RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part IV] – Almighty Key’s Birthday Party”

25 Jan

 

 

SELURUH penonton melakukan standing applause saat acara berakhir. Kulihat Jinki tertawa puas sambil duduk berlutut menengadahkan kepala dan merentangkan kedua tangannya penuh semangat. Pertunjukan Rock of Ages Musical untuk hari ini selesai.

Kini aku duduk di lobi gedung. Menunggu Jinki menyelesaikan ‘pesta kecilnya’ bersama para pemain di backstage. Karena setelah ini kami akan pergi ke sebuah café untuk merayakan ulang tahun Kibum. Tadi Jjong menghubungiku kalau ia dan Minho sudah membooking tempat di sebuah café di daerah Hongdae. Ck, mereka memang nekat memilih tempat di wilayah ‘padat’ seperti itu. Masalahnya, banyak sekali anak muda yang masih berkeliaran di sana pada pukul seperti ini.

“Mian lama. Kaja!” ajak Jinki. Ia mengenakan hoodie, yang terlihat hanya hidungnya, bahkan aku tak dapat melihat bibirnya bergerak ketika ia berbicara.

Manajer-oppa memilih jalan belakang karena fans di sini lebih sedikit ketimbang mereka yang menunggu di depan. Mereka semua mengacungkan kamera ponsel. Aku yakin tak lama lagi ratusan fancam tersebut akan segera tersebar di dunia maya.

Aku berjalan duluan bersama seorang eonni berperawakan tinggi besar. Sampai saat ini aku tak tahu ia menjabat sebagai apa. Ia selalu bersama manajer-oppa. Kudengar ia manajer juga. Tapi, entahlah…

Saat aku sudah masuk mobil, kulihat Jinki sempat melambai pada para penggemarnya. Membuat mereka menjerit memekakkan telinga.

“Hyung, kau akan ikut kami juga, kan?” tanya Jinki saat mobil sudah setengah jalan.

“Entahlah. Aku ingin, tapi perusahaan memintaku untuk ke sana sekarang. Sampaikan maafku pada Kibum. Dan jangan pulang terlalu larut! Lagipula ini sudah pukul 11 malam.”

“Hm…,” Jinki mengangguk. “Hyung, istirahat yang cukup!”

“Well, seharusnya aku pemilik kalimat itu, Jinki-ya.”

“Yeah… Hahaha~”

+++++++

SATU jam kemudian kami tiba di Hongdae. Aku dan Jinki diturunkan di sana, lalu masuk ke dalam sebuah café. Seorang waitress mengantar kami ke sebuah ruangan khusus. Sebelum kami masuk, pelayan itu meminta Jinki menandatangani agendanya. Jinki menurunkan hoodie, ia tersenyum dan menandatanganinya, sedangkan aku memilih untuk masuk lebih dulu.

Baru setengah pintu terbuka dan melongokkan kepala, Taem sudah berteriak memanggilku. Aku tersenyum, menyambut pelukan hangat si bayi raksasa. Ia lantas menarikku duduk. Ruangan ini besar, bahkan terlalu besar untuk kami. Dan yeah ada mesin karaoke di sini. Café mewah, mahal, dan berkelas, tapi pada akhirnya yang kita lakukan hanya karaoke dan minum-minum.

“Noona, bagaimana musikalnya?” tanya Minho.

Kuacungkan dua jempolku. Jinki yang baru masuk dan duduk di samping Taem berteriak sambil menggeliat. “Yeah… Party!!!”

“Ah, iri sekali. Aku, Taemin, dan Kibum bahkan belum sempat menonton.”

Minho tersenyum dan menyodorkanku segelas red wine.

“Gomawo.”

“Ngomong-ngomong di mana Kibum? Bukankah dia pemeran utamanya hari ini?” tanya Jjong dan aku baru sadar kalau ia tak sendiri. Di sampingnya ada seorang gadis.

“Mungkin sedang menunggu kau-tahu-siapa,” sahut Minho.

“Yeah, Lord Voldemort?” canda Jjong dan mereka tertawa.

Jadi Kibum akan membawa pacarnya kemari? Baguslah, dia masih berhutang cerita padaku. Dan jika ia kemari dengan ‘barang bukti’, itu lebih dari cukup.

“Wow, daebak. Kim-line mengkhianatiku,” ujarku sengit.

Jonghyun membelalakkan matanya, hal biasa yang selalu ia lakukan. “Mwo?”

“Kau dan Kibum memiliki pacar dan sama sekali tak memberitahuku. How great!”

“Yaaa, hanya Kibum. Aku tidak, mmm… belum!” Dia buru-buru meralat ucapannya.

“Belum? Jadi dia yang selalu membuatmu tersenyum sendiri saat menatap layar ponsel, Jjong-ah?” tembakku.

Wajah Jjong seketika memerah. Minho tertawa dan mengajakku high-five. “Woaaa, noona, aku menyukaimu!”

Kulihat gadis itu pun merunduk. Oke, ini akan menjadi malam yang menyenangkan bagiku. “Jjong, Jjongie, kenalkan kami!” pintaku.

Dia mengangguk. “Ini teman SMA-ku, Shin Hyebin.”

Kami berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.

“Nama yang cantik,” pujiku. “Pemiliknya pun tak kalah cantik. Benar, Jjongie?”

“A-apa?” sahutnya gugup sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

“Sudah berapa lama kalian berkencan?” aku mulai menggoda mereka.

“MWO?!” sahut Jjong. “Belum sampai tahap itu!”

“Oh, kalau begitu akan ada tahap itu, benar?”

Jjong diam, menunduk. Telinganya memerah.

“Yaaa, Jira-ya, aku menyukaimu!” teriak Jinki tiba-tiba. Memangnya belum pernah ada yang menggoda Jonghyun seperti ini? Berarti aku orang pertama? Mati kau Jonghyun. Ini pembalasan dariku.

“Oke, cheers!” ajak Minho seraya mengangkat gelasnya.

“Yeah,” sahutku, Jinki, Jjong, dan Taem.

“Taeminnie, apa yang kau minum?” tanyaku was-was.

“Cola, Noona. Jangan khawatir!” terdengar ada nada kesal dalam suaranya. Ya, aku paham bagaimana perasaannya. Dialah satu-satunya member yang paling terisolasi karena masalah umur.

“Kau akan mendapat kebebasan beberapa tahun lagi, Minnie-ya. Sabarlah!”

“Aniyo, Noona. Tahun depan aku genap sembilan belas. Yeah, aku tak sabar.”

“Jincha? Tapi kau tak terlihat seperti akan sembilan belas,” candaku dan dia merengut menggembungkan pipinya. Kyeopta!

Pintu terbuka. Kibum masuk dengan seseorang. Ia menggandengnya dan duduk di ujung sofa. “Mian telat. Aku menunggunya selesai latihan.”

“Wow, Steven!*” teriak Jinki seraya mengacungkan kedua jempolnya pada Kibum. Yeah, dapat dipastikan sekarang kalau dia mulai mabuk.

“Noona, ini yang kujanjikan. Hutangku lunas, oke?”

Aku mengangguk dan meneguk wine-ku lagi. Kulihat Kibum berbisik pada gadis itu. Tak lama kemudian ia memperkenalkan diri. “Annyeong haseyo, Jung Mikka imnida. Bangapseumnida.”

Aku tersenyum, menjabat tangannya dan memperkenalkan diri. Gadis ini cute sekali, tubuhnya tak terlalu tinggi, wajahnya juga sangat manis dengan mata yang besar. Dan yang terpenting, tak ada kesan feminin sama sekali padanya. Benar-benar tipe Kibum.

“Dia kelahiran ’92. Sekarang masih trainee,” ujar Kibum.

“SM?” tanyaku.

“Aniya, DSP.”

“Wah, kau penjelajah, Kibum-ah!”

“Mwoya?” protesnya tertawa. “Nicole yang mengenalkanku padanya. Oke, kita mulai partynya. Sepertinya leluhur kita yang satu ini sudah mendahului.”

Kulirik Jinki. Ia tengah tidur sambil senyum-senyum sendiri. Astaga… Tapi ini belum seberapa. Ia bisa jauh lebih buruk dari ini. Jinki sangat kuat dalam minum. Ia bahkan bisa sangat kuat jika tidak bersama member. Terkadang si Dubu ini bisa sangat mengerikan di saat-saat tertentu.

+++++++

JJONG dan Key menari brutal. Mereka menyanyikan lagu 2NE1 – Go Away. Membuat Taem, Mikka dan Hyebin tertawa terpingkal-pingkal. Aku juga sebenarnya sudah hampir mati menahan tawa. Harus kutahan karena tak ingin mengganggu Minho yang entah sejak kapan menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia terlalu banyak minum dan ini pasti akan membuat lehernya sakit karena aku lebih pendek darinya.

Musik berhenti.

“Aku lelah. Noona, sekarang giliranmu…,” Kibum menoleh, “…Woaaah!”

Jjong mengikuti arah pandang Kibum yang jatuh padaku. “Wooo, Prince and Princess.”

“Shut up!” sahutku galak.

“Yaaa~ Minho-hyung, itu milikku!” Taemin menarik-narik lengan kemeja Minho. Aku terkekeh. Ah ya, perlu kuluruskan, yang dimaksud Taem dengan ‘itu’ adalah bahuku.

Minho terbangun. Ia menggucek matanya pelan lalu menoleh padaku. “Ah, noona mianhae…”

“Gwaenchana…”

“Kekekekeke~”

Aku menoleh ke sumber suara. Jjong dan Key tengah puas terkekeh memandangi kami. Sialan!

“Ah, yeobo, ottokhae? Aku ketiduran…,” ujar Jjong pada Key, namun matanya mutlak menatapku.

“Gwaenchana, gwaenchana… Ayo, kemari tidur lagi, Yeobo!” Key menyandarkan kepala Jjong ke pundaknya.

Ah, benar-benar. Kapan terakhir kali aku memukul orang? Ingin sekali mengulang momen itu.

“Aku ke toilet dulu.” Minho keluar ruangan. Saat pintu tertutup, kulempar botol plastik kosong pada mereka. Menyebalkan!

“Wooo, noona calm down!” Kibum duduk untuk menalikan tali sepatunya yang terlepas. “Kami hanya ingin membantu kalian.”

“Dwaesseo (tak perlu)!”

“Oh, jadi kau mampu melakukannya sendiri? Yeah, Kim Jira jjang!” ejek Jjong.

“Hentikan!  Tak ada yang kulakukan saat ini. Kumohon berhentilah menggodaku! Aku ingin hidup tenang.”

“Noona akan jauh lebih tenang jika berada di sisinya. Well, maksudku secara official, bukan noona-dongsaeng. Maka aku pun akan tenang melepasmu.”

“Melepasku? Wah, Kim Kibum, kesannya seperti kau yang mengasuhku selama ini. Hebat!”

“Noona, aku yakin sekali kau menginginkannya. Hanya saja kau terlalu gengsi dengan masalah umur. Bukankah wanita lebih tua dalam sebuah hubungan saat ini sedang menjadi tren? Lagipula kalian hanya terpaut satu tahun. Itu bukan masalah besar, ya know?”

Yeah, aku merasa bodoh sekarang dinasihati anak bawang. Seperti dia pula.

“Aku benar-benar menginginkan kalian bersama,” ujar Jjong, wajahnya berubah serius.

Oh, boys, hentikan! Ini membuatku gila. Sekarang pipiku mulai memanas, jantung pun berpacu dua kali lipat.

“Katakan padanya sekarang juga, Noona!” desak Kibum.

“Ini tak semudah yang kau bayangkan, Almighty Key! Hentikan, tutup mulutmu atau kusumpal dengan ini!” ancamku seraya mengacungkan sebuah asbak.

“Aku hanya tak ingin kau menyesal lagi,” gumamnya sembari mengenakan jaket dan topi.

“Errr… Boleh kutahu sebenarnya apa yang kalian bicarakan daritadi?” tanya Taem hati-hati.

Astaga, aku baru sadar kalau di sini masih ada Jinki dan Taem. Kulirik leader, ia masih tertidur pulas. Kegiatan musikalnya tadi pasti sudah sangat menguras energinya.

“Kau tak perlu tahu!” jawab Kibum kejam.

Taem menggembungkan pipinya kecewa. Tapi sedetik kemudian tersenyum sambil menggelayuti pundakku. “Eomma~”

“EOMMA?!” pekik kami bersamaan. Taem mengangguk polos. Demi Tuhan ingin sekali anak ini kubawa pulang.

Pintu terbuka. Minho masuk dengan wajah sedikit basah. Dia menutup pintu dan kembali duduk bergabung bersama kami.

“Aha, appa wasseo (appa datang),” ejek Kibum, membuat telingaku memanas.

“Appa?” tanya Minho bingung sembari menoleh ke samping kiri-kanan mencari orang yang dimaksud. “Nugu?”

Kibum mengibaskan tangannya. “Lupakan!”

“Giliranmu menyanyi, Jira-ya.” Jjong memberikan mic-nya padaku.

“Biar kupilihkan lagunya.” Key meraih remote dan asyik mengotak-atik sendiri.

“Mwoya? Apa kebebasanku sudah lenyap? Haisss, jincha…,” aku mendengus sebal sambil melipat tangan dan menghenyakkan diri ke sofa.

Minho mengambil kentang goreng di atas piring, lalu meraih mic yang satunya. “Aku akan menemanimu bernyanyi…”

“Wow, perfecto!” Jjong tepuk tangan dan mengacungkan kedua jempolnya.

“Yeah, ini dia… ‘Two Is Better Than One – Boys Like Girls Feat. Taylor Swift’, sesuai kan Jjong-hyung?” tanya Key. Wajahku memanas. Kibum benar-benar lihai membuatku malu malam ini.

“Yah, I love this song…” Minho tersenyum dan aku memergokinya mengedipkan mata pada Kibum.

Apa maksudnya?! Boys, hentikan membuatku gila malam ini!

Intro musik mulai, Minho menyanyi lebih dulu.

I remember what you wore on our first day. You came into my life and I though… hey… You know this could be something. ‘Coz everything you do and words you say, you know that it all takes my breath away. And now I’m left with nothing…

Kibum dan Jjong bersorak. Bahkan di lagu semellow ini pun dengan abnormalnya Jjong memainkan tamborin. Gila! Oke, sekarang line-ku dan Minho menyanyi bersama…

So maybe it’s true, that I can’t live without you. And maybe two is better than one. But there’s so much time to figure out the rest in my life. And you’ve already got me coming undone. And I’m thinking two, is better than one…

JjongKey kembali menggila. Mereka bersorak sambil menari-nari. Gadis-gadis mereka hanya duduk, tetapi ikut menyumbangkan tepukan yang tak kalah keras dari suara lelaki mereka. Taem juga ikut bersorak. Aku sanksi, apa ia mengerti apa yang sebenarnya ia teriaki?

Two is better than one…,” aku dan Minho menyudahi lagu dengan sangat apik. Minho merangkul bahuku. Seisi ruangan semakin gencar menyoraki. Wajahku memanas, malu sekali.

“Wah, noona daebak!” puji Taem.

“Yaa, Taeminnie, kau tak mau memujiku?” tuntut Minho.

Jjong tertawa. “Kau lumayan. Berlatihlah lebih keras lagi!”

Minho tersenyum malu dan mengangguk.

“Benar-benar sayang sekali kau tak menjadi penyanyi, Jira-ya. Suaramu daebak. Neomu neomu daebak!” puji Jjong sambil tepuk tangan.

Aku tertawa. Tiba-tiba tangan Minho yang masih merangkul bahuku, menarikku hingga merapat ke tubuhnya. “Tak perlu menjadi penyanyi. Karena Kim Jira-noona adalah penyanyi pribadiku.”

“Mwoya…?” sahut yang lain.

Kau tahu bagaimana reaksiku? Hanya diam dengan wajah memanas. Masih untung tidak pingsan. Semoga dia sadar mengatakannya. Tunggu, Minho tak mabuk ‘kan?

+++++++

AKU duduk di sofa. Kibum membantu Mikka mengenakan jaket dan membawakan tasnya. Jjong membersihkan celananya yang penuh remah makanan. Taem asyik meneguk cola-nya setelah menyelesaikan tiga lagu secara solo. Sedangkan Jinki dan Minho tewas, mereka mabuk parah.

Kibum mengecek ponselnya. “Taeminnie, driver-hyung sudah sampai. Kau bantu Onew-hyung keluar. Jangan sampai orang melihatnya mabuk. Bisa hancur reputasi kita. Aku pulang bersama Mikka. Jonghyun-hyung juga pasti harus mengantar Hyebin-noona pulang. Jadi…”

“Bagaimana dengan dia?” aku menunjuk Minho.

“Kenapa masih tanya? Tentu saja dia tanggung jawabmu, Noona.” Kibum melambaikan tangannya bodoh dengan bibir membentuk kata-kata “Goodbye”, kemudian ia bergegas keluar.

“Yaaa! Kenapa aku?”

“Minho membawa mobil perusahaan…,” ujar Jjong. Dia merogoh tas punggung Minho dan melemparkan kunci mobil padaku. “Be carefull, Honey!”

Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan. Kulihat Kibum mengeluarkan uang di ambang pintu untuk membayar ini semua. “Kibum-ah, saengil cukhahamnida! Thanks for tonight…,” teriakku.

“Yeah,” sahutnya tanpa menoleh. Ia masih sibuk menghitung uangnya. Entah berapa ratus ribu won yang harus ia keluarkan. “Noona, tolong jaga ayah dari anakmu!” ejeknya dan buru-buru pergi. Kulempar botol plastik kosong dan malah mengenai pintu.

“Ah, hyung, palli!”

Kudengar Taem merengek. Dia sedang berusaha mengangkat tubuh Jinki yang benar-benar sudah mabuk berat. Hah, leader ini kacau! Taem menggeram mencoba mengangkat hyungnya itu dan berjalan terseok-seok keluar ruangan.

“Minnie-ya, hati-hati!”

“Ne~”

Ruangan sunyi. Yang terdengar hanya suara halus dengkuran Minho. Dia tertidur di pahaku. Entah bagaimana mulainya, tahu-tahu posisi kami sudah seperti ini. Jadi aku tak bisa bergerak banyak sekarang.

Kupandangi wajahnya. Menyentuh bulu matanya yang panjang dan ujung hidungnya yang runcing. Aku tak mengerti jalan pikir perusahaan yang memaksa Minho untuk membuat hidungnya seperti ini. Yeah, kau pasti mengerti apa maksudku. Plastic surgery! Menurutku, Minho sudah terlahir tampan dengan hidung yang sempurna. Kenapa harus diperuncing? Inilah kejamnya industri hiburan saat ini. Aku juga korban. Aku sebenarnya terlahir dengan mata tak sebesar ini. Masih ingat sekali dulu aku pergi ke dokter khusus kecantikan bersama Yuri saat masih trainee. Kau tahu dia kan? Yah, dia member SNSD. Kami pergi bersama untuk membesarkan mata kami. Lucu sekali, saat itu aku hampir pingsan saat dokter mencoba menyayat kelopak mataku. Tapi hanya itu. Hidung, rahang, dan bibirku baik-baik saja. Hanya mata.

“Kajima (jangan pergi)!” gumam Minho, dia mengigau.

“Minho…,” panggilku sambil mengguncang lengannya. “Ireona (bangun)!”

“Chaesa-ya, kajima!”

Hatiku mencelos. Rasanya seperti kau melewati dua anak tangga sekaligus secara tak sengaja saat menuruni mereka. Membuat jantung berdebar dua kali lipat. Hati tiba-tiba seperti diremas. Ini sakit. Ternyata Chaesa masih mendominasi pikiran Minho. Kurasa aku tak ada di sana sedikit pun. Ini benar-benar menyakitkan.

Dan demi Tuhan, apa ini? Kenapa air mataku meleleh seperti ini? Mendengarnya mengucapkan nama gadis itu di tengah tidurnya saja sudah membuatku seperti ini.

Mata Minho bergerak. Aku baru sadar kalau air mataku jatuh tepat di atasnya. Yang bisa kulakukan hanyalah menghapus air mataku dari pipi. Tak ingin dia melihatku dalam keadaan seperti ini.

Perlahan dia bangun sambil memegangi kepalanya. Aku masih tetap diam, membiarkan dia memunggungiku. Namun Minho berbalik dan menggucek matanya saat melihatku.

“Chaesa-ya?” panggilnya dengan suara yang menandakan kalau dia masih berada dalam pengaruh alkohol. “Ka-kau kembali?”

Tak dapat kutahan. Ini terlalu menyakitkan. Air mata ini kembali meleleh, tapi aku berusaha keras agar menangis tanpa suara. Kurasakan Minho mulai meraih tanganku dan menuntun untuk membelai wajahnya. Aku tetap diam dan kini tanganku diciumi olehnya.

“Tetaplah di sini! Tetaplah di sisiku!”

Minho menarik lenganku hingga aku jatuh ke pelukannya. Dia semakin mengeratkan pelukannya di saat aku mencoba untuk bernapas. Air mataku tak berhenti meleleh.

“Minho,” kucoba memanggilnya, berharap ia sadar setelah mendengar suaraku.

Dia diam selama sekitar sepuluh detik dan melepaskan pelukannya untuk menatapku. “Ne?”

“Aku bukan…”

Minho menciumku.

Sekarang apa yang harus kulakukan? Apa harus senang? Tidak! Dia menciumku karena di pikirannya aku adalah Shim Chaesa, bukan Kim Jira. Air mataku mengalir deras ketika Minho menciumku semakin dalam. Aku hanya diam, seperti boneka yang bebas ia mainkan. Namun perlahan Minho melambatkan gerakannya. Sebelum akhirnya ia ambruk, kembali tertidur.

Aku mendudukkannya, setelah itu menghenyakkan diri ke sofa memandang layar TV, dan meneguk beberapa gelas wine. Air mata masih belum mau berhenti. Tatapanku kosong dengan otak bergolak. Kalau saja di sini ada Jinki, aku pasti sudah memeluknya. Dialah orang yang selalu membuatku tenang dan menghibur. Aku sangat membutuhkannya sekarang.

Ponselku bergetar. Telepon dari Taemin. Kujawab panggilannya.

“Noo~ naaa~ Odiseyo (di mana)?”

“Di jalan. Kami segera sampai. Kututup teleponnya, Minnie-ya. Bye…”

Kuletakkan ponselku di paha, lalu menoleh ke samping untuk melihat keadaan Minho. Dia masih tidur dengan kepala terkulai. Kulirik jam tangan, sudah pukul dua dini hari sekarang. Kuhapus air mataku dan menyambar kunci mobil yang terlempar ke sudut sofa. Kemudian menarik Minho dalam pelukanku dan memapahnya keluar ruangan.

Sekarang kau sudah menemukan jawabannya mengapa aku begini? Ya, karena aku terlalu mencintai Choi Minho…

..to be continued..

* ”Wow, Steven…” Onew pernah teriak kata-kata ini di Making The Muzit waktu mereka dalam mobil perjalanan mau fansign juga di ShimShimTapa waktu comeback Lucifer…

#Mengenai plastic surgery di atas, namanya juga fiksi. Jangan diambil pusing ya^^ Thanks buat yang udah baca dan komen. See u next part^^/


 
4 Comments

Posted by on January 25, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

4 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part IV] – Almighty Key’s Birthday Party”

  1. Lereen

    January 25, 2011 at 8:19 PM

    Lanjut thor!!
    Akhirnya kluar jg.. hahaha
    Ditunggu chapter selanjutnya! :>>

     
  2. leedantae

    January 29, 2011 at 4:17 AM

    Lanjut author🙂

     
  3. Fuansasa

    January 30, 2011 at 3:27 PM

    lanjut dong~~
    penasaran cerita selanjutnya~

     
  4. putri

    February 25, 2011 at 9:59 AM

    waaa lanjut lanjut! makin seru nih !😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: