RSS

Super Junior FanFiction: “Am I Marrying The Right Man (Siwon’s Diary 2)”

21 Jun

Oktober 2009 – 04:25am.

HARI ini aku bertolak ke Chinauntuk mempromosikan mini album SJM – Supergirl. Beberapa kali kulihat Chaesa memandangku tak rela, jadi kuhentikan kegiatan berkemasku dan datang menghampirinya.

      “Aku akan sering-sering meneleponmu, kalau aku tak sibuk.”

      Dia tersenyum dan mengangguk, sedangkan aku melanjutkan merapikan koper.

      “Kenapa kau ikut bangun? Ini kan masih jam empat pagi.”

      “Mana boleh aku membiarkanmu repot sendiri. Aku ingin membantu dan mengantarmu sampai Incheon.”

      Aku menatapnya lekat dan entah mengapa senyumku tiba-tiba mengembang. Tangan secara refleks membelai rambutnya. Bisa kurasakan ia sedikit terkejut. Aku hanya tersenyum geli dan langsung menyambar koper berjalan keluar sedangkan ia masih terpaku di tempatnya. Asal kau tahu, Chaesa, saat itu jantungku pun tak berhenti berdegup kencang.

      Sekitar pukul lima kami sudah sampai di Incheon. Jiwon juga ikut mengantar. Sebelum pesawat lepas landas, aku sengaja menghilang dari kerumunan untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, mawar merah. Ah, entah sejak kapan aku menjadi seperti ini. Seingatku, belum pernah sekali pun aku memberi Heebon bunga. Ini pertama kalinya dalam hidupku, Chaesa gadis pertama bagiku.

      Kulihat dari jauh ia mengedarkan pandangannya. Aku yakin sekali ia sedang mencariku. Dengan mengendap-endap, aku berjalan ke arahnya dan menutup matanya dari belakang dengan mawar merah yang sengaja kugigit di mulut. Ia memutar tubuhnya menghadapku.

      “Aku pergi dulu,” pamitku.

      Ia membelalakkan matanya setelah kulepas. “Siwon,” gumamnya lirih.

      Aku memeluknya erat dan ia membalasku. Mawar itu kini berpindah tangan menjadi miliknya. Kubelai pipinya lembut lalu berlari mengejar Henry dan mengaleng tubuh kecilnya.

      “Chaesa-ya, tak usah cemas! Aku akan mengawasi Siwon. Dia takkan bisa selingkuh,” teriak Donghae yang disambut pukulan dariku di kepalanya.

      “Tak usah, aku percaya padanya. Sampai jumpa. Hati-hati, ya!”

      Aku melirik Donghae dan tersenyum puas. Ia mendelik kecewa. Yah biar bagaimanapun, istriku memang seperti itu. Aku bersyukur bisa bersama dengannya.

+++

China. Oktober 2009 – 10:04pm.

DONGHAE menghempaskan dirinya ke kasur. Manajer menempatkan kami dalam satu kamar. Kulihat ia berguling-guling menggeliat. Kami sudah terlalu lelah. Untuk hari ini saja, kami langsung bekerja mengunjungi beberapa tempat broadcast untuk mempromosikan mini album baru kami. Kulepaskan kemeja dan melemparnya ke keranjang pakaian kotor.

      “Hey,” panggil Donghae, aku menoleh.

      “Hm?”

      “Perkataanku tadi pagi hanya bercanda.”

      “Yang mana?”

      “Menjagamu agar tak selingkuh.”

      “Oh… Tak apa-apa…”

      “Aku malah berharap sebaliknya.”

      Aku menoleh dan menatapnya bingung. “Apa maksudmu?”

      “Sudah jelas ‘kan?”

      Tanganku mengepal dan rahang mulai mengeras. Bicara apa dia ini?

      Donghae bangun dan duduk tegak. Mimik wajahnya berubah serius. “Kudengar minggu depan Angela juga kemari untuk filming CF. Tidakkah kau senang? Heebon akan kemari dan kalian bisa menghabiskan waktu bersama.”

      Mataku masih tak lepas memandangnya tajam. “Lalu apa maksudmu mengatakan ini?”

      “Bukankah sudah kubilang kalau ini semua sudah sangat jelas?”

      “Kau…”

      “Ya, aku menginginkan Shim Chaesa…”

      “A-apa?”

      Ia turun dari kasur dan berjalan menuju toilet. “Aku mengenalnya lebih dulu. Jauh sebelum kau. Aku sudah mengincarnya sejak dulu dan kau tanpa usaha apapun dengan mudah mengambilnya dariku. Apa semua orang kaya seperti ini? Bahkan menikah saja atas dasar uang…”

      “Hentikan!” teriakku.

      “Aku takkan pernah berhenti sampai Chaesa dapat kumiliki. Dengarkan kata-kataku ini, Siwonnie, aku menantangmu untuk mendapatkannya.”

      “Apa kau bodoh? Bukankah sudah jelas ia telah bersamaku?”

      Ia mendengus. “Hanya status bodoh! Kau bahkan tidak mencintainya sama sekali.”

      “Hentikan seakan-akan kau mengerti diriku, Lee Donghae!”

      “Ya, aku mengerti,” balasnya berteriak. “Kau sama sekali tak mencintainya. Kau hanya terpaksa menerimanya hadir dalam kehidupanmu. Berhenti menyakitinya! Aku takkan pernah memaafkanmu jika membuatnya menangis lagi.”

      Ia masuk ke dalam toilet dan membanting pintu. Sedangkan aku menyambar kemeja dari keranjang dan memakainya kembali. Lantas menyeret koper dan keluar darisanamenuju kamar Hankyung-hyung. Sudah kuputuskan, Donghae akan menjadi rivalku!

+++

Seminggu kemudian…

HEEBON dan teman satu grupnya benar-benar kemari. Donghae selalu mendelik setiap kami secara tak sengaja bertatapan. Hubungan kami memburuk akhir-akhir ini. Kedatangan Heebon memperkeruh semuanya. Ia selalu merengek memintaku menemaninya berkeliling di jadwal kosong. Aku tak bisa menolaknya. Terlalu sulit.

      “Oppa, aku sangat merindukanmu.”

      Aku tersenyum kecut. Rasa kesal masih bergumul di dada. Itu karena Donghae sengaja merencanakan ‘kencan’ ini. Sungguh licik!

      Heebon menarik lenganku dan bergelayut manja disana.

      “Er… Heebon-ah, kumohon jangan seperti ini!”

      “Waeyo?”

      “Aku tak ingin ada yang melihatnya. Kau tahu apa statusku sekarang. Jika muncul skandal, itu bisa memperburuk citramu.”

      Ia melepaskan pelukannya, lenganku bebas sekarang. Namun, terdengar suara isakan. Ia menangis.

      “Ka-kau kenapa?”

      Ia menepis tanganku. “Jadi status adalah hal yang sangat penting bagimu saat ini?”

      Aku tertawa mendengarnya. Kutarik dia dan mengacak rambutnya kasar. “Hey… bodoh! Yang kukhawatirkan itu imej-mu. Kau ini sensitif sekali.”

      “Jangan bohong!”

      “Untuk apa aku bohong!”

      Saat itu aku sama sekali tak menduga kalau seseorang mengambil foto kami di saat Heebon menggelayuti lenganku. Foto yang bisa membuat orang memiliki persepsi negatif jika melihatnya. Rumor yang memfitnahku berselingkuh menyebar luas dengan cepat. Karena hal inilah aku tak sanggup menghubungi Chaesa. Aku yakin ia akan menuntut kebenaran dari mulutku. Dan aku benci sekali jika harus mendengarnya menangis, terutama jika penyebabnya adalah aku.

      Dan yang membuat hatiku lebih sakit adalah seseorang yang mengambil foto tersebut serta menyebarluaskannya. Aku benar-benar tak menyangka ia berbuat sejauh itu.

      “Jadi ini caramu bersaing?!” teriakku.

      Ia tak menggubris, hanya asyik membolak-balik sebuah majalah.

      “Lee Donghae, jawab aku!”

      Ia mendongak. “Ya, lalu? Apa kau akan memukulku?”

      Rahangku mengeras. Demi Tuhan, jika ia bukan sahabatku, sudah kuhabisi dia. Namun, aku tak bisa berbuat terlalu jauh, mengingat pemikirannya masih seperti anak-anak.

      Kulayangkan pukulanku ke pintu dan keluar dari kamarnya. Wookie datang sambil mengacungkan ponselku. “Hyung, ada panggilan untukmu.”

      Kulihat nama Chaesa tertera di layar. Kusambar ponsel dan membantingnya hingga batrai dan casing tercecer di lantai.

      “Hyu-hyung…,” gumam Wookie syok.

      Kutarik-tarik rambutku frustasi. “Kau pikir aku bisa mendengar tangisannya, Wookie-ya?”

      “Belum tentu ia menangis. Mungkin hanya menanyakan kabar…”

      “Kabar mengenai rumor brengsek itu?!” tanyaku berang.

      Ia mengkeret di sisi sofa. Aku sedikit menyesal telah membentaknya. Haisss, Lee Donghae brengsek! Jika bukan karena dia, hal ini takkan terjadi.

      “Hyung, Chaesa-noona bukan tipe wanita penyudut. Kurasa dengan kau memberikan jawaban ‘tidak’, ia akan percaya padamu.”

      “Ya… dan aku masih tak yakin kalau ia takkan menjatuhkan air matanya. Maaf, Wookie, aku terlalu pengecut untuk mendengar tangisannya.”

+++

Januari 2010 – 04:00pm.

HARI ini member SJM kembali keKorea. Aku tak sabar untuk segera sampai di rumah dan menemui keluargaku. Aku tak pernah merasakan rindu sehebat ini. Kau mengerti maksudku? Aku merindukan anggota baru keluarga kami.

      “Eomma,” teriakku saat turun dari mobil. Ia yang sedang asyik merawat tanaman menoleh dan menyambut pelukanku. “Sepi sekali. Di mana yang lain?”

      “Appa-mu masih bekerja. Jiwon dan Chaesa mungkin masih di studio.”

      “Oh, aku kesanakalau begitu.”

      Eomma menarik bajuku. Ia tersenyum lembut.

      Aku tertunduk malu. “Baiklah, aku pergi dulu.” Kukecup pipinya singkat dan berlari menuju mobil. Jantungku berdebar keras disertai wajah yang memanas dan senyum mengembang. Namun kebahagiaan ini menguap saat tak menemukan siapapun di studio. Kemudian Wookie mengirimiku pesan yang mengabarkan kalau Chaesa ada di dorm dan sedang berbincang dengan Donghae.

+++

Super Junior’s Dorm – 05:17PM.

KUTARUH telunjuk di finger-lock, terdengar bunyi ‘klik’ pada pintu dan terbuka otomatis. Aku mendorong pintu terlalu keras hingga menimbulkan debam keras. Kemudian kugunakan kaki untuk menutupnya dan lagi-lagi terlalu keras. Bisa kurasakan suasana yang semula ramai berubah sunyi.

      “Siwon?!” pekik Chaesa.

      Kulihat ia sedang duduk berhadapan dengan Donghae. Dengan kesal aku membentaknya, “Kau ini… kutemui di rumah, tak ada. Kucari ke studio, tak ada. Mengapa tak memberitahuku kalau sedang di sini?!”

      Tubuhnya gemetar. Sungguh, aku tak bermaksud membentaknya seperti itu.

       “Aku lelah. Aku menyerah untuk meneleponmu lagi.”

      Donghae berdiri melindunginya, “Kenapa kau membentaknya? Dia istrimu!”

      “Dia memang istriku!” balasku berteriak lantas menarik lengan Chaesa dan memeluknya. “Aku merindukanmu. Orang pertama yang ingin kutemui adalah dirimu. Maka dari itu aku pulang ke rumah, tapi ternyata kau tak ada. Mianhae, aku kesal. Aku kehilangan kesabaran dan membentakmu.”

      Ia mengangguk dan membalas pelukanku lebih erat. Bisa kulihat rahang Donghae mengeras. Aku menatapnya dengan tatapan kemenangan. Kupeluk Chaesa lebih erat. Posisi ini membuatku sangat nyaman.

      “Kita jalan-jalan saja,” ajakku dan ia mengangguk semangat.

      Tapi tiba-tiba Donghae menarik bajuku. “Aku ikut. Jangan tinggalkan aku di sini!” pintanya sambil bergidik melirik pasangan-pasangan lain yang ada disana.

      “Ini acara suami-istri. Kau tak boleh ikut, toh kau juga tetap akan jadi kambing conge!”

      Donghae kecewa. “Nggak di Korea, nggak diChina. Aku tetap jadi kambing conge! Di sini ada Chaesa, kemarin ada Hee…”

      Mendengarnya, aku langsung menendang tulang kering Donghae.

      “Hyaaaisshhh!!!” teriak Donghae kesakitan. Tak cukupkah ia memfitnahku dengan foto-foto itu? Apalagi yang akan ia lakukan?

+++

AKU mengajaknya ke sebuah restoran mewah, di mana kami tidak perlu mencemaskan stalker di sini. Sejak duduk di meja ini, aku tak berhenti memandangi wajahnya. Sudah hampir tiga bulan kami tak bertemu. Aku sangat merindukannya…

      “Senang sekali kau sudah pulang. Bogoshipda, Yeobo.”

      Aku tersenyum puas. “Naddo, Chaesa-ya.”

      Makanan datang. Kami makan dan berbincang banyak. Aku sangat menikmati sorotan matanya yang teduh dan gerakan bibirnya saat berbicara. Rasanya menyesal telah menyia-nyiakannya dulu. Jadi, tak ada salahnyakanjika aku berubah pikiran? Tunggu, apa ini cinta?

      Selesai makan, kami pergi bermain ice skating, foto box, lalu berjalan-jalan di sepanjang pertokoan. Aku membelikannya bermacam-macam pakaian dan perhiasan. Aku tahu kalau semua ini tak dapat menebus ingkarnya janjiku yang tak pernah menghubunginya selama di China. Tapi kuharap dengan hal ini bisa membuatnya bahagia.

      Kami sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam. Sesampainya di kamar, ia langsung masuk kamar mandi. Sedangkan aku menyalakan TV dan mulai menggeledah lemari pakaiannya. Saat menemukan benda yang kucari, kutaruh benda tersebut di atas kasur. Baiklah, semoga ini menjadi malam yang menyenangkan untuk kami berdua.

      Aku kembali ke sofa dan pura-pura tertidur. Kudengar pintu kamar mandi terbuka, ia melangkah dan berhenti di sisi kasur. Kupicingkan mataku untuk melihatnya. Ya, seperti yang kuharapkan, ia mengenakan gaun tidur tersebut.

      Ia menghampiri meja rias dan mengambil krim malam. Aku bangkit dan mendekatinya. Ia terkejut saat melihat pantulan bayanganku di cermin. Kuseret ia sampai kasur dan bisa kulihat wajahnya sudah menampakkan mimik ketakutan. “Jangan takut! Kau mengizinkanku?” tanyaku berusaha membuatnya tenang.

      Ia terkejut, tak lama kemudian mengangguk.

      Aku mulai mencumbunya. Jantungku berdegup sangat kencang. Sudah pahamkah ia akan perasaanku? Ya, malam ini aku menunjukkan padanya malam yang lain. Aku membawanya ke dunia yang lebih indah, di mana hanya ada dia dan aku.

+++

SAAT terbangun, aku sudah mulai terbiasa dengan adanya Chaesa di sisiku. Ia masih nyenyak tidur dengan tubuh dibalut selimut. Tangan kiriku ditindih kepalanya, sepanjang malam kami tidur seperti ini, ia tidur dalam pelukanku. Kuakui, aku sangat bahagia sekali. Wanita di sampingku ini adalah istriku, dan aku bangga akan hal itu. Lee Donghae, kau kalah beberapa tahap dariku. Takkan mungkin ia bisa memenangkan hati Chaesa.

      Masih pukul delapan saat aku melirik jam tangan. Bodoh! Saking lupa daratan aku bahkan lupa melepaskan jam. Lagi-lagi aku tersenyum dengan tangan kanan mengacak-acak rambut. Dia benar-benar membuatku mabuk. Yah, kini Shim Chaesa adalah wine bagiku.

      Perlahan-lahan kutarik lengan berusaha agar tak membangunkannya. Kemudian sedikit mengendap-endap masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, kulihat Chaesa masih nyenyak di tempat tidur. Apa sebegitu melelahkannya semalam? Semengerikan itukah aku?

      Kuangkat gagang telepon lalu menekan angka 4 supaya terhubung ke dapur. “Tolong siapkan air panas dan teh! Aku akan segera kesanauntuk membuatnya sendiri.” Setelah menaruh gagang telepon, aku berjalan keluar kamar. Saat sampai di dapur, beberapa pelayan membantuku membuat teh panas. Salah satu dari mereka mengatakan kalau teh tersebut baik untuk memulihkan energi. Yep, ini cocok untuknya dan setelah mendengar perkataan pelayan tersebut, aku jadi merasa bersalah pada Chaesa. Baiklah, lain kali aku takkan semengerikan tadi malam.

      Kudorong pintu kamar, Chaesa masih asyik memeluk beberapa bantal. Kutaruh teh di meja kecil samping tempat tidur. Lagi-lagi perhatianku tertuju padanya. Tubuhnya bergerak sesuai dengan irama napas. Ia berbalik hingga selimut tertarik dan memperlihatkan punggungnya. Aku tersenyum, sedang tidur saja berani menggodaku! Kutarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Kemudian berjalan mencari kertas dan pena lalu menulis sesuatu disana. Kuharap ia menyukai caraku ini dan tak berpikir kalau ini kuno. Setelah menaruhnya di samping cangkir teh, lantas berjalan menuju sofa dan menyambar jaket yang kusampirkan disana. Setelah itu meninggalkan kamar.

+++

SM Building – 10:24AM

      “Morning,” sapaku ceria saat resepsionis tersenyum menyambutku.

      “Jelang siang, tepatnya.”

      “Yeah. Apa member lain sudah datang?”

      “Entahlah, mungkin sudah. Bukankah mereka terbiasa lewat jalan belakang agar lebih dekat menuju ruang latihan? Apa yang membuatmu memilih jalan ke sini?” tanyanya skeptis.

      Aku tertawa. “Untuk menyapamu tentu saja.”

      “Oh, jangan merayu! Aku penggemarnya Kim Heechul, bukan kau,” balasnya sambil tertawa.

      “Oppa!” Heebon muncul dari arah dalam. Wajahnya pucat sekali.

      “Heebonnie, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”

      Dia menyentuh pipinya. “Benarkah? Mungkin terlalu lelah. Kami baru saja latihan. Sekarang ruangan dipakai Super Junior,kan?”

      Aku mengangguk. Ia menarik lenganku untuk mengikutinya. Setelah menaiki beberapa lantai, akhirnya kami sampai di taman atap.

      “Kenapa oppa tak menemuiku sekembalinya dariChina?”

      “Setelah dari bandara aku langsung pulang.Adaapa?”

      “Kenapa? Kenapa harus berbohong? Bukankah oppa dan Chaesa-eonni pergi bersama kemarin?”

      Aku terdiam, tak tahu apa yang harus dikatakan. Dia tak berhenti menatapku dan pasti menyadari bahasa tubuhku yang kaku. Aku menatapnya sebentar, lalu mengalihkannya lagi menatap langit. dia menarikku ke sisi pagar hingga pemandangankotaterlihat indah dari sini. Kutaruh tanganku ke keningnya.

      “Panas. Apa kau sakit?”

      “Jangan mengalihkan pembicaraan!” sahutnya.

      Kami terdiam cukup lama. Dia tak berhenti menatapku menanti jawaban.

      “Umm, Heebon-ah, mengenai janjiku saat itu… bisakah kau melupakannya?”

      Dia menatapku tak percaya, aku bisa merasakan hal itu walau kini mataku masih menerawang jauh ke atas langit. Ia mengendurkan rangkulannya dan menjauhkan tubuhnya dariku.

      “Waeyo?” tanyanya datar.

      “Aku tak yakin bisa memenuhi janji itu. Maaf!”

      “Oppa, perasaanmu berubah?”

      Aku tak menjawab, hanya menundukkan kepala. “Maaf!”

      Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Itu tak boleh terjadi!”

      “Maaf, maafkan aku!”

      Tubuhnya bergetar dengan kepala menunduk. Kutaruh tangan di atas pundaknya, namun ia menepis. Bisa kulihat bulir-bulir air mata jatuh ke lantai. Ponselku bergetar pesan dari Leeteuk-hyung yang memintaku untuk segera ke ruang latihan.

      “Pergilah!” ujarnya dingin.

      “Heebon-ah, maafkan aku!”

      “Pergilah!”

      Aku menariknya bermaksud mengajaknya turun juga, tapi ia menolak. Ia masih bertahan di tempatnya. Seperti yang kau tahu, aku telah menyakitinya…

___

 

SETELAH berbincang empat mata bersama Heebon di atap gedung, entah kenapa aku jadi merasa bersalah. Ya, ini semua memang salahku, terlalu mengumbar janji yang belum pasti dapat kupenuhi. Namun, aku juga tak tahu mengapa bisa berjalan seperti ini. Perasaanku pada Heebon tiba-tiba memudar dan kini hanya ada Chaesa di mataku.

      Saat ini kami sedang berlatih untuk tampil di acara penghargaan musik nanti malam. Aku melambai pada Hyukjae untuk meminta waktu istirahat dan ia setuju. Berjalan ke sisi ruangan dengan handuk kecil yang bertengger di atas kepala. Latihan yang melelahkan, mengapa harus diulang-ulang? Aku bahkan sudah sangat hapal dengan lirik dan step-step tariannya. Tapi tetap tak bisa berbuat banyak. Menjadi artis yang sangat menghargai latihan bagi perusahaan itulah yang terbaik.

      “Annyeong haseyo, yeoreobun,” aku mendengar suara Chaesa dan Jiwon bersamaan. Dan ya, mereka ada di sini dengan tiga keranjang besar di tangan mereka. Mata Chaesa dapat menemukanku yang duduk di sudut ruangan. Ia tersenyum, sementara itu jantungku hampir keluar mengingat kejadian semalam. Aku malu… dan ini sangat memalukan!

      Mereka disemuti oleh para member yang kelaparan. Dari dalam keranjang aku bisa melihat bermacam-macam makanan dikeluarkan. Ini pasti perbuatan Chaesa, karena Jiwon tak pernah berinisiatif membawakan makanan seperti ini.

      Kuhampiri Chaesa lantas memanggulnya ke pundakku. Ia menjerit dan tertawa, aku senang mendengarnya. Kupeluk erat dan membawanya ke tempatku semula.

      “Baiklah, mana makananku?” aku menodongnya langsung.

      Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak makan. Inilah sisi lain darinya yang kusukai. Ia membuat khusus untukku. Aku semakin merasa spesial. Dari seberang bisa kulihat Donghae memandangi kami. Ini membuatku merasa puas, semoga ia menyerah setelah ini.

      “Buka mulutmu!” pinta Chaesa. Aku membukanya dan ia menyuapiku. Menyenangkan! Ini sungguh menyenangkan.

      Pintu masuk sedikit terbuka dan aku bisa melihat Heebon berdiri di ambang pintu melihatku yang sedang bermesraan dengan Chaesa. Ia terlihat sangat sedih dan pucat. Sepertinya ia semakin demam. Demi Tuhan, Heebon, berhenti memandangiku seperti itu! Ia berbalik pergi, hatiku sedikit lega. Kini Chaesa sedang asyik memainkan rambutku.

      “OPPA,” kulihat Yuki masuk ke dalam ruangan dan menghambur ke pelukan Sungmin. “Tolong, Heebon pingsan di toilet!”

      Jantungku seperti berhenti berdetak. Hatiku mencelos. Dengan spontan aku berlari keluar ruangan menuju toilet. Memang benar, disanakulihat Heebon tengah terkulai lemas di lantai sekitar wastafel.

      “Heebonnie!” panggilku seraya mengguncang tubuhnya namun tetap tak bangun.

      Banyak orang kini sudah masuk ke dalam toilet dan membantuku dengan memanggilkan ambulans. Leeteuk-hyung memintaku untuk tetap di kantor, namun aku bersikukuh untuk ikut masuk ke dalam ambulans mengantarnya pergi hingga rumah sakit.

      Sesampainya di rumah sakit, setelah Heebon mendapatkan pemeriksaan, aku tetap tak melepaskan genggamanku padanya. Andai saja aku tak mengatakannya hari ini, sepertinya ia takkan harus mengalami hal ini.

      “Siwonnie, kita harus kembali ke kantor dan melanjutkan latihan!” pinta Leeteuk-hyung.

      “Aku tak bisa, Hyung. Sepertinya aku juga tak bisa ikut tampil malam ini. Mian…”

      “Kau ini bicara apa?!” teriak Heechul-hyung. “Profesional-lah sedikit!”

      Donghae maju selangkah, “Kenapa kau lakukan ini? Yang sedang terbaring ini Heebon, bukan Chaesa. Kau tak perlu secemas itu!”

      Apa yang dia lakukan? Brengsek sekali mengambil kesempatan menghancurkanku dalam situasi seperti ini.

      “Donghae-oppa, kenapa kau berkata begitu?” protes Jiwon, “Kau juga Siwon-oppa, perlakuanmu itu bisa membuat onnie sedih!”

      Aku hanya diam. Ya, Jiwon-ah, aku tahu itu…

      “Kalian keluar saja dulu. Biar aku yang berbicara dengannya,” Leeteuk-hyung kembali mengambil alih situasi, mereka pun keluar dari ruangan.

      “Aku tahu tak pantas berbicara seperti ini dan sangat tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, Siwon-ah. Tapi… seharusnya kau mengertikandengan keadaan ini? Kau telah menikah, Chaesa pasti sangat tersakiti dengan tindakanmu ini. Bukankah kau membenci pria yang menyakiti wanita? Lalu mengapa kau melakukannya?”

      “Aku tak memiliki pilihan, Hyung. Sudahlah jangan diteruskan. Aku akan kembali ke perusahaan dan tampil malam ini.”

      Aku keluar dari UGD dan berjalan menunduk ke ruang tunggu. Aku tak berani memandang Chaesa. Dalam satu waktu, aku menyakiti dua wanita sekaligus. Perbuatan tercela yang kubenci. Namun seperti yang kukatakan tadi pada Leeteuk-hyung. Aku tak memiliki pilihan.

      “Chaesa-eonni,” teriak Jiwon membuyarkan lamunanku.

      Kulihat Chaesa berlari keluar rumah sakit dan langsung menaiki taksi. Donghae pun ikut memanggil. Aku bingung apa yang terjadi.

      “Mengapa oppa tak menghiraukan Chaesa-eonni saat ia menghampirimu tadi?” protes Jiwon.

      “A-apa? Chaesa menghampiriku? Kapan?” tanyaku bingung.

      Jiwon memukul dadaku. “Nappeun!” ujarnya sambil berlari keluar dan disusul oleh Hyukjae.

      “Kau ini kenapa?” tanya Heechul-hyung.

      “E-entahlah…”

      Ya, aku tak mengerti apa yang terjadi denganku. Yang kutahu, ini semua salahku…

___

..to be continued..

 

Tags: , , , , ,

7 responses to “Super Junior FanFiction: “Am I Marrying The Right Man (Siwon’s Diary 2)”

  1. Elysabeth Citra

    June 21, 2011 at 9:05 PM

    wah..mkn bagus aj ni FF jg mkn jelas kenyataan’ny kyk ap..
    tr’nyta ap yg chaesa pikir’kn slama ni ttg siwon slh yaw cz siwon sbnr’ny suka sm dia..
    (kq aq jd sok toy yaw… >..<

     
  2. Elysabeth Citra

    June 21, 2011 at 9:06 PM

    wah..mkn bagus aj ni FF jg mkn jelas kenyataan’ny kyk ap..
    tr’nyta ap yg chaesa pikir’kn slama ni ttg siwon slh yaw cz siwon sbnr’ny suka sm dia..
    (kq aq jd sok toy yaw… >.<)
    cerita'ny keren dech cz mkn bkn penasaran..
    gk sabar bwt baca next part'ny..

    1000000000000000000000000 jempol bwt author..

     
  3. vanny

    June 24, 2011 at 11:32 AM

    tetep seru walopun baca ulang hehehe….

     
  4. RA

    June 25, 2011 at 2:13 AM

    ini nih ff yg d tunggu” ..
    gomapseumnida ya author+cepet” update lg ya siwon’s diary nya ..
    PENASARAN!

     
  5. kwonkwon

    June 25, 2011 at 6:10 AM

    udah lama aku nungguin lanjutannya, udah prnah baca sih…
    tapi aku suka bnget ff nya..
    moga lanjutannya cepet-cepet di post deh…🙂

     
  6. sarangchullpa92

    June 26, 2011 at 8:47 AM

    Kangen ff ini.. >.<
    Siwon oppa kurang tegas! Chaesanya kabur baru nyesel dan nyari2.

    Pas bca yg chaesa pov,gk pernah nyangka yg nyebari poto itu hae..

    Kalu gk salah,dulu udah sampe part 3 kan ya onn?
    Lanjutin onnie..🙂

     
  7. princessminho

    July 2, 2011 at 7:25 AM

    bgusss kpan nih di terusin gag sbar keep writting

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: