tak membuatnya menyerah.

Ini bukan salahnya. Tubuhkulah yang manja karena terbiasa di rumah, makanya demam. Mana boleh dia mengikuti tes dengan perasaan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Juga mana boleh dia pergi tanpa pamit padaku. Henry-ah, kalau kau pergi tanpa pamit denganku, kubunuh kau!!!

“Henry!” panggilnya saat melihat cowok itu tengah memainkan biolanya.

Henry meletakkan biola itu dan berdiri. “Hanna, kau masih sakit, kan ?”

Hanna berlari menghampiri Henry bermaksud memeluknya, namun Henry mundur menjauh. “Wae?!” protes Hanna berang.

“Kalau menyentuhku, kau bisa tambah sakit. Aku kan orang asing.”

“Aku tak peduli!” teriak Hanna seraya menghambur ke pelukan Henry. “ Nan gwaenchana. Cheongmal gwaenchana!”

Henry membalas pelukan Hanna.

“Aku ingin selalu bersentuhan denganmu! Maka dari itu, aku pasti takkan apa-apa. Kau bukan orang asing lagi bagiku. Kau orang terpenting dalam hidupku.”

Hati Henry mencelos, ia membelai lembut rambut Hanna dan mengecup keningnya. “Kupikir aku bertepuk sebelah tangan. Ternyata tidak.”

Hanna melepaskan pelukannya dan alisnya bertaut pertanda meminta penjelasan.

“Pertama kali bertemu, kau terlihat sangat kuat. Tapi dengan kedatanganku, kau malah semakin rapuh. Aku terlalu memaksakanmu. Mianhae…”

“Kau tak salah. Sudah kubilang kau tak salah! Sekali lagi kau menyalahkan dirimu sendiri, kutonjok lagi kau seperti saat kita pertama kali bertemu!”

“Hahaha… Hanna, kau memang beda dari gadis lainnya. Ya, mulai saat ini kita akan selalu bersama. Kau boleh menyentuhku sesukamu!”

“Gomawo…,” Hanna memeluknya lagi. “Pergilah, kau harus tes, kan ?”

Henry mengangguk.

“Kembalilah lagi dengan predikat mahasiswa Kyuhee University . Janji?”

“Dua minggu lagi dong?”

Hanna mengerutkan dahinya, “Apanya?”

“Kita ketemunya dua minggu lagi dong? Pengumumannya kan baru dibuka dua minggu setelah tes masuk!”

“Hah?” Hanna melongo, “Nggak jadi kalau begitu! Temui aku di rumah setelah pulang tes! Arasseo?!”

Henry membungkuk, “Ne, araseumnida. Aku pamit pergi. Annyeong haseyo.”

Hanna mengangguk. Henry mengambil biola dan tasnya lantas menaiki subway. Hanna terus memperhatikan punggung Henry.

“Jagiya~~~,” teriak Hanna.

Henry menoleh, “Wae?”

“Ani imnida. Hanya mengetes! Hati-hati!”

Henry tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Dadah, Hanna, saranghaeyo.” Henry melingkarkan tangannya di atas kepala membentuk “love”.

Hanna tersenyum girang dan membalikkan badannya untuk pulang. Dia tak takut lagi dengan puluhan orang asing yang siap menghadangnya untuk berdesakan lagi. Dia juga tak takut lagi dengan hujan. Sekarang dia sudah terbiasa. Ketakutan yang belum sembuh hanya satu: SUNGAI HAN. Tapi tak apa-apa, karena Henry akan selalu berada di sisinya untuk membantu. Henry bukanlah orang asing lagi. Kini baginya, Henry adalah malaikat penolong.

“Gomawoyo, Henry-ah!”

The End

 
7 Comments

Posted by on January 17, 2010 in Fanfiction

 

Tags: ,

7 responses to “Super Junior Fanfiction: Hanna’s Phobia

  1. yuwe

    January 17, 2010 at 10:02 PM

    Ff suami kuuu … Akhrny muncul jg..hehe
    diy..aku mau d bkinin ff ama mochii T~T

     
  2. natasya

    January 18, 2010 at 12:00 AM

    miane sebelumnya . kayanya aku pernah baca cerita ini deh di komik. kalo gasalah komik imadoki karya watase yuu ya ? ada cerita lepasnya gitu dan ceritanya sama persis hehehe.. miane ya cuma mau bilang😄

     
    • diya.wonnie

      January 19, 2010 at 4:44 PM

      loh..
      emang..
      aku rubah seperlunya. kan gak mungkin kalo mirip banget.
      udah aku jelasin di suju ff kok.
      suka mampir ke sana gak?

       
  3. Diya.wonnie

    January 18, 2010 at 8:20 AM

    Tentang apa we?
    pbantu ma majikan? hahaha.
    *dgampar yuwe*

     
  4. yuwe

    January 18, 2010 at 8:38 AM

    *gampar diya*
    *cekek*
    ABONIMMMMMM ~
    OMONIM JAHAT AMA AKU. huhu *d gaplok*

    gpp tentang pembntu majikan,yg penting ujung2ny aku jadian ama mochi..hehe

     
  5. diya.wonnie

    January 18, 2010 at 5:19 PM

    dipikirkan…
    hehe~ sosoan gini aku…
    tar deh kalo dah liburan.
    biar enak kaga kepotong uas.
    *emg suka bljr?*
    heu..

     
  6. mochimochimine

    January 23, 2010 at 5:20 PM

    omonim,,, aku colong ya ff nya… hehe

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: