RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part XII] – Break-Up”

17 Jun

 

Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XII] – Break-Up

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, Manajers, and Jira’s mom.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

      “Dia kembali. Shim Chaesa telah kembali…”

Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Benarkah? Maksudku, BENARKAH? Aku masih belum mempercayainya sekalipun Kibum dan Jonghyun sudah bersumpah ratusan kali.

Mengapa dia kembali secepat itu?

Sejak malam itu hatiku semakin kacau. Hingga saat ini Minho masih bersikap santai tidak menunjukkan hal-hal ganjil yang menyiratkan Shim Chaesa telah kembali. Ia sama sekali tak bercerita mengenai apapun, bahkan tak memberiku petunjuk kalau ia mengetahuinya. Padahal menurut Kibum, Minho adalah orang pertama yang mengetahui kabar tersebut. Gadis itu memberitahunya lebih dulu.

Aku jadi ingat saat di restoran sepulang dari MuCore. Saat itu dia tak henti memelototi ponselnya. Dan sekarang aku mengerti apa maksud dari ucapannya di mobil: “Kumohon percayalah padaku, aku sangat mencintaimu.” Ia baru saja tahu gadis itu akan kembali. Itulah mengapa ia tak berhenti meracau meyakinkan kalau hatinya untukku.

Hari ini tanggal empat di minggu pertama bulan November. SHINee dijadwalkan menghadiri “Hello Taiwan1st Fan Party” di Taipei. Pesawat take off tepat pukul 09:20 AM dengan penerbangan CX420. Itulah mengapa aku berada di Incheon International Airport sekarang. Hatiku memaksa ingin mengantar mereka. Lagipula ada sedikit kekhawatiran pada Jonghyun. Ternyata cedera pada kakinya belum benar-benar pulih. Kudengar ia harus menjalani operasi awal tahun nanti. Tapi ia tak pernah mengeluh, itulah yang kusuka darinya.

Aku berdiri di samping para coordi. Ada banyak penggemar yang turut mengantar mereka—lebih tepatnya menguntit. Hal ini membuatku tak dapat memeluk si bayi, terlebih kekasihku, Choi Minho. Kulihat ia mengeluarkan agendanya dan menulis sesuatu disana, kemudian memperlihatkannya padaku.

‘Sampai jumpa, Jira Sayang. Terima kasih sudah mengantar.’

Aku tersenyum, lalu menyambar agendanya membalik halaman baru dan mulai menulis. Setelah selesai, kuperlihatkan padanya.

‘Ya, hati-hati.’

“Hanya itu?!” protes Minho sambil menatapku tak percaya. Wah, Keroro!

Aku terkekeh lalu mengambil agendanya dan kembali menulis di halaman yang sama.

‘I love u, Mr. Minho…’

Minho tersenyum puas saat membacanya. Ia terlihat ingin memelukku namun mengubur keinginannya dalam-dalam. Kyungshik-oppa (manajer) melingkarkan lengannya ke pinggang Minho untuk membawanya pergi karena pesawat akan segera lepas landas. Taem berlari menghampiriku namun ditahan oleh Jin-oppa (manajer). Aku tertawa melihatnya merengut kecewa.

“Hyung, aku hanya ingin pamit.”

“Kau selalu memeluknya, Lee Taemin. Kau memeluknya tak kenal tempat. Ayo, ikuti hyungmu yang lain menuju pesawat!” Jin-oppa memukul bokong Taem untuk mematuhi perintahnya.

“Aku akan pulang cepat!” teriak Taem berbalik ke belakang sambil melambaikan tangannya.

Para fans memekik girang. Ck! Mereka berpikir kalau Taem melakukan itu untuk mereka. Aku mengacungkan jempol dan ia melompat girang. Hhh~ Bagaimana ia tidak disebut ‘cute’ jika kelakuannya masih saja seperti itu. ‘Manly Taemin’ hanya berlaku di stage, tidak di saat offcam.

Ponselku bergetar.

BulkaMH: Bye, Honey…

Aku mendengus.

JiraKim: Ewwwh… Menjijikkan!

BulkaMH: Pulanglah! Cuci wajah, kaki, dan tanganmu lalu naik ke tempat tidur!

JiraKim: Jangan memulai perdebatan. Aku bosan. Cepatlah pulang!

BulkaMH: Haha~ Aku bahkan belum menemukan kursiku di pesawat, tapi kau sudah memintaku pulang. Sedang di mana kau sekarang?

Buzz

Buzz

JiraKim: Aku baru naik bus. Sudah dapat kursi?

BulkaMH: Ya, sudah. Duduk dengan magnae, seperti biasa. 2Min daebak!

JiraKim: Haha~ I love 2Min couple.

BulkaMH: Well, sesuka apapun aku pada Taemin, rasanya ingin sesekali memukul kepalanya yang cantik.

JiraKim: Apa?! ANDWAE! Jangan sakiti ‘anakku’.

BulkaMH: Itulah alasan mengapa keinginanku untuk memukulnya begitu kuat.

JiraKim: Kau ayah yang buruk! Pencemburu! Well, istirahatlah kalau begitu.

BulkaMH: Tidak mau. Aku ingin menemanimu di dalam bus. Mau kemana kau sekarang? Café?

Aku tak langsung menjawab. Asyik memandangi pemandangan indah Seoul dari dalam bus. Mengapa sampai saat ini Minho tidak membicarakan perihal Chaesa padaku? Ini lebih mengecewakan, jujur saja.

BulkaMH: Jagiya, kau tidur?

 BulkaMH: Kim Jira?

JiraKim: Maaf, aku melamun. Ya, aku dalam perjalanan ke café.

 BulkaMH: Yaaa, jangan melamun di kendaraan umum! Terlalu berbahaya. Aku tak ada di Korea saat ini untuk melindungimu, jadi lindungi dirimu sendiri!

 JiraKim: Neee~

 BulkaMH: Jagiyaaa~

 BulkaMH: Saaa~ raaang~ haeee~ :*

 JiraKim: Hentikan! Kau membuatku sulit bernapas menahan tawa seperti orang gila di dalam bus.

BulkaMH: Aku juga melakukan hal yang sama. Kyungshik-hyung duduk di depanku.

+++++++

AKU mendesah berdiri di balkon apartemen sambil menyesap teh apel hangat. Ini adalah hari terakhir SHINee berada di Taiwan. Hari ini mereka pulang dan sampai detik ini komunikasi antara aku dan Minho berjalan kurang baik. Aku selalu memulai pembicaraan setiap pagi melalui pesan-pesan yang kukirimkan. Tapi baru dini hari ia membalasnya. Perusahaan membuat jadwal yang gila dan menyiksa mereka. Alih-alih menikmati kota Taipei, yang mereka lakukan hanyalah berkeliling dari satu tempat broadcast ke tempat lainnya.

Kudengar kabar Jonghyun menangis keras saat fan party kemarin. Kupikir dia sudah tidak menyandang predikat ‘crybaby’ lagi. Ternyata masih… Ck! Lagipula siapapun pasti terharu melihat dukungan besar yang diberikan para penggemar. SHINee sudah mulai melebarkan sayapnya menjelajah Asia mengikuti jejak-jejak para sunbae.

Malam ini sangat dingin dan bodohnya aku malah diam di balkon. Teh panas yang kubuat tidak bertahan lama, sekarang sudah dingin. Aku harus segera ke dalam.

“Jira-ya, kau tak menjemput Minho?” tanya eomma.

Aku menggeleng. “Biarkan dia beristirahat. Aku akan menemuinya kapan-kapan.”

“Mereka landing pukul 08:35 PM ‘kan?”

“Hm. Well, dari mana eomma tahu?”

“Ponselmu. Minho baru saja mengirimimu pesan.”

“What?” aku segera beranjak menuju kamar dan menyambar ponsel di atas tempat tidur. “Mom, itu tidak sopan.”

Eomma tertawa. “Jagiya~,” ejeknya, membuat wajahku memerah.

BulkaMH: Kami mendarat sekitar pukul 08:35 PM. Bertemu kapan-kapan. Aku sangat lelah ingin tidur.

Buzz

JiraKim: Apapun, asal itu baik untukmu. Sudah makan?

BulkaMH: Sudah. Besok aku masih memiliki jadwal. Jadi kita tidak bisa bertemu.

JiraKim: Tidak apa-apa.

BulkaMH: Bogoshipo…

JiraKim: Naddo…

Minho tak membalas lagi. Kembali kutaruh ponsel di atas tempat tidur, kemudian menarik laci dan mengeluarkan semua sweater anak-anak untuk projek natalku nanti. Sweater milik Jinki, Jjong, Kibum, dan Taem sudah rampung. Sengaja menempatkan Minho di urutan terakhir untuk mengantisipasi kurangnya benang woll, mengingat ia satu-satunya yang memiliki tubuh paling besar.

Di setiap sweater tertera inisial nama mereka. Dan aku masih bingung harus membuat huruf ‘J’ atau ‘O’ untuk Jinki. Itulah mengapa sweater bagian depannya masih polos.

Ponselku menyala.

KimKey: Noona, kupikir kau menunggu di airport.

Aku segera mengetik.

JiraKim: Tidak. Di luar terlalu dingin. Why?

KimKey: Apa Minho tahu kau tidak bisa menjemput?

JiraKim: Yep. Memang ada apa sih?

KimKey: Tidak. Kurasa suasana hati Minho sedang tidak baik. Dia terlihat muram sejak kemarin malam. Apa kalian ada masalah?

JiraKim: Kami baik-baik saja. Beberapa menit yang lalu kami sempat berkomunikasi. Apa perlu aku menghubunginya?

KimKey: Jangan, percuma. Ia baru saja membanting ponselnya…

+++++++

AKU dan Minho belum bisa bertemu. Padahal tepat hari ini, 11 November 2010, hubungan kami memasuki usia satu bulan. Masih sangat muda dan aku bersyukur kami bisa melewati semuanya dengan baik hingga kini. Tak ada perayaan spesial. Inilah konsekuensi menjalin hubungan dengan seorang idola. Selain berusaha menyembunyikannya rapat-rapat, juga tak bisa bertemu sesuai keinginan. Semuanya tergantung jadwal. Ah, aku muak pada jadwal mereka yang padat. Tak ada celah untuk bersantai. Semua bekerja keras dan aku merasa seperti seorang pengangguran.

Ponselku berdering, panggilan dariMinho—well, ponselnya sudah membaik sepertinya setelah ‘insiden pembantingan’.

“Keberatan tidak jika aku datang ke apartemenmu hari ini?” tanyanya.

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja tidak.”

“Sekarang?” tanyanya lagi.

“Tentu.”

“Kalau begitu, bukakan pintu untukku!”

“What? Kau sudah di depan pintu?”

Aku menendang selimut dan mematikan TV. Lalu beranjak menuju pintu dan membukanya. Tampak Minho di hadapanku dengan coat cokelat tebalnya tengah menggosok-gosokkan kedua telapak tangan kedinginan.

Minho memandangi coat milikku yang tergantung dekat pintu. Tiba-tiba ia mengulurkan tangan dan menyambarnya. Kemudian menyerahkannya padaku.

“Ayo jalan-jalan denganku,” ajaknya, suaranya hampir tanpa emosi. Ia meraih tanganku.

Setelah menutup pintu, ia melirikku dan menyunggingkan senyum favoritku, tapi kesannya lain. Matanya tidak memancarkan senyum itu. Dan aku tak mampu membalas senyumnya.

Ditariknya aku ke sisi barat apartemen setibanya di bawah. Sejak tadi aku hanya menurut mengikutinya. Tapi sekarang aku tahu apa yang kuinginkan. Aku tidak menyukainya. Tidak bersamanya dalam keadaan seperti ini. Wajahnya yang tanpa emosi, nada suara yang kelewat datar, ditambah kekuatan tangan yang menarikku tidak seerat biasanya. Ini tidak normal.

Aku terus mengikutinya walau dalam hati menolak. Entah mengapa tiba-tiba aku jadi panik. Dan mengapa ketakutan lambat laun mencekikku?

Minho membawaku ke belakang apartemen, ke sebuah taman sepi. Lagipula siapa yang mau bermain di sini, di suhu sedingin ini? Dan apa ini masih bisa disebut ‘jalan-jalan’? Aku bahkan masih bisa melihat kamarku dari sini.

Dia melepaskan pegangannya. Berhenti berjalan lalu bersandar pada tiang ayunan dan memandangiku. Ekspresinya tak terbaca.

“Oke, ayo kita bicara!” katanya.

Aku terus menatapnya dan menunggu pembicaraan macam apa yang membuatnya mengajakku kemari. Di cuaca sedingin ini, nol derajat setidaknya.

“Hubungan kita tidak berjalan baik.”

Aku menghela napas dalam-dalam. “Boleh kutahu di bagian mana? Seingatku kita bahkan belum pernah bertengkar.”

“Kyungshik-hyung tak hentinya mencurigaiku. Ditambah lagi kini pekerjaan menumpuk. Aku tak ingin kau merasa dicampakkan selama aku berkutat dengan konser dan kerjaan lainnya.”

Jawaban Minho membuatku bingung. Aku memandanginya, berusaha memahaminya.

Ia balas menatapku dingin.

Dengan perasaan mual, sialnya aku memahami maksudnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala idiot. Berusaha menjernihkan pikiran sedangkan Minho menunggu tanpa ada ekspresi tak sabar.

Walaupun aku sudah tahu kemana arah pembicaraan kami, tetap saja aku bertanya. “Lalu apa yang kau inginkan?”

“Kita… berpisah saja. Aku tidak layak untukmu, Noona.”

‘Noona’? Dia kembali memanggilku seperti itu. Hatiku hancur saat itu juga. Berharap di bulan ini ada ‘November mopp’, tapi nyatanya itu tak akan pernah ada.

“Jangan konyol.”

Aku ingin terdengar marah, tapi kedengarannya malah seperti memohon.

“Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Selalu merasa bersalah tiap melewatkan panggilanmu. Pada kenyataannya duniaku bukan untukmu,” ucap Minho muram.

Saat ini perasaan menyesal menjalar di hatiku. Menyesal telah menolak ajakan Soo Man-seonsaengnim untuk bergabung kembali menjadi trainee tempo hari. Jika saja aku menerimanya, setidaknya kedudukanku dengan Minho suatu hari nanti akan berimbang. Membuat kami berada dalam dunia yang sama.

“Kau sudah berjanji! Kau berjanji akan menjagaku pada ibuku, Choi Minho―“

“Aku masih bisa menjagamu sekalipun tak ada lagi hubungan spesial di antara kita,” Minho mengoreksi.

“Tidak! Kau hal terbaik dalam hidupku. Kau tak boleh meninggalkanku seperti ini!” Aku berteriak, marah, kata-kata itu berhamburan begitu saja dari mulutku.

Minho menarik napas dalam-dalam. “Jangan memohon seperti ini!”

Ya, dia benar. Sekeras apapun aku berusaha untuk terlihat marah, tetap saja terdengar seperti memohon-mohon. Ia mendongak dengan rahang mengeras, matanya tampak berbeda, aku bisa menemukan cairan bening menggenang di sana.

“Jangan memaksakan diri!” ujarku, sudah mulai tenang. “Kau sendiri bahkan tak menginginkannya―”

“Aku tak lagi menginginkanmu.”Minho mengucapkannya lambat dan jelas. Matanya tampak dingin saat memandangku, sementara aku menyerap semua perkataannya.

Sunyi sejenak.

“Kau… tidak…”

“Tidak,” selanya.

Kutatap matanya, tak mengerti. Napas kesakitan mulai terdengar dari mulutku. Rasa sesak itu tiba, lebih menyakitkan daripada pernyataannya dua tahun lalu.

“Tepat hari ini usia hubungan kita satu bulan,” lirihku, masih menatapnya tak percaya.

“Justru karena itu, kurasa masih belum terlambat.”

“Berhenti berusaha membuatku untuk membencimu, Minho-ya! Kau tahu sendiri kalau aku takkan pernah melakukannya.”

“Aku membiarkan ini berlangsung terlalu lama. Aku minta maaf padamu…”

“Tidak. Jangan!” suaraku sudah berupa bisikan saat ini. “Jangan lakukan ini.”

Kami terdiam cukup lama. Masih dalam posisi seperti ini. Tak ada yang bergerak di antara kami sejak awal datang.

“Kau memerlukan pria yang layak untukmu, Noona.”

Panggilan itu meluncur lagi dari mulutnya. Hatiku merasa makin disayat.

“Kaulah pria itu…”

Dia menggeleng. “Bukan aku.”

Aku membuka mulut, namun pada akhirnya mengatupkannya kembali. Seperti itu berulang-berulang dalam beberapa waktu. Kucoba sekali lagi, “Ka-kalau itu yang kau inginkan―”

Minho mengangguk sekali dan pergi meninggalkanku, di saat kalimat yang kuucapkan belum berakhir. Tubuhku terasa lumpuh, aku tak dapat merasakan apapun. Tak tahu apa yang kulihat darinya, punggung itu memberiku kesakitan ekstra. Tapi aku tak dapat menangis. Entah kekuatan dari mana, aku berusaha untuk memendamnya.

Lambat laun kakiku bergerak. Memutuskan untuk tidak kembali ke apartemen dan berjalan meninggalkan kawasan tersebut. Sepanjang berjalan, aku tak mendengar suara Minho memanggilku. Itu artinya dia sudah tak di sini. Aku terus berjalan menapaki trotoar tanpa tujuan. Malam ini terasa pekat walau bintang berhamburan dan bulan benderang.

Lututku mulai gemetar. Tak tahu sudah berjalan sejauh apa. Aku tak peduli, yang kuinginkan hanyalah mencoba membuat hati ini membaik seperti semula walau nyatanya itu tak mungkin. Aku berjalan dan berjalan. Tak peduli betapapun jauhnya aku melangkah. Memalukan, bukan? Aku dibuang!

Hingga akhirnya aku menabrak sesuatu. Sesuatu yang keras, yang mampu membuatku tersadar dan berlaku kembali seperti manusia. Kugosok kepalaku yang sakit dan mendongak mencaritahu benda apa yang baru saja menyakiti kepalaku.

Aku menemukan dada bidang seorang pria. Dia tersenyum lembut menyambutku. Puppy eyes dan senyum hangatnya sangat jelas menyatakan bahwa ia mengetahui apa yang baru saja terjadi padaku. Namun, entah mengapa senyum itu kembali membangkitkan emosi. Tiba-tiba saja air mataku merembes keluar tanpa dapat kukendalikan. Mataku terus berdenyut, kesakitan yang menyeruak di antara dada dan kerongkongan membuatku sulit bernapas. Kutempelkan dahiku ke dadanya dan menangis keras disana.

Setelah cukup lama terjebak dalam keadaan seperti itu, aku mulai bersuara. “Jjong,” isakku.

Dia memelukku, membelai punggungku lembut memberikan ketenangan.

“Shhh…,” ia berusaha membuatku berhenti menangis.

“Ottokhae?”

Jjong menjauhkanku dari tubuhnya. Ia menatapku lekat sementara aku tetap merunduk. Tangisku perlahan mengecil karena entah kenapa bola mataku memanas. Jjong menempelkan punggung tangannya ke dahi dan pipiku.

“Jira-ya, kau demam.”

Aku tak peduli. Demam takkan membuat Minho kembali ke sisiku, bukan? Jjong mengangkat dan membopongku. Aku terkulai dalam gendongannya, lemas, sementara ia berlari ke sisi jalan untuk mencari taksi. Setelah susah payah memasukkanku ke dalam mobil, ia memberitahukan alamat tujuannya pada driver, kemudian mobil melesat pergi.

+++++++

AKU menggigil dan itu membangunkanku. Kurasa aku tak benar-benar tertidur. Sejak tadi aku masih bisa mendengar kepanikan Kibum yang merawatku. Aku hanya terhanyut dalam kondisi tak sadar akan demam.

“Dia menggigil. Kibum-ah, ambilkan selimutku!” Samar-samar aku mendengar suara Jjong. “Jira-ya, kau bisa mendengarku?”

Aku mencoba menghela napas dalam-dalam. Aku ingat seharusnya aku menyahut, tapi kukira aku tak memiliki cukup kekuatan untuk itu. Ada dua wajah berputar membingungkan di atas kepalaku. Aku bisa mencium bau khas parfum Kibum, ia tak berhenti membasahi handuk kecil yang menempel di dahiku dengan air.

“Key?” suaraku terdengar asing dan kecil.

“Kami di sini, Sayang,” itu Jjong yang menyahut sedangkan Kibum hanya mengangguk membenarkan.

Sebagian diriku tahu seharusnya kata sapaan yang diucapkan Jjong membuatku marah—itu sapaan khas Minho! Tapi aku sudah tak punya tenaga lagi untuk marah. Sekarang aku mendengar Kibum terisak dengan Jjong yang berusaha menenangkannya.

“Kibum-ah, ayolah jangan seperti ini!” ucap Jjong. Aku setuju, karena rasanya seperti dalam prosesi pemakaman.

Aku memejamkan mata.

“Noona,” isaknya, “Aku tahu ini menjijikkan. Tapi aku tetap akan mengatakannya, aku menyayangimu. Selama ini aku terus menganggumu. Itu karena aku tak tahu harus bagaimana mengekspresikan rasa sayang ini.”

Kubuka mataku lagi dan mendapati wajahnya dibanjiri air mata. Dari luar kamar—sepertinya Jjong membawaku ke dorm mereka―terdengar suara hentakan kaki. Pintu kamar terbuka, aku bisa melihat Taem berdiri kaku disana.

“Onew-hyung dan Minho-hyung bertengkar,” lirihnya namun masih bisa didengar. Bahkan dari jarak cukup jauh seperti ini pun aku bisa melihat wajahnya yang pucat disertai sengalan napasnya.

Jjong dan Kibum refleks pergi meninggalkanku, begitupula dengan Taem. Aku sendirian di sini berusaha mengumpulkan tenaga untuk menyusul mereka. Aku ingin melihat Minho, ingin mendengar suaranya memanggil namaku.

Aku berhasil menyingkap selimut dan tersaruk-saruk berjalan menuju pintu. Kudengar mereka kembali, aku bisa mengenali suara Jjong, Kibum, Taem, dan Jinki. Tak ada suara Minho disana. Kemudian Jjong kembali bersuara kalau ia akan menyusul Minho.

“Di mana Jira?” kali ini Jinki yang berbicara.

Aku sudah di samping pintu. Kecewa mendengar kabar Minho tak di sini, kujatuhkan tubuhku terduduk lemas di lantai.

Pintu mengayun terbuka, terlihat Jinki berdiri di sampingku. Ia menarik napasnya dalam-dalam, kemudian duduk menghadapku. Aku merasakan lantai kayu halus di bawah lututku, lalu di telapak tanganku.

Tiba-tiba tubuhnya bergetar, ia menangis. Aku bingung melihatnya.

“Jira-ya, mianhae…”

Aku menatapnya hampa.

“Ini semua salahku.” Aku tetap diam menunggunya menyelesaikan kalimat-kalimat yang masih menggantung. “Kalau saja aku tak mengatakannya pada Minho, hubungan kalian takkan berakhir seperti ini.”

Jantungku berdegup kencang mendengar namanya disebut dan kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu di taman. Mengingatkanku kalau hubungan kami benar-benar sudah berakhir. Kemudian mataku tertumpu pada tangan kanan Jinki yang memerah. Apa ia memukul Minho?

Aku menatap wajahnya lagi. Kali ini dengan tatapan bertanya.

“Yang kukatakan padanya… adalah isi hatiku. Kusampaikan perasaanku padanya, kalau aku mencintaimu.”

Lantai kayu kini menempel di kulit pipiku. Aku berharap pingsan, tapi sayangnya tidak. Gelombang kepedihan menyelimuti hatiku. Kuharap Jinki tak pernah mengetahui kepedihan ini. Aku tak ingin membuatnya kecewa.

..to be continued..

+++++++

*Kyungshik itu manajer SHINee yang badannya kayak raksasa /plak!

*Choi Jin juga manajer SHINee. Agak ganteng. Hehe~

*Keduanya nama asli. Pasti udah pada tau kan ya?

#Untuk pesan-pesan antara Jira-Minho-Key, anggap aja BBM-an. Hahaha~

##Makasih banyak buat yang udah baca, komen, like. See u next part. Love youuuuuu^^/

 
7 Comments

Posted by on June 17, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , ,

7 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part XII] – Break-Up”

  1. kyukeyholic

    June 18, 2011 at 9:13 AM

    G bsa komen dSF3S..T_T

    Huaa., akhirx putus juga ma Minho…^_^ *aku JiraJinki adict..keke*
    trus Jinki dah nyatain cinta ma Jira..^_^ *treak2 pke toa…*
    yeah, menunggu JJ moment…..

     
  2. onuwdubu

    June 21, 2011 at 10:31 AM

    tiap hri buka blog ini tp lanjutannya g nongol2…ayo lanjut thor, keren ff nya….
    berhubung sy fans onew, jd sy lbh suka minji…onew buat sy aja…hehe

     
  3. Lisa

    June 22, 2011 at 6:28 PM

    hoaaa…
    Jjongra aja deh😀.
    Jinki buat aku aja😀 *diserang MVP*
    wkwkwkwkwk…
    O’iya, mau nanya nih, sebenernya ini part XI atau XII ya?
    Perasaan part sebelumnya ditulis part X, tapi skr udah XII lg😀.
    Ditunggu sambungannya😀

     
  4. rirariruu

    June 23, 2011 at 12:41 PM

    kereeeeeeen !! d^^b
    beneran kayak aslinya deh, feelnya dapet..
    part selanjutnya dipanjangin dong unn /plak
    ditunggu part selanjutnya😀

     
  5. Shiningtaem...

    June 23, 2011 at 5:56 PM

    Yeyeyeyeyey,,,akhirnya jira minho putus *plakkkkkk*,,,keren bgt diya,,,udah nebak sih dr awal klo onew suka jira,,,udah jira sama onew aja,,,setuju,,,setuju,,,,tp kasian juga jira sihhh,,,hmmmmm,,,daebak ,,,dtggu lanjutannya,,,ka jira,,,udah jira sama onew aja,,,setuju,,,setuju,,,,tp kasian juga jira sihhh,,,hmmmmm,,,daebak ,,,dtggu lanjutannya,,,

     
  6. Shiningtaem...

    June 24, 2011 at 6:53 PM

    Dya,,,g bsa comment di we walk part 8,,,jd numpang comment dsini dulu yaa,,,tar klo ol di kompi baru dcopy paste,,,

    Hmmmmm,,,,jinki salah paham,,,aiigooooo,,,jira ya bukalah hatimu untuk si tofu itu,,,,jeballll,,,,minho udah sama chaesa tuh,,,tp masih penasaran sama perasaan minho sebenarnya,,,,semoga jinki n jira benar2 jadian,,,aminn,,wkwkkwkw,,,great job diya🙂

     
  7. Ulfa MVP

    November 1, 2013 at 10:36 AM

    Tuh kan bener Onew ada rasa sama Jira.
    Sbenarnya kputusan Minho sgat tdak gampang. Ia melepaskan Jira tapi msh sgat mencintainya, tp tau perasaan Jinki jg mencintai Jira apa yg bisa dilakukan agar hub. Mereka ber 3 tetap terjaga., tp mungkin jg hal ini karna Chaesa udah balik. . .

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: