RSS

Super Junior FanFiction: “When I Call It ‘Love’ [Part I]”

02 Aug

By: Yume a.k.a MochiMochiMine


August 20th

[Park Kim Hae’s POV]
Hari ini tepat sembilan tahun Eomma pergi. Aku sendiri, Park Kim Hae dan oppaku, Park Jungsoo, harus berjuang menghadapi hidup. Aku yang sakit-sakitan sering sekali merepotkan Jungsoo oppa. Ia kerja tanpa lelah demi menghidupiku yang lemah ini. Kadang aku ingin menyusul Eomma segera. Tapi keinginan itu hilang ketika melihat senyum oppa sepulangnya bekerja.

Hari ini aku bersama oppa pergi ke makam Eomma. Beliau yang sembilan tahun lalu meninggal karena kecelakaan pesawat, meninggalkanku yang masih berumur sebelas tahun. Saat itu aku masih duduk di sekolah dasar.

Aku masih ingat sekali hari itu adalah jumat. Saat itu Vic Seonsangnim memanggilku ke kantornya. Sesampainya di sana, aku melihat Oppaku yang masih memakai seragam SMAnya dan Ahjussi yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sangat pucat.

Saat itu, aku belum mengerti tentang apa yang sedang terjadi. Oppa memelukku selama perjalanan ke pemakaman Eomma. Ia tak henti-hentinya mengucapkan, “Gwaenchana, Kim Hae-ah. Gwaenchana,” sambil menangis. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, bingung melihat sikapnya. Saat dipeluknya pun aku diam dalam bisu. Hingga akhirnya kita sampai di sebuah pemakaman. Saat itulah ia memberitahukan apa  yang terjadi. “Eomma sudah tidak ada, Kim Hae-ah. Eomma sudah pergi meninggalkan kita,” isaknya.

Aku yang melihatnya pun ikut menangis. “Oppa, kenapa Oppa menangis? Eomma kenapa? Kenapa Eomma meninggalkan kita?“ tanyaku polos. Oppa tidak menjawab, dia malah memelukku makin erat.

Dan hari ini tepat 9 tahun setelah kejadian itu. Aku dan Jungsoo oppa berdiri di depan makam Eomma. Kami berdoa untuknya dan membawakan seikat anggrek putih kesukaan Eomma.

“Eomma, uri Kim Hae-ah sekarang sudah besar. Sebentar lagi dia akan masuk universitas,“ ujarnya. Dia melirikku dan menahan tangis, “Eomma pasti senang sekali melihatnya sekarang, dia sudah jauh lebih sehat dibanding dulu. Eomma, uri Kim Hae sudah bukan anak kecil lagi, dia sudah menjadi gadis yang sangat cantik.”

Sekarang oppa sudah tak mampu menahan tangisnya lagi, begitu pula denganku. Ia memelukku erat.

“Eomma, kami di sini baik-baik saja. Semoga di sana Eomma pun baik-baik saja,” ucap oppa di sela tangisannya. Ia melihatku. Dia memberiku isyrat agar aku bicara pada Eomma. Aku mengangguk.

“Eomma, sekarang aku sudah jauh lebih sehat,“ kataku sambil terisak. Jungsoo oppa mengencangkan pelukkannya agar aku kuat untuk berbicara dengan Eomma. “Sekarang aku sudah masuk Kyunghee University, Eomma, meneruskan jejakmu. Aku ingin seperti Eomma.”

Oppa mengelus kepalaku.

“Eomma, saranghaeyo. Jeongmal saranghamnida, Eomma,” tangisku mengencang. Aku sudah tidak kuat untuk berbicara lagi. Lantas kupakai seluruh tenaga yang tersisa, “Eomma, bogosipho. Jeongmal bogosiphoyo, Eomma,” aku menangis sejadi-jadinya saat kalimat itu keluar. “Aku rindu Eomma. Aku ingin bertemu dengan Eomma. Batinku.

Aku merasakan kepalaku pusing dan kaki serasa tak menapak di tanah. Penglihatanku menjadi gelap. Kudengar bunyi sirine ambulans dan merasakan badanku diangkat. Aku juga mendengar suara Jungsoo oppa memanggilku berulang kali. Aku ingin membuka mataku, tapi mata ini tetap tidak mau terbuka. Saat itu aku benar-benar sudah tidak sadarkan diri.

Di saat yang sama…

[Author’s POV]

“Kim Hae-ah, bangun! Kim Hae-ah,” perintah Jungsoo panik.  “Kim Hae-ah, jangan tinggalkan aku! Eomma, eottohkae? Kim Hae-ah,” tangisnya pun pecah. Dia panik dan menelepon RS. Selama menunggu ambulans datang, Jungsoo masih berusaha membangunkan dongsaengnya itu.

“Yaaa! Park Kim Hae-ah, bangun! Tuhan, kumohon jangan ambil Kim Hae dariku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kumohon…,” pintanya di sela tangisnya. “Yaaa~ Park Kim Hae, bangun!“ pintanya.

Ambulans pun datang, Kim Hae segera dilarikan ke RS. Selama perjalanan ke sana, Jungsoo tak henti-hentinya memanggil dongsaengnya itu. Ia takut sekali terjadi hal yang tak diinginkan pada dongsaengnya tersebut. Ia tidak mau kehilangan orang yang paling berharga lagi baginya. Ia begitu takut hingga badanya pun gemetar.

Sesampainya di RS Jungsoo tidak ingin meninggalkan Kim Hae sendirian di ICU. Dia memaksa dokternya agar diijinkan untuk tetap ada di samping dongsaengnya itu. Dokter menolak, tapi Jungsoo tetap saja bersikeras ingin masuk. Namun, usaha Jungsoo tetap tidak membuahkan hasil, sehingga mau tak mau harus menunggu di luar.

Hampir satu jam dokter memeriksa keadaan Kim Hae. Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang ICU.

“Bagaimana keadaan Kim Hae?” Tanya Jungsoo panik.

“Ah, Anda oppanya? Mari ikut saya sebentar!” ajak dokter itu.

Jungsoo mengikuti dokter itu memasuki sebuah ruangan di mana di atas mejanya terdapat papan nama bertuliskan Siwon Choi. Jungsoo memperhatikan sekeliling ruangan tersebut. Dia takut sangat takut akan apa yang akan dikatakan oleh dokter Choi. Ia takut terjadi apa-apa pada Kim Hae

“Bagaimana keadaan Kim Hae sekarang?” Tanya Jungsoo.

“Begini Jungsoo-ssi, kanker yang ada di kepala adik anda telah menjalar. Harus secepatnya ditangani melalui operasi, tapi…”

”Tunggu apa lagi? Operasi saja kalau begitu!” sela Jungsoo.

“Tenang dulu! Jika dongsaengmu dioperasi, kemungkinan besar ia akan kehilangan sebagian memorinya. Apa Anda siap?” Tanya Dokter Choi.

Jungsoo terpaku, bingung dengan apa yang harus . Dia tidak ingin dongsaengnya meninggal, tapi di sisi lain ia juga tak ingin Kim Hae lupa akan kenangan-kenangan bersama keluarganya.

“Eottokhae?” lirihnya. Doker choi yang melihatnya merasa kasihan, beliau juga bingung harus melakukan apa.

Jungsoo berjalan lunglai meninggalkan ruangan. Ia terus-terusan bergumam sendirian dengan air matanya yang meleleh. Ia mendudukkan diri di depan ruangan Dokter Choi. Menangis. “Eotteokhae?”

“Jungsoo-ssi, Park Kim Hae sudah sadar,” seorang memberitahunya.

“Oh, kamsahamnida.“

Jungsoo merapikan dirinya agar Kim Hae tidak cemas ketika melihat keadaannya yang kusut. Disekanya air mata yang tersisa dan berlari menuju toilet untuk membasuh wajahnya. Setelah selesai, barulah ia ke kamar inap Kim Hae. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak di depan kamar tersebut dan menghela napasnya.

“Hwaiting!” ucapnya lirih dengan tinju yang mengudara.

Jungsoo membuka pintunya dan ia bisa melihat Kim Hae masih tertidur lemah. Didekatinya tempat tidur Kim Hae. Ia belai rambut dongsaenganya itu, “Kim Hae-ah,” panggilnya lembut.

Kim Hae membuka matanya, “Oppa… “ jawabnya lemah. Bola matanya memutar memperhatikan ruangan dimana dirinya sedang berada. “Aku ada di mana?”

“Kau di rumah sakit, Kim Hae-ah,” jelas Jungsoo.

Kim Hae memandang wajah oppanya itu, “Oppa, kau habis nangis ya?”

Jungsoo terkejut mendengar pertanyaan dongsaengnya itu, “Tidak! Aku tidak menangis. Untuk apa aku menangis?” elaknya.

Kim Hae tertawa, “Mukamu merah, Oppa. Itu tandanya kau berbohong padaku.“

“Aiiiisssshhh, kau ini…,“ ia mengacak-acak rambut Kim hae.

“Yaaa, Oppa! Rambutku kusut. Nanti tidak ada yang mau denganku kalau rambutku jelek,” protes Kim Hae yang membuat Jungsoo tertawa.

Kim Hae akan hidup lebih lama lagi, Eomma. Aku akan menjaganya. Batinnya.

“Oppa. Wae-yo?” tanya Kim Hae heran melihat oppanya termenung seperti.

“Ah…ani, aniyeyo.”

“Bohong! Oppa ada apa? Bagaimana keadaanku sebenarnya?”

“Aniii uri Kim Hae, gwaenchanayo,“ elaknya lagi. Kim Hae memegang tangan Oppanya itu.

“Oppa, naega waeire? Na gwaechanayo? Jeongmal gwaenchanayo?” ulang Kim hae.

Jungsoo bingung harus menjawab apa. Kim hae yang sedari kecil sudah sering sakit-sakitan tidak pernah diberitahu apa penyakit yang idapnya. Jungsoo terdiam. Dia lirik wajah Kim hae yang memelas.

“Ah, ne. Neo gwaenchana,“ katanya menenangkan.

Kim Hae menautkan alisnya, pertanda ia tidak percaya.

“Ah! Aku lupa. Sekarang sudah waktunya aku bekerja. Aissh…“

“Oppa,” panggil Kim Hae lagi. Jungsoo lagi-lagi pura-pura tidak mendengarnya.

“Ahh… Aku harus pergi. Kau tak apa-apa kan kutinggal?” katanya mengalihkan pembicaraan.

Kim Hae yang sudah tahu kelakuan Oppanya jika ada sesuatu yang disembunyikan darinya pasti selalu berkelit dan berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Hhh… Ya sudahlah Oppa,  aku tak apa-apa. Oppa kerja saja.“

“Baiklah, aku tinggal sebentar ya.,” Jungsoo mengecup kening dongsaengnya itu. “Aku pergi dulu,” lanjutnya.

Kim Hae mengangguk. Jungsoo lalu bergegas meninggalkan kamar itu. Ketika sampai di depan pintu, ia menghentikan langkahnya. Ingin sekali menangis tiap kali ingatannya terlempar pada ucapan Dokter Choi tadi. Dia menarik napas dalam-dalam lantas membalikkan badannya menghadap Kim Hae.

“Jangan terlalu dipikirkan!” ujarnya tersenyum lembut, menenangkan Kim Hae. “Aku pergi. Sampai jumpa,” pamitnya seraya membuka pintu lalu menghilang dari pandangan Kim Hae.

Tidak jauh dari kamar, Jungsoo berhenti. Dia terduduk lagi di lantai. Lagi-lagi menangis. Ia tidak sanggup kalau harus kehilangan Kim Hae. Ia tak sanggup memikirkan kalau setelah operasi nanti dirinya akan dilupakan oleh Kim Hae. Ia tak ingin semua itu terjadi.

Malam harinya di RS.  kamar Park Kim Hae

KREEEEKK…

Pintu kamar Kim Hae terbuka. Seorang lelaki masuk ke dalam ruangan itu. Membawa bunga dan strawberry cheesecake kesukaan Kim Hae. Dia letakkan yang ia bawa di atas meja samping tempat tidur. Dia menatap Kim hae lekat-lekat, matanya menyiratkan kalau dia mencintai gadis yang sedang tertidur manis di kasur itu.

Kemudian dia belai rambut Kim Hae dan mengecup keningnya. Dia terus menatap Kim Hae. Kemudian ia bungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kim Hae yang masih tertidur. Makin dekat, hingga bibir mereka bersentuhan. Lelaki itu mencium Kim hae. “Saranghaeyo, Kim hae-ah.”

Dia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sesosok pria lain yang memperhatikan apa yang dia lakukan dari luar sana. Pria itu pergi beberapa saat sebelum lelaki misterius yang ada di dalam kamar Kim Hae keluar. Kim Hae yang tengah terlelap tidak menyadari bahwa ada seseorang yang datang menjenguknya. Apalagi mengetahui apa yang sudah dilakukan lelaki itu padanya.

to be continued…

## Mian, kalo jelek. Hhe…
Masih awam di dunia per-ff-an *bahasa apa ini?*
Terima kritik dan saran. Hhe ~

 

6 responses to “Super Junior FanFiction: “When I Call It ‘Love’ [Part I]”

  1. Deunryelysma

    August 2, 2010 at 10:09 AM

    Annyeong chingu…
    Sy reader baru…
    ffna bagus koq..
    kutunggu kelanjutannya.. ^ _ ^

     
    • mochimochimine

      August 4, 2010 at 5:40 PM

      hehehe .. maksih yaa udah baca ^^
      sering2 berkunjung ^^

       
  2. hilda

    August 5, 2010 at 9:21 AM

    anyong,
    bgus lho ffx..pnasaran klo ntr memorix hilang gmn, hoho
    lanjut ya..

     
  3. nanda kyuwon

    August 11, 2010 at 10:09 PM

    annyeong…
    ff nya bagus….
    lanjutin terus……

     
  4. vanny

    August 24, 2010 at 4:44 PM

    bagus critanya…

    kapan lanjutannya??

     
  5. putri

    February 25, 2011 at 10:24 AM

    waa bagus ceritanyaa xD
    di tunggu kelanjutannyaa! ^^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: