RSS

Super Junior Fanfiction: “Beautiful Housekeeper [Epilog]”

19 May

KIBUM menutup teleponnya. Pandangannya nanar, hatinya pedih sekali. Baru kali ini ada seorang gadis yang menolaknya. Napasnya tersengal-sengal, air mata merembes tanpa dapat ia kontrol. Ia lemparkan hpnya lalu meraih sebuah bantal lantas memeluknya.

Seorang pria tua masuk ke dalam kamar. Ekspresi wajahnya sarat dengan kecemasan. Ia membungkuk, “Tuan muda Kibum…,” sapanya sopan.

“Di suatu tempat yang jauh…,” isaknya, “…dia melanjutkan hidupnya. Sedangkan aku terjebak di sini. Ahjusshi, ottokhajyo?”

“Tuan muda…,” ahjusshi itu bingung bagaimana cara menghibur tuannya.

“Aku dengannya sudah terpisah ribuan kilometer, tapi bayangannya selalu menari-nari di pikiranku. Ottokhae? Ahjusshi…,” tangisnya pecah, ia memeluk bantalnya lebih erat.

Pelayan tua itu berjalan menghampiri Kibum. Ia memeluknya seperti seorang kakek pada cucunya. Rasa cemasnya selama ini ia tumpahkan saat itu juga. Air mata ikut mengalir seiring perasaannya yang ikut hancur melihat keterpurukan pria muda yang telah ia dampingi sejak lahir itu.

“Kumohon jangan begini, Tuan muda. Bangkitlah! Jadilah Kim Kibum yang baru. Yang belum pernah bertemu dengan Lee Hyeori. Kau pria tampan, akan mudah bagimu mencari penggantinya. Kumohon jangan begini lagi!”
Kibum melepaskan pelukannya. Ia bangkit dan berjalan menuju cermin. Ia pandangi matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah. “Kau benar, Ahjusshi. Aku memiliki kehidupan sendiri…”

__________

PAGI yang cerah di California. Kibum berjalan mengelilingi halaman rumahnya. Sudah lama sekali ia meninggalkan rumah ini. Terakhir kali menginjakkan kaki di halaman ini saat umurnya masih empat belas tahun sebelum kembali ke Korea.

Ia menghirup udara segarnya dalam-dalam. Sayang sekali jika dari kemarin hanya mengurung diri di kamar. Ia akan bangkit, takkan terpuruk lagi.

“Tuan muda, ini tasnya. Silakan…”

Gomapta, Ahjusshi.”

Ia berjalan menghampiri mobilnya dan melesat keluar rumah menuju kampusnya di UC Berkeley atau University of California Berkeley. Yang terletak di Timur Teluk San Francisco di Berkeley, California, Amerika Serikat. Universitas tertua yang merupakan pemimpin universitas riset. Ia sengaja berkuliah di sini. Alasan utamanya bukan untuk memenuhi panggilan orang tuanya, tetapi lebih untuk melakukan banyak kegiatan agar bisa menyita pikirannya dari bayang-bayang Hyeori.

Setelah sampai kampus, ia parkirkan mobilnya lalu keluar. Tiba-tiba hpnya berdering, pertanda sebuah pesan masuk.

From: Kyuhyun

Kemarin Hyeori menerima cintaku.

Gomawo, Kibummie…

Dadanya kembali sesak. Hatinya sakit sekali. Air matanya meleleh. Ia mengurungkan niatnya untuk kuliah hari ini. Ia terduduk lemah di parkiran. Tubuhnya bersandar ke mobil lain. Berkali-kali ia menyeka air matanya, namun tetap tak mau berhenti. Padahal ia sudah tahu kalau akhirnya akan menjadi seperti ini. Tapi sangat menyakitkan jika mengetahuinya dari orang yang bersangkutan.

Excusme… Maaf menganggu, tapi yang kau sandari ini mobilku,” ujar seorang wanita.

Kibum menyeka air matanya dengan punggung tangan dan berdiri, “Oh. Sor…,” kata-katanya terhenti saat melihat wanita cantik yang dikenalnya.

__________

KIBUM menatap wanita yang ada di hadapannya. Cantik! Dia sangat mengagumi kecantikannya. Namun pikiran itu segera ia tepis, mengingat masa lalunya yang kurang ia sukai. Kini mereka sedang berada dalam sebuah cafe.

“Lee Yoon Kyung, apa yang kau lakukan di sini?”

Wae? Aku memang tinggal di sini. Kemarin ke Korea hanya untuk liburan…”

“Bukan…bukan liburan. Kau ke Korea untuk menemui seseorang.”

Yoon Kyung tertegun, ia balas menatap Kibum. “Kau salah satu dari mereka rupanya.”

Kibum menggeleng perlahan. “Tidak lagi, sepertinya.”

“Baiklah,” Yoon Kyung mengangguk-angguk mengerti, “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengganggu mereka lagi. Menyedihkan memang menjadi wanita buangan sepertiku. Di keluarga, teman, pria, semuanya membuangku. Kemarin ke Korea hanya untuk mencari Kyuhyun dan memintanya untuk menjadi temanku. Aku sama sekali tak punya siapa-siapa lagi. Aku sendirian. Kau pastinya sudah tahu apa yang terjadi dengan keluargaku. Mereka…”

Kata-kata Yoon Kyung terpotong karena dilihatnya Kibum mengulurkan tangannya. “Mulai sekarang aku akan menjadi temanmu. Sayang sekali gadis secantikmu ‘dibuang’ begitu saja.”

Gomawo,” sambut Yoon Kyung menjabat tangannya dan tersenyum.

__________

CHO Ah Ra melipat kedua tangannya. Wajahnya kusut sekali penuh amarah. Kini dia, Hyeo, dan Kyu tengah berkumpul di meja makan. Kyu dan Hyeo menundukkan wajah mereka, tak berani menatapnya. Sebelumnya, Ah Ra tak sengaja melihat Hyeo dan Kyu yang sedang berciuman di sofa ruang tengah. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat mereka berdua sangat terkejut dipergoki dalam keadaan memalukan seperti itu.

“Pantas aku merasa ingin pulang, ternyata…aigoo…,” dia menarik napas dalam-dalam, “Lee Hyeori, aku benar-benar tak menyangka kepercayaanku kau salahgunakan. Kenapa kau menggoda dongsaengku?”

“Noona, ini bukan salahnya. Tapi aku yang…”

“Diam! Hyeori-ah, mianhae. Aku tak percaya lagi pada kalian. Aku takut membiarkan kalian berduaan di rumah ini. Bagaimanapun juga, Kyunnie adalah laki-laki…”

“Apa maksudmu?” sela Kyu tersinggung.

“Eonni, mianhaeyo….cheongmal mianhaeyo. Aku akan menuruti apapun yang eonni minta.”

“Baiklah. Kyunnie, antarkan Hyeo pulang ke rumahnya!”

NE?!” pekik Hyeo dan Kyu bersamaan.

“Noona, aku tak setuju!”

“Baiklah, kalau begitu kau ikut aku ke Austria malam ini juga!”

Aniyo!” teriak Kyu. Ah Ra mengangkat alisnya, pertanda memberikan pilihan pada Kyu. Hyeo berkali-kali memelotototi Kyu, hingga ia menyerah. “Baiklah, aku akan mengantarnya pulang.”

Sesampainya di rumah Hyeo…

Kyu meletakkan tas milik Hyeo di teras rumah. Ekspresi wajahnya sedih sekali. Lantas ia menghela napas pendek. “Besok kau kuantar ke sekolah. Jangan pergi sendirian. Arasseo?”

Hyeo mengangguk sekali, “Aku masuk dulu. Sampai jumpa besok,” pamitnya lesu seraya mengambil tas dan membuka pintu untuk masuk. Kyu mundur beberapa langkah hingga tubuhnya menyentuh pagar. Tangannya melambai-lambai dengan wajah penuh kekecewaan. Setelah Hyeo menghilang di balik pintu, ia berbalik keluar pagar dan menghidupkan mesin motornya. Setelah memasukkan gigi dan hendak menancap gas, kepala Hyeo muncul dari balik pintu dan berteiak, “Cho Kyuhyun, saranghae!” lalu masuk lagi ke dalam rumah.

Kyu menoleh dan tersenyum, “Naddo saranghae,” balasnya berteriak.

__________

Lima bulan kemudian…

Kibum terlihat tengah menggandeng tangan Yoon Kyung. Hari ini untuk yang pertama kalinya ia akan mengajak gadis itu ke rumahnya.

“Eomma na waseo,” sapa Kibum.

Eomma datang menghampirinya, namun wajahnya berubah menjadi tak ramah ketika dilihatnya Kibum tak sendirian. “Kibum-ah, masuk ke dalam! Dan kau…silakan pulang!” tunjuknya pada Yoon Kyung.

“Eomma, dia temanku.”

“Aku tak peduli. Ayo cepat masuk! Ada yang sedang menunggumu di dalam,” ajak eomma setengah menyeret Kibum meninggalkan Yoon Kyung.

Yoon Kyung, hatinya pedih sekali. Mengapa sampai saat ini dia selalu saja dibenci banyak orang? Selalu saja dijauhi. Tak pernah lagi merasa bahagia seperti dulu. Dengan setia ia menunggu di luar, berpikir Kibum akan menjemputnya. Lima belas menit berlalu, ia menyerah dan berbalik untuk pulang, namun seseorang memanggilnya.

__________

AH RA memutarkan bola matanya kesal. Sudah lima bulan ini Kyu selalu saja terlihat murung karena masih tidak rela dipisahkan dari Hyeo. Padahal mereka masih suka bertemu di luar rumah.

“Baiklah, apa yang kau inginkan?” tanya Ah Ra sembari mengempaskan tubuhnya ke sofa di samping Kyu. Mendengar hal itu, mimik wajah Kyu berubah ceria, “Aku tetap menolak jika kau memintaku kembali ke Austria dan Hyeori kembali kemari!”

Wajah Kyu kembali murung.

“Kau benar-benar ingin hidup bersama dengannya, ya?” tanyanya lagi yang dibalas anggukan semangat dari Kyu, “Nikahi saja dia!”

Mwo?!” pekik Kyu, “Noona, kau serius?”

Ah  Ra mengangguk, “Aku rela dilangkahi olehmu.”

Gomawo, Noona,” teriak Kyu seraya memeluk noonanya dan menyambar kunci motor di atas meja lalu berlari keluar rumah.

“Cih, bocah busuk!”

___________

HYEO menatap pekatnya langit malam dan sesekali matanya melirik semburan air yang keluar dari sisi jembatan sungan Han. Ia dekap tubuhnya menahan dingin, lalu disandarkannya kepala ke bahu Kyu. Sudah lama sekali mereka tak seperti ini. Sejak lima bulan lalu, mereka hanya bertemu sekali dalam dua minggu. Jadwal mereka sama-sama padat. Sekarang Hyeo harus mempersiapkan diri masuk universitas. Sedangkan Kyu selalu disibukkan tugas-tugasnya. Di sisi lain, Ah Ra memang tidak pernah mengizinkan mereka bertemu terlalu sering.

“Tumben sekali. Apa eonni mengizinkan?”

Kyu  mengangguk, “Ada hal serius yang ingin kubicarakan.”

“Apa itu?”

Kyu mengeluarkan setangkai mawar merah dari saku mantelnya. Disodorkannya bunga itu pada Hyeo yang mengernyitkan alisnya karena melihat kelopak mawar tersebut yang telah layu menghitam, batangnya pun patah, namun masih terbungkus rapi dalam balutan plastik.

“Jelek sekali!” ejek Hyeo, “Kau ini niat tidak, sih?”

Kyu tersenyum, “Ibaratkan bunga ini sebagai diriku. Rapuh, tak menarik, busuk, tak berdaya. Namun, masih ada balutan plastik yang senantiasa melindunginya, sekalipun mawar ini tak ada lagi harapan untuk hidup. Dia adalah kau, pelindungku. Kaulah yang melindungiku dari kerapuhan. Rapuh karena tak mampu jauh darimu. Tak menarik ketika aku tak berniat memikirkan orang lain selain dirimu, sehingga tak ada orang lagi yang ingin dekat denganku. Dan rapuh karena tak sanggup bernapas tanpamu. Saranghae… Lee Hyeori-ah, would you marry me?”

Hyeo mengedip-ngedipkan matanya. Masih terdiam, karena menunggu Kyu tertawa sambil mengatakan bahwa ini hanya lelucon. Tapi tak ada yang terjadi. Kyu terus memandanginya menanti jawaban.

“Jangan bercanda!”

“Apa tampangku terlihat sedang bercanda?”

Well, tidak sebenarnya, tapi… Hya! Kyuhyun-ah, Cho Kyuhyun, Jagiya! Apa kau gila? Kenapa harus menikah?”

“Kau…kau tak ingin menikah denganku?”

“Selamanya hidup denganmu. Itulah impianku…”

“Jadi kau lebih suka kumpul kebo?” tanya Kyu mulai ngaco.

“Aishh… Bicara apa kau?!”

“Jadi…,” Kyu meraih tangan Hyeo dan mengetukkan mawar itu ke telapak tangannya. Meluncurlah sebuah cincin perak bertahtakan berlian yang berkilat terkena cahaya lampu. “…kau mau kan kunikahi setelah lulus SMA?”

Hyeo menggerak-gerakkan kakinya gugup. Ini gila! Hal tergila yang terjadi dalam hidupnya mengalahkan kegilaannya saat menyamar menjadi seorang housekeeper.

“Hyeori-ah…,” panggil Kyu mulai tak sabar.

Hyeo menatap dalam-dalam wajah pria yang melamarnya itu, lantas menggenggamnya dengan kedua tangan yang hampir membeku. “Tidak! Mianhaeyo…”

__________

“Dijodohkan?!” teriak Kibum, “Eomma, aku tak mau!”

Eomma berdiri, ia terkejut. Tak menyangka reaksi anaknya sekeras itu. Tanpa menyahut, ia berjalan keluar rumah. Sedangkan Kibum kembali mengenyakkan diri di sofa dengan sebelah tangannya menutupi sebagian wajah.

“Aku tak mengajarkanmu menjadi anak tak sopan seperti ini,” ujar appa, “Di sini ada Lee Sang Hyun temanku, calon mertuamu!”

“Appa, aku masih bisa mencari pendamping hidupku sendiri. Untuk apa kau lakukan ini semua?”

“Diam!”

Kibum benar-benar stres. Ia tak menyangka kehidupan cintanya akan berakhir seperti ini.

Tak lama kemudian eomma masuk menggandeng seorang gadis cantik yang dari matanya terus mengeluarkan air mata. “Kibummie-ah, inilah calon istrimu,” ujar eomma.

Kibum melemparkan pandangannya ke arah lain. Ia tak ingin melihatnya. Eomma terus-terusan memanggil, hingga membuat appa kesal dan menarik Kibum lantas mendorongnya mendekati eomma dan gadis itu.

“Kibum-ah,” panggil eomma.

Perlahan-lahan Kibum mengangkat kepalanya dan… “Kau?”

“Aku tak tahu, sumpah. Ahjumma baru saja memberitahuku,” isak gadis itu.

“Katakan bagaimana perasaanmu padaku!”

Gadis itu menghentikan tangisnya dan memandang Kibum lekat-lekat, “Sepertinya aku sudah mulai mencintaimu.”

Kibum mengepalkan kedua tangannya hingga membuat tubuhnya bergetar. Gadis itu melihatnya dan ketakutan. “Aku paham. Aku akan pulang.  Permisi,” gadis itu menyeka air matanya lalu berbalik untuk pergi, namun Kibum menahan tangannya. Bibirnya menyungging lebar.

Jamkkaman! Akan sangat membahagiakan jika aku bisa menikahimu, Lee Yoon Kyung.”

__________

KYU sontak berdiri dan berjalan meninggalkan Hyeo. Hatinya hancur sekali. Kenapa gadis itu bisa menolak pinangannya? Pikirannya tersambungkan pada memori Kibum. Apa karena masih tak enak pada pria itu? Kyu melihat ada kaleng minuman di jalanan dan menendangnya keras-keras hingga meluncur ke dalam sungai Han. Ia menghentikan langkahnya lantas berbalik, “Hyaa, Lee Hyeori-ah! Berikan alasan yang masuk akal kenapa kau menolakku?!”

Hyeo bangkit dan bisa melihat wajah kusut Kyu walaupun jarak mereka kini sudah sangat jauh. Ia berjalan menghampiri kekasihnya itu, namun Kyu selalu saja mundur untuk menghindar.

“Mana bisa aku memberitahukannya sambil teriak seperti ini. Kemari kau!”

Kyu menyerah. Ia berjalan mendekat. “Malhae!”

“Aku malu mengatakannya…Oke, kukatakan,” Hyeo buru-buru meralat ucapannya ketika dilihatnya Kyu mulai cemberut, “Lulus SMA menikah? Yang benar saja. Menurutku itu…primitif! Aku memandang bahwa yang menikah setelah SMA itu adalah gadis desa yang terpaksa menerima pinangan oleh orang tuanya. Dan aku tak mau itu terjadi padaku, sekalipun kau sendiri yang melamarku. Apa nanti kata orang? Apa aku terlihat sangat bodoh sehingga tak mampu melanjutkan sekolah ke universitas dan mengambil jalan menikah? Aku ingin sepertimu, Kyu. Aku ingin sekolah. Tapi aku juga sangat ingin menikah denganmu. Jadi, kumohon berikan aku waktu hingga lulus kuliah. Oke? Kumohon jangan marah!”

Kyu terharu mendengarnya. Ia memeluk Hyeo erat, “Mana mungkin aku marah. Sebaliknya, aku bangga sekali padamu. Ah, bahagia sekali mendapatkan wanita sepertimu. Baiklah, kau harus lulus SMA dan masuk ke universitas yang sama denganku. Setelah aku lulus nanti, aku akan mencari kerja atau mendirikan bisnis appa cabang Korea sembari menunggumu menyelesaikan studi. Setelah itu, tak ada alasan lagi bagimu untuk menolak pinanganku. Arasseo?”

Hyeo mengangguk semangat dan memeluknya lebih erat.

__________

HYEO menggendong anak lelaki berumur sekitar delapan tahun ke pangkuannya. Rambut indahnya yang berwarna hitam bercahaya itu dibelainya sayang. Lantas dua anak perempuan dan lelaki lain, Kim Hara dan Kim Minhyuk, yang masing-masing berumur lima dan tujuh tahun juga ikut bergelayutan di pangkuannya.

“Kisah yang indah sekali, Halmeoni. Aku juga ingin memiliki kekasih seromantis harabuchi,” ujar Ha Ra.

Kyu tersenyum lebar bangga dan menggendong gadis cilik itu penuh sayang.

“Hanya Kyuhyun-harabuchi? Bagaimana denganku?” protes Kibum.

Cho Ki Deong mengangkat tangannya, “Aku saja, Harabuchi. Aku pria sejati sama sepertimu.”

Mwo? Memangnya aku bukan pria sejati?” cecar Kyu dengan nada meninggi dan Hyeo langsung menyikut rusuknya.

“Yeobo, sifat kekanakanmu tak pernah berubah!”

“Itu bagus. Artinya dia berjiwa muda,” Yoon Kyung ikut nimbrung, “Ah, beda sekali dengan Kibum yang pemikirannya sangat kolot!”

MWO?” pekik Kibum

Mereka semua serentak tertawa. Kyu melepaskan Ha Ra dan memberikannya pada Kibum. Ia menarik Hyeo untuk duduk di sampingnya. Dibelainya wajah Hyeo yang mulai menua itu. Cintanya takkan pernah memudar sekalipun secara fisik mereka terus berubah. Sedangkan Yoon Kyung memeluk Kibum dari belakang dan menggodai cucu mereka.

Beberapa puluh tahun yang lalu, setelah Hyeo lulus kuliah, Kyu melamarnya lagi. Beberapa bulan setelahnya, mereka menikah. Kyu bekerja meneruskan bisnis appanya, mendirikan cabang perusahaan di Seoul. Sedangkan Hyeo membantu bisnis eommanya sebagai agen penyalur pembantu.

Di tahun yang sama, Kibum dan Yoon Kyung pun resmi menjadi pasangan suami istri. Begitu studinya selesai, mereka menikah dan melangsungkannya di Korea, lalu memutuskan untuk menetap. Tak berapa lama setelah menikah, Hyeo dan Yoon Kyung dinyatakan positif hamil. Setelah sembilan bulan mengandung, mereka melahirkan di rumah sakit yang sama.

Mereka sama-sama dikaruniai anak lelaki. Beberapa tahun kemudian lagi-lagi mereka dititipi anak perempuan oleh Tuhan. Setelah keempat anak mereka dewasa, masing-masing dari mereka dijodohkan satu sama lain secara silang, yang kini hadirlah Kim Minhyuk dan Kim Hara hasil dari anak lelaki sulung Kibum dan Cho Ki Deong dari anak lelaki sulung Kyu.

Setiap akhir minggu, anak dan cucu itu selalu datang berkunjung ke rumah Hyeo-Kyu dan Kibum-Yoon Kyung yang sengaja mendirikan rumah berdampingan.

Hari ini adalah perayaan hari ulang tahun pernikahan Hyeo dan Kyu. Mereka semua datang berkumpul untuk merayakannya. Ulang tahun pernikahan yang ketiga puluh ini mereka rayakan ketika umur Hyeo menginjak lima puluh satu tahun, sedangkan Kyu lima puluh dua tahun. Cinta mereka begitu kuat, takkan pernah habis dimakan usia.

Inilah akhir kisah si Beautiful Housekeeper yang bahagia…

The End

 

Tags: ,

3 responses to “Super Junior Fanfiction: “Beautiful Housekeeper [Epilog]”

  1. VayTeuk

    June 5, 2010 at 6:06 AM

    happy ending

     
  2. miatacky17

    July 23, 2010 at 9:40 PM

    yaaaiii, ceritanya keren,,,
    bayabgin kyu punya anak,,,
    kyaa~~
    bagus banget ceritanya,,,,

     
  3. LeeHaeWoo

    June 7, 2011 at 11:55 PM

    Ga bisa bayangin..
    Muka Kyuhyun Keriput..

    Gyaaa >,<

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: