RSS

Super Junior Fanfiction:”The Prince is a frog (chapter 1): ~The Story Begin~”

17 Sep


Pada jaman dahulu kala, yang jelas tidak dahulu banget seperti di masa dinosourus, zaman es juga sudah berakhir bentuk tubuh manusia juga sudah memasuki bentuk  homo sapiens. Yah, kira-kira sezaman dengan zaman rainasence. Ada yang tau reinasence itu apa? Ya sudah kalau tak tau juga tak apa, kita tidak belajar sejarah saat ini haha~

Yak di zaman itu lah kira-kira hidup seorang pangeran tampan nan kaya raya. Oya, Karena ketampanan itu relatif jadinya mungkin harus ditekankan kepada kekayaan yang dimilikinya.

Di zaman itu memang jika di ukur dengan tingkat ketampanan di zaman sekarang mungkin akan ada terjadi sedikit kesenjangan, bisa jadi criteria tampan  pada zaman itu semakin keriting dan bucitnya perut seorang pria, semakin tampan lah dia. Kenapa bisa disebut begitu? Ayolah perhatikan saja lukisan diri raja atau pangeran perancis atau juga inggris pada zaman itu. Tunjukan dimana letak ketampanan mereka kecuali betapa banyak harta yang mereka miliki dan dapat membuat wanita tergila-gila dan tentu saja kekayaan yang mereka dapat pun diperoleh dari pungutan pajak yang besar pada rakyat mereka yang miskin dan oh, tidak lupa dari perampasan hak tanah dari bangsawan miskin.

Pada masa itu, dimana kau bahkan tidak pernah mencuci dengan benar setelah kau membuang kotoran yang tentu saja mana ada sih system sanitasi yang baik pada saat itu, hiduplah pangeran itu. Tapi sungguh dia benar-benar tampan dan kekayaannya juga melimpah. Kau bahkan bisa membeli lembah dan gunungnya hanya dengan jepit rambut yang digunakannya.

Tapi, apa gunanya tampan dan kaya kalau kau tak berakhlak mulia? Sangat sombongdan angkuh, itulah sifat yang dimilikinya. Dan akhirnya kalian yang sudah tau kisah tentang The Prince of The Frog pasti tau kalau pangeran itu dikutuk menjadi katak. Dia akan kembali menjadi manusia jika mendapatkan cinta sejati dan bisa mengubah sifat angkuh dan sombongnya menjadikanya sebagai pria yang rendah hati dan halus budi pekerti.

$$$$$

Gadis itu menutup buku dongeng dengan tampang tidak tertarik untuk membacanya sambil berpikir tulisan dibuku itu sangat aneh dan kemudian melempar buku itu kearah kardus untuk dibuang ke pembakaran. Gadis itu terlihat sangat kesal karena harus membantu membersihkan gudang di taman kanak-kanak ‘Hyocha’ tempat sahabatnya mengajar. Park Chaeri nama gadis itu sudah menyangka kegiatan bersih-bersih itu sangat tidak menyenangkan. Dia mau tak mau membantu karena dia adalah pengangguran yang sedang mencari kerja dan ditempat nya bersih-bersih saat inilah dia mengajukan lamaran kerja.

Jin rin: (Tiba-tiba muncul dari luar gudang) “Chaeri-ya, sudah lelah? Istirahatlah diluar, biar aku yang menyelesaikan membereskan tempat ini.”

Jung jin rin seorang pengajar di Tk ‘Hyocha’, sangat disukai oleh murid-murid di Tk itu karena keramahan dan kesabarannya dalam mengajar. Tidak heran dia bisa bertahan menjadi pendidik di tempat itu. Sedangkan Chaeri adalah gadis sembrono yang tidak bisa bertahan ditempat manapun dia bekerja. Suka mengeluh adalah ciri khas gadis itu. Jin rin tau dengan sifat buruk sahabatnya itu tetapi dia tidak tega melihat sahabatnya menjadi pengangguran dan tentu saja siapa sih yang bisa bertahan jika setiap bertemu mendengarkan keluhan-keluhan yang membuat si pendengar jadi ikut-ikutan stress?

Jadi, Jin rin menawari Chaeri bekerja di tempatnya. Jin rin bertekad akan membuat Chaeri betah dengan pekerjaan yang diberikannya. Chaeri sesungguhnya gadis yang giat dan tekun tetapi mungkin selama ini pekerjaan yang didapatnya tidak sesuai untuknya, sebelumnya gadis itu bekerja sebagai repoter di Koran kota tetapi dia terlalu idealis dengan pemikirannya sehingga timbul ketidakcocokan antara dirinya dengan atasannya. Jin rin berharap dengan banyaknya interaksi Chaeri dengan anak-anak Tk yang masih polos dapat membuat Chaeri bisa membuka pikirannya.

Jin rin: (sambil tersenyum memperhatikan Chaeri yang masih asyik bersih-bersih)“Wajahmu sudah pucat, langsung pulang sajalah kalau begitu ketimbang besok tidak bisa mengajar di hari pertamamu.”

Chaeri: (pupil mata melebar mendengar perkataan Jin rin, wajah yang semula lesu berubah menjadi segar) “Tadi kau bilang… Omo, aku diterima bekerja?!” (Memandang Jin rin dengan pandangan tak percaya)

Jin rin: (Tertawa) “Ne, jadi besok jangan terlambat. Harus tiba disini sebelum pukul 7 pagi.”

Chaeri: (memeluk Jin rin) “Gomawoyo Jin rin-ya, aku mencintaimu. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan pulang sekarang.”

Jin rin: (menarik lengan baju Chaeri sebelum keluar dari melewati pintu gudang) “Taruh kardus itu ke pembakaran dulu baru pulang!”

Chaeri: (Tanpa berkata, menuruti perintah Jin rin).

Jin rin: “Chaeri-ya, tunggu!”

Chaeri: “Apa?”

Jin rin: “Besok, usahakan agar kau datang diantar Jungsoo-oppa.” (sambil malu-malu dan wajah memerah)

Chaeri: (Nyengir kuda) “Baiklah, akan ku usahakan.”

Chaeri pun berlalu menuju ke pembakaran sampah. Dilihatnya langit mendung walau tak jelas akan turun hujan atau tidak. Di sepanjang musim panas ini hujan hanya turun tiga kali dan Chaeri berharap akan ada hujan lagi yang turun.

Chaeri tidak suka musim panas, dia benci dengan teriknya matahari. Dia juga bukan orang yang suka berlibur ke pantai atau ke kolam renang saat liburan musim panas. Alasannya karena dia tidak bisa berenang, dan bagaimana bisa berenang jika pergi ke kolam renang untuk belajar saja dia tidak mau. Saat masih sekolah dulu, dia lebih suka menghabiskan liburan dengan pergi ke gunung sambil menikmati es syirup yang dibuatnya sendiri.

Ada filosofi yang merasuk ke hatinya dan menjadi prinsip hidupnya, dia mendapatkan itu ketika sedang mendaki gunung, filosofi itu berbunyi, “ketika mendaki gunung rintangan yang berat dan beban dalam melangkah menghambatmu untuk maju tetapi ketika telah sampai dipuncak hanya keindahanlah yang dilihat dan ketika saat turun gunung tiba, kau bahkan tidak merasa kalau kau bisa turun lebih cepat dibanding saat kau mendaki”.

Filosofi itu membuatnya berpikir lebih baik menjalani hidupnya dengan apa adanya, karena ketika suatu saat nanti akan mendapatkan kejayaan, kejayaan itu tidak akan selamanya ada padanya.

Selain itu, digunung juga menjadi tempatnya mendapatkan hewan-hewan peliharaannya. Chaeri memang sangat suka memelihara hewan, bukan hewan biasa tentunya tetapi hewan liar. Dia pernah memelihara rubah, tupai bahkan ular. Tetapi hobinya memelihara hewan ditentang oleh kakak lelakinya Park Jungsoo.

Jungsoo tidak menyukai hobi adiknya itu karena dinilainya aneh dan terlalu liar. Sebenarnya jika Chaeri merawat kucing atau anjing, Jungsoo bisa saja setuju tetapi Chaeri tidak menyukai hewan rumahan. Chaeri lebih suka memelihara hewan yang ditangkapnya sendiri di gunung. Bagi Jungsoo itu mengerikan. Chaeri masih ingat terakhir kali dia memelihara hewan setahun yang lalu, saat itu dia memelihara seekor ular sanca yang hampir saja membuat nyawa Jungsoo melayang. Chaeri memutuskan memberikan ularnya ke pawang ular karena dia takut akan kehilangan Jungsoo, satu-satunya saudara yang dimilikinya dan sejak saat itu mulai menahan diri untuk memelihara hewan liar lagi.

Chaeri meletakan kardus di pembakaran. Kemudian dia memperhatikan buku yang terletak paling atas disusunan buku-buku dalam kardus itu. ‘The Prince of the frog’ judul buku yang semula tidak dianggapnya. Diambilnya buku dongeng itu dan dimasukannya kedalam tas selempang yang digunakannya. Dia berpikir, mungkin buku itu akan berguna untuknya besok. Dengan senyum riang dia beranjak dari tempat pembakaran sampah menuju parkiran tempat dia meletakan sepeda yang menjadi alat transportasi favorinya. Dia ingin cepat pulang karena selain langit yang terlihat semakin berat hendak menumpahkan air yang ditampungnya, dia juga tidak sabar ingin mengabari kakaknya berita bahagia tentang pekerjaan barunya.

Dengan cepat dikayuhnya sepedanya menuju apartemen tempat dia hidup bersama kakaknya yang merupakan warisan dari kedua orang tuanya. Dari Tk ‘Hyocha’ menuju kediamannya berjarak 2 km, tidak terlalu jauh. Chaeri sangat yakin dia bisa sampai kerumah tanpa harus kehujanan.

Chaeri terus mengayuh sepedanya dengan cepat tetapi saat tiba di taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemennya, dipelankan kayuhan sepedanya. Dia memandangi taman itu sambil membuka kenangan yang dimilikinya bersama taman itu. kenangan yang indah akan masa kecilnya bersama keluarga. Chaeri ingat dia selalu bermain di taman itu ketika sore tiba dan ketika senja menjelang ibunya akan medatanginya untuk menjemputnya pulang. Terkadang dulu juga dia pernah bermain ayunan bersama ayah dan kakaknya. Saat-saat indah yang tidak mungkin akan diulangnya lagi.

Chaeri mulai mengayuh lagi sepedanya setelah sempat terhenti karena memandangi taman. Tetapi belum sampai sepuluh meter, dia mengerem mendadak sepedanya membuatnya hampir terjatuh. Dia mengerem sepedanya karena dilihatnya ada katak yang tiba-tiba meloncat ke jalur sepedanya. Chaeri berhenti dan katak itu juga berhenti. Sepertinya katak itu juga merasakan keterkejutan yang sama seperti yang Chaeri rasakan.

Tak butuh waktu lama katak yang semula ada di tanah, kini sudah berada di kantung tas Chaeri. Chaeri menangkap katak itu untuk di pamerkan pada murid-muridnya besok sekaligus untuk dipelihara. Sudah lama dia memang ingin memelihara katak tetapi entah kenapa walau ingin, setiap akan menangkap katak untuk dipelihara Chaeri merasa jijik. Dan entah kenapa pula saat menangkap katak ini rasa jijik itu sirna. Bagi Chaeri, katak yang satu ini berbeda. Kulitnya lebih mengkilap dan coraknya juga tidak seperti katak biasa. Ada corak kecoklatan di ubun-ubun katak itu membuat katak itu terlihat seperti mengenakan mahkota.

$$$$$

Diletakkannya katak yang baru ditangkapnya ke dalam kotak transparan yang dulunya merupakan tempat kura-kura dan ditaruhnya kotak itu di meja komputer yang terletak di sebelah kiri ranjangnya. Chaeri kemudian duduk di ranjangnya sambil menatap jendela yang basah karena hujan diluar sana. Chaeri merasa kesal, sangat kesal kepada kakaknya. Jungsoo lagi-lagi membiarkan Chaeri sendirian di apartemen mereka.

Chaeri pikir ketika sampai dirumah dia akan disambut Jungsoo yang sedang mengenakan celemek karena membuat makan malam mereka dan kemudian dia akan bercerita tentang pekerjaan barunya. Tetapi alangkah kecewanya dia ketika sampai malah hanya melihat sebuah kertas memo terpampang di pintu kulkas yang berisi pesan Jungsoo bahwa dia akan pulang besok sore karena ada pekerjaan diluar kota. Untuk kondisi seperti ini Chaeri jadi berpikir alangkah menyenangkannya jika memiliki Hp. Chaeri sudah tidak memiliki Hp lagi sejak dua bulan yang lalu, kartunya diblokir karena tidak membayar tagihan selama empat bulan.

Ditengah hujan yang makin derasnya diluar sana, Chaeri duduk termenung seorang diri dikamarnya. Awan mendung membuat langit sore bagaikan malam hari dan suasana suram seperti itu membuat hati yang muram menjadi semakin menyedihkan.

Chaeri kemudian mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah katak yang baru ditemukannya sebelum sampai rumah tadi. Diraihnya katak itu dan meletakkanya dipangkuannya. Bagi Chaeri katak yang ukurannya hanya sebesar telur ayam itu sangat menggemaskan dan katak itu sepertinya sangat jinak padanya. Katak itu terlihat sangat nyaman dipangkuan Chaeri dan menikmati setiap elusan yang diberikan Chaeri di kepalanya.

Chaeri: “Kau sepertinya jinak sekali. Aku yakin kau pasti milik seseorang. Bentukmu sangat indah. Aku beruntung menemukanmu dan kau beruntung tidak kulindas. Jadi tenanglah bersamaku. Akan kurawat kau dengan baik.”

Chaeri kemudian mengangkat katak itu, mengarahkan ke wajahnya untuk diberikan kecupan. Chaeri memang sekalipun tidak pernah mencium pria, tetapi untuk mencium hewan itu hal yang sering dilakukannya. Dia tidak pernah merasa jijik melakukan hal itu karena itu merupakan wujud dari kecintaannya pada hewan-hewan yang dipeliharanya. Dan alasan mengapa dia tidak pernah mencium pria karena Chaeri tidak pernah merasakan nikmatnya menjalin hubungan asmara. Dia tidak pernah merasakan indahnya jatuh cinta dan membiarkan dirinya terpesona oleh pria. Dia benar-benar gadis yang malang.

Setelah memberikan kecupan sebanyak tiga kali pada katak itu,  kembali diletakkannya katak itu ke pangkuannya.

Chaeri: “Aku sangat kesepian. Untung aku menemukanmu. Sedih rasanya menghabiskan waktu seorang diri seperti ini…”

Katak itu tiba-tiba meloncat dari pangkuan Chaeri. Dia meloncat ke lantai menuju pintu keluar. Katak yang bodoh. Mana mungkin dia bisa keluar dari kamar Chaeri sementara pintu tertutup. Tapi, memang ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuh katak itu. Dia melompat-melompat tak karuan dan warna kulitnya yang hijau pun terlihat berubah.

Chaeri terkejut dengan tingkah laku yang aneh pada katak itu tetapi dia tidak bisa berbuat apapun. Chaeri menangkap ada fenomena aneh pada katak itu. Tubuh katak itu membesar. Membesar dengan sangat cepat dan Chaeri hanya bisa terperangah menyaksikan pemandangan ajaib itu. kulit katak itu berubah layaknya kulit manusia. Tangan dan kakinya juga. Chaeri berusaha menutup mulutnya agar tidak berteriak menyaksikan sebuah transformasi mengerikan dari seekor katak menjadi tubuh manusia. Manusia berjenis kelamin pria dan dalam kondisi tak terbungkus sehelai benang pun.

Chaeri: (Tidak sanggup lagi menahan keterkejutannya) Kyaa~!!! (Berusaha berteriak senyaring mungkin)

Pria katak: (Menutup mulut Chaeri dengan tangannya berusaha meredam teriakan Chaeri) “Agashi-ya, kumohon jangan berteriak!”

Chaeri: (Menendang pria itu hingga terjungkal, jatuh dari ranjang) “JANGAN SENTUH AKU MAKHLUK MESUM!!! (kemudian tanpa sengaja matanya menatap ke arah hal yang tak patut dilihatnya) Aigoo~ aku pasti bermimpi. Kyaa~ aku harus bangun sekarang. (Mulai membenturkan kepala ke dinding, tetapi kemudian sadar kalau dia tidak sedang bermimpi) Kenapa kau telanjang didepanku? Mataku jadi tidak suci lagi!”

Pria katak: (Menarik selimut yang terlipat rapi diranjang Chaeri, kemudian mengenakannya untuk menutupi organ vitalnya) “Agasshi, aku bukan makhluk mesum dan kondisiku yang seperti ini…, bukanlah hal yang kumau. Jadi, kumohon tolonglah aku.”

Chaeri: (Mulai berani menatap pria itu) “Tapi.. sebenarnya kau itu katak atau manusia?”

Pria katak: (Menghela nafas panjang, terlihat sangat kesal) “ Penjelasannya akan panjang, tapi sebelumnya kumohon… tolong berikan aku pakaian.”

Tanpa banyak bicara, Chaeri kemudian keluar kamarnya menuju kamar Jungsoo untuk mengambil pakaian yang akan digunakan pria itu. Chaeri masih merasa kaget dengan kejadian yang dilihatnya tetapi dia juga menyimpan rasa penasaran. Dia tidak menyangka kalau dongeng tentang pangeran katak itu sungguhan terjadi. Pria katak yang ada dikamarnya itu benar-benar seperti pangeran. Sangat tampan. Kulit pria itu juga sangat bersih. Terlihat lebih terawat dibanding kulit tubuh kakaknya.

Setelah menemukan pakaian yang dirasa pantas. Chaeri kembali ke kamarnya, dia memberikan pakaian Jungsoo untuk dikenakan pria katak itu. Setelah memberikan pakaian,Chaeri keluar dari kamarnya untuk memberikan privasi pada pria itu saat berganti. Chaeri menunggu pria katak itu di ruang tamu yang juga sekaligus ruang keluarga rumahnya. Dia tidak sabar menunggu penjelasan dari pria itu.

Pria katak itu kemudian keluar dari kamar Chaeri dengan mengenakan pakaian lengkap milik Jungsoo yang tampak kekecilan di tubuhnya.

Pria katak: (duduk dihadapan Chaeri, membuat gadis itu cukup terkejut) “Aku lapar.”

Chaeri: (Kaget dengan perkataan pria itu) “Mwoo?”

Pria katak : (Terlihat acuh) “Sudah lebih dari sepuluh jam aku tidak makan. Jadi tolong buatkan aku makanan!”

Chaeri: (merasa tidak terima) “Tapi..” (Pria itu mengarahkan telapak tanganya pada Chaeri, menandakan tidak menerima penolakan membuat Chaeri tidak bisa berkata-kata)

Pria katak: “Setelah kau buatkan makanan baru kujelaskan…,lagipula menolong orang kan tidak boleh setengah-setengah.”

Pria itu berbicara seenaknya, tetapi Chaeri hanya bisa menuruti keinginan pria itu. Chaeri merasa iba melihat wajah pucat pria itu, gadis itu juga dapat mendengar suara kelaparan dari perut pria itu. Chaeri pun membuatkan ramyun yang dimakan dengan lahap pria itu. benar-benar terlihat sangat kelaparan.

Pria katak: “Ah~ ramyun pun terasa sangat nikmat jika dimakan dalam kondisi kelaparan.” (Sambil menyeruput kuah ramyun yang masih tersisa dimangkuknya)

Chaeri: “Sekarang kau sudah kenyang. Jadi, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Dimana Katak ku dan siapa kau?”

Pria katak : “Akulah katakmu, agasshi!”

Chaeri: “Lalu? Kenapa katak ku beraubah menjadi kau?” (sangat tidak sabar dengan sikap santai pria yang ada dihadapanya)

Pria katak: “Kurasa itu tidak perlu kujelaskan.”

Chaeri: “Tidak perlu dijelaskan? Hey~ tak taukah kau.. bahwa perubahanmu itu membuatku terkejut. Aku nyaris mati. Lagipula kau bilang setelah diberi makan kau akan menjelaskan padaku.” (Sudah sangat emosi dan wajah nya memerah karena marah)

Pria itu terlihat mengacuhkan Chaeri. Dia tidak menanggapi pertanyaan Chaeri. Terlihat sangat enggan untuk menjelaskan kondisinya.

Chaeri: (mulai menyerah) “Kalau begitu segeralah pergi dari sini!”

Pria katak: (terkejut mendengar dirinya diusir) “Tidak bisa!”

Chaeri: “Mwo? Kenapa?”

Pria katak: ( ragu menjawab, tetapi sadar kalau pertanyaan kali ini harus dijawab) “Karena diluar sana masih hujan.”

Chaeri: (nyengir) “Lalu?”

Pria katak: “Aku akan menjadi katak lagi jika terkena hujan.”

Chaeri: “Oh..Begitu. Tidak apa kan menjadi katak lagi?” (dengan nada mengejek)

Pria katak: “Tapi aku ini manusia. Aku tidak sudi menjadi katak lagi!”

Chaeri: “Oh, jadi kau manusia. Kupikir.. katak yang mendapatkan mukzijat menjadi manusia. Lalu kenapa kau menjadi katak? Apa seperti di cerita dongeng?” (Menatap mata pria itu meminta penjelasan)

Pria katak: “Tidak sepenuhnya sama seperti di dongeng. Tapi, cerita itu memang terjadi padaku.”

Chaeri: “Oww.., malang sekali. Yeah…”

Pria katak: (menghentikan perkataan Chaeri) “Sudah cukup. Berhentilah mengejekku. Sekarang sediakan tempat tidur untukku dan mana Hp mu?”

Chaeri: (Marah) “ Hey, enak saja! Kalau mau tidur ya… dikursi saja dan aku tidak punya Hp!”

Pria katak: “Baik aku tidur dikursi, tapi…agasshi, kau miskin sekali! Jaman sekarang tidak punya Hp?”

Chaeri: “Sudah dibantu tapi masih saja mengejek! Tidak ada alasan untukku menjelaskan mengapa aku tidak punya Hp. Gunakan saja telpon rumah.”

Pria katak: (Tersenyum) “Kamsahamida..”

Chaeri kemudian meninggalkan pria itu dan memasuki kamarnya. Dia merasa sangat lelah dan kejadian yang baru saja dialaminya membuat rasa lelahnya semakin menumpuk. Entah kenapa dia merasa nyaman dengan keberadaan pria itu. tak ada rasa kuatir walaupun sekarang dia hanya berdua saja dengan pria itu. walaupun baru kenal, dia percaya kalau pria itu tidak akan melakukan hal yang buruk padanya.

Sore dengan cepat berganti malam, sementara diluar hujan tak kunjung berhenti. Air yang jatuh dari langit tak ada habisnya membasahi tanah.  Tampaknya hujan tidak akan berhenti sampai pagi. Saat tengah malam, Chaeri keluar dari kamarnya untuk meng-cek keadaan pria katak itu. Pria itu terlihat nyenyak dengan tidurnya walau dia hanya berbaring di sofa yang bahkan tidak lagi empuk. Terlihat sangat kelelahan. Chaeri lantas menyelimuti pria itu agar  pria itu tidak masuk angin karena cuaca malam itu sangat dingin. Setelah menyelimuti pria itu, Chaeri kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.

Sebelum tidur, Chaeri merenung dan dia sadar, setelah kejadian hari ini tampaknya dihari-hari berikutnya akan ada peristiwa dan kejadian-kejadian yang tak terduga yang akan dialaminya. Dia mengalami peristiwa menakjubkan yang dipikirnya hanya ada dalam dongeng, dia bertemu seekor katak yang berubah menjadi manusia. Katak yang berubah menjadi seorang pangeran tampan yang bahkan Chaeri belum ketahui namanya.

~To Be Continued~

Siapakan pangeran katak itu?

Bakal diketahui di part berikutnya ^_________________^

This FF by Myth_mit/Mitmit Chullie

 
3 Comments

Posted by on September 17, 2010 in Fanfiction, Super Junior

 

3 responses to “Super Junior Fanfiction:”The Prince is a frog (chapter 1): ~The Story Begin~”

  1. kyucee

    September 23, 2010 at 4:24 AM

    Oke
    D tunggu lnjutannya…
    Asli keyen,pnuturan kata2ny dapat bngetz

     
  2. haewonnieV

    September 25, 2010 at 7:05 AM

    mungkin kyu karena mit-mit biasnya kyu..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: