RSS

SHINee FanFiction: “Grande Confessione”

02 Feb

 

Ya Tuhan, aku tak menginginkan yang lain. Permohonanku saat ini hanya satu:

Jadikanlah ia milikku!


MATA ini terpaku saat menangkap sesosok pria tinggi yang menarik sebuah kursi dan duduk di hadapanku. Ia menyumbat telinganya dengan headset, lalu mengotak-atik Ipodnya. Inilah yang selalu ia lakukan jika datang ke perpustakaan. Menikmati musik, duduk bersandar di kursi, menutupi wajahnya dengan buku, kemudian tertidur. Pemandangan seperti ini sudah kunikmati sejak masih berada di tingkat satu.

Choi Minho, pria yang kadar ketampanannya di atas rata-rata itu memiliki popularitas yang luar biasa di sekolah ini. Bagaimana tidak, ia memiliki pengaruh yang kuat sebagai presiden siswa. Ia juga salah satu pemain terbaik di klub basket, sepak bola, dan memanah. Setiap akhir semester namanya tercantum dalam daftar siswa terbaik dengan nilai sempurna. Kemampuan bermusiknya tak dapat diremehkan, ia mahir memainkan instrumen musik apapun dengan kualitas vokal yang menakjubkan. Wajahnya sangat tampan dengan tubuh tinggi menjulang. Garis wajahnya merupakan impian semua orang Korea, mungil dengan mata yang besar. Sejauh ini ia selalu dicap sebagai ‘pria sempurna’. Namun, sayangnya ia terlahir sebagai pria ketus!

“Fighting!” gumamku lirih dengan tangan mengepal. Kali ini harus bisa, tak boleh menjadi pengecut seperti ini.

Aku mulai mendekatinya. Kutarik kursi perlahan-lahan, berusaha menghindari deritan yang bisa membuatnya terbangun. Kemudian aku duduk menghadapnya. Walau tertutup buku, bisa kurasakan ketampanannya yang bersinar. Oke, sekarang jantungku mulai berguncang.

Kuangkat tanganku, memberanikan diri untuk menyingkirkan buku yang menutupi wajahnya. Namun…

Ia menarik lepas bukunya dan menoleh menatapku. Kami saling pandang beberapa saat. Lidahku kelu, tercekat tak dapat berbicara. Semua kata-kata yang sudah kupikirkan selama ini menguap begitu saja.

Ia menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan aku masih belum berani mengedip. Wajahnya terlalu tampan dan sayang untuk dilewatkan walau untuk dipakai berkedip.

“A…,” ucapku gugup, “…a-aku…”

Dia membuang bukunya begitu saja ke atas meja. Ini membuatku semakin takut. Minho masih memandangiku dengan tatapan malas.

Aku berdiri dan kugebrak mejanya hingga menimbulkan debam keras lalu berteriak, “AKU MENYUKAIMU!”

Suasana perpustakaan yang sunyi, membuat bulu romaku berdiri. Bahkan bisa kurasakan cicak sekalipun turut menahan napas karena suasana canggung ini. Minho tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dariku. Aku… jadi merasa bodoh!

Keringat dingin mulai bercucuran. Ia bangkit dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, lantas pergi meninggalkanku.

A-apa ini? Dia bahkan tak menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’. Pergi meninggalkanku begitu saja seakan-akan tak mendengar apapun. Bisa kurasakan sekarang beberapa orang yang sedari tadi bersembunyi di balik rak-rak buku mulai bermunculan memperhatikanku. Tidak, ini memalukan.

“Kyaaa,” teriakku histeris sambil memegangi pipi dengan kedua tangan karena malu. Aku berbalik dan berlari keluar perpustakaan. Di ujung koridor aku bahkan sempat menabrak Minho. Aih, ini semakin memalukan.

“Yaa!” panggilnya.

Spontan aku berhenti namun tak berbalik. Bisa kurasakan ia berjalan menghampiriku dan berbisik di dekat telinga. Jantungku berdegup dua kali lipat.

“Menyukaiku?” bisiknya mencoba menggoda.

“Kyaaa,” aku berteriak lagi dan berlari meninggalkannya.

Choi Minho, sungguh… Kau sungguh menyebalkan! Aku menyesal. Menyesal sudah mengatakannya. Jika tahu seperti ini, takkan kukatakan.

 

+++

 

BEL pertanda istirahat berbunyi. Aku terduduk lemas di bangku dan tak berani menatap ke belakang. Aku dan Minho satu kelas, ini semakin membuatku mati kutu!

Kelas semakin sepi. Hampir semua orang menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Sedangkan aku masih bergelut dengan pikiranku sendiri memutuskan untuk memberikannya bekal atau tidak.

Hari ini aku bangun sangat pagi hanya untuk membuat bekal double. Selama ini aku tak pernah melihat Minho makan di saat istirahat. Ia selalu disibukkan dengan hal-hal kecil yang ditugasi seonsaengnim karena ia ketua murid.

“Kim Jira,” panggilnya. Hatiku mencelos. “Bukankah kau wakil ketua murid? Mengapa tak pernah membantuku?”

Perlahan-lahan aku berbalik. “N-ne?”

“Ya, kau tak pernah membantuku. Jadi, kemarilah bawa alat tulismu!”

‘Tak pernah membantu’? Yoboseyo, Choi Minho, apa kau amnesia hingga tak ingat bagaimana dulu aku berusaha untuk membantumu tapi kau selalu menolak? Kenapa ia menjadi seperti ini sejak kejadian di perpustakaan tadi?

“Palli!” desaknya.

Aku mengangguk. Dengan tangan bergetar menenteng bekal dan alat tulis ke mejanya.

“A-annyeong,” sapaku, lalu menaruh bekal di mejanya.

“Apa ini?” tanyanya ketus.

“Aku tak pernah melihatmu makan siang. Jadi, ini untukmu…”

“Aku tak membutuhkannya!”

Lidah semakin kelu, dia membuatku sangat gugup. “Ta-tapi aku sudah membuatnya sejak pagi.”

“Yaa, Kim Jira, aku sungguh tak peduli sekalipun kau membuatnya setahun yang lalu! Sekarang duduk dan bantu aku merekapitulasi daftar hadir! Arachi?”

“Ne.”

Apa-apaan ini? Aku bahkan tak dapat berkutik. Sial, karismanya sangat kuat.

“Sedang apa kau?” tanyanya.

Aku menelan ludah, dia memergokiku yang sedang memandangi wajahnya.

“Aniyo. Mari kubantu!”

“Sudah selesai,” ucapnya dingin sambil menutup buku dan berdiri.

MWO?! Memangnya berapa lama aku memandanginya? Ah bodoh, bodoh, bodoh! Dia pasti akan semakin menganggapku aneh. Sial!

Aku mulai menggigiti pena. Kulihat ia kembali menyumbat telinganya dengan headset, lalu duduk bersandar di dekat jendela sambil memandang keluar. Jika kau melihatnya, aku yakin darah segar langsung meluncur keluar dari hidungmu. Karena dia terlalu keren untuk ukuran manusia.

“Minho-sshi, setidaknya cicipi bekal makan buatanku ini!”

Ia mengubah ekspresi wajahnya. Kini lebih dingin, tajam, dan kejam. Kuusahakan agar bibirku tetap menyungging. Padahal nyaliku sudah menciut. Ia melakukan sesuatu pada Ipodnya, mungkin mematikan musik yang sedang ia dengarkan, lantas berjalan menghampiriku.

“Jauhkan ini dari mejaku!” titahnya seraya menunjuk kotak bekal.

“Kenapa? Padahal sudah capek-capek kubuatkan! Kalau tidak banyak makan, nanti seumur hidup tubuhmu akan tetap kurus seperti ini.”

Oke, ini kebodohan kesekian yang kukatakan.

Ia memandangku galak, “Kenapa sih mendadak nempel-nempel seperti ini padaku?”

“Ne?!” pekikku kaget.

“Benar-benar menyusahkan!”

“Ne?!” nadaku meninggi. Aku syok dan kesal dituduh seperti itu. Kubuka kain pembungkus kotak bekal dan penutup kotaknya, lalu kutumpahkan seluruh isinya di atas sepatu brilian Minho. “SIAPA YANG NEMPEL-NEMPEL, HAH?!” teriakku kesal, lalu menyambar kotak bekalku dan bergegas pergi keluar kelas.

Aku berlari di sepanjang koridor. Wajahku memerah. Perkataannya tadi memang benar, aku mendadak mendekatinya. Hal ini kulakukan karena aku tak ingin didahului oleh gadis lain. Aku takut kehilangan dia. Ini karena Cho Heejin, siswi terpopuler di sekolah yang baru saja diangkat menjadi manajer klub basket. Kemarin ia menyatakan cintanya pada Minho.

Baiklah, ini bukan konsumsi umum. Kuakui kalau aku sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka di halaman belakang sekolah. Inilah yang membuatku bertekad untuk ‘menyabotase’ aksi Heejin. Mungkin ini jahat, tapi mengingat aku sudah memendamnya selama dua tahun, menurutku ini sangat wajar. Kau juga akan merasakan hal yang sama, bukan? Takkan pernah rela jika melihat pria yang dicintai bersama wanita lain.

Walaupun sepertinya Minho belum menjawabnya, aku benar-benar takut. Tak bisa kubayangkan mereka jalan berdua memamerkan kemesraan di sekolah. “Kyaaa, andwae!”

Kusuapkan sendok berisi nasi ke mulut. Aku sudah berada di halaman belakang sekolah sekarang. Angin berhembus kencang, sebentar lagi musim dingin. Tapi aku malah makan sendirian di sini. Usahaku bangun lebih pagi untuk membuatkannya bekal amat sangat sia-sia.

Aku sudah lama menyukainya. Hal itu terjadi ketika hari pertama masuk sekolah di tahun pertamaku. Saat itu aku tersesat karena sekolah terlalu luas. Membuatku tak kunjung menemukan kantin. Di tengah keadaan paling memalukan, Minho datang menghampiriku. Entah karena wajahku yang tak dapat menyembunyikan ekspresi kelaparan atau memang Minho selalu memperhatikanku, err… sepertinya pilihan pertama. Ia memberiku bekal makan siangnya.

Jika ada pria tampan yang menolongmu, aku yakin kau juga akan merasakan hal yang sama denganku. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, itu dia. Dan mungkin itu hari keberuntunganku juga, karena aku melihat Minho tersenyum saat seekor anak anjing milik penjaga sekolah datang menghampirinya. Itu adalah senyum pertama yang kulihat. Namun hingga kini ia belum pernah melakukannya lagi. Aku merindukan senyum itu.

Bel berbunyi, istirahatpun selesai. Kubereskan bekas makanku dan segera menuju kelas. Namun, di tikungan koridor kulihat Cho Heejin dari arah berlawanan. Dia mengatakan sesuatu saat kami berpapasan, “Memalukan!”

Aku terkejut sekaligus tak mengerti dengan apa yang baru saja ia katakan. “Ne?” sahutku.

Dia berbalik menghadapku dengan tangan terlipat. “Menyatakan cinta pada seseorang dengan cara seperti di perpustakaan pagi tadi kurasa sangat memalukan.”

“Oh. Aku…,” jantungku berdebar keras, “…aku hanya tak ingin menyesal. Kau menyukainya juga kan? Namun akulah yang menyukainya sejak dulu. Kau hanya siswi pindahan di sini. Kurasa, akulah yang berhak memilikinya.”

“Percaya diri sekali. Kau lihat penampilanmu!” dia mengibaskan rambut panjangnya yang indah. “Berkacalah!”

Rasanya ingin kupukul dia hingga giginya patah.

“Yaa, Kim Jira, kau bersihkan sepatuku!” panggil Minho. Aku menoleh dan mendapatinya sedang menatap Heejin. Hey, bukankah aku yang baru saja ia panggil? Aku benar-benar tak mengerti. Dan yang paling menyakitkan, dia memanggilnya, “Heejin-ah?”

Cukup! Aku tak sanggup melihatnya. Minho menatap Heejin sangat lembut. Beda sekali jika ia melihatku. Kualihkan pandanganku pada Heejin. Ekspresi yang sama, kelembutan. Aku sama sekali tak mengerti. Ada apa sebenarnya di antara mereka? Apakah Minho sudah mengatakan ‘ya’? Ini berarti sekarang mereka sudah berpacaran?

“Sudah ya,” ujar Heejin memecah keheningan. “Minho-ya, sampai jumpa!”

‘Minho-ya’?! Bahkan mereka saling memanggil dengan akrab. Kulihat Minho masih memandanginya. Minho, sekarang bagaimana perasaanmu padanya?

“Minho-sshi,” panggilku seraya menarik-narik lengan seragamnya. Entah sejak kapan, mataku mulai berkaca-kaca.

Ia menoleh menatapku. Sorotan matanya melunak dan sangat dalam. Jangan salahkan aku jika beberapa menit kemudian aku meleleh! Dia menghela napas dan mengacak pelan rambutku, “Kau habis bermain di tempat berdebu mana? Matamu berair.”

Babo! Dia memperlakukanku seperti anak kecil. Jantungku berdebar keras. Tiba-tiba saja sikapnya menjadi lembut. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya. Kalau begini, bagaimana bisa aku mencintainya? Bukankah mencintai seseorang itu perlu mengetahui jalan pikirannya? Dengan begitu kau dapat merasakan kalau rohmu dengannya menyatu dalam satu jiwa. Choi Minho, kau hebat bisa membuatku gila seperti ini…

 

+++

 

HARI ini pun sama. Kutemukan Minho di perpustakaan dengan buku menutupi wajahnya. Tubuh yang bergerak tenang karena napasnya teratur membuatku lega. Setidaknya ia bisa beristirahat walaupun di sini, karena kuperhatikan ia sangat sibuk di berbagai kegiatan sekolah.

Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya. Memperhatikan lekuk tubuhnya seperti ini sangat menyenangkan. Minho sangat kurus, namun ia memiliki otot yang kuat. Itu harus ‘kan? Mengingat ia juga terlahir sebagai atlit.

Mataku lelah, perlahan-lahan mulai mengantuk. Minho, bukalah matamu dan buatlah hanya melihatku, bukan yang lain…

Kubuka mataku. Omo, aku ikut tertidur. Kucium bau shampoo menusuk hidung. Harumnyaaa… Kutajamkan penglihatanku untuk mencaritahu sedang di mana aku sekarang. “Kyaaa~”

“Sudah bangun?” tanya Minho santai.

“Ba-bagaimana bisa aku…”

“Kau tertidur di atas perutku tadi. Jam pelajaran pertama sudah habis. Tadinya kau akan kutinggalkan, tapi… Ya sudah kugendong saja.”

Wajahku memanas. Sekarang bisa kurasakan bau tubuhnya. Dengan tak tahu malu, kulingkarkan tangan ke lehernya. “Minho-sshi,” panggilku.

“Hm?”

“P-pernyataanku saat itu serius. Aku benar-benar menyukaimu,” nada bicaraku mulai menurun. “Awalnya aku menyesal sudah mengatakannya. Tapi, aku salah. Bagaimana mungkin aku merasa menyesal, karena yang kucintai ini adalah seorang Choi Minho. Pria yang selalu memberikan semangat hidup untukku.”

“Jira, apa kau tahu?” tanyanya seraya mengeratkan pegangan tangannya pada kakiku, “Waktu kau bilang suka, tanganmu gemetaran.”

GUBRAK! Dia menghancurkan suasananya.

“Jangan takut! Aku takkan menggigitmu,” candanya seraya menoleh ke wajahku yang sedang bersandar di bahunya. Membuat wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Jantungku berdebar sangat kencang. Ya, Minho adalah orang yang kusukai sekaligus yang paling kutakuti. Tapi sekarang aku ingin lebih dekat dengannya. Karena aku menyayanginya.

+++

Beberapa hari kemudian…

Hari ini adalah ulang tahun Minho, aku sudah menyiapkan acara khusus untuknya. Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah banyak mempersiapkan segala sesuatunya. Banyak sekali teman-teman yang bersedia membantuku.

Dan sudah beberapa hari ini pula sikap Minho melunak. Ia mulai mempercayaiku mengerjakan tugas sebagai wakil ketua kelas. Selain itu, ia juga bersedia membantuku memecahkan beberapa soal matematika yang sulit.

“Minho-sshi, tolong bantu aku jelaskan soal nomor ini!” pintaku.

Ia menghentikan kegiatan membacanya dan mendongak menatapku. “Kau ini babo sekali. Sudah berapa kali kujelaskan masih belum mengerti.”

“Ne? Terbuat dari apa mulutmu hingga dengan santai bisa mengucapkan hal itu? Ayolah, bantu aku!”

“Ah, shiro! Kau tanya saja seonsaengnim!”

“Cih, menyebalkan!” umpatku. Dia menoleh, lalu menyentil keningku. “Kyaaa, sakiiit!”

“Minho-ya!” panggil seseorang dari arah pintu masuk, “Aku mau bicara sebentar. Ada waktu, kan?”

Kami berdua menoleh. Cho Heejin?! Mau apa dia kemari? Kulihat Minho menaruh bukunya di meja dan bangkit dari kursi sambil merapikan seragamnya. Jangan bilang dia kemari untuk menagih jawaban Minho. Tidak, ini tak boleh terjadi. Aku tak ingin Minho pergi bersamanya dan mengatakan ‘ya’.

“Baiklah,” Minho berjalan menghampiri Heejin, “Kita bicara di luar.”

Dadaku sesak sekali. Rasa yang pernah kurasakan bulan lalu saat mengetahui Heejin menyatakan cintanya pada Minho, kini kembali menyembul ke permukaan. Minho, kumohon jangan pergi!

“Minho-sshi…,” panggilku akhirnya.

Dia menoleh dan menatap dalam mataku, “Jira?”

Kalau Minho pergi bersamanya dan mengatakan ‘ya’, itu artinya… Tidak, ini tak boleh terjadi. Aku tak peduli dicap egois atau apapun. Yang kuinginkan adalah Minho menjadi milikku.

“Jangan pergi!” pintaku setengah berteriak. “Aku tahu sama sekali tak berhak berbicara seperti ini, tapi… Minho-sshi…,” kucengkeram seragamnya, “…kalau kau pergi, kau takkan kembali padaku!”

“Mianhae…” Hanya satu kata itu, dia berhasil menghancurkan hatiku. Disingkirkannya tanganku dari seragamnya dan berbalik pergi menghampiri Heejin yang sudah menunggunya.

Dulu kupikir takkan seperti ini jadinya jika kuungkapkan perasaanku. Ternyata tak ada yang berubah, hal ini tetap terjadi. Tak ada gunanya jika terus seperti ini, mengejar mereka dan menggagalkan usaha Heejin pun rasanya tak etis. Bagaimanapun aku masih memiliki hati. Heejin memiliki perasaan yang sama sepertiku pada Minho. Ia berhak merasakannya dan aku harus menerima apapun yang terjadi.

“Jira-ya,” panggil beberapa temanku, “Apa rencanamu akan diteruskan?”

Ah, ya… Aku sudah mempersiapkan pesta kecil untuk Minho. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

+++

AKU bersandar di sebuah pohon halaman belakang sekolah. Mencoba menghindari Minho-Heejin, itu yang kulakukan saat ini. Walaupun sekolah sudah berakhir tiga puluh menit yang lalu, aku masih bertahan di sini. Takut melihat mereka berdua berjalan bersama. Pengecut memang, tapi inilah aku…

“A-aku hanya memastikan,” ucap seseorang di sampingku. “Dia menolakku, di hari ketika aku mengungkapkan perasaan padanya. Hari ini aku hanya ingin memastikan kalau ia benar-benar menolakku. Dan ternyata ia memang sungguh-sungguh melakukannya. Memalukan, bukan? Banyak pria yang mengejarku, namun dialah pria pertama yang menolak. Benar-benar tak dapat dipercaya. Dan ketika aku melihatnya bersamamu, sekarang aku mengerti mengapa ia menolakku. Kim Jira, aku sudah menyuruhnya ke bioskop, tempat yang kau rencanakan untuk merayakan ulang tahunnya. Pergilah sekarang juga sebelum aku berubah pikiran!”

Sekarang aku mengerti. Aku memang sangat ingin membahagiakan orang yang kusayangi. Dan yang bisa membahagiakanku hanya ada seorang pria, Choi Minho…

Aku memeluk kilat Heejin. Lalu berlari menuju gerbang sekolah dan memanggil sebuah taksi. Beberapa hari yang lalu aku sengaja membooking sebuah teater di bioskop. Lalu mengkoordinir seluruh teman-teman Minho dari klub basket, sepak bola, memanah, musik, dan organisasi induk sekolah untuk datang ke sana.

Mereka akan masuk lebih dulu ke dalam dan berpura-pura menjadi orang lain. Lalu Minho masuk setelah teater gelap kemudian kejutan akan muncul setelah film berakhir. Ya, kurang lebih seperti itu.

Film sudah berakhir saat aku datang. Lampu sudah menyala dan semua teman-teman satu teater berdiri bersorak mengucapkan selamat. Aku berjalan menghampiri Minho yang sibuk disalami banyak orang. Aku bisa melihatnya tersenyum lebar. Itu adalah senyum yang kurindukan, akhirnya aku bisa melihatnya lagi…

Ia menoleh menatapku dan menunjuk layar teater. Aku mengikuti arah telunjuknya dan… Omo, siapa yang melakukan itu? Di sana terdapat sebuah video yang diputar dengan beberapa potongan gambarku dan berkali-kali tulisan “Aku mencintaimu” muncul.

Dia menyeruak dari kerumunan dan menarik tanganku. Seluruh orang yang ada di sana membuat koor untuk menyoraki kami. Memalukan!

Minho menyeretku keluar, menuju tempat yang cukup sepi.

“Kau benar-benar membuatku malu!”

“Demi Tuhan, video itu bukan aku yang membuatnya…”

Dia mengalihkan pandangannya. “Mungkin itu ulah Heejin.”

“Cho Heejin?!” pekikku.

“Yeah.”

Kami terdiam beberapa saat. Ia berjalan menjauhiku. “Choi Minho, aku menyukaimu.”

Dia berhenti. “Aku?” Tanyanya, seperti baru pertama kali mendengar.

“Katakan! Apa kau juga menyukaiku?”

Ia berbalik dan menghampiriku, kedua matanya menatapku lekat-lekat. Lalu ia menarik tangan dan mendekapku, “Babo! Tak perlu terburu-buru. Aku pasti akan membalas perasaanmu.”

+++

Satu minggu kemudian…

Aku mendengar kata ‘cinta’ darinya. Kata yang diucapkan dengan tulus dan penuh perasaan. Dia juga memberikan senyum manisnya untukku. Aku benar-benar gadis paling bahagia sedunia.

“Sebetulnya… aku ini bukan pria agresif. Tapi juga bukan tipe pasif. Jadi siap-siap saja, ya!” Dia mengatakannya dengan wajah serius. Sorot matanya sangat tajam. Benar-benar membuatku ketakutan. Tapi tak lama kemudian dia mengecup bibirku, “Hehe…” cengiran lebar selebar iblis terukir di wajahnya.

“Yaa!” teriakku dan memukulnya dengan buku.

“Ssshh! Jangan gaduh kalau tak ingin diusir!”

Kini perpustakaan menjadi tempat favorit kami. Jika ia tak memilki kesibukan, kami selalu berkencan di sini. Kekanak-kanakkan memang, tapi kami merasa nyaman seperti ini.

 

– The End –

 

+++

 

# Ini FF versi lain dari FF ‘Great Confession’ yang pernah saya buat sebelumnya tapi dengan Kim Heechul sebagai tokoh utama. Arti judulnya sama, cuma kali ini sok-sok pake bahasa Itali aja. Muahaha~ Hueehhh, pusing bikin dalam beberapa jam aja (+o+)\ Makanya tokoh ceweknya sama dengan FF ‘We Walk’. Hehe, bingung nyari nama lain. Moga banyak yang suka. Makasih buat yang udah baca & komen…

 
10 Comments

Posted by on February 2, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , ,

10 responses to “SHINee FanFiction: “Grande Confessione”

  1. andiracleizera

    February 4, 2011 at 9:02 PM

    wah fanfict baru lagi nih.. ah dibaca-dibaca!!

     
  2. cho eunmi

    February 6, 2011 at 10:50 AM

    kak diya , fans berat aku . keren bgt oneshotnya . suki suki suki .

     
  3. Lereen

    February 7, 2011 at 6:40 PM

    bgs thor! Ska sama one shot ini.. :))
    Nice FF! Ditunggu one shot lainnya! ^^

     
  4. yuiayumisakurai

    February 10, 2011 at 1:02 AM

    ~omoooooo, saya baru pertama kali bacaFF yang cast utama-nya Minho. Sooooo sweeeet tapi alurnya bagus (meskipun pas Heejin tiba-tiba nyuruh si Jira ke bioskop plotnya agak terlalu cepat).

    ~ Pertama kali baca adegan Jira ngungkapin perasaannya, saya jadi kepikiran chae gyeong di Princess Hours, sifatnya kikuk seperti itu. Hahaha

    ~ Sifat minho yang kayak gini cocok banget ama imej-nya yang terkesan angkuh. Tapi kata author dulu pemerannya Heechul ya? Saya rasa lebih cocok Heechul yang punya sifat kayak gini. Ngga kebayang deh betapa bahagianya cewe yang dapat memenangkan hati heechul apalagi dengan cara seperti ini.

    ~Puasss, sangat puasss baca FF ini ^_^

    ~Ohya saran aja, tulisannya terlalu kecil ya? saya harus perbesar dulu biar enak bacanya😀

    ah hampir lupa, saya new reader yang keseret arus (lupa entah dari mana –a) yui imnida ^_^

     
  5. putri

    February 24, 2011 at 4:44 PM

    ahahaha lucu deh FF nyaaa xD
    si Kim Jira babo bgt yaa #mianhae chingu hehe
    tapi lucuu ceritaaa.. bagus bagus aku suka nh FF!😀

     
  6. kyuviw

    March 4, 2011 at 11:28 AM

    haaaaa.. suka karakter jira yang harga dirinya udah minus dan pantang menyerah huahaha

    thanks, diwon. menolong sekali ff nya di tengah kesuntukan pkl ku kekeke

     
  7. saradubu

    March 14, 2011 at 4:38 PM

    aaaaa lucu~
    suka banget fanficnya😀

     
  8. Miina Kim

    June 6, 2013 at 9:54 AM

    FFnya bagus, ringan,
    watak minho agak ngebingungin, ya, disini…
    apalagi pas adegan Jira numpahin bekal makan siang ke sepatu minho,
    awalnya dia ‘ngamuk’, mnt dibersihin, eh, trus dia langsung melunak…??*/>,;”%
    but good job, diya….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: