RSS

Super Junior FanFiction: “BOLERO [Happy Birthday Siwon]”

10 Feb

BOLERO, kupandangi tulisan yang melekat pada sebuah papan kayu di atas pintu masuk. Kuturunkan topiku sedikit saat ada beberapa orang berjalan melewatiku. Kupandangi tulisan itu sekali lagi dan tersenyum. Restoran inilah tempat dimana aku dan member yang lain merayakan pesta ulang tahunku. Merayakan bertambahnya satu umurku. Aku menua!

Kuhentikan lamunanku dan berjalan mendekati pintu masuk. Di sana ada seorang penjaga yang siap membukakan pintu untukku. Setelah di dalam, kulepaskan topiku. Suasananya tidak terlalu ramai, karena ini restoran mewah yang tak sembarang orang bisa memasukinya. Minimal kau harus mempunyai prestise yang cukup di depan publik bila ingin berkunjung kemari. Ya, tempat ini mengagungkan sebuah status kedudukan seseorang.

Aku memasuki lebih dalam lagi, menuju meja panjang dengan tigabelas kursi yang sudah kupesan sebelumnya. Aku melepaskan mantel dan menaruhnya di sebuah kursi, lalu duduk. Kulirik jam tanganku, pukul sebelas malam. Sedangkan acara dimulai pukul setengah dua belas. Mereka terlalu sibuk! Dan aku sengaja datang lebih awal atas saran Eunhyuk. Dia memintaku untuk melakukan sesuatu. Hal yang sebenarnya sudah kupendam sejak dua bulan yang lalu.

“Mau pesan minum, Tuan?” tanya seorang waitress.

Aku mendongak dan terkejut. Dia…dialah alasanku mengapa datang lebih cepat kemari. Dengan refleks kubenahi rambut dan posisi dudukku.

“Espresso?” tanyanya, lagi-lagi membuatku terkejut.

Aku mengangguk dan tersenyum. Dia tahu minuman favoritku yang biasa kupesan.

“Baiklah, mohon tunggu sebentar!”

Shim Chaesa. Aku tahu namanya dua bulan yang lalu melalui nametag yang ia kenakan. Aku tak pernah dilayani oleh waitress lain, selalu saja dia. Dan aku bersyukur selalu bisa melihat senyumnya.

Eunhyuk memintaku datang kemari lebih awal karena mengharapkan aku dapat berkenalan dengan gadis itu. Selama dua bulan setiap kali aku kemari dan melihat senyumnya, entah kenapa lidahku kelu. Sama sekali tak dapat bergerak hanya sekedar untuk menyapanya. Sehingga selalu saja espresso yang kupesan.

Dia datang. “Silakan…”

Kam…kamsahamnida.”

Gadis itu tersenyum. Aku membeku.

“Panggil saya jika membutuhkan yang lain. Permisi, Tuan.”

Kubuka mulutku untuk mencegahnya pergi, namun gagal. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Kesal, kupukul pahaku sendiri.

Kutinggalkan meja untuk pergi ke toilet. Saat melewati pintu dapur, kulihat Chaesa tengah menyalakan sebuah lilin di atas muffin kecil dan berbicara sendiri.

“Siwon-sshi, saengil cukhae. Aku hanya bisa begini, tak berani menatap wajahmu. Saengil cukh…,” belum selesai ia berbicara, aku sudah menariknya keluar dapur. Kuseret ia ke mejaku.

Omo, lepaskan! Ah, air lilinnya jatuh ke muffin. Ah, Siwon-sshi, lepaskan!”

+++++++

KUPANDANGI muffin kecil di hadapanku. Terlihat istimewa jika ini berasal dari gadis yang kusukai. “Gomawo…”

Chaesa menundukkan wajahnya malu. “Saengil cukhaeyo, Siwon-sshi.”

Aku tersenyum lebar, “Gomawo. Aku benar-benar senang sekali.”

“Tapi itu hanya muffin murah.”

“Tapi bagiku ini adalah hadiah terindah yang pernah kudapatkan. Gomawo, Chaesa-ah.”

Kulihat senyum ceria merekah di wajahnya. Kami mengobrol lama. Dia pribadi yang menyenangkan, sungguh membuatku semakin menyukainya. Tidak! Aku sudah mulai mencintainya. Perasaan yang sudah kupupuk selama dua bulan ini telah berubah menjadi cinta. Dan setelah mengobrol dengannya, aku semakin mencintainya.

“Senang sekali akhirnya bisa mengenalmu.”

Ne?” sahutnya.

“Aku berharap bisa mengenalmu dari dulu. Namun, aku tak mempunyai keberanian untuk mendekatimu. Status ini memberatkanku. Karena setiap wanita yang kuajak ngobrol, biasanya takkan bertahan lebih dari sepuluh menit. Mereka sangat menjaga jarak dengan statusku.”

Chaesa tersenyum, “Idol juga manusia. Aku menganggapmu sama seperti teman-teman waitress lainnya. Hhh… Sebenarnya aku benci bekerja di restoran orang terpandang ini. Tapi aku bertahan hanya karena…,” dia meraih muffin yang ada di hadapanku, “…hanya karena pemilik muffin ini.”

Na?” tanyaku tak percaya.

Chaesa tersenyum, namun kali ini senyumnya agak berbeda. Seperti ada beban yang menggantung di kedua ujung bibirnya.

“Benarkah?” kuraih kedua tangannya, “Chaesa-ah, aku…aku menyukaimu. Izinkan aku mencintaimu dan mendampingimu tanpa melihat statusku. Anggaplah aku orang biasa sama sepertimu!”

Dia membelalakkan matanya. Mulutnya terbuka. Tak lama kemudian ia menarik tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. “Andwae! Andwae!

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Jika aku mengatakannya sekarang, ini akan menjadi hadiah terhebat yang pernah kudapatkan, “Saranghamnida…”

Dia menatapku, tatapannya berang. Kemudian air matanya meleleh.

Waeyo?” tanyaku panik seraya meraih kembali kedua tangannya, namun ia menariknya.

Babo! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?! Sudah lama aku menyukaimu dan lambat laun perasaan suka ini berubah menjadi cinta. Aku sangat mencintaimu. Berharap bisa menikah denganmu suatu hari nanti.”

Ne?”

“Tapi mengapa baru sekarang kau mengatakannya?! Mengapa tidak dari dua minggu yang lalu?!” pekiknya.

Aku tak mengerti apa yang ia katakan, hingga akhirnya ia mengangkat tangan kanannya. Kulihat cincin perak tersemat di jari manisnya.

“Kau…kau…”

“Ya, aku sudah menikah dua minggu yang lalu. Dengan pria yang sama sekali tak kucintai. Kupikir dengan terus bekerja di sini, aku bisa dekat denganmu. Tapi aku tak berani menyapamu atas nama Shim Chaesa selain sebagai seorang waitress. Kau terlalu jauh untuk kujangkau. Yang bisa kulakukan hanyalah melayanimu tiap kali kau kemari. Aku diberi waktu sebulan untuk meraih cintaku sendiri oleh orang tuaku. Tapi aku gagal. Aku tak kunjung bisa menarik perhatianmu. Hingga akhir jatuh tempo, aku dijodohkan dengan pria pilihan mereka. Saat kudengar kau mencintaiku, aku benar-benar marah padamu. Kau terlambat! Kau hancurkan hidupku!”

Tulangku lemas, otakku terasa lumpuh. Tak dapat berpikir apa-apa lagi. Yang tersisa hanya kepedihan. Dadaku sesak, benar-benar terpukul. Chaesa menangis semakin keras seraya mendekap dadanya. Aku tak tahan melihatnya. Karena sikap pengecutku, aku menyakiti dua hati. Sial! Ingin sekali kulemparkan diriku ini dari gedung tertinggi.

Mianhae…”

Aniyo. Seharusnya aku yang meminta maaf. Coba kalau aku bisa meyakinkan orang tuaku untuk memberikanku kesempatan lagi. Aku terlalu lemah untuk menyerah. Mianhaeyo… Aku harus pergi. Saengil Cukhaeyo.”

Aku hanya bisa melihatnya pergi dari hadapanku. Tak ada lagi kekuatan untuk menahannya. Aku telah melukainya dan melukai hatiku sendiri. Aku menyesal tak mendengarkan apa yang Eunhyuk katakan dulu. Seandainya waktu dapat kuputar ulang.

+++++++

AKU minum banyak malam ini. Bahkan aku berhasil mengalahkan rekor Kangin-hyung. Berkali-kali Eunhyuk menepuk-nepuk pundakku. Aku yakin sekali dia merasakan kepedihanku juga. Pasti dia sudah tahu semuanya setelah menyimpulkan bahasa non-verbalku.

Pukul dua dini hari, kami baru selesai. Dengan susah payah Eunhyuk memapahku menuju mobil. Dengan tangan bergetar aku berusaha mengeluarkan kunci dari dalam saku mantel, tapi tak berhasil. Lagi-lagi aku merepotkan Eunhyuk.

“Biar aku saja,” ujarnya lembut.

Pintu mobil terbuka, tapi aku tak masuk walaupun Eunhyuk dengan susah payah mengangkat tubuhku yang lebih besar darinya ini. “Ayolah, Siwonnie!”

Bukannya masuk, aku malah terduduk di tanah dengan tubuh bersandar ke mobil. Air mata ini tak dapat kutampung lagi. Dadaku sudah terlalu sesak. “Dia sudah menikah,” gumamku. Eunhyuk berlutut, menghapus air mataku. Napasku terengah-engah dengan air mata yang terus merembes tanpa dapat kukontrol. Memalukan sekali bagi seorang penyanyi sekaligus aktor besar sepertiku ini. Tak pantas berada di jalanan dalam kondisi buruk begini.

“Siwonnie…,” kata-kata Eunhyuk terputus setelah menoleh ke arah lain.

Aku ikut menoleh dan kulihat Shim Chaesa dijemput oleh seorang pria yang pasti adalah suaminya. Dia juga melihatku, tatapannya langsung kosong. Ia menangis, lagi! Aku menjadi merasa bersalah. Aku paling benci membuat menangis seseorang yang kucintai. Aku berusaha berdiri walaupun oleng. Eunhyuk membantuku masuk ke dalam mobil dan mengambil alih kemudi. Saat melewati motor yang ditumpangi Chaesa, sayup-sayup aku mendengar dia berteriak ‘saranghae’. Saat kutengok, suaminya tersenyum puas seraya memegang jari jemari Chaesa yang melingkar di perut pria itu.

+++++++

TAHUN 2009 berlalu dengan cepat. Hari ini aku ulang tahun, di tahun 2010. Aku semakin menua! Umurku bertambah. Dan lagi-lagi aku memesan tempat di Bolero Restaurant untuk merayakannya dengan para member.

Sudah lama sekali tak kemari sejak setahun yang lalu. Shim Chaesa…mungkin sekarang dia telah mempunyai anak. Entahlah.

Kuperhatikan sudut-sudut ruangan yang sedikit berubah. Warna wallpapernya lebih terang dan ceria, tidak suram seperti dulu. Aku sampai di meja panjang dengan ketigabelas kursinya. Tersenyum mengingat kejadian tahun lalu. Sejak kejadian itu, aku berjanji untuk tidak menjadi pria pengecut lagi. Chaesa, ia banyak mengubahku.

Kulirik jam tangan, sudah pukul duabelas kurang enam dan mereka belum juga muncul. Ahhh, tahun 2010 membuat kami menjadi lebih sibuk. Dan aku berharap ketiga member itu datang. Hangeng-hyung, Kangin-hyung, dan Kibum. Aku sudah sangat rindu sekali pada mereka. Kulirik lagi jamku, duabelas kurang satu menit. Aish, sial!

Aku menunggu dengan gelisah dan menghitung mundur dalam hati. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2… Blep! Lampu tiba-tiba mati. Aku terkejut dan kesal. Haruskah merayakan ulang tahun dalam keadaan seperti ini? Kugebrak mejaku dan hendak berteriak memanggil manajer restoran ini. Namun sedetik kemudian lampu kembali menyala.

“HAPPY BIRTHDAY, URI SIWON…”

Aku terkejut. Dan orang yang pertama kali kulihat adalah Hangeng-hyung. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung memeluknya. Kutumpahkan seluruh kerinduanku selama ini dalam pelukan tersebut. Sudah lama tidak bertemu karena dia tiba-tiba menghilang dengan alasan beristirahat.

“Hyung…,” pekikku, tangis pun pecah.

“Hya, kenapa menangis? Aku kan sudah di sini. Berhenti menangis!”

“Hyung, bogoshipoyo,” tangisku mengeras, “Jangan tinggalkan kami lagi!”

Tiba-tiba Heechul-hyung ikut memeluk kami, “Iya. Jangan tinggalkan kami lagi!”

Arasseo. Mianhae…”

Kulepaskan pelukanku dan kulihat Kangin-hyung sedang berdiri melipat kedua tangannya. “Hyung,” panggilku. Tangis kembali pecah. “Jangan bertingkah konyol lagi! Kami semua sangat membutuhkanmu. Takkan ada yang bisa menggantikan posisimu di Super Junior.”

Ne, mianhae…”

Kibum maju ikut memelukku, “Siwon-hyung, aku kembali.”

Kupeluk erat dongsaengku itu dan kuketuk pelan kepalanya, “Kau berhasil. Debut film-mu sukses. Cukhae.”

Gomawo, Hyung.”

Kuhapus air mataku dan memeluk mereka satu persatu. Aku mencintai mereka. Merekalah keluarga keduaku. Saat aku menarik kursi hendak duduk, kulihat Shim Chaesa berdiri di seberangku.

“Siwon-sshi,” panggilnya lembut. Ia memegang sebuah strawberry cheese cake, bukan muffin.

“Chaesa-ah?!”

+++++++

“Masih ingat aku rupanya. Aku kemari karena ada yang ingin kutanyakan,” ujarnya yang saat itu kami sudah berada di beranda restoran yang menghadap view kota Seoul.

“Tanyakan saja.”

“Apa aku masih memiliki kesempatan?” tanyanya.

“Apa maksudnya?”

Ia tersenyum manis sekali, membuat pertahananku sedikit goyah. “Kejadin tahun lalu, dimana aku meneriakkan ‘saranghae’ padamu, kami bercerai.”

Mwo?”

“Dia yang melepasku. Bukan aku yang memaksanya. Dia bilang tak ingin memiliki raga seseorang tanpa memiliki jiwanya. Setelah bercerai, aku tetap memutuskan untuk bekerja di sini. Berharap dapat bertemu lagi denganmu. Tapi nyatanya tidak. Kau tak pernah kemari lagi. Membuatku bingung harus menghubungimu kemana.”

Aku tersenyum lebar, “Benarkah? Ah, entah aku harus senang atau bagaimana. Jujur saja kalau aku masih sangat mencintaimu.”

“Benarkah?” sahut Chaesa senang.

“Hyaaa,” teriak Heechul-hyung di belakang kami, “Siwon-ah, kau lupa tadi merengek-rengek bilang kangen pada Hangeng, Kangin, dan Kibum? Kenapa sekarang malah kau cuekkan?”

“Ah,” sahutku malu dan salah tingkah, “Iya, kami masuk.”

Tahun 2010… Hari ulang tahun dimana aku mendapatkan semuanya. Member yang lengkap, drama terbaru, rekaman album keempat, dan yang terpenting…aku menemukan kembali cintaku. Semoga di tahun berikutnya akan tetap membahagiakan. Hangeng-hyung, Kangin-hyung, Kibum…terima kasih kalian sudah datang dan bergabung kembali dengan kami. Selamanya aku mencintai kalian semua dan berharap takkan ada yang bisa memisahkan kami, SUPER JUNIOR.

THE END

 
10 Comments

Posted by on February 10, 2010 in Fanfiction, 최시원 — Siwon, Super Junior

 

Tags: , , , , , ,

10 responses to “Super Junior FanFiction: “BOLERO [Happy Birthday Siwon]”

  1. mycaseykim

    February 10, 2010 at 8:26 PM

    WHAT????….
    jadi selama ini ahjumma….ahjumma….sudah menikah dengan npria lain sebelum menikah dengen ahjusshi ku…OH NO……,
    JATAH warisan buat ahjumma berkurang…..* dicekek diya*

    ahjumma..nice ff..
    awalx aq mw nangis waktu ahjumma bilang dah nikah ma pria laen…tapi ditahan…aq g mau airmataku sia-sia…
    chukkae ahjumma…
    chukkae ahjusshi…

     
    • diya.wonnie.sungie

      February 11, 2010 at 5:08 AM

      *cekek mitmit*
      pd protes ya aku nikah ma pria lain.
      ka kel jg gitu komennya di sujuff.
      haha~
      sarababo kompak!

       
  2. chineseprince

    February 10, 2010 at 8:41 PM

    akkhhh…
    akkhh…
    akkhh..
    part nya hangeng back..
    moga bener…*ngayal.com*
    huaa,,>.<
    nice ff..

     
    • diya.wonnie.sungie

      February 11, 2010 at 5:10 AM

      Hyeon-ah…
      amiiinnn… moga bener…
      moga mrk ngerayain ultah bareng ya…

       
  3. Teukyun

    February 12, 2010 at 8:41 AM

    ayun likes this.. keren, diy..

    ahjussi, klu ditolak diya ma q aj.. hehe..
    *dicekek diya*

     
    • diya.wonnie.sungie

      February 12, 2010 at 5:28 PM

      AYUN!!!
      aku ga bakalan nolak wonwon my jagi…
      *cekek ayun*
      perasaan komen do sini maen cekek”an.
      hahah..

       
      • diya.wonnie.sungie

        February 12, 2010 at 5:30 PM

        di sini maksudnya.
        hah salah ngetik. waktunya off *apa hubungannya?*

         
  4. Isreal Bonillas

    February 22, 2010 at 1:37 PM

    How do I add this to my RSS reader? Sorry I’m a newbie😦

     
  5. shikyubum

    May 8, 2010 at 4:12 PM

    bagus bgt critanya

     
  6. anggie key

    April 23, 2012 at 5:50 PM

    bagus ceritanya..ah.. aku juga berharap semoga suju bisa kembali ke formasi awal.. amiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnn

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: