RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part IX] – Gotcha!”

19 May

Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part IX] – Gotcha!

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, and Manajer.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

AKU sudah di apartemen sekarang setelah berusaha kabur berkali-kali dari pengawasan ketat member Soshi. Setelah kuyakinkan akan bertanggung jawab jika Minho mengamuk, mereka baru melepasku. Ini membuat penasaran, semengerikan itukah pacarku? Lagipula aku pingsan beberapa hari yang lalu, tapi sampai saat ini mereka terus ‘menjaga’ bahkan melarangku untuk pergi ke café.

Namun, sampai detik ini Minho belum menemuiku. Belum kulihat batang hidungnya sekali pun sejak siuman dari pingsan beberapa hari yang lalu. Kami hanya bisa berkomunikasi melalui ponsel. Itu pun tidak seintensif biasanya. Pengurangan jadwal Jjong yang dilakukan perusahaan dilimpahkan pada member lain. Ini tak adil, Jjong menjadi sangat tertekan akhir-akhir ini. Perubahan itu dapat kutangkap dari caranya berkomunikasi denganku melalui aplikasi chating dari ponsel kami yang setipe.

Kemarin sore Jinki sempat menjengukku. Tapi tak lama. Setelah mengantarkan makanan dan menanyakan kabar, ia langsung pergi. Bahkan member tersibuk pun sempat menjenguk. Apa kabar Minho? Bahkan sejak semalam ia tak menghubungiku atau membalas pesan yang kukirim. Menyebalkan!

Kutendang selimut hingga ia jatuh dari kasur dan berguling-guling frustasi. Mengawali pagi dengan pikiran dipenuhi hal-hal kecil. Menyedihkan, bagaimana dengan siang?

Interkom berbunyi. Aku langsung keluar kamar dan membuka pintu.

GREP!

“Mianhae, mianhae, neomu mianhae!”

Minho menghamburku dengan pelukan. Hampir membuat hidung ini patah.

“Jagiya, kumohon maafkan aku!” ia melepaskan pelukannya dan merengkuh wajahku. Kedua matanya yang tajam menatapku lekat-lekat. “Di mana yang sakit? Astaga, wajahmu pucat.”

“Sudah kubilang tak apa-apa. Kejadian itu sudah lewat beberapa hari yang lalu, baby!”

Dia tersenyum lega dan kembali memelukku.

“Maaf baru menemuimu hari ini. Jadwal benar-benar gila dan manajer-hyung tak beranjak dari sisiku.”

“Aku mengerti…”

Minho menutup pintu dengan kakinya. Ia berjalan menyeretku yang masih berada dalam pelukannya untuk masuk ke dalam. Aku berusaha melepaskan diri dan ia mengalah. Kubantu melepaskan tas punggungnya lalu kami menghenyakkan diri di sofa.

Aku memandangnya sengit.

“Wae?” tanyanya.

“Kau benar-benar menawanku beberapa hari ini. Nappeun!”

Dia tersenyum. “Mianhae, aku hanya tak ingin hal kemarin kembali terulang. Saat kau pingsan, aku hampir gila. Ingin menjagamu tapi Onew-hyung ada di sana. Aku bahkan sama sekali tak bisa memejamkan mata. Terus terjaga sepanjang malam dan mengawasimu dari jauh karena Onew-hyung sama sekali tak melepaskan genggamannya darimu.”

Aku bersandar di dadanya. Tangan Minho mulai memainkan rambutku lembut.

“Maaf membuatmu khawatir.”

“Kau harus berjanji padaku takkan seperti itu lagi.”

Aku mengangguk. “Ah ya, aku tak ingin kau berpikir macam-macam saat aku memeluk Jonghyun kemarin…”

“Mengejutkan memang, tapi aku mengerti.”

Kumainkan kancing kemejanya. “Aku juga tak ingin kau terus-terusan ‘mengawasi’ Taeminnie.”

“Cih, sudah kuduga ia akan mengadu.” Ia mendengus. “Kalian sangat mesra, bagaimana aku tak cemburu! Kau bahkan lebih sering memanggilnya ‘baby’ ketimbang padaku.”

Aku tertawa.

“Astaga, kau masih belum bisa membedakan rupanya. ‘Baby’ dalam arti bayi, Minho sayang.”

Minho menutup mulutnya dengan punggung tangan. Wajahnya memerah.

Aku kembali tertawa. Ia menarikku lebih dalam ke pelukannya, wajah kami sudah semakin dekat sekarang. Perlahan-lahan Minho merubah tatapannya menjadi sayu. Jantungku berdebar dua kali lipat.

“Tidak, aku belum mandi. Kita lakukan kapan-kapan,” tolakku lembut dan turun dari pangkuannya.

“Ini tak adil. Setidaknya kau harus memberiku ciuman selamat datang atau apapun yang mengisyaratkan kalau kau merindukanku.”

“Tidak sebelum aku mandi,” aku berjalan menuju kamar. “Tunggu di sini, aku mandi dulu. Kau bisa ambil sendiri air minum di pantry jika haus. Ah ya, ada banyak makanan dalam lemari es. Ambil sesukamu!”

“Ya, nanti saja.”

“Bye…,” pamitku lalu masuk ke kamar dan menutup pintu.

+++++++

Satu jam kemudian aku keluar kamar. Minho tertidur nyenyak dengan kaki panjangnya yang menggantung di lengan sofa. Namun, perhatianku tertuju pada benda putih yang tergeletak di lantai. Aku menghampirinya dan meraih benda itu.

Ah, ini skenario drama. Tertulis ‘Pianist’ sebagai judulnya. Apa Minho akan bermain drama? Ia belum memberitahuku sebelumnya. Senyumku mengembang. Keinginannya untuk menjadi seorang aktor akan tercapai. Drama ini akan menjadi debut aktingnya. Aku ikut senang.

Kutaruh skenarionya ke atas meja, lantas kembali ke kamar untuk mengambil selimut dan memakaikannya pada Minho. Wajahnya terlihat sangat lelah. Ia telah bekerja terlalu keras. Semoga kesehatannya tak terganggu.

+++++++

KUMASUKKAN lobak, ramyun, sosis, dan dubu ke dalam panci kecil berisi kimchi yang sudah diberi banyak air. Kali ini aku akan membuat stew kimchi dengan olahanku sendiri yang mengandalkan bahan-bahan dalam lemari es. Sambil menunggu lobaknya matang, kuambil beberapa mangkuk dan menaruhnya di meja makan, lantas kembali ke stew untuk mengaduknya lagi.

GREP!

Tiba-tiba Minho memelukku dari belakang.

“Kau mempunyai cara yang hebat untuk membangunkanku, Sayang. Baunya menggugah selera sekalipun aku sedang tidur,” ujarnya dan meletakkan dagu di pundakku. Kemudian mulai menciumi leher.

“Hentikan! Kau memecah konsentrasiku.”

Bisa kurasakan napasnya menderu di telinga. Ia pasti tengah mendengus.

“Wah, stew kimchi. Terlihat enak sepertinya.”

“Tentu saja,” kulepaskan tangannya yang memeluk erat perutku dan berjalan menuju meja makan untuk merapikan mangkuk-mangkuk. “Cuci mukamu! Setelah itu makan, baru kau boleh pergi dari sini.”

Minho melipat tangannya dan berdiri bersandar ke lemari es. “Kau senang sekali mengusirku, Jagiya.”

Aku berbalik dan menatapnya tajam. “Oke, aku bertanya. Apa profesimu, Minho sayang?”

Dia terkekeh dan berjalan menghampiri, kemudian mengecup keningku singkat.

“Oh, Minho, kau beralih profesi menjadi pencuri.”

“Yeah, pencuri hatimu, Jira sayang,” sahutnya sambil berlalu ke toilet.

“Cih, apa kau mempelajarinya dari Jonghyun?”

“Apa?” tanyanya setengah berteriak dari dalam toilet.

“Kata-kata menjijikkan itu adalah identitas Kim Jonghyun. Jangan sampai kau mencuri predikatnya!”

Aku mendengarnya tertawa.

“Ini lebih baik dari ‘sangtae’, Jira sayang.”

Aku terkekeh dan kembali berkutat dengan stew, sentuhan terakhir adalah menaburkan mozzarella di atasnya dan mematikan api. Lalu memindahkan panci ke meja makan.

Terdengar suara pintu toilet terbuka. Minho muncul dengan pakaian berbeda. Aku memandanginya seperti orang bodoh.

“Wae?” tanyanya.

“Ka-kau benar-benar akan pergi? Aku hanya bercanda tadi.”

Minho tersenyum dan berjalan menghampiriku. “Aku masih ada jadwal setelah ini. Baiklah, ayo kita makan! Aku sudah lapar.”

Aku memberinya nasi dan ia segera memakannya bersamaan dengan stew.

“Makanlah yang banyak!”

Dia mengangguk dan tersenyum menatapku. “Apa rencanamu hari ini?”

“Café. Sudah terlalu lama aku meninggalkannya. Kemarin eomma menghubungiku dan mengomel. Ia tak suka jika aku absen.”

“Kau tak bilang padanya sedang sakit?”

Aku menggeleng. “Aku tak ingin membuatnya khawatir. Mmm… Aku mempunyai ibu yang menomorsatukan penampilan. Ketika ibu yang lain sibuk dengan dapur mereka, ibuku lebih memilih seharian berkutat membaca majalah fashion ataupun shopping. Prada, Gucci, Channel adalah nyawanya. Itulah mengapa aku berpenampilan berbeda sekarang. Eomma yang mengubahku. Namun, meskipun begitu, eomma adalah tipe orang yang lemah hati, mudah panik, dan cengeng. Aku tak ingin membuat pikirannya dipenuhi olehku. Biarkan ia bahagia dengan dunianya.”

Minho mengangguk mengerti. “Well, setidaknya sekarang aku tahu seperti apa calon mertuaku…”

Bursssst… Wajahku memanas dengan degup jantung berpacu dua kali lipat. Tunggu, apa yang barusan ia katakan? Mertua?

+++++++

SEPERTI biasa Minho mengantarku hingga stasiun, kami berpisah di sana. Dan sekarang aku sudah berada di dalam café. Manajer Lee memelototiku dengan kedua tangan terlipat ketika dilihatnya aku masuk. Rupanya tak satupun dari mereka yang memberi kabar mengenai sakitku ke staff café? Keterlaluan!

Aku anak dari pemilik café ini, namun sebagian kekuasaan dipegang oleh Manajer Lee. Ia orang kepercayaan orang tuaku. Meskipun dapat dikatakan aku tak memiliki pekerjaan tetap di café ini, ia tak senang jika aku absen seenaknya. Dan jabatanku sebagai ‘pengawas kinerja karyawan’, dicabut begitu saja olehnya.

“Kim Jira, tugasmu hari ini adalah kasir,” ujarnya dingin. Aku tak berani membantah. Jadi hanya pasrah berjalan menuju kassa di dekat pintu masuk.

Beberapa siswi ramai berceloteh dengan mata tak lepas dari laptop. Suara bising mereka membuat kepalaku pening. Jadi aku memilih berbalik memunggungi mereka dan duduk bersandar pada mesin hitung. Terlalu lama beristirahat malah membuat tubuhku lemas.

“ANDWAE!” teriak salah seorang siswi. “Jadi rumor itu memang ada? Minho-oppa dan Yuri-eonni berkencan?”

Aku spontan berbalik. Tunggu, Minho mana yang mereka bicarakan?

“Setelah Jonghyun-oppa, sekarang juga Minho-oppa?” timpal temannya.

Ya, jelas sekarang. Mereka membicarakan SHINee Minho, kekasihku.

“Sebentar kuperbesar gambarnya,” sahut anak yang lain. “Sama. Gelang rantai yang mereka kenakan sepertinya memang gelang pasangan.”

“Andwae! Aku tak rela!” pekik salah satu di antara mereka dan menenggelamkan wajahnya ke lipatan tangan.

Imajinasi di otakku terlalu liar hingga tak dapat berpikir jernih. Jadi, apa maksud rumor itu? Gelang pasangan, apa pula itu? Minho dan Yuri berkencan? Oh, yang benar saja!

Kurogoh ponsel dari dalam saku celana dan menghubungi Minho.

“Yoboseyo?” jawabnya.

“Aku ingin bertemu. Di mana kau sekarang?”

“Wae? Baru berpisah setengah jam yang lalu kau sudah merindukanku?” godanya riang.

“Aku serius. Ada hal yang ingin kubicarakan.”

Ia mengubah nada suaranya. “Oh, aku ada di KBS untuk Music Bank. Datanglah kalau begitu. Telepon aku jika sudah sampai. Nanti akan kujemput di pintu masuk. Sampai nanti kalau begitu.”

“Ya. Aku pergi sekarang.”

“Perlu kujemput?”

“Tidak. Kau harus kerja. Jangan khawatir, aku bukan balita, Choi Minho,” bisikku saat mengatakan namanya.

“Yeah, my girlfriend is gumiho. Kau liar seperti rubah hingga sulit kuatur…”

“Mwo?!”

“Kidding. Baiklah, cepat kemari! Aku tak sabar ingin bertemu.”

“Pada kenyataannya kaulah yang merindukanku.”

“Ahahaha, yeah. Aku tak ingin berdebat lebih panjang. Segera datang dan berikan ‘kecupan semangat’ untukku!”

“Omo. Kututup teleponnya. Bye…”

+++++++

AKHIRNYA, berhasil kabur dari pengawasan manajer Lee. Aku tak peduli apa yang akan terjadi nanti. Pikiranku sekarang dipenuhi oleh wajah Minho, Yuri, dan gelang mereka yang entah sengaja disamakan atau hanya kebetulan. Jujur saja aku tak dapat berhenti khawatir dan memikirkannya. Mereka berdua memang sangat dekat sejak dulu. Dan, bukankah Minho pernah menyatakan bahwa Yuri adalah tipe idealnya dalam sebuah program TV?

Kupegangi kepala dengan kedua tangan. Aku tak dapat berpikir jernih. Hal yang masih kupunya saat ini hanyalah kepercayaan. Itu adalah dasar bagi pasangan yang ingin menjalin hubungan sehat, bukan? Aku hanya berusaha menyingkirkan pikiran negatif dan tak ingin dianggap kekanakkan.

Seseorang menarik tanganku dengan kasar.

“Mi-Minho?” tanyaku.

“Ya.”

Ia menyeretku masuk ke dalam. Aku bahkan tak sadar kalau sudah sampai. Ini buruk dan memalukan! Tak seharusnya seperti ini hanya karena sebuah rumor tak jelas.

“Apa yang kaupikirkan hingga tak sadar kalau aku sudah memanggilmu berulang kali?” tanyanya.

“Eh? Hmmm…”

“Lupakan! Kita bicara di tempat lain,” ia terus menggiringku masuk ke sebuah ruangan. Wajahnya tertutup rapat dengan balutan kain dan topi. Ia bahkan rela merepotkan diri menyamar hanya untuk menjemputku keluar. Lalu apa yang harus kau khawatirkan, Kim Jira? Bodoh!

Ia mengajakku ke ruang tunggu SHINee dan SNSD yang baru saja comeback dengan ‘Hoot’. Tadi kulihat ada dua orang pria bertubuh besar yang berjaga di depan. Dan hampir seluruh member berada di ruangan ini. Bisa dibilang mereka seperti terisolasi. Ini karena kasus skandal Jong-Kyung. Perusahaan berusaha memberikan perlindungan ekstra pada mereka. Hingga untuk sementara mereka teralienasi dari lingkungan dan penggemar. Perusahaan khawatir akan datangnya penggemar yang brutal karena kontra akan skandal tersebut.

“Noo~ naaa~” panggil Taem yang sedang sibuk didandani di meja rias.

Kulemparkan senyum padanya. “Annyeong!”

“Choi Minho, jadi kau memohon-mohon pada manajer-hyung hanya untuk menjemputnya di luar?” tanya Jinki sembari menutup novelnya dan berdiri menghampiri kami. “Jira, kemarilah!”

Aku dan Minho membeku. Namun, ia mendorongku untuk menghampiri Jinki. Semoga ia tak curiga dengan hubungan kami.

Jinki menatapku dingin dan tiba-tiba menempelkan punggung tangannya ke dahiku. “Benar-benar sudah sembuh. Syukurlah… Tak seharusnya aku secemas ini,” ujarnya sambil tersenyum lembut.

“Maaf sudah membuatmu cemas!”

Ia kembali tersenyum. “Tak apa, aku memang tak bisa menghentikannya. Er… Apa yang kau lakukan di sini?”

“A-aku…,” baiklah pikirkan alasan yang logis, Jira! Karena tak mungkin mengatakan sedang cemburu dan curiga pada hubungan Minyul. “Aku ingin melihat keadaan Jonghyun. Bagaimana dia?”

Jinki mengedikkan kepalanya ke arah Jjong berada. Bisa kulihat ia duduk sendirian di meja rias sudut dengan telinga disumbat headset. Tangannya tak berhenti memainkan Ipod. Aku pamit pada Jinki untuk menemuinya. Kutarik kursi yang ada di samping Jjong dan mencabut headset dari telinganya.

“Annyeong,” sapaku.

Ia terkejut. “Jira? Kapan kau datang?”

“Itu tak penting. Sedang apa kau di sini? Mengapa tak bergabung dengan yang lain?”

“Tak apa–apa,” sahutnya seraya mengangkat bahu. “Aku masih ingin sendiri…”

“Baiklah, kutinggalkan kalau begitu.”

“Tidak!” ia menahan tanganku. “I need you…”

Aku tersenyum senang. “Baiklah, apa yang terjadi akhir-akhir ini?”

“Apalagi? Tentu saja skandal palsuku menjadi asupan gizi bagi para pemburu berita,” Jjong melihatku yang hendak membuka mulut hingga ia buru-buru menambahkan, “Jika yang kau maksud Se Kyung, aku hanya bisa mengatakan kalau kami bahkan belum bertemu. Rencananya perusahaan akan mempertemukan kami untuk membicarakan masalah ini hingga kami bisa kompak dalam menghadapi pers.”

Aku menatapnya tak percaya. Perusahaan terkadang memang menyebalkan. Namun, benar apa yang dikatakan Super Junior Heechul, “Tak ada perusahan yang senyaman ini”. Dan aku yakin mereka memiliki maksud dari ini semua. Kuharap penggemar dapat mencium skandal rekayasa ini. Karena perusahaan sebesar dan sesenior SM rasanya tak mungkin mempublikasikan hubungan artisnya yang masih berumur satu bulan. Bukankah Shindong saja harus menyembunyikan hubungannya dengan Nari selama bertahun-tahun?

“Lalu bagaimana dengan Hyebin?”

Ekspresinya berubah. Ia menghela napas panjang. “Ia memenangkan kontes biolanya dan mendapatkan beasiswa ke Jepang.”

“Oh…”

“Tak usah memasang ekspresi seperti itu! Aku sedang belajar menerima situasi ini, maka dari itu lebih memilih menghindari keramaian.”

“Yeah… Semoga Tuhan berada di pihakmu.”

“Itu pasti. Well, bagaimana hubunganmu dengan Minho?”

“Tak ada masalah,” sahutku santai. Namun ekspresiku berubah ketika mendengar suara Minho dan Yuri tertawa bersama. “Jongie…,” rengekku.

Ia tertawa geli. “Oh ayolah, aku sudah bisa menerkanya. Artikel dan rumor memang menjengkelkan.”

“Lalu?”

“Tak ada yang harus dikhawatirkan.”

+++++++

DIKARENAKAN cedera yang dialami Jonghyun belum pulih, SHINee menampilkan “Hello” dengan konsep akustik. Seluruh member duduk, hingga dapat memantapkan vokal mereka. Hari ini adalah goodbye stage “Hello” karena SNSD telah kembali dengan mini album mereka, “Hoot”.

Entah apa yang harus kukatakan. Hatiku sakit sekali melihat Jonghyun. Fisik dan batinnya sedang terluka dan ia mencoba untuk tetap tersenyum. Walaupun beberapa saat sebelum tampil ia sempat bertanya padaku.

“Bagaimana aku harus bersikap di depan fans?” tanyanya lesu.

“Bersikaplah seperti biasa!” sahutku. “Kau masih tetap SHINee bling-bling Kim Jonghyun, lead vocal dalam grup. Skandal busuk itu takkan pernah mengubah posisimu. “

“Aku takut mereka jadi membenci SHINee.”

“Oh, Jjong, come on! Aku benar-benar tak mengenal Kim Jonghyun yang pengecut seperti ini. Jangan sampai aku merasa malu memiliki sahabat sepertimu. Sekarang, pergilah! Tunjukkan padaku penampilan yang hebat!”

Ia tersenyum getir. Aku menepuk pundaknya sekedar memberi semangat. Dan setelah mereka selesai tampil, kulihat Jjong membungkuk tiga kali ke arah penggemar.

“Aku tak mengerti mengapa kau melakukannya. Apa ada maksud dibalik bungkukanmu?” tanyaku saat ia kembali ke ruang tunggu.

“Yeah,” jawabnya sambil meraih sebotol mineral dan duduk di sofa. “Aku harus melakukannya. Anggap saja bungkukan pertama adalah permintaan maafku pada fans. Kedua, untuk keluargaku yang menjadi korban penipuan ini. Dan yang ketiga, untuk Hyebin. Aku benar-benar tak bermaksud menyakitinya.”

Aku kehabisan kata-kata, tak tahu lagi apa yang harus disampaikan.

“Minho mencarimu seperti orang gila,” ujar Jinki yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingku. “Sebenarnya ada bisnis apa di antara kalian?”

“Eh?” sahutku kaget.

“Ya, begitu turun dari panggung, kalimat pertama yang ia ucapkan adalah ‘di mana Jira-noona?’. Cih, menurutku sepertinya ia mulai terjangkit ‘Noona-Syndrom’ seperti Taemin.”

Kulihat Jjong tersenyum jahil. Kucubit lengannya pelan karena tak ingin Jinki mencurigai kami. “Lalu di mana dia?”

Jinki mengedikkan kepalanya ke arah pintu, seperti biasa. “Kau mau menemuinya?”

“Yep. Aku tak ingin Minho menjadi gila karena tak menemukanku,” candaku dan segera keluar dari ruangan untuk mencarinya.

Seluruh koridor gedung KBS sudah kujamah, namun tetap tak menemukannya. Di mana dia?

Seseorang menarik tangan dan menyeretku menaiki tangga. “Ikut aku!” bisiknya. Aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk menarik napas, ia terus menggiringku ke atas. Siapa dia? Aku bahkan tak bisa mengenali suaranya karena ia setengah berbisik tadi.

Setelah sampai di anak tangga terakhir, ia membuka pintu menuju ke atap gedung. Seperti yang biasa dilakukan hampir di seluruh arsitek bangunan Korea, di sini pun sama. Atap gedung ini telah disulap  menjadi taman yang indah. Angin menerpa wajahku. Cuaca semakin buruk. Aku sama sekali tak mengenakan baju hangat.

Pria itu berbalik sambil melepaskan kain yang membalut wajahnya. “Jagiya, maafkan aku! Apa tanganmu terluka?”

Aku menatapnya aneh. Belum pernah melihat mantel raksasa seperti yang sedang ia kenakan saat ini. Bisa kuprediksi kalau berat mantel itu mencapai empat kilogram. Untuk apa ia memakainya?

“Tiba-tiba membawamu kemari. Aku hanya ingin mendapatkan privasi untuk kita berdua. Lebih leluasa, kan? Bukankah tujuanmu kemari untuk membicarakan sesuatu? Katakanlah!”

Damn! Bagaimana bisa aku lupa dengan tujuanku kemari? Baiklah, harus dari mana kumulai?

“Er… Aku…,” Minho berdiri di belakangku lalu menutupi tubuhku dengan mantel raksasanya hingga ia memelukku dari belakang. “Jadi ini tujuanmu berdandan seperti orang-orangan sawah?”

“Or- Mwo?!”

Aku tertawa puas.

“Ini karena aku yakin kau takkan memakai mantel di dalam gedung. Jadi aku menyiapkan ini. Lagipula seperti ini lebih baik ‘kan?” tanyanya mulai menggodaku. “Well, apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan?”

Aku terdiam beberapa saat. “Tadi pagi aku melihatmu tertidur dengan skenario di tanganmu. Apa kau akan bermain drama?”

Aku bisa mendengarnya menelan ludah. “A-apa kau membacanya?”

“Tidak, tidak. Yeah, kecuali judul.”

“Oh. Hmm… Berjanjilah padaku untuk tidak marah!”

“Apa?”

“Ini mengenai debut aktingku itu,” ia melambatkan intonasinya. “Er… Ada satu scene yang berada di luar dugaanku. Dan aku tak dapat menolaknya.”

“Apa itu?”

“Kissing scene…”

Deg! Darahku seakan berhenti mengalir. Itu artinya Minho akan berciuman dengan wanita lain?

“Er… Jagiya, lawan mainku ini seorang noona yang sudah menikah. Kau tak perlu khawatir. Lagipula bayanganmu selalu menari-nari dalam pikiranku.”

“Tetap saja dia wanita dan kau akan menciumnya.”

“Ya. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak menginginkan adegan itu, tapi di sisi lain keprofesionalanku bekerja sedang dipertaruhkan…”

“Lakukanlah kalau begitu. Aku tetap mendukungmu.”

Minho menempelkan dagunya ke bahuku. “Entah kenapa aku tak senang mendengarmu berkata begitu. Aku ingin mendengar kau melarangku.”

“Kau calon aktor. Aku tak ingin menghancurkan impianmu. Kuakui kalau aku sangat ingin melarangmu, tapi… Lakukanlah! Aku baik-baik saja…”

“Aku tidak…”

Aku tertawa. Senang rasanya bisa mencurahkan isi hati seperti ini. Namun, aku masih belum berani menanyakan kejelasan rumor Minyul padanya.

“Waaah,” pekik Minho, tangannya terulur ke atas dan menunjuk sesuatu. “Bulan sabit. Bukankah ini romantis? Hebat, aku benar-benar menjadi pria sejati sekarang.”

Aku tertawa sangat keras. “Hentikan! Sudah kubilang jangan mencuri predikat Jonghyun sebagai pria gombal. Kau tak pantas.”

“Benarkah?”

“Hm.”

Minho membalikkan tubuhku. Kepalanya menunduk dan menatap lurus mataku. Tangannya mengaitkan rambutku ke daun telinga. Kemudian ia menciumku.

“Ini kulakukan sebelum aku mencium wanita lain saat filming nanti. Kau tak perlu khawatir, pikiran dan hatiku benar-benar didominasi olehmu. Saranghae…”

“Naddo saranghae,” balasku pasrah dan kali ini aku yang menciumnya duluan.

“Benar dugaanku,” suara seseorang mengejutkan kami. “Kalian memang pacaran…”

Kami menoleh. “Onew-hyung?!”

..to be continued..

 
2 Comments

Posted by on May 19, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , ,

2 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part IX] – Gotcha!”

  1. Katsura Kanon

    June 5, 2011 at 8:23 AM

    Haaai…
    Aku udah baca FF ini dari part 1 nyampe skr, tapi baru comment skr😀. Mianhae.
    Alur ceritanya bagus, nggak begitu berbelit-belit di satu hal.
    Nggak sabar nunggu part 10😀.
    Kayaknya kalo diliat dari gerak-gerik Onew, si Onew juga suka sama si Jira, ya?
    Cuma prediksi sih😀.
    Yah, pokoknya FFnya keren lah!
    Hwaiting!

     
    • diyawonnie

      June 6, 2011 at 8:47 PM

      makasih katsura^^
      part 10nya baru dipost. hehe

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: