RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part III] – Idol Sport Day”

10 Jan

 

 

SEBUAH van berhenti di depan café-ku. Kemudian seperti biasa Taeminnie melongokkan kepalanya dari jendela sambil berteriak memanggil, “Noo~ naaa~” Tetapi tak lama, ada sebuah tangan yang menarik paksa kepalanya untuk masuk ke dalam.

Aku tertawa geli. Berdiri di balik bar sambil mengulum pena. Mereka serius menjemputku. Padahal sudah kubilang hari ini aku sangat sibuk mengawasi kinerja karyawan. Mau bagaimana lagi, di sana ada bos kecil, uri Taeminnie.

Hari ini mereka ikut berpartisipasi dalam MBC Chuseok ‘Special Idol Star Athletics Championship’ yang dihadiri oleh ratusan idola Korea dari berbagai grup. Taem memintaku untuk datang melihatnya beraksi. Begitupula dengan Minho, ia memintaku datang untuk menyaksikan kemenangannya. Benar-benar percaya diri sekali!

“Sudah siap?” tanya Jinki yang menjemputku masuk ke dalam. “Jangan salah paham! Kibum yang memintaku kemari.”

Aku tersenyum kemudian mengangguk dan menyambar tasku dari atas kursi, lalu berjalan keluar bar dan menghampirinya. Ia mengerutkan kening saat memperhatikan penampilanku.

“Waeyo?” tanyaku risih diperhatikan seperti itu.

“Aniya. Hanya saja… haruskah kau memakai hotpants?”

Aku memutar bola mata jengkel. “Uri leader Onew, it’s summer. Jadi wajar jika aku mengenakan hotpants, oke?”

“Tapi di sana ada banyak pria, kau pasti…,” nada suaranya merendah, seperti menyesal telah mengatakan itu.

“Kau pikir aku mengenakan ini untuk menggoda idola-idola pria di sana?!” kutinggikan nada suaraku membuat beberapa karyawan menoleh.

“Aniya. Oke, maafkan aku. Aku hanya… yeah… tak ingin kau kenapa-napa,” ujarnya kikuk.

Tunggu, apa dia lupa masih marah padaku atau salah makan obat? Dia mengkhawatirkanku? Dan lagi, dia meminta maaf? Oh, yang benar saja. Oke, lupakan! Mungkin dia terlalu lelah hingga kondisinya tak begitu baik. Takkan kubalas perkataannya. Lagipula capek juga jika harus bermusuhan seperti ini, padahal dulu kami sangat akrab. Aku sangat merindukan Jinki yang dulu.

Kami berjalan keluar resto dan masuk ke dalam van, aku memilih duduk di belakang bersama Taemin. Untunglah kali ini Jinki duduk di depan samping kemudi.

“TAEMINNIE,” pekikku. “Kau mengubah warna dan model rambut?”

Dia mengangguk dan tersenyum manis. “Bagus tidak, Noona?”

Kuacungkan kedua jempolku. “Kenapa tiba-tiba? Kau belum lama memiliki rambut pirang. Apa sudah bosan?”

“Tidak juga. Ini karena Jonghyun-hyung yang cerewet melarangku bergerak banyak. Katanya jika aku berjalan dua langkah saja rambutku akan bergoyang dan mirip seorang gadis jika dilihat dari belakang. Jadi, dia menyuruhku untuk mengganti model rambut.”

“Dan kenapa harus mushroom?”

“Karena ini model rambut saat debut. Noona kan dulu tak sempat melihat rambutku itu. Jadi…”

“Jadi tunggulah bagaimana reaksi fans! Aku yakin sekali mereka akan berpendapat kalau kau sama sekali tak kreatif hingga memiliki model rambut yang sama dalam seumur hidup karirmu,” sambar Kibum menohok.

“Yaaa! Jadi menurutmu kau ini kreatif, Kibummie?” serangku membela si bungsu. “Mengimitasi Wang Biho’s hairstyle kau bilang kreatif?!”

“I DIDN’T FOLLOW HIM. SHUT UP, NOONA!” teriaknya.

Mwoya?! Dia berani meneriakiku yang notabene lebih tua darinya? Kuambil fedoranya dan kulempar. Padahal tadinya aku ingin memuji Kibum. Penampilannya hari ini sangat baik. Ia mengenakan t-shirt putih dilapis rompi hitam, skinny jins hitam, begitupula dengan fedoranya yang hitam. Tak heran sih, ia memang penjahat fashion di antara mereka. Tapi setelah ia mengajakku perang, kutelan kembali kata-kata pujianku.

Topi tersebut jatuh tepat di kaki Minho. Ia merunduk untuk mengambilnya. “Noona, sepertinya mood-mu kurang baik hari ini,” ujarnya sambil memberikan topi tersebut pada Kibum.

“Ya, temanmu yang satu ini membuatku muak!”

Minho tertawa renyah, sedangkan Kibum hanya melipat tangan dengan pandangan menerawang keluar jendela. Kuperhatikan Minho. Tampan sekali, ia mengenakan kemeja kotak-kotak yang ditumpuk dengan blazer berwarna gading. Damn, jantungku…

 

+++++++

 

SETENGAH jam kemudian kami sampai di Stadion Nyata, Mokdong. Coordi-eonni mendatangi van kami untuk menjemputku atas usulan manajer-oppa. Tak heran karena berjubel fans telah menunggu kedatangan mereka di pintu masuk stadion.

Aku seperti biasa bergabung bersama para kru. Namun hanya ada manajer-oppa dan coordi-eonni untuk hari ini karena kegiatannya tidak terlalu berat. Coordi-eonni-gemuk menarikku agar selalu berada di sisinya. Wah, aku mulai menyukainya, dia sangat menjagaku (juga rahasiaku). Semoga dia benar-benar menutup mulutnya.

Kulihat ada dua van meluncur ke tempat parkir kami. Sepertinya masih satu perusahaan. Tapi aku tak sempat melihat siapa saja mereka karena eonni sudah menarikku untuk masuk ke dalam lebih dulu. Kami berjalan agak cepat di mana aku memasang sebuah masker di wajah. Well, mengapa aku jadi seperti ini? Aku kan bukan artis. Manajer-oppa keterlaluan sekali menyuruhku memakainya.

“Jira-ya, tolong berikan ini pada Jonghyun-sshi,” pinta coordi-eonni-kurus. Aku menerima sebuah polo shirt merah dan celana sport berwarna gading, lalu memberikannya pada Jjong saat mereka sampai di ruang ganti.

“Gomawo, Babe!” ucapnya seraya mengedipkan mata.

“Oh, Kim Jonghyun. Demi Tuhan, hentikan! Itu membuatku mual.”

Dia tertawa keras dan tanpa pikir panjang melepas t-shirtnya di hadapanku. Tukang pamer abs!

“Hyung, ganti di tempat lain! Kenapa harus di sini?” protes Minho.

“Wae? Mereka sudah biasa kan?” tunjuknya pada ketiga coordi-eonni.

“Tapi noona yang satu ini tidak.”

Jjong menatapku. “Oh, arasseo. Mungkin kau yang ingin mengganti posisiku, Minho-ya?” Jjong malah menggoda. Sial, bisa kurasakan sekarang darahku berdesir membayangkan perut sixpack Minho terpampang di hadapanku. Aihhh, ini gila!

“Jira-ya, tolong berikan ini pada Onew-sshi. Aku sibuk mengurus Key,” pinta coordi-eonni lagi, namun kali ini eonni ‘pirang’.

“Ne,” sahutku. “Minho-ya, jangan lupa pakai sunblock sebelum keluar. Matahari menyengat sekali hari ini. Aku ke sana dulu. Bye…”

“Oke.”

Aku menghampiri Jinki. Dia duduk di beberapa kursi yang sengaja dijajarkan agar bisa meluruskan kakinya. Kulihat dia tengah memijat kakinya sendiri.

“Oppa, ini…”

Dia menoleh sejenak lalu menyambar pakaiannya dari tanganku.

“Gwaenchanayo? Perlu bantuan?” tanyaku. Kuakui kekesalanku akan perkataannya tadi belum hilang, namun jika kau melihat bagaimana wajahnya sekarang, aku yakin kau akan merasakan hal yang sama denganku. Ia pucat karena kelelahan.

“Kau boleh pergi. Terima kasih bajunya,” usirnya ketus. Kuhela napas kemudian mulai memijat kakinya. Dia tersentak dan menyingkirkan tanganku. “Apa-apaan kau? Sudah kubilang kau boleh pergi.”

“Tapi… Ne, ne. Ara-yo,” imbuhku cepat-cepat saat ekspresi wajahnya kembali sinis.

Aku beranjak meninggalkannya dan kembali ke asal, di mana keempat member lain tengah berkumpul.

GREP! Sebuah tangan kekar memeluk leherku dari belakang. Aku menoleh. “Omo, Donghae-sunbaenim. An-annyeong haseyo,” pekikku. Baiklah ini agak berlebihan. Tapi kau pasti akan melakukan hal yang sama denganku jika diperlakukan seperti itu oleh pria tampan yang ada di hadapanku sekarang ini.

“Kim Jira, kapan kau pulang?”

“Sekitar seminggu yang lalu.”

“Mwoya? Selama itu kau tak menemui kami?” tunjuknya pada diri sendiri dan member Super Junior yang lain.

“Bukan begitu. Sunbaenim tahu sendiri  kalau kalian sangat sibuk, begitupula denganku. Ini juga pertemuan ketigaku dengan SHINee.”

“Ketiga? Itu banyak! Ah, Jira-ya, jincha…”

Aku sedikit tertawa. Donghae-sunbaenim lebih tua dariku empat tahun. Namun sifat kekanakkannya tak pernah pudar. Selalu seperti ini sejak dulu. Ia salah satu senior yang dekat denganku. Itu tak lepas dari Minho juga. Mereka sangat dekat, Minho memfavoritkannya sebagai hyung. Sehingga memudahkanku untuk mengenalnya.

Aku bergantian menyapa member SJ, Trax, dan F(x) Luna satu per satu. Mereka berubah banyak, terutama di gaya rambut dan otot. Bahkan Eunhyuk-sunbaenim menurutku sudah tak cocok lagi dipanggil Mr. Anchovy atau Monkey. Dialah member yang bertransformasi paling mencolok di bagian tubuh.

Seorang staf masuk ke ruangan kami. Ia memberikan sebuah bendera, beberapa pom-pom berwarna-warni, dan terompet kecil sebagai aksesoris yang harus mereka bawa saat opening ceremony nanti.

Taeminnie dengan antusias berlari kecil dan meraih bendera birunya. “Hyung, aku mau bawa ini.”

Manajer-oppa mengangguk.

“Kalau begitu kau berjalan paling depan,” ujar staf tersebut.

“Ne.” Taem dengan wajah polosnya mengibar-ngibarkan bendera kesana kemari.

“Yaa, Taeminnie, hentikan! Kau membuatku pusing!” protes Kibum. Ia melipat tangannya. Sedari tadi hanya duduk diam di kursi.

Aku tak mengerti. Ini sangat aneh. Tak biasanya ia seperti itu. Ingin sekali bertanya dan memberikannya perhatian. Bagaimanapun juga aku ini noonanya. Tapi kau tahu sendiri seperti apa reaksinya jika diganggu dalam keadaan seperti itu. Hidup sampai besok saja sudah sangat bersyukur.

Mereka (pasukan berbaju merah) berkumpul di tengah ruangan. Leeteuk-nim memimpin doa, setelah itu mereka menyatukan tangan dan menyerukan kata, “SM Town, fighting!” Membuat ruangan bergemuruh ditambah tepuk riuh di sana-sini. Aku sangat menikmati momen ini. Setidaknya untuk saat ini.

Taem mengangkat lagi bendera dan mengibarkannya ke sana-sini sambil sesekali berteriak. Aku tertawa geli. Dengan rambut mangkok hitamnya seperti itu, ia benar-benar tampak seperti bocah TK.

Mereka keluar ruangan satu per satu, membentuk sebuah barisan tak beraturan dan berjalan menuju lapangan. Taem berjalan paling depan dengan benderanya, Jjong tepat di belakang si magnae, Key yang membawa pom-pom kecil bersama Jinki di tengah, sedangkan Minho paling belakang.

Bisa kudengar komentator atau mungkin MC, entahlah aku masih di dalam ruangan, meneriakkan Team O dan menyebut nama mereka satu per satu. Jeritan fans membahana. Yeah, SJ dan SHINee memiliki basis fans yang luar biasa banyak. Aku bisa melihat dari sini balon berwarna biru safir dan hijau pastel terhampar di tribun penonton. Membuatku merinding dan terharu.

 

+++++++

 

INI sudah pukul dua siang. Aku, ketiga coordi-eonni, dan manajer-oppa bergabung bersama mereka di lapangan. Coordi-eonni-gemuk terlihat sangat lelah karena sebelumnya harus mengejar-ngejar Taem untuk memakaikan sunblock. Di mana si bayi, seperti yang kau tahu kalau dia dalam keadaan bersemangat overload hari ini, sangat sulit sekali menangkapnya. Sedangkan aku hanya membawakan beberapa handuk di tangan, mereka bisa datang padaku jika membutuhkannya.

JESS! Seseorang menempelkan kaleng minuman isotonik dingin ke pipiku.

“Ah, Minho-ya, kau membuatku kaget.” Dia tersenyum. Menarik kail kaleng dan memberikannya padaku. “Gomawo.”

“Noona, maaf.”

Aku meliriknya sambil meneguk minuman tersebut. “For what?”

“Seharusnya kau ikut bersenang-senang di sini bersama kami. Bukan membawa-bawa handuk seperti ini. Ini bukan pekerjaanmu.”

“Gwaenchana. Senang sekali bisa membantu. Tiga coordi-eonni sudah sangat kerepotan karena ulah Minnie, kau tahu itu…”

“Hmm…,” dia mengangguk setuju. “Noona, lelah sekali mengenakan masker terus-terusan. Kau tak bisa bernapas lega, kan? Kemari, kubantu melepasnya.”

“Andwae! Apa yang akan terjadi jika aku membukanya? Aku khawatir salah satu di antara fansmu mengenaliku. Walaupun sudah dua tahun berlalu, kau tahu bagaimana jeli dan kejamnya netizen.”

“Yeah, kau benar. Kalau begitu, waktunya makan siang. Kaja!”

“Aku akan makan bersama manajer-oppa dan coordi-eonni di sebelah sana. Kalian makanlah duluan!”

“Andwae! Kau harus makan bersama kami. Aku juga akan meminta manajer-hyung dan coordi-noona untuk bergabung bersama kami.”

“Tapi…”

“Taeminnie!” teriak Minho dan si bayi menoleh lalu berlari sambil melompat-lompat kecil menghampiri kami. Minho menunjuk-nunjuk wajahku. Taem mengangguk riang lantas menarik tanganku.

“Noo~ naaa~, mokgo! Kaja~”

Aku memelototi Minho yang dibalas cengiran. Dia melipat tangan dan memperlihatkan ekspresi kemenangan, lalu berjalan di belakang kami. Yeah, dia tahu kalau aku takkan bisa menolak permintaan si magnae.

Aku bergabung dengan Team O yang sudah duduk membentuk lingkaran. Jinki mengambil sekotak makanan dari dalam kantong plastik dan memberikannya padaku. “Gomawo,” ucapku dan dia hanya mengangguk. Namun kali ini lebih tulus. Matanya tak menunjukan sinis atau kemarahan lagi.

Aku duduk di samping Kibum. Ekspresinya sudah lebih cerah sekarang. Seharian ini ia bermain-main dengan teman-temannya dari grup lain. Tadi aku sempat melihatnya mengajari tarian Ring Ding Dong pada anak-anak FT Island. Bodoh! Dan Seunghyun menanggapinya, ia menari konyol. Astaga, mereka anak band yang hanya memainkan instrumen. Tentu menari bukan hal yang mereka kuasai. Dan mungkin Kibum menjadi lebih ceria juga karena kedatangan baby Yoogeun. Jadi itu memompa semangatnya. Ia sangat menyayangi ‘the real baby’, aku tahu itu. Walaupun mereka dipertemukan karena sebuah pekerjaan singkat.

“Jjong-ah,” panggil Jinki. Mataku ikut mencari Jonghyun, dan kau tahu apa yang kutemukan? Jjong tengah tebar pesona di hadapan member Miss A. Aigoo~ “Jjong-ah, makan!” panggil Jinki lagi.

Jjong berjalan sok cool. Padahal hanya membutuhkan dua langkah saja menuju tempat kami. Ini ada dua kemungkinan yang membuatnya seperti itu: tebar pesona atau fancam. Sejak pagi kamera fans tak pernah off. Hebat! Mereka pasti membawa banyak batrai dan memori card cadangan.

 

+++++++

 

PUKUL tujuh malam. Kami masih di sini. Acara belum selesai. Jinki meminjamkanku sweater hitamnya. Lihatlah, dia semakin jinak sekarang. Aku senang sekali. Ini adalah sikapnya yang kurindukan.

“Jira-ya, kenalkan ini Lee Hongki, vokalis FTI,” ujar Jjong.

Aku menyambut uluran tangannya. Dia ramah sekali. “Kim Jira imnida. Wow, finally… Hongki-sshi, aku penggemarmu.”

“Cheongmal-yo?” sahutnya semangat.

“Ne, aku menyukai suaramu.”

“Ah, kamsahamnida.”

“Kalian ini jangan bicara terlalu formal!” sambar Jjong. “Kita seumur.”

“Jincha?” tanyaku. “Wah, bertambah satu member ‘90-line.”

“Yeah, inilah tujuanku. Kau lihat bagaimana tadi Kibum memamerkan ‘91-linenya?”

“Dan kau iri, tentu saja,” tembakku santai.

“Yeah. Tapi tidak hanya aku, dia juga,” tunjuknya pada Hongki.

Kami tertawa. “Jjongie, kau tahu Kibum kenapa? Sepertinya dia sedang tidak dalam keadaan yang baik,” tanyaku out of topic.

Jjong mengangkat bahu. “Molla. Mungkin sedang ada masalah dengan pacarnya.”

“Pa- Mwo?! Pacar? Kibum punya pacar?”

“Yaa, Jira-ya, bukankah kau noonanya?”

“Dia tak pernah cerita apapun padaku. Kau tahu sendiri bagaimana dia memperlakukanku. Jadi, siapa ‘gadis malang’ itu?”

Hongki terkekeh. Kutembak dia dengan tatapan penuh tanya. “Wow, Jira-ya, sungguh aku tak tahu siapa ‘gadis malang’ itu,” ujarnya sembari mengangkat kedua tangan membentuk tanda kutip dengan jarinya saat mengucapkan ‘gadis malang’.

“Well, kau akan tahu sendiri dari Kibum. Aku tak berhak menceritakannya,” ujar Jjong sok misterius.

“Oke, aku menyerah,” sahutku sebal.

Semakin malam, angin semakin menusuk. Padahal tadi siang matahari sempat memanggang kami. Berkali-kali aku melihat mereka menguap. Kasian sekali. Aku saja yang tak melakukan apapun, hanya memberikan handuk pada mereka, sudah sangat kelelahan. Kapan acara ini berakhir? Aku ingin pulang dan berendam air hangat.

Minho mengalungkan medalinya ke leherku. Dia tersenyum lebar. Daebak, ini medali ke sekian yang menggantung di leherku. Ah ya, aku lupa bilang kalau Team O menang di beberapa cabang olahraga. Eunhyuk, Minho, dan Team O lainnya yang juga memperoleh medali, mengalungkannya ke leherku. Mereka bilang kalau ini perayaan selamat datang untukku. Wow… Apa aku boleh menangis sekarang? Ini mengharukan.

Kibum berjalan menghampiriku, kemudian duduk di samping. Ia menenggak air mineralnya hingga tersisa setengah. Kemudian tidur terlentang membentuk bintang di rumput.

“Key-goon, who’s that girl?” todongku.

“Nugu?”

“Pacarmu,” aku menjatuhkan tubuhku di rumput juga dan ini nyaman, membuat seluruh medali berkelontangan.

“M-mwo?” ia gelagapan dan setengah terbangun. “Noona tahu dari mana? Jjong-hyung, Taemin, Onew-hyung, Minho, atau Jaejin?”

“Tak penting! Ayolah, siapa? Jahat sekali aku tak diberitahu. Selama ini kau selalu menggodaku dengan Minho. Curang!”

“Bukannya begitu… Err, noona, apa aman membicarakan hal itu di sini? Pers berkeliaran dan telinga mereka tajam. Aku tak mau mendapat masalah. Lagipula manajer-hyung tak tahu. Ini rahasiaku.”

“Cih, rahasia tapi teman sekompi sudah tahu. Yeah, kita bicarakan ini nanti. Kau punya hutang padaku kalau begitu,” dia mengiyakan, “Boleh kutahu apa profesinya?”

“Entertainer. Sama sepertiku.”

“Penyanyi?”

“Well, noona, sudah kubilang ini tak terlalu aman. Kita bicarakan ini nanti.”

“Ne, ne, ne,” sahutku kecewa.

Minho berlari ke arah kami. “Kibum-ah, sebentar lagi pengumuman pemenang. Kau cepatlah ke sana! Noona, kuambil medalinya. Maaf mengerjaimu…”

“Oh well, medali ini beratnya satu ton by the way,” candaku dan dia tertawa. Kulepas medali dan memberikannya pada Minho. Ia menepuk bahuku dan pergi bersama Kibum menuju set filming kerumunan para artis dan kru. Aku kembali ke ruang tunggu dan merebahkan diri di kursi yang berjajar bekas Jinki tadi pagi. Ah, sepertinya tulangku akan lepas semua. Kucoba memejamkan mata.

“Baboya?!”

Astaga, apa lagi?! Kuangkat kepalaku untuk mencaritahu itu siapa. “Jinki-oppa?”

“Kalau mau tidur di sini, sebaiknya kau minta ditemani. Atau panggil coordi-noona, jangan sendirian seperti ini. Terlalu berbahaya. Apalagi dengan hotpants…,” dia berhenti, kemudian melanjutkan, “…well, aku kemari bukan untuk membahas itu.”

“Lalu untuk apa?” tanyaku berang dan kembali memejamkan mata lalu menutupinya dengan punggung tangan.

“Tadi aku melihatmu kemari,” dia berhenti lagi selama beberapa detik, lalu melanjutkannya kembali. “Aku ingin kita bicara.”

Kulepas tanganku dan bangkit. Ah, kepala ini terlalu berat. Aku bisa melihatnya sekarang duduk di seberang ruangan. “Ya, bicaralah…”

“Mianhae. Aku marah tanpa kau tahu apa alasannya.”

“Jadi, sekarang aku boleh tahu itu apa?”

“Patah hati… Kau patah hati karena Minho ‘kan?”

Aku menelan ludah dengan jantung berdebar cepat. Dia tahu… dia tahu…

“M-mwoya? A-aku…”

“Aku tahu semuanya, Jira-ya. Kita sudah bersama sejak kau masih SMP, tak ada yang bisa kau sembunyikan dariku. Dan alasan konyol itulah yang membuatku marah padamu.” Dia menarik napasnya sejenak. “Kau mengorbankan seluruh usaha kerasmu saat trainee hanya karena masalah hati. Itu sangat konyol bagiku…”

“Oppa tak mengerti bagaimana perasaanku saat itu…”

“Aku sangat mengerti,” selanya. “Well, aku memang belum pernah memiliki kekasih, tapi bukan berarti aku belum pernah jatuh cinta. Aku tahu bagaimana hancurnya hatimu saat itu. Kau menghilang sampai Kibum pun tak dapat menjawab pertanyaan di mana kau berada. Aku mencarimu, berharap bisa mengobrol dan memberimu kekuatan. Tapi yang kudapat malah kabar bodoh yang mengatakan kau mundur untuk pergi ke Amerika. Itu sangat bodoh dan aku marah pada diriku sendiri karena tak berhasil menemukanmu saat itu.”

Suaranya memberat, apa dia menangis? Aku tak dapat melihatnya karena dia duduk di sebrang ruangan yang minim cahaya.

“Mianhaeyo,” gumamku. “Neomu mianhaeyo (sangat maaf). Seandainya dulu aku mengangkat teleponmu, Oppa. Sepertinya aku akan menuruti perkataanmu. Mianhaeyo…”

Jinki menghampiriku yang mulai menangis. Bisa kulihat sekarang, hidungnya memerah. Jelas sekali kalau tadi ia menangis. Jinki mengelap air mataku, kemudian duduk di samping. Ia memelukku…

“Jangan pergi lagi! Kumohon…”

Aku mengangguk. “Ne.”

Saat itu rasanya kami seperti terlempar ke masa lalu. Jinki kembali seperti semula, menyayangiku sebagai dongsaeng. Akhirnya momen yang kurindukan kembali. Takkan kulepas, sampai kapanpun takkan kulepas. Sekarang aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku. Perbuatan konyol dua tahun lalu takkan terulang. Takkan kusakiti lagi hati mereka…

 

…to be continued…

 

+++++++

 

#Annyeong…Makasih buat yang udah baca dan komen. Kritik dan saran sangat dibutuhkan^^ Sekali lagi, cerita ini cuma fiksi… Sampai jumpa di part ulang tahunnya Key…^^/

 

 
7 Comments

Posted by on January 10, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , ,

7 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part III] – Idol Sport Day”

  1. KyuRa

    January 11, 2011 at 5:13 PM

    Kak Diyaaa~ kutungguin lama banget publishnya..

    Waaa~ Jira sama siapa? Aku pengen sama Minho, tapi pengen juga sama Onew. Hehe

    pacar Key, pacar Key! Siapa, siapaaaa??

    part 4 kutunggu, Kak!😀

     
  2. andiracleizera

    January 13, 2011 at 8:24 PM

    wah mulai bertanya-tanya gimana lanjutannya.
    seneng nih, part 3 keluar g lama-lama dari part 2. ^^

     
  3. ciiciiminie

    January 14, 2011 at 8:38 PM

    akhirnya onew ma jira baikkann.
    part 4nya ditunggu😀

     
  4. Laster WonTeuk

    January 16, 2011 at 11:16 PM

    wuaaaaa….. penasaran banged nih…..^^

    onew suka juga kah???? ehmmmm…semoga^^

    lnjtana ASAP yau…^^

     
  5. vietaeminshiningworld

    January 24, 2011 at 9:36 PM

    wah wah jira ma minho ja ya..hehehe

    pcr nya key cp?penasaran..

    lnjt..lnjt..diya🙂

     
  6. cho eunmi

    January 25, 2011 at 3:41 PM

    aku pacar key . haha
    jinki sebenarnya suka jira yak ?

     
  7. Tiara Indah Olivia

    October 31, 2013 at 9:20 PM

    Wwaah..apa Jinki suka yaa sama Jira..!?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: