RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part V] – Noona, Mianhae!”

11 Mar

AKU dan Kibum berada dalam mobil perusahaan yang menjemput kami sekembalinya dari Daegu. Beberapa hari kemarin kami menghabiskan libur Chuseok di rumahnya. Orang tuaku yang menetap di Amerika untuk kesekian kalinya tak pulang karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ini Chuseok pertama yang kurayakan bersama Kibum setelah ia menjadi artis. Benar-benar berbeda. Banyak sekali hadiah yang kami terima. Yah, hadiah makanan yang dikirimkan fansnya sangat banyak, tak mungkin ia menghabiskannya sendiri. Jadi aku juga ikut andil menghabiskan sebagian.

Setelah malam itu, aku menghindari Minho. Ini terulang lagi, tapi kali ini aku melarikan diri ke Daegu, bukan Amerika. Hal kemarin masih kusimpan sendiri. Kim-line belum mengetahui apapun. Kepercayaanku pada mereka sedikit berkurang. Nyatanya mulut mereka lebih berbahaya dari harimau. Dan itu mengancam posisiku.

“Noona-ya, neo waegeure (kau kenapa)?” tanya Kibum penasaran. “Sejak party kita di Hongdae, kau menjadi seperti ini. Ada apa sebenarnya?”

Mataku masih menerawang langit melalui kaca mobil, pura-pura tak mendengar.

“Noona-ya!” teriaknya. “Apa yang dilakukan Minho padamu? Kau pulang bersamanya kan waktu itu? Yaaa, Noona!”

Jantungku berdegup kencang. Bayangan Minho menciumku kembali menyembul ke permukaan. Tanpa sadar aku menyentuh bibir.

“Mwoya?! Jangan bilang kalian berciuman!”

JLEB!!!

Aku menoleh kilat dengan mata melotot. Sudah dipastikan wajahku sangat tolol dan memerah.

“Mwo? Jadi itu benar?” tanyanya. “Wah, Minho daebak!!!”

“Ani, ani, ani! Tidak seperti yang kaupikirkan. Ini… ini…”

Kibum mendongakkan tubuhnya ke depan dan berbicara pada driver. “Hyung, kita ke Hyundai dulu.”

“Mall?” tanyaku.

“Yeah. Onew-hyung, Jonghyun-hyung, Minho, dan Taeminnie setuju untuk bertemu di sana. Ini liburan terakhir. Kita harus bersenang-senang sebelum memulai jadwal yang gila besok.”

“Oppa, antarkan aku ke apartemen dulu!” pintaku.

“Andwae! Noona harus ikut. Pasangan setelah melakukan kissing itu harus bertemu. Setidaknya berkomunikasi. Kulihat kemarin kau me-reject semua panggilan Minho. Ini memang bukan urusanku, tapi yeah… kalian orang terdekatku. Jadi jangan macam-macam selama aku masih ada di sisi kalian!”

“Apa maksudmu dengan kissing?! Kami…”

“Whatever.”

Kibum mengibaskan tangannya lalu mengenakan headphone. Aku mendengus. Percuma melawannya. Kalaupun tetap menolak untuk ikut, usaha terakhir yang bisa kulakukan hanyalah melompat dari kaca mobil dan itu sangat tidak mungkin.

+++++++

KIBUM berkali-kali berhenti dan menungguiku yang berjalan sengaja diperlambat. Ia juga berkali-kali menggeram jengkel bahkan menyeretku paksa. Ah, Tuhan, mengapa nasibku seperti ini? Aku belum mau bertemu Minho.

“Yo, guys!” Kibum melambaikan tangan kirinya dan masih setia menyeretku. “Happy chuseok. Yaaa, Taeminnie, kau mengecat rambutmu lagi?”

Aku terpaksa mendongak karena tak tahan ingin melihat rambut baru Taem. Tapi tanpa sengaja aku juga melihat Minho. Dia mengenakan t-shirt putih yang ditumpuk dengan kemeja hitam berbahan licin yang lengannya digulung. Sangaaat tampan, meskipun wajahnya sedikit tertutup topi dan kacamata frame hitamnya.

“Perusahaan yang memintaku. Besok kan kita filming untuk MV Hello,” sahut Taem. “Noo~ naaa~”

Aku melepaskan diri dari genggaman Kibum dan menghampiri Taem, lalu memeluknya erat. Kemarin-kemarin dia meneleponku dan berbicara banyak mengenai liburannya yang berakhir tragis di kamar. Seoul sempat dilanda banjir, jadi ia tak diizinkan keluar untuk bermain oleh eommanya.

“Waaah, merah,” aku menepuk kepala Taem dan dia tersenyum manis sekali.

“Noona, ottaeyo? Cocok ‘kah?”

Aku mengangguk seraya memberikan kedua jempolku untuknya.

“Mau kemana kita sekarang?” tanya Jjong.

“Go to theatre,” ajak Kibum sambil berjalan duluan. Mister otoriter beraksi!

“Oke, nonton. Aku setuju,” ujar Jinki.

Kami berenam berjalan menuju bioskop dan berhenti beberapa meter sebelum loket tiket. Berusaha berunding memilih film apa yang akan ditonton.

“Aku mau itu.” Jinki menunjuk sebuah poster film yang jelas-jelas terpampang tulisan ‘untuk dewasa’. Jonghyun mengangguk keras dengan mata bling-blingnya yang membesar.

“Andwae! Kita masih punya bayi,” tolakku.

“Bayi?” tanya Jinki.

Taem maju ke depan sembari menunjuk dirinya sendiri dengan cengiran lebar.

“Ah ya, anak ini ikut.” Jinki dan Jjong kecewa berat, sedangkan Taem tertawa gembira karena aku menyelamatkannya. Biasanya dia selalu disuruh pulang. Mereka memang hyung-hyung yang egois!

“Film itu menampilkan banyak adegan kekerasan. Aku juga tak mau nonton. Pilih film lain saja!” pintaku.

“Bagaimana dengan itu?” Kibum menunjuk sebuah poster dan berhasil membuat kami menolaknya mentah-mentah. Dasar, drama queen!

“Itu saja,” aku menunjuk poster lain secara asal.

“Ah, aku setuju!” Taemin meninjukan kepalan tangannya ke udara dengan semangat.

“MWOYA?!” sahut Jinki dan Jjong. Minho hanya tersenyum kecil sambil melipat tangannya.

“Beli tiket. Kaja!” Aku bersama Taem berjalan ke loket tiket, meninggalkan mereka yang masih belum bisa menerima film pilihanku.

Beberapa menit kemudian, aku dan Taem kembali ke rombongan. “Ah, otte? Padahal di sini sepi, tapi kenapa seat-nya penuh, ya? Yang tersisa cuma ini. Empat dan dua…”

Kibum menyambar tiketnya. “Mwo? Jadi ada dua orang yang duduknya terpisah? Ah, noona cheongmal…”

“Mwo?” sahutku.

“Usahamu gigih sekali,” Kibum mulai mengeluarkan ‘senyum setannya’. “Baiklah, aku paham kalau kau ingin mengulang kejadian malam itu.”

“Ap-” Aku menangkap arah pembicaraan Kibum sekarang. “Yaaa, Kibum-ah. Aku pulang…”

Aku melepaskan pegangan Taemin dan berjalan cepat ke pintu keluar bioskop, namun Jinki menarikku. “Jira-ya, wae? Kau akan duduk bersamaku. Tenanglah…”

Ini dia, Jinki selalu cepat tanggap dengan segala kondisi. Yakin sekali saat ini dia dapat membaca jelas situasinya. Kutimbang sejenak tawarannya dan…, “Oke!”

“Apa sebenarnya yang kalian bicarakan?” Sejak awal kami kemari, ini pertama kalinya Minho bersuara.

“Opseo (tak ada),” jawab Jinki lantas menarikku untuk segera masuk ke dalam teater.

Setelah masuk ke dalam, nyatanya aku tak duduk bersama Jinki. Tetapi di empat seat bersama Taem, Jjong, dan Kibum. Sedangkan dua seat sisanya di belakang kami, Jinki dan Minho. Ini karena Taem yang merengek ingin duduk bersamaku.

Selama film berlangsung, kulihat Jjong dan Jinki tertidur. Kibum dan Minho beberapa kali menguap. Aku juga sebenarnya kurang suka dengan film ini, tapi ini demi kebaikan uri Taeminnie. Kau tahu film apa yang terpaksa kami saksikan? Yeah, it’s animation film.

Mataku semakin berat. Film ini membosankan. Aku memang tak terlalu suka film animasi. Terlalu mengada-ada dan menipu, itu menurutku. Jadi, kuputuskan untuk pergi ke toilet sekedar membasuh muka agar rasa kantuk ini hilang. Kasian bayi raksasaku. Dia sudah sangat senang sekali untuk bisa menonton bersama kami. Aku tak ingin mengecewakannya.

+++++++

Kubasuh wajah dan kembali membubuhkan make up. Mataku terlihat lelah, tadi di mobil aku tak bisa tidur. Minho selalu berputar di kepalaku, terutama momen kissing itu. Kuoleskan pelembap bibir kemudian bergegas keluar toilet. Dan di sana, beberapa meter dari toilet wanita, Minho tengah bersandar ke tembok. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dengan kepala merunduk, wajahnya terhalang topi dan kacamata.

“Minho?”

Dia mendongak. “Noona, mari kita bicara!”

Ia menarik tanganku dan mulai menyeret. Ia menggiringku ke sebuah game center, lalu duduk di mesin permainan balap mobil. Tangan kanannya menepuk-nepuk kursi player 2 di sampingnya dengan maksud menyuruhku duduk. Aku menurut.

“Apa yang ingin kau bicarakan dan mengapa harus di tempat seperti ini?”

Minho tersenyum. Seperti biasa, selalu hangat dan tenang. “Karena tempat ini ramai dengan musik. Hingga kecil kemungkinan ada yang mencuri dengar pembicaraan kita…”

“Oke, langsung saja! Aku tak ingin ketinggalan filmnya.”

“What the- Ah, noona jincha. Kau pikir untuk apa kau ke toilet? Aku berani bertaruh kau bosan dengan filmnya.”

Dan ya, aku juga berani bertaruh kalau kau memaksakan diri berbicara informal seperti itu. “Wae?” tanyaku.

“Hm?”

“Kenapa kau berbicara informal padaku?”

“Waeyo? Ah, jwaesongeyo (maaf)…”

“Ani,” aku tertawa mendengarnya berbicara formal kembali. “Hanya saja bagiku itu terdengar terlalu dipaksakan.”

Dia mencengkeram stir mobilnya dan menatap layar bergambar trek balap. “Geunyang (hanya karena)… aku ingin seperti yang lain. Mereka selalu berbicara informal padamu, bahkan uri maknae, Taeminnie. Kau selalu menanggapinya dengan santai. Tapi kenapa giliranku yang berbicara kau malah menanggapinya seperti itu?”

Kutatap wajah Minho di mana alisnya mulai bertaut. Ini pertanda kalau ia sedang serius.

“Well, itu karena kau memiliki image yang berbeda di mataku, Minho-ya. Kau adalah pria yang selalu memperlakukan orang lain dengan sangat sopan, terutama pada orang yang lebih tua darimu. Namun bukan berarti Key dan Taemin tak sopan, mereka…”

“Kenapa kau menolak semua panggilanku selama liburan Chuseok kemarin, Noona?”

“A-apa?”

Dia mengalihkan pandangannya dari layar kepadaku. Kenapa tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan di mana aku belum menyelesaikan kalimatku?

“Kenapa kau tega membuatku frustasi dengan mereject telepon-teleponku?”

Damn, aku terjebak sekarang. Apa yang harus kukatakan? Memberitahukan detail ceritanya? Tidak, itu bodoh. Itu malah bisa menguburku hidup-hidup. Aku menunduk, satu-satunya usaha yang kulakukan adalah menghindari tatapannya yang mengerikan.

“Noona, apa aku telah melakukan hal yang tak sopan padamu malam itu?”

“Ne?” Aku tak sengaja mendongak dan menatap matanya. Yep, aku terjebak sekarang. Ia terus menatapku. ‘Apa yang harus kukatakan?’ Lagi-lagi pertanyaan bodoh itu yang berputar di otakku. Mengapa di saat seperti ini cara kerja otakku begitu lamban? Ah, hampir meledak sekarang.  Tiba-tiba saja kata-kata Kibum malam itu terlintas di pikiranku: “Katakan padanya sekarang juga, Noona!” dan “Aku hanya tak ingin kau menyesal lagi.”

“Mmm…,” aku mulai mencari kata-kata yang tepat. Namun tiba-tiba ponselku berbunyi. Thanks, God… Pesan dari Taeminnie masuk. Ia bilang kalau filmnya sudah selesai dan mereka semua menunggu kami di pintu keluar. “Kita harus pergi.”

Aku turun dari mesin permainan dan berjalan keluar arena game center. Aku sempat mendengar Minho menghantam sesuatu. Seperti stir mobil yang dipukul keras dengan telapak tangan.

Ia berjalan cepat dan menarikku. “Mianhae.” Aku memandangnya bingung. Aku bahkan belum mengatakan apapun tentang malam itu. Ia melanjutkan, “Tak ada waktu lagi, mereka menunggu kita. Untuk kali ini, hanya kata maaf itu yang bisa kusampaikan padamu, Noona. Aku berjanji akan menjelaskannya di lain waktu.”

+++++++

TAEMIN dan Jinki bersorak saat karyawanku datang ke meja kami membawakan ayam goreng. Saat ini kami sedang berada di café-ku. Dari Hyundai menempuh waktu satu jam perjalanan hanya untuk mendapatkan makanan gratis. Aku sanksi mereka ini mendapat gaji atau tidak. Selama pergi dengan mereka, tak pernah absen sekalipun aku mengeluarkan uang untuk mentraktir. Bukannya hitungan atau pelit, tapi… hey, mereka selebriti kan?

Kibum menepuk tangan Taem saat anak itu hendak menyambar ayam. “Cuci tanganmu, Minnie-ya!”

“Iye, Chef~” sahut Taem kecewa. Lagi-lagi ia menggembungkan pipinya. Aku masih ingat kata-kata itu. Taem pernah mengatakannya di “Key Raising Idol” episode awal.

Dalam keadaan duduk, aku berusaha menggapai bahunya dan mengusap lembut. Wah, si bayi sudah sangat tinggi sekarang. Dia berlalu ke toilet.

Aku duduk di antara Jjong dan manajer-oppa yang sudah bergabung bersama kami sekarang. Kami mulai menyantap makanan.

“Hyung, kudengar kita akan ke Indonesia?” tanya Jinki.

Manajer-oppa mengangguk.

“Tunggu, bukankah itu negara yang panas?” tanya Jjong matanya melebar.

Yang lain mengangguk membenarkan.

“Tapi kita mendapatkan masalah,” ujar manajer-oppa. Kami semua memandangnya, menunggu. “Ketiga coordi tak bisa ikut.”

“Waeyo?” tanya Jinki.

“Dua di antara mereka menjadi asisten pengajar di sekolah mode, sedangkan satu sisanya ada keluarga yang menikah.”

“Jadi?” Kibum bertanya dengan nada meremehkan.

“Hanya kau yang sangat peduli fashion di sini, Kibum-ah. Jangan samakan yang lain denganmu!”

Kulihat Kibum mengerucutkan bibirnya.

“Aku tak ingin ke sana,” gumam Jjong lirih tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Wae?” tanyaku dan yang lain menatap kami.

Jjong menaruh sumpitnya dan menatapku. “Aku benci cuaca panas, Jira-ya. Jangan bilang kau lupa akan hal itu!”

Manajer-oppa tertawa. “Yaaa, Jonghyunnie, tak ada yang suka dengan cuaca panas. Kurasa semua orang Indonesia juga tak terlalu menyukainya. Hanya saja mereka memilih pasrah menerima takdir. Tak mungkin kan jutaan penduduk berbondong-bondong pindah mengosongkan pulau-pulau itu dengan alasan konyol ‘cuaca panas’? Dan kabar baik untukmu, perusahaan sudah menyetujuinya. Kita akan berangkat 11 Oktober nanti.”

“Tapi coordi-noona?” sambar Jjong cepat-cepat. Rupanya ia masih belum menyerah mencari jalan lain agar bisa mempengaruhi manajer-oppa untuk membujuk perusahaan membatalkan pekerjaan tersebut.

Aku menunduk. Tak enak menjadi penghalang di antara mereka yang asyik mengobrol. Namun tiba-tiba sebuah tangan menepuk punggungku.

“Syukurlah kita masih mempunyai anak ini,” ujar manajer-oppa riang.

“A-apa?  ‘Mempunyai anak ini’ apa maksudnya? ” tanyaku.

“Para coordi meninggalkan sebuah catatan padaku. Itu semua mengenai komposisi perpaduan kostum yang akan dipakai anak-anak. Kau hanya perlu mengikuti catatan itu, maka urusan selesai…”

“A-apa?!”

Minho tepuk tangan. “Ide bagus, Hyung.”

“Aku setuju,” timpal Jinki.

“Aku tidak,” sambar Kibum. “Aku khawatir noona akan membuat masalah. Dia sama seperti Jonghyun-hyung, anti-panas…”

“Jadi maksudmu aku akan membuat masalah?” sahut Jjong tersinggung.

“Aku tak mau,” tolakku.

“Tapi…”

“Oppa, jangan bujuk aku!” Kubersihkan mulutku dengan serbet, lalu berjalan meninggalkan meja di saat Taem kembali.

“Noo~ naaa~ Mau kemana?”

“Toilet,” sahutku singkat. Bukan maksudku untuk marah, hanya saja aku malas untuk pergi ke negara panas di wilayah Asia Tenggara. Kulitku alergi jika kepanasan. Dan aku tak ingin mereka direpotkan olehku nantinya.

Kubuka pintu loteng. Sekarang aku berada di atap gedung yang disulap menjadi taman kecil. Berdiri di sisi pagar yang menyajikan pemandangan indah Seoul sembari ditiup angin sejuk musim gugur. Sangat menyenangkan. Aku menyukai cuaca seperti ini…

“Tak seharusnya kau seperti itu. Kau bisa menyinggung perasaan manajer-hyung.”

Aku menoleh. “Jinki-oppa…”

“Semua orang setuju cuaca di sini lebih menyenangkan. Tapi apa salahnya sesekali kita juga berada di posisi orang lain.”

“Aku tak yakin oppa mengingat alergiku.”

“Seumur hidup aku takkan pernah melupakannya,” ujar Jinki tersenyum dan berjalan menghampiriku. “Kau berada di pelukanku saat pingsan. Ingat?”

Aku mendengus. Itu momen paling memalukan dalam hidupku. Jadi, saat zaman trainee dulu, kami mati-matian melakukan diet dan memutuskan untuk pergi sauna. Aku dan Jjong, yang sama-sama anti-panas, dengan bodohnya melakukan tantangan berlama-lama diam di dalam tungku sauna dengan suhu 108˚. Belum satu menit, aku sudah pingsan dengan kulit dipenuhi bentol-bentol merah.

“Aku takut kejadian sauna itu terulang…”

Jinki tertawa keras. “Panas di Indonesia tidak sama dengan suhu tungku sauna, Jira-ya. Aku akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu padamu. Janji,” Jinki mengacungkan jari kelingkingnya.

Aku masih diam, memandangi kelingking itu.

“Aku juga akan bertanggung jawab,” ujar suara di belakang kami. Aku menoleh. Itu manajer-oppa. “Tolong, kami sangat membutuhkan bantuanmu, Jira-ya.”

Aku semakin bimbang. Jinki tersenyum lebar seraya mengusap bahuku. Aku memandang wajah malaikatnya.

“Ya, aku mau.”

Manajer-oppa bersorak, sedangkan Jinki memelukku.

“Terima kasih, Jira. Kau menyelamatkan kami,” teriak manajer-oppa.

“Yeah.”

Aku tersenyum. Jinki masih memelukku.

“Yaaa, hentikan. Jangan berpelukan seperti itu! Hal-hal kecil seperti ini bisa menumbuhkan sesuatu. Jinki, aku tak ingin kau melanggar kontrakmu.”

Kulihat wajah Jinki memerah, begitupula denganku. Yah, aku mengerti kemana arah pembicaraan manajer-oppa. Yang dimaksud tumbuh itu adalah sebuah perasaan. Dan memiliki kekasih, itu melanggar kontrak…

..to be continued..


+++++++

 

#Yeee~ Sampai jumpa di Jakarta^^/

 
9 Comments

Posted by on March 11, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

9 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part V] – Noona, Mianhae!”

  1. hyukbumnik

    March 12, 2011 at 7:22 AM

    uwouwo …
    Jirajinki aja deh jgn ama mino hehe …
    taem kesannya masih bocah banget hehe

     
  2. Diyawonnie

    March 12, 2011 at 3:06 PM

    Wahaha~
    ayo tebak sapa yg bakal jadian?

     
    • frida siwon

      March 23, 2011 at 8:53 PM

      pasti ntar sm onew dl br minho ??

       
      • diyawonnie

        March 25, 2011 at 10:21 PM

        tar part 6 jawabannya^^

         
  3. aiaiwon

    March 12, 2011 at 6:43 PM

    kyaaaaaaaaaa author nice ff
    lanjutkan ya thor,hehehe

     
  4. saradubu

    March 15, 2011 at 6:34 PM

    nice ff🙂
    aduh ngebayangin onew yg baik banget sama jira bikin iri -_-
    gak sabar part selanjutnya🙂

     
  5. Anggani Dwi

    March 24, 2011 at 10:12 AM

    onni..
    aku suka banget ceritanya..!! ^^
    lanjutin onn..!🙂
    mianhae ya onn kalo aku sksd..😀

     
  6. hyeobum

    March 28, 2011 at 3:47 PM

    Aigooo~ seruuuuu
    Onnie-ya, mana lagi lanjutannya? *gelayut manja ala taem*

     
  7. Tiara Indah Olivia

    November 1, 2013 at 3:36 AM

    Minho oppa ini sebenarnya kenapa ? Apa dia juga suka sama Jira..
    Wah,

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: