RSS

Super Junior Fanfiction: “Am I Marrying The Right Man? [Siwon’s Diary 1]”

19 May

HARI ini pemakaman Shim Changmin, adik iparku yang tewas di tangan penggemarnya sendiri. Aku berdiri menatap pemandangan memilukan, dimana Jiwon menangis hebat di pelukan Hyukjae. Diam berdiri seperti ini membuatku membenci diri sendiri. Aku sama sekali tak menangis, apa hal ini bisa dikatakan kalau aku tak berhati?

      Kudengar suara tangisan wanita di sampingku. Shim Chaesa, kakak kandung Changmin, tengah memeluk nisan. Aku spontan menunduk dan berjongkok menghampirinya.

      “Setelah eomma dan appa, sekarang kau?” isaknya. “Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup, Changmin-ah?”

      Aku berdeham dan ia menoleh ke arahku.

      “Aku tahu ini sangat berat…,” dengan ekspresi bodoh aku terpaku menatap wajahnya yang sembab. Entah apa yang kupikirkan, tapi… Demi Tuhan, dia cantik sekali. “…sabarlah, Chaesa-sshi.”

      Jiwon dan Hyukjae kulihat mulai berjalan meninggalkan makam. Chaesa masih menangis, suaranya memilukan. Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya diam?

      “Chaesa-sshi, lebih baik kau pulang. Kau perlu beristirahat.”

      Dia menggeleng. “Aku ingin di sini menemaninya.”

      “Tidak! Ayo, ikut aku!”

      Kugenggam tangannya, tetapi ia menepis dan menangis semakin keras.

      “Sudah kubilang tak mau.”

      Kutarik kembali tangannya dan tak sadar kalau aku menariknya terlalu keras hingga ia jatuh ke pelukanku. Chaesa tak melakukan perlawanan, ia terisak. Aku memeluknya kikuk, berusaha membuatnya nyaman.

      “Tenanglah, kau tak sendiri. Masih ada kami di sisimu.”

      Ia mengangguk dan memelukku erat.

+++

Maret 2009 – 10:00am

AKU menunduk ketika Heebon memelukku erat dari belakang. Ia mencegahku pergi. Beberapa jam yang lalu, appa mempertemukanku dengan kenalan bisnisnya. Aku sama sekali tak tahu kalau itu adalah kamuflase. Beliau ingin menjodohkanku dengan cucu partner bisnisnya, Tuan Shim.

      Apa yang ada di pikiran appa? Ini zaman modern dan aku seorang superstar di mana ada banyak wanita mengelilingiku. Mengapa kehidupanku dicampuradukkan dengan masalah bisnisnya? Ini tak adil bagiku dan bagi Heebon.

      “Oppa jangan, kumohon…,” isaknya.

      “Aku tak pernah menginginkan ini, tapi…”

      “Aku yang sejak dulu mencintaimu, mengapa malah dia yang akhirnya mendapatkanmu? Ini tak adil. Aku sangat mencintaimu.”

      Aku berbalik. Kulihat air matanya meleleh.

      “Aku juga sangat mencintaimu, Heebonnie. Tapi kita tetap tak bisa bersama. Karirmu masih panjang, jangan kecewakan perusahaan!”

      Dia mendengus. “Persetan dengan karir. Yang kuinginkan adalah hidup bersamamu.”

      Kulepaskan tangannya yang masih melingkar di perutku. Dia terisak kembali dan perlahan-lahan semakin mengeras.

      “Kuantar kau pulang, ayo!”

      Dia mundur beberapa langkah. “Kupikir oppa juga ingin menikah dengannya. Jika tidak, oppa pasti berusaha keras menolak permintaan paman. Yang kukatakan ini benar ‘kan?”

      “Heebon-ah…”

      “Pergilah! Jangan pedulikan aku lagi!”

      “Heebonnie…”

      “Jangan panggil aku seperti itu! Oppa hanya membuatku sulit untuk melepasmu.”

      “Aku sama sekali tak mencintainya. Yang kucintai hanyalah kau. Takkan pernah kugubris dia, apapun yang dilakukannya. Kau dengar aku? Aku akan menceraikannya beberapa bulan setelah kami menikah dan kita bisa hidup bersama.”

      Dia menghentikan langkah mundurnya. Wajahnya masih dibanjiri air mata.

      “Kalau begitu pergilah!”

      “Saranghae.”

      “Aku juga mencintaimu. Kau harus menepati janjimu, Oppa. Aku akan menagihnya suatu saat.”

      Aku tersenyum miris. Bisa kurasakan hatinya hancur, sama sepertiku. Heebon adalah gadis yang sangat sulit kudekati. Beberapa bulan terakhir kami menjadi dekat akibat salah satu acara akhir tahun yang mengharuskan Super Junior dan Angela bernyanyi satu panggung. Entah keberanian dari mana, aku menggenggam tangannya dan menariknya berlari ke depan panggung. Yah, sejak saat itulah hubungan kami semakin dekat.

      Tapi, impianku untuk memilikinya hancur beberapa jam yang lalu. Appa mempertemukanku dengan seorang gadis yang sama sekali tak kucintai. Shim Chaesa…

+++

Satu minggu kemudian…

KAMI menikah. Hatiku sakit sekali menyaksikan Heebon menghadiri pernikahan. Aku sudah melarangnya datang, tapi perusahaan yang memaksanya untuk tetap kemari. Ia bahkan memberi ucapan selamat ketika para wartawan datang memintanya.

      Aku tahu eomma berada di pihakku. Ia sama sekali tak menyambut datangnya anggota baru dalam keluarga kami. Jahatkah jika aku merasa senang? Bukannya membenci Shim Chaesa, aku menyukainya, maksudku… dia gadis yang baik. Tapi bukan dalam keadaan seperti ini aku bisa menerimanya penuh, dimana aku harus mengorbankan hati yang lain.

      Setelah acara berakhir, aku dan Chaesa berangkat menujuIncheonAirportuntuk penerbangan ke Paris. Appa menghadiahi ini untuk bulan madu kami. Harusnya aku merasa senang. Ini salah satu impian dalam hidupku, menikah dan berbulan madu kekotaromantis itu. Tapi, kau pasti mengerti apa maksudku. Bukan dengan wanita ini, melainkan dengan wanita yang kucintai.

      “Aku mandi duluan,” ujarku setelah menaruh beberapa koper di sisi sofa. Kami sudah di hotel sekarang dan ini malam pertama kami.

      Dia mengangguk. Bisa kurasakan kegugupannya.

      Aku masuk ke kamar mandi sedangkan ia menyalakan TV. Melepaskan seluruh pakaian dan menyalakan shower. Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku tak ingin melakukan apapun dengannya, tidak sekarang! Bayang-bayang Heebon masih memenuhi pikiranku. Aku tak ingin menyakiti hati Chaesa. Bagaimanapun, sekarang ia adalah istriku. Aku harus menghormatinya.

      Sudah berapa lama aku mandi? Jari-jari tangan mulai mengerut. Harus segera keluar dan tak mengecewakannya. Tapi apa yang harus kulakukan?

      Kumatikan shower dan memakai pakaian lantas membuka pintu. Kulihat ia sedang duduk tegak di sisi kasur dengan tangan tak henti-hentinya menggonta-ganti saluran TV. Ia menoleh dan tak bisa menyembunyikan ekspresi kecewanya melihatku masih mengenakan pakaian.

      “Chaesa-sshi, ayo kita jalan-jalan!” Entah apa yang ada di pikiranku, hanya kata-kata ini yang keluar. “Sayang sekali cuaca sebagus ini tidak dipakai untuk berjalan-jalan. Kaja!”

      Ia menyambar mantelnya yang menggantung di tiang kayu dekat pintu. Ia keluar setelah aku membukakan pintu untuknya. Selesai mengunci, aku melenggang duluan. Benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan. Aku masih enggan memperlakukannya sebagai istriku.

      Aku berjalan sangat cepat. Bisa kurasakan ia berusaha mengimbangiku, namun tetap saja tertinggal.

      “Tunggu aku!” pintanya dan aku pura-pura tak mendengar.

      Kami berjalan cukup lama. Aku menghentikan langkah saat sampai di tempat tujuan. “Indah,kan?” tanyaku sambil menunjuk ke sebuah besi tinggi menjulang yang berdiri kokoh.

      “Eiffel?” gumamnya takjub.

      “Mmm… Chaesa-sshi, ada yang ingin kusampaikan padamu.”

      Ia mengalihkan pandangannya dari Eiffel ke wajahku. “Apa itu?”

      “Begini, kau tahu kalau aku sangat membenci perjodohan ini. Tak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku kalau aku akan mengalaminya. Kukira hanya Jiwon, ternyata aku pun menjadi korban kekerasan hati appa. Jadi, jangan berharap terlalu jauh dariku. Aku hanya ingin menunaikan kewajibanku sebagai anak untuk selalu taat pada appa.”

      Kulihat ekspresi kecewanya. Demi Tuhan, tak pernah terlintas dalam benakku berbicara sekasar ini. Bisa kurasakan hatinya sedih, maka kutaruh tangan di pundaknya, “Tapi aku ikhlas. Aku memang benci dijodohkan, tapi aku tidak terpaksa untuk menjalaninya. Maka dari itu, aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Mungkin aku belum bisa seperti suami pada umumnya. Mianhae…”

      Ia masih tetap diam, mencerna kata-kataku.

      “Adayang ingin kutanyakan. Tolong kau jawab sejujur-jujurnya tanpa menghiraukan perasaanku. Janji?”

      Aku mengangguk, “Tanyakan saja.”

      “Saat kita bertemu di acara pertemuan perjodohan itu, apa kesanmu terhadapku?”

      Aku tak langsung menjawab, kulemparkan pandanganku ke langit. Bisa kurasakan ia menatapku dan menunggu. Kubalas menatapnya. “Rumit!” akhirnya aku menjawab, “Perasaanku tak menentu. Tapi jujur saja, aku sudah sangat tertarik padamu saat kita pertama kali bertemu di studio balet. Kau sangat ramah dan hangat waktu itu. Namun, hanya menganggapmu sebagai sunbae Jiwon, tidak lebih. Dan saat pertemuan perjodohan itu, suasana hatiku sedang buruk, jadi tidak benar-benar memperhatikanmu. Mianhae. Tapi aku tahu kalau kau wanita yang baik. Jadi, kupikir… aku pasti bisa berusaha untuk menyukaimu, maka dari itu aku bersedia menikahimu.”

      Ia tersenyum. Entah kenapa jantungku berdegup lebih kencang.

+++

SM building. Maret 2009 – 11:00am.

CHAESA kuajak ke kantor untuk mengenalkannya pada seluruh member secara resmi. Mereka hanya bertemu di acara pernikahan, itupun hanya sebentar. Tadi Leeteuk-hyung memintaku untuk mengajaknya.

      Semua member menyambutnya hangat. Aku merasa tenang karena disanajuga ada Seera-noona dan Hyeon, istri dari Leeteuk-hyung dan Hankyung-hyung. Dan keduanya tengah mengandung.

      Chaesa duduk di antara mereka yang masing-masing sibuk berceloteh. Walaupun kesannya tak peduli, jujur aku selalu memperhatikannya dari sini. Berharap ia baik-baik saja. Aku mengerti hatinya pasti sangat sedih diapit dua wanita hamil. Aku tahu ia juga menginginkan hal yang sama seperti mereka. Rasa bersalahku kini perlahan-lahan muncul ke permukaan.

      “Onnie! ” Kulihat Jiwon berlari dari arah pintu masuk. Dengan wajah ceria ia memanggil Chaesa. “Onnie, ayo kita berangkat!” ajaknya.

      “Yaa, aku malas mengajarimu jika tak konsentrasi penuh,” protes Donghae membuyarkan lamunanku. Aku sedang belajar gerakan baru dengannya karena tertinggal saat kePariskemarin.

      “Ya sudah, lanjutkan…”

      Donghae mencoba mencaritahu kemana arah pandangku tadi. “Istrimu sepertinya gadis yang baik. Kenapa kau diamkan sejak datang kemari?”

      “Bukan urusanmu!”

      “Memang bukan. Tapi aku tak suka dengan sikapmu. Tidak menunjukkan sikap seorang pria. Lupakan Heebon, mulailah hidup baru dengannya!”

      Kugertakkan gigi. Jika bukan sahabatku, sudah kupukul dia.

      “Kau cukup bilang tak ingin mengajariku, bukan seperti ini caranya untuk membuatku pergi,” ujarku sengit dan menyambar botol mineral.

      Donghae menahan lenganku. “Mau kemana? Latihan belum selesai.”

      “Aku akan meminta Hyukjae mengajariku,” kutarik tanganku dan saat itu juga Chaesa muncul.

      “Yeobo, aku pamit pergi.”

      Aku meliriknya sebentar dan mengangguk. “Hati-hati!” ujarku dingin. Kemarahanku atas sikap Donghae tadi masih mengganjal di hati dan tak ingin Chaesa menjadi sasaran kemarahanku juga. Ia pamit pada seluruh orang yang ada di ruang latihan. Bisa kulihat Donghae menggelengkan kepalanya. Baiklah, aku sungguh tak peduli.

+++

      “Oppa,” panggil Heebon. Ia sangat cantik dengan kostum pemotretannya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

      “Mengunjungimu.”

      Dia tersenyum sangat manis. “Pemotretanku sudah selesai dan jadwalku selanjutnya dua jam lagi. Oppa sudah makan?”

      Aku menggeleng.

      “Baiklah, ayo kita makan! Aku ganti pakaian dulu. Tunggu, ya!”

      Aku mengangguk dan melemparkannya senyuman. Ia membalasnya dan berbalik pergi bersama coordi. Aku duduk di sebuah bangku, menunggunya. Sebuah pesan masuk ke ponselku.Dari Jiwon,iamemintaku datang lebih awal untuk makan malam bersama.

      “Maaf menunggu lama. Ayo!”

      Kembali kusimpan ponsel ke dalam saku blazer sebelum sempat membalasnya. Heebon mengaitkankan tangannya ke lenganku. Ia terlihat sangat senang,  aku tak tega membunuh kebahagiannya.

      “Bagaimana bulan madumu?” tanyanya sambil memotong steak. Kami sudah di café sekarang.

      “Cari topik lain!” pintaku.

      Ia menghela napas berat. “Sudah kuduga oppa melakukannya.”

      “A-apa maksudmu? Memegang tangannya saja bahkan tidak.”

      “Benarkah?” tanyanya dengan antusias tinggi.

      Aku mengangguk. “Hm. Aku tak ingin mengecewakanmu.”

      Ia tersenyum lebar dan dengan semangat tinggi menyuapkan daging besar ke mulutnya.

      “Aku akan mengantarmu. Di mana lokasi jadwalmu sekarang?”

      “Perusahaan. Jadwal terakhir hanya latihan.”

      Aku memanggil pelayan untuk mengantarkan bill. Setelah membayar, kami meninggalkan café menuju gedung SM.

      “Oppa, apa kau bahagia?” tanyanya tiba-tiba saat kami turun dari mobil.

      Aku tercenung. Ia menatapku dengan tatapan mendesak. “T-tidak tanpamu,” jawabku. Sungguh, bicara apa aku ini? Justru ini semakin memupuk harapannya dan aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu dari hati.

      “Gomawo. Aku masuk dulu. Sampai jumpa.”

      “Hm.”

      Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Yah, si monyet Hyukjae. “Seunghwan bilang kau tak memiliki jadwal lagi hari ini. Itu artinya kau akan pulang? Aku ikut denganmu,” ujarnya dan dengan tak tahu malunya langsung masuk ke dalam mobil tanpa izinku. Kalau sudah seperti ini, aku tak bisa menolak. Heran… Mengapa Jiwon memilihnya sebagai kekasih?

      Kami sampai di rumah tepat pukul tujuh malam. Jiwon menyambut kami dengan makan malam mewah yang sudah terhidang di meja makan. Hyukjae berbisik padaku kalau ia baru saja makan dengan Donghae, tapi seperti yang kau tahu, ia takkan pernah menolak kesempatan emas seperti ini. Mengingat perutnya seperti karet. Tak pernah kenyang.

      Kami duduk di meja makan dan mulai menyantap hidangan. Awalnya sunyi, namun suasana berhasil dicairkan oleh appa yang terus-terusan memojokki Hyukjae. Hingga menyebabkan perang argumen dengan eomma.

      Perutku mulai mual, benar-benar sudah penuh. Tak sanggup lagi makan. Aku harus menghentikannya sebelum meledak.

      “Enak sekali. Jiwon-ah, kau yang buat ini semua?” tanyaku.

      “Aniyo. Aku hanya bantu memotong-motong. Yang masak semua ini Chaesa-onnie.”

      Aku tertegun. Perut terasa lebih mual, terlalu banyak makanan yang kumasukkan. Memalukan! Kuteguk air putih dan pergi dari meja makan.

      “Habiskan makananmu!” perintah appa.

      Aku berbalik. “Appa, aku sudah kenyang. Jiwon, Chaesa, terima kasih untuk makan malamnya. Aku tidur duluan, lelah sekali. Annyeonghi jumushipsiyo…”

      Bisa kurasakan appa marah dan kudengar Chaesa mulai membelaku. Kututup pintu kamar dan melepaskan kancing kemeja satu per satu. Yah, memang benar. Aku memiliki istri yang sangat baik. Benar-benar beruntung.

      Kuhampiri sofa dan tidur disana. Perutku sedikit demi sedikit mulai membaik. Mata juga sudah berat, harus tidur secepatnya.

      “Siwon, Siwon, Siwon!!!”

      Kubuka mataku perlahan. Tunggu, bukankah aku baru saja tidur sedetik yang lalu?

      “Waeyo?”

      “Pindah ke kasur sekarang juga!” pintanya panik, lantas berlari ke kamar mandi.

      Aku tak mengerti.Adaapa ini? Kulihat ia keluar kamar mandi dengan gaun tidur yang sangat tipis. A-apa maksudnya?

      “Kenapa sibuk sekali?Adaapa?” tanyaku bingung.

      “Abeonim di luar, menyuruh kita membuka pintu!”

      “Mwo?” pekikku segera berdiri lalu melepas pakaian dan celana panjang. Yang tersisa hanyalah boxer. Inilah pikiran pendekku jika panik seperti ini. Kurasakan kakiku sakit sekali akibat menggantung di sofa. “Chaesa-ya, lingkarkan lenganmu ke pinggangku. Cepat!”

      Kuacak rambutku dan Chaesa sambil berjalan menuju pintu dan aku membukanya. Appa kaget sekali melihat penampilan kami yang berantakan.

      “Aku mengganggu?” tanyanya.

      “Sangat, Appa,” sahutku asal dan pura-pura menguap.

      “Oh, mian,” katanya kikuk sambil berbalik. “Aku hanya ingin memastikan…”

      Kututup pintunya. Lantas memakai pakaianku kembali. Sedangkan Chaesa merangkak ke kasur tanpa mengganti gaun tidurnya. Mataku sudah sangat berat dan kakiku sakit sekali.

      “Chaesa-ya, apa aku boleh tidur di kasur juga? Kakiku pegal sekali jika harus terus-terusan menggantung di sofa.”

      Kulihat ia sedikit terkejut dengan mata setengah terbuka. “Ya,” sahutnya.

      Kutarik selimut yang sama dengan yang dipakainya dan tidur memunggungi.

      Keesokan harinya, saat masih tidur aku merasakan ada benda aneh yang menyentuh pipiku. Ketika mata terbuka, kutemukan wajah Chaesa tepat di depan mata. Darah berdesir saat tahu kalau bibirnyalah yang menempel di pipi. Entah kenapa, aku tersenyum sendiri. Ini pertama kalinya ada seorang wanita di sampingku saat bangun tidur.

      Kubiarkan hal ini, tak ingin mengusik tidurnya karena ia terlihat sangat damai saat matanya tertutup. Mungkin hal ini terjadi sekitar setengah jam sebelum ia terbangun. Sejak saat itu, aku merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan ketika pertama kali melihat Heebon…

+++

Gangnam Hospital. 7 bulan kemudian, Oktober 2009 – 16:01pm.

TADI Hangeng-hyung menghubungiku kalau Hyeon akan melahirkan. Jadi, aku meminta izin pada manajer untuk segera kemari. Saat sampai di sini, kulihat Heebon tengah duduk dengan ekspresi cemas. Tak ada yang menemaninya karena member Angela yang lain tak bisa hadir, terbentur dengan jadwal individu. Sedangkan orang-orang di sekitarnya sibuk dengan kepanikan masing-masing.

      “Oppa,” panggilnya saat melihatku.

      Aku duduk di sampingnya. Ia langsung menggenggam tanganku.

      “Er… Heebonnie, di sini banyak orang.”

      “Biar saja. Tak ada yang memperhatikan kita.”

      Aku mengangguk. Ia benar, semua orang sibuk dengan pikirannya. Kurangkul bahu Heebon karena kulihat ia semakin cemas menunggu kelahiran bayi. Kulihat Jiwon yang bersandar di dada Eunhyuk, lalu menatapku dengan pandangan galak. Ia mengedikkan kepalanya ke arah lain. Kuikuti tujuan dagunya dan terhenti pada Chaesa. Aku terkejut. Spontan kulepaskan genggaman Heebon dan berdiri menghampirinya.

      Aku ingin memanggilnya, namun Hangeng-hyung berteriak di belakangku. Memberitahu kami kalau anak pertamanya sudah lahir. Heebon menarik tanganku untuk masuk ke dalam. Mata ini masih terpaku pada Chaesa. Perasaan bersalah kembali muncul.

      Dan ya, tentu saja ada hal aneh yang kurasakan saat melihat Donghae dan Chaesa bersama di kantin rumah sakit. Mereka terlihat sangat nyaman satu sama lain ketika mengobrol. Saat itu aku setengah emosi melihat Donghae menggenggam tangan istriku. Menurutmu, apa yang terjadi denganku saat itu? Aku sendiri tak mengerti. Ini seperti… perasaan tak rela…

+++

Oktober 2009 – 09:45

BEBERAPA waktu lalu kuajak ia pergi ke pasar malam dengan gaunnya yang berhasil membuatku tertawa lepas. Apa ini disebut kencan? Entahlah, bisa dibilang begitu. Aku cukup senang malam itu. Ia bertingkah seperti anak remaja dengan umurnya saat ini. Dan hal yang membuatku tersentuh adalah saat ia mengatakan, “Apa aneh jika mencintai suami sendiri?”

      Aku tak mengerti dengan apa yang kurasakan. Jantungku tiba-tiba berdebar keras. Mungkin wajahku memerah, aku tak tahu. Untuk meredam kegugupan, kulepaskan mantel dan memakaikannya pada Chaesa lalu mengajaknya pulang. Aku mengalengkan lengan ke bahunya saat kudengar giginya mulai bergemeletuk akibat menggigil kedinginan.

      Saat itu, tanpa ia sadari, aku menempelkan bibirku di puncak kepalanya…

..to be continued..

 

Tags: , ,

19 responses to “Super Junior Fanfiction: “Am I Marrying The Right Man? [Siwon’s Diary 1]”

  1. methachswn

    May 20, 2011 at 9:29 AM

    pertamax!~
    waaaa dibikin juga point of view dari Siwon😉
    lanjutkan eonni!~ baguss hehe

     
  2. elizha chitra

    May 20, 2011 at 11:15 AM

    kbtl’an aq udh baca FF “Am I Marrying The Right Man?” smp slesai..
    sjak thu aq ng’fans bgt sm author’ny..hehehehehe

    pas aq lht ad ni FF aq sng bgt n aq yakin 1000000 % pasti bkl’an mernarik bgt..
    ehh..trnyata bnr
    cara pengkisahan’ny KEREN bgt..
    kesan’ny kyk org lg curhat yaw..>.,<)

     
    • diyawonnie

      May 21, 2011 at 3:26 PM

      kan diary-nya siwon… jd dibikin kesan dia curhat ama diary-nya..
      makasih yaaaa^^/

       
      • chitra elizha

        May 29, 2011 at 9:14 PM

        hehehehehehehehe..
        next part’ny d’tunggu yaw..
        hd gk sabar..

         
  3. zulaivip

    May 20, 2011 at 5:02 PM

    mbak,,, sekali-kali bikin FF-nya big bang donk. atau kalau gag. big bang ikut dalam cast-nya.

    ffnya mbak baguus banget. coba bikin novel mungkin sukses deh.
    AMIIIN

     
    • diyawonnie

      May 21, 2011 at 3:27 PM

      bigbang?
      wooo ide bagus…
      tar deh dipikirin dulu mau gmn ceritanya^^

       
      • ZulaiVIP

        May 27, 2011 at 1:40 PM

        yah kalau bis ayang romantis, comedy, pertemanann. pokoknya yang siiep. asal jangan ada unsur gay antar member di dalamnya. aku jijai banget deh kalau ada yang kayak gitu.

        dipikir-pikir yaaah mbak buat bikin FF-nya Big Bang.

         
  4. loPhLove_key

    May 26, 2011 at 1:16 AM

    bikin cerita baru tntg siwon dong?

     
  5. moi-meme

    May 26, 2011 at 3:33 PM

    part 3-nya dong, part 2-nya udh baca

     
  6. Hyo Jin

    May 29, 2011 at 3:07 PM

    Annyeong! Ah~~ Dari iseng browsing FF tentang Siwon, sampe akhirnya singgah di blog ini. ^^
    Aku udah baca Am I Marrying the Right Man-nya, dari part I sampe selesai ^^. Ngebut, baca marathon. Abis ceritanya bagus sih. Siwon-nya bikin gemes, bete, cengar-cengir, sekaligus bikin melting dag-dig-dug gitu. XDD
    Endingnya bikin ngakak, mau juga dong ngidam piala Siwooon~~~ :333

    Maaf ya, komennya saya rapel di sini. ^^
    Update dong~ pengen tahu kelanjutan Siwon’s POV gimana. Ternyata beda bener ya ama Chaesa’s POV o.o

    Hwaiting chingu ^^

     
  7. NIRA

    May 31, 2011 at 1:10 AM

    penasaraaaaaaaan ……..
    bagaimanakah isi hati siwon sebenarnya???

    bagus banget,lanjut ya,,
    hwaiting!

     
  8. Ayu

    June 9, 2011 at 6:56 PM

    Ada jg siwon pov ny..jd biar keliatn dr masing” pribadiny..

    D tnggu lanjutnny y..
    Jgn tll lama..🙂

     
  9. Lizta

    July 3, 2011 at 10:39 PM

    nice story.. kalo bikin FF tentang anggota suju yang lain gimana??? tapi nggak kalah serunya dibanding yang ini.. ditunggu! ^_^

     
  10. chava

    August 6, 2011 at 10:56 PM

    sebenernya aku udah baca ini di sujuff heheh..
    tapi cuma yg part 1…

    ini ff favorit aku loh…*gak ada yg nanya* soalnya ceritanya daebak bgt! bikin emosi naik turun… aku mau lanjutin baca part2 selanjutnya ah heheh… penasaran sama perasaan siwon…

     
  11. Pinkqueelf

    October 22, 2011 at 12:38 PM

    akhirnya disini aku bisa ngerti karakter siwon,he kmrin bca yg versi istrinya ga ngerti deh sebenarnya maunya tapi sekarang aku tau he he >_< bagu author lajut terus

     
  12. diana

    May 26, 2012 at 12:15 PM

    bagus thor… tapi kayax nasibx siwon selalu dijodohkan trus yah…. “dari beberapa ff yang kubaca sih” hehehe…..

     
  13. indry

    July 2, 2012 at 12:40 AM

    ka siwon kn gx cinta sm chaesa
    tp ko malah kawin ??
    lebih bae ka siwon menikah sm org yg ka siwon cintai
    drpd ujung2 nya kesiksa mningan jujur ajj ka sm istrinya
    ..

     
  14. loveleecho

    April 8, 2013 at 6:31 PM

    Baru tau ada fanfic ini, dan seru juga buat dibaca. Jarang-jarang ada yang pake view-nya tokoh laki-lakinya.

    Aku reader baru, eonni ^^
    Salam kenal *bow*

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: