RSS

SHINee FanFiction: “The Dim Stars”

10 Jan

 

 

MALAM ini cerah, bulan memancarkan cahayanya berkat bantuan bintang. Ini awal musim semi yang menyenangkan. Angin sejuk meniupkan rambut seorang gadis yang kini tengah berbaring terlentang di atas rumput. Tangan kanannya terangkat ke atas seperti hendak meraih sesuatu. Ia masih mengenakan gaun pengantin, lengkap dengan sebuah bouquet bunga lily di sampingnya.

“Di sini rupanya.”

Sebuah suara pria membuatnya menoleh dan menurunkan tangannya. Ia tersenyum. “Mencariku?”

“Hm,” pria itu mengangguk. “Kau membuatku cemas.”

“Aku bukan balita!”

“Yeah, sekarang kau istriku, Park Chaeri.”

Chaeri mengalihkan pandangannya dan lagi-lagi senyum mengembang dari bibir. Matanya kembali menatap langit.

“Apa yang kau lihat? Sebegitu menariknyakah langit malam bagimu? Ini bukan yang pertama, kan?”

“Ya, walaupun gelap tetap terlihat indah, Jinki-ya.”

“Tentu saja,” Jinki mengikuti arah pandang Chaeri. “Karena di sana ada bintang.”

Chaeri tersenyum lebar. Tangannya bergerak-gerak berusaha menggapai bintang. Sedangkan Jinki menjatuhkan dirinya ke rumput, ikut berbaring di sisi istrinya. Lalu menatap langit dan tangan Chaeri secara bergantian.

Mereka bersama-sama melantunkan lagu mengikuti irama musik yang masih terdengar di gedung walaupun acara pernikahan telah usai sejak satu jam yang lalu.

“Cuacanya sangat bagus untuk melihat bintang. Manjakan matamu untuk malam ini, Chaeri-ya!”

“Apa hanya untuk malam ini? Takkan ada malam lain?”

Jinki menoleh ke kiri dan mendapati Chaeri tengah mengerutkan alisnya. Ia tertawa dan mencubit pipinya.

“Kau tak berubah walau sudah menikah. Tentu saja bukan itu maksudku…”

“Lalu?”

“Entahlah, aku merasa bintang hari ini lebih redup dibandingkan kemarin.”

“Benarkah?”

Jinki mengangguk. Tangannya terlipat dan mata kembali menatap langit. “Sebelum redup, kita harus memilikinya. Pilih bintang mana yang kau suka, aku akan membelikannya untukmu.”

“Beli?”

“Ya. Apa kau pernah mendengar aktor bernama Kim Heechul diberi hadiah sebuah bintang di langit oleh para penggemarnya?”

Chaeri menggeleng.

Jinki menarik tangan Chaeri. “Pilih saja, maka ia akan menjadi milikmu selamanya.”

Gadis itu kembali ‘meraba’ langit dengan tangannya. “Aku mau itu. Bintang dengan sinarnya yang paling terang.”

“Hmmm,” Jinki menaruh telunjuk dan jempol di dagu, alisnya bertaut, mencoba berpikir. “Kau yakin? Menurutku bintang yang di sana lebih besar dan terang. Tak ingin berubah pikiran?”

Chaeri menggeleng. “Tidak. Itu milikmu.”

Jinki tersenyum. “Gomawo.”

“Kuharap mereka tak pernah redup. Aku sangat sedih melihat langit gelap tanpa ditemani bintang.”

“Ya, karena bintang adalah pahlawan malam. Setidaknya itu menurut Seohyun.”

“Seohyun?”

“Adik perempuan Leeteuk-hyung. Kau tak mengenalnya. Ia atasanku.”

Chaeri mengangguk-angguk percaya. Tak ada alasan untuk mencurigainya. Ia sangat beruntung memiliki suami sebaik Jinki.

“Baiklah, besok aku akan mendaftarkan bintang kita. Mereka akan sah dimiliki setelah sertifikat kepemilikan sudah ada di tangan kita. Sekarang, bangunlah! Gaunmu terlalu terbuka untuk tidur di atas rumput seperti itu. Sebaiknya kita ke sana, yang lain mungkin sedang mencari kita.”

Chaeri bangun dan bergelayut di punggung Jinki.

“Hey, aku baru tahu kau semanja ini.”

“Ya, sejak kau suamiku. Kaja!”

 

+++

 

Tiga bulan kemudian…

JINKI sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Ia duduk di sisi kasur, membersihkan sepasang sepatu lalu memasukkannya ke dalam tas khusus dan menaruhnya di atas tumpukan baju di koper.

Chaeri datang, di tangannya terdapat secangkir teh. Ia membawanya ke hadapan Jinki yang disambut dengan senyuman. Ia menerima cangkirnya dan menyesap teh hingga tak tersisa. Kemudian kembali berkutat dengan peralatan mandi dan menaruhnya di atas tumpukan baju di samping sepatu tadi.

“Hati-hati!”

Jinki menghentikan aktivitasnya, ia berbalik menghadap Chaeri yang memandangnya cemas.

“Maafkan aku!”

“Tidak, tidak. Ini kewajibanmu untuk melindungi negara. Dan sudah seharusnya aku mendukungmu sebagai istri. Kau salah satu anggota militer terbaik yang dimiliki negara ini. Jalani tugasmu seperti biasa!”

Jinki tersenyum dan memeluk istrinya.

“Gomawo, Chaeri-ya. Satu hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah memilikimu.” Chaeri menggeliat karena pelukan suaminya terlalu ketat. “Tidak, kumohon tetaplah seperti ini! Kita akan terpisah selama enam bulan dan ini sangat berat bagiku. Ini adalah tugas terberat jika harus berpisah seperti ini darimu.”

“Ya, begitupula denganku.”

Jinki melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah Chaeri. “Berjanjilah untuk tak menangisi kepergianku!”

“Apa maksudmu? Kau hanya pergi selama enam bulan. Itu bukan waktu yang lama. Kita harus melaluinya dengan baik. Berjanjilah untuk selalu menghubungiku.”

“Siap!” sahut Jinki dengan gerakan ala pasukan militer.

“Jaga kesehatanmu! Aku ingin kau kembali sehat. Kami menunggumu…”

“Ya,” Jinki kembali memeluk Chaeri, namun tiba-tiba melepasnya. “Kami?!”

Chaeri tersenyum. Tangannya mengelus perut.

“A-apa? Ka-kau hamil?”

Chaeri mengangguk malu-malu. Jinki menariknya ke dalam pelukan lalu menggendongnya dan berputar.

“Hentikan! Kau membuatku pusing.”

“Aku berjanji akan kembali secepatnya. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Chaeri. Aku akan menjadi appa…”

 

+++

 

KEESOKAN harinya di tengah ingar-bingar pusat perbelanjaan Dongdaengmun, dari arah pintu selatan terlihat Chaeri keluar dengan beberapa tas belanja yang memenuhi tangannya. Ia berjalan menyusuri trotoar di mana sisi kanannya dipenuhi deretan pertokoan dan café.

Beberapa meter di depan sebelum tikungan, berkumpul beberapa orang menyaksikan sesuatu dari etalase TV yang terpajang. Ia memperhatikan kerumunan itu dan berjalan semakin dekat.

Menonton bola atau ada skandal idola? Tanyanya dalam hati.

Tapi ini berbeda, ia bisa melihat seorang bapak menangis. Ini bukan pertandingan sepak bola dan bahkan tak ada hubungannya sama sekali dengan idola. Chaeri menyeruak di antara kerumunan untuk mengambil tempat paling depan. Kini ia bisa leluasa melihat TV.

Matanya bergerak membaca sebuah headline news dan beberapa running text: “Yeonpyeong dihujani artileri oleh militer Korea Utara.”

Tas-tas belanjaannya meluncur begitu saja dari jari. Tangannya spontan membekap mulut. Ini sangat mengejutkan. Yeonpyeong adalah semenanjung di mana Jinki dipindahtugaskan.

Berita dengan cepat mengeluarkan daftar nama beberapa orang yang terluka dan bahkan tewas. Matanya bergerak mencari-cari dengan bibir bergetar. Dan di sana, di kolom daftar korban, nama Lee Jinki tertulis…

 

+++

 

MALAM hari di sebuah ruang rawat inap rumah sakit. Di lantainya dibiarkan beberapa robekan kertas terhambur tak beraturan. Chaeri menulis sesuatu di kertas itu dan kembali merobek, meremas, dan membuangnya ke lantai. Ia mengelus lembut perutnya yang semakin membesar sambil memandangi sesosok tubuh yang terkulai lemah di atas kasur.

“Jinki-ya, aku sedang membuat nama untuk anak kita. Ta-tapi, sudah beberapa kali pun mencoba tetap tak bisa menemukannya. Aku memerlukan bantuanmu, kau harus bangun!”

Ini sudah bulan kesembilan Jinki terbaring di sana dalam keadaan koma. Chaeri hanya bisa menungguinya tanpa kepastian kapan suaminya akan bangun.

Ia bangkit dan berjalan menuju jendela dan membukanya. Kepala terangkat dengan mata menatap langit. Sudah beberapa hari ini bintang tak muncul. Hatinya perih melihat langit gelap tanpa pancaran cahaya mereka. Sangat melukiskan dirinya tanpa Jinki sekarang. Bintang itu menghilang seiring raga Jinki yang tak bergerak saat ini.

“Chaeri-ya, kau belum tidur?”

Chaeri menoleh. “Nanti saja, Eomma.”

“Jangan seperti ini, pikirkanlah kandunganmu!”

Ia mengangguk dan kembali berjalan menghampiri Jinki. “Kapan dia akan bangun, Eomma? Aku benar-benar takkan memaafkan orang yang telah membuatnya menjadi seperti ini.”

Eomma memeluknya hangat, sedangkan Chaeri menggenggam erat tangan Jinki.

“Jinki, kau lihat? Aku tak menangis. Aku berjanji tak menangis atas permintaanmu. Aku merindukanmu. Begitupun dengan dia,” ia menyentuhkan tangan Jinki ke perutnya. “Rasakan betapa ia sangat merindukanmu. Berjuanglah demi kami! Kau harus bertahan hidup demi kami! Kumohon, Jinki, bangunlah!”

Serangan yang dilakukan Korea Utara terhadap Korea Selatan, tepatnya di pulau Yeonpyeong, dengan menghujamkan artileri membuat banyak korban berjatuhan. Salah satunya Jinki, sebuah artileri berhasil mengepungnya saat ia sedang mempersiapkan aksi balasan. Walaupun terhindar dari ledakan, namun beberapa bangunan yang rubuh mengenai tubuhnya. Kepala terkena beberapa hantaman material bangunan dan membuat hampir sekujur tubuhnya dipenuhi luka memar.

Tim dokter tak dapat memastikan kapan ia bisa siuman. Hal ini bisa terjadi dalam jangka pendek maupun menahun. Yang jelas, Jinki telah berjuang membela negaranya dan kini ia harus berjuang untuk bertahan hidup.

“Eomma,” panggil Chaeri.

“Hm?”

“Pe-perutku sakit…”

“Ne?”

Eomma segera menekan tombol pemanggil perawat yang terpasang di sisi kasur lalu mendudukkan Chaeri ke sebuah kursi. Ia mulai meringis kesakitan. Seorang perawat muncul dan kembali keluar untuk memanggil timnya setelah melihat kondisi di dalam ruangan. Tak lama kemudian mereka datang lengkap dengan sebuah brancard. Chaeri dinaikkan ke atasnya dan para perawat mendorong brancard tersebut menuju sebuah ruangan.

Eomma ikut masuk ke dalam, seorang dokter mengenakan sarung tangan vinyl dan mulai memeriksanya. Setelah itu ia melepaskan sarung tangannya dan berbicara pada perawat, “Kita tunggu sampai ia siap melahirkan.”

Perawat itu mengangguk lalu menarik tirai yang mengelilingi kasur Chaeri hingga tertutup sempurna.

“Kita harus menunggu hingga pembukaannya cukup. Jika ada yang diperlukan, silakan panggil kami!” ujar perawat itu dan pergi meninggalkan mereka.

Chaeri menggenggam erat tangan ibunya. Ia tak berhenti meringis kesakitan. “Sekarang aku tahu bagaimana perjuanganmu dulu, Eomma. Mianhaeyo…”

“Chaeri-ya…”

“Aku ingin Jinki ada di sini, Eomma.”

“Tapi itu tak memungkinkan untuk saat ini.”

“Eomma…”

“Hentikan, jangan bicara lagi. Simpan tenagamu!”

 

+++

 

SEMENJAK Chaeri melahirkan beberapa minggu yang lalu, sejauh ini Jinki menampakkan perkembangan yang positif. Beberapa bagian tubuh setidaknya bergerak walaupun hanya 1-2 kali. Itu pertanda baik, bukan?

Di halaman belakang rumah sakit, Chaeri duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap kolam ikan kecil. Di pangkuannya terdapat sebuah novel yang sedang ia baca.

Ia menarik napas panjang kemudian melemparkan pandangannya ke langit. Bola matanya bergerak liar mencari-cari sesuatu.

“M-masih mencari b-bintang?” tanya seseorang di sampingnya.

Chaeri menoleh. “JINKI?!”

“A-annyeong,” sapanya dan tersenyum.

Chaeri segera menghampirinya yang masih menggunakan kursi roda. Ia memeluknya erat.

“Kau kembali? Jinki, kau kembali…”

“Ya. Chaeri-ya, b-bisa longgarkan pelukanmu? Tubuhku ma-masih sakit.”

“Oh, mianhae.”

Chaeri kembali duduk, pandangannya tak lepas dari wajah Jinki.

“Wae? K-kau sangat merindukanku, ya?”

“Hm,” Chaeri mengangguk. “Kau berjanji hanya pergi enam bulan, tapi malah melanggarnya.”

Jinki berusaha memiringkan tubuhnya agar mereka bisa berhadapan, lantas ia mengelus lembut pipi Chaeri dan kembali tersenyum.

“Ma-maaf membuatmu khawatir.” Ia mengecup lembut kening Chaeri. “Terima kasih telah menungguku.”

“Karena tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu. Hidupku takkan berarti jika tak ada kau di sisiku. Tuhan menciptakanku untuk mendampingimu, Jinki-ya, jadi sangat beralasan jika aku memilih mati ketimbang hidup tanpamu.”

“Kau tahu, awalnya aku ingin pergi lebih dulu. Namun, rasanya tak adil jika meninggalkan separuh jiwaku di sini.”

Chaeri mengecup kilat pipinya. “Terima kasih sudah berjuang demi kami.”

“Hm… Dan terima kasih telah menjadi alasanku untuk bertahan hidup.” Jinki memetik sekuntum bunga kecil berwarna kuning di sampingnya dan membentuknya menjadi sebuah cincin. Lantas memakaikannya di jari tengah Chaeri. “Seperti yang kau tahu… kau akan kucintai selamanya, Park Chaeri.”

“Begitupula denganku. Hati dan cintamu akan selalu tersimpan di sini,” Chaeri menepuk dadanya. “Neomu saranghae, Lee Jinki…”

Jinki tersenyum lebar.

Chaeri menarik tangan Jinki dan menciuminya. “Terima kasih sudah kembali hari ini. Saengil cukhahamnida.”

“Oh, ini seperti terlahir kembali…,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Langit senja kembali mempertemukan mereka. Kali ini tanpa bintang di langit. Kedua bintang milik mereka meredup. Walau begitu, cinta keduanya hingga kapanpun takkan pernah redup. Karena Tuhan menakdirkan mereka untuk bersama…

 

 

The End

 

 

# FF ini dipersembahkan untuk ulang tahun Onew…

Telat dipost di sini.. Hehe~

 

 
10 Comments

Posted by on January 10, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags:

10 responses to “SHINee FanFiction: “The Dim Stars”

  1. onmithee

    January 12, 2011 at 10:02 PM

    aigoo~ ChaeNew couple..
    suka bgt lah nih ff.. bikin aq nangis bombay.. dikirta bakal ditinggal mati si unyu unyu…haha

     
  2. Diyawonnie

    January 14, 2011 at 10:34 AM

    Chaenew???
    muahahaha~

     
    • onmithee

      January 15, 2011 at 6:42 PM

      yoi.. Chaeri-onew
      BUKAN Chaesa-onew *ludahin nih couple*

       
  3. Diyawonnie

    January 17, 2011 at 8:08 AM

    Chaesa cuma buat siwon…
    kalo jira baru fleksibel.
    bisa onew ato minho.
    kekeke~
    /kentutin mitmit

     
    • onmithee

      January 17, 2011 at 9:22 AM

      *Bau.. Hoekk muntah di muka minho*

       
  4. Diyawonnie

    January 18, 2011 at 11:23 AM

    gorok heechul!!!
    culik taemin!!!
    amanin siwon..

     
  5. TheClaret

    March 1, 2011 at 8:20 PM

    Jinki, hidup kembali! *?*
    Yey! Aku kira metong beneran!

     
  6. Han Aikyung

    September 8, 2012 at 12:35 AM

    Ah, untunglah Jinkinya enggak mati…
    Kalo mati aku sedih banget nih, makanya tadi bacanya buru2 banget biar membuktikan kalo Jinki enggak mati…
    Betewe, hallo aku Ai, dapet link blogmu dari SF3SI, bangapta… ^^

    Nice ending😀

     
    • diyawonnie

      October 4, 2012 at 12:05 PM

      halo salam kenal juga Ai ^^

       
  7. Miina Kim

    June 6, 2013 at 8:39 AM

    Nice FF, Diya…
    Eon deg-degan bacanya, kirain Jinki bakal meninggal….
    Duh, oppa jadi tentara disini, gak kebayang, oppa cepak,
    pakek pakean militer…
    segagah Hyunbin oppa, kah???
    #jadi inget bias lama yg satu itu….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: