RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part XIII] – Jinki The Opportunist”

24 Jun

 

Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XIII] – Jinki The Opportunist

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, and Jira’s mom.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

 

WAKTU berlalu. Setiap detik pergerakan jarum jam terasa menyakitkan bagiku. Setelah kejadian kelabu di malam itu, hatiku kebas. Suara hampir tak pernah terdengar lagi dari mulutku. Kehidupanku sekarang seperti diseret-seret dipaksa untuk mengikuti jalannya waktu.

Pernyataan Jinki saat itu tak menerima tanggapan dariku. Tentu saja, mana mungkin aku bisa menanggapi hal seserius itu di saat aku belum dapat berpikir jernih. Aku hanya tidak menjawab ‘ya’, tapi juga tidak menjawab ‘tidak’. Semuanya mengalir bagaikan sungai dengan air keruh. Tak ada yang indah disana.

Jinki sering mengunjungi apartemenku, walau pada akhirnya kami tak melakukan apapun kecuali diam. Dia selalu berusaha melucu agar aku tertawa meskipun itu percuma. Aku tak pernah menghindarinya, jujur saja bahunya sangat nyaman saat kujadikan sandaran. Namun, bukan ini yang kuinginkan. Bukan bahunya, melainkan bahu pria-kurus-tinggi lainnya.

“Baiklah, Kim Jira, kita akan pulang secepatnya.” Eomma membanting sendoknya yang menimbulkan bunyi denting keras di atas mangkuk.

Aku mendongak dari serealku dan menatapnya syok. Aku tak mengerti maksud perkataannya.

“Astaga, sungguh. Kau tak sadar apa yang sedang kubicarakan sejak tadi?” dumalnya.

“Mom, aku ‘sudah’ pulang,” ujarku mengingatkan sambil mengedarkan pandangan untuk memperkuat alasan kalau ini adalah rumah kami.

“Tahun baru nanti, kita kembali keL.A.” Eomma menjelaskan maksudnya. “Aku tak tahan melihatmu seperti ini.”

Ia menyambar air putih dan meminumnya. Sedangkan aku mengernyit bingung sambil terus mengaduk serealku yang memang sejak tadi hanya kupandangi tanpa kumakan.

“Apa salahku?” gumamku, bingung.

“Kau benar-benar kehilangan kesadaranmu?” tanyanya tak percaya. “Kim Jira, akhir-akhir ini aku merasa hidup bersama zombie. Bahkan baru kali ini kau berbicara padaku.”

Ia merengut.

Zombie? Separah itukah aku?

Aku merasa semuanya baik-baik saja― maksudku, aku melakukannya dengan baik untuk seluruh hal yang kukerjakan. Pengunjung café meningkat secara signifikan, riset untuk tugas akhirku sudah rampung, bahkan aku mengerjakan pekerjaan rumah sampai lantai mengkilap dan tak ada debu hinggap di tiap perabotan. Kulakukan semuanya dengan baik.

“Tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Jinki-oppa untuk datang ke konsernya tanggal satu nanti.”

Eomma menatapku penuh selidik sambil membersihkan mulutnya dengan serbet. “Berkencanlah dengannya!”

Aku balas menatapnya. “Mwo?”

“Dengar, Sayang. Menurutku mungkin… mungkin kau butuh bantuan. Kau sedang menjalani masa-masa terberatmu. Mungkin Jinki bisa membantumu untuk keluar dari semua ini.”

“Aku baik-baik saja kok.”

“Mungkin. Kau terlihat tidak mengatasi masalah ini. Kau hanya diam menikmati kepedihan menggulungmu.”

Aku merunduk dan kembali mengaduk sereal.

“Aku percaya Jinki bisa menjagamu dengan baik. Walau jujur saja hatiku masih ingin kau bersama  dengan…”

“Mom!” panggilku mengingatkan. Aku tak ingin namanya kembali disebut. Itu sangat menyakitkan. “Dengar,” sergahku datar. “Aku akan memanfaatkan waktuku kembali merajut sweater untuk anak-anak.”

“Bukan itu yang kuinginkan,” tukasnya. “Aku tak sanggup melihatmu berusaha lebih keras lagi untuk melupakannya…”

“Aku tidak pernah berusaha untuk melupakannya,” kutatap  eomma dengan garang. Sudah lama wajahku tak terisi oleh emosi apapun. Sejurus kemudian suaraku sudah berupa bisikan. “Aku bahkan tak pernah memiliki niat untuk melupakannya.”

Eomma menatapku tajam. “Demi Tuhan, Kim Jira, kau benar-benar mencintainya?” Aku mengangguk perlahan. Air mata secara naluriah meleleh tanpa kuminta. “Kupikir ini hanya main-main,” gumamnya.

“Aku serius.”

“Lalu bagaimana dengan Jinki?”

Aku menatapnya tak percaya. “Ia hanya… oppa. Tidak lebih…”

Eomma mengangguk paham. “Well, jalan-jalanlah denganku. Sudah lama aku tak kembali dan kau malah memperlakukanku dengan tidak baik. Itu sangat mengecewakan, jujur saja.”

“Mianhae.” Permintaan maafku terdengar agak datar, bahkan di telingaku sendiri.

“Ambil tasmu!” perintahnya. “Jangan pernah menolak selama aku berusaha ‘memperbaikimu’, atau kau kupaksa terbang keL.A.besok.”

“Ne,” sahutku pasrah.

 

+++++++

JADI inikah yang disebut ‘memperbaikiku’? Eomma mengajakku belanja menghabiskan uang ke mall membeli banyak pakaian dan sepatu. Dan sekarang kami terdampar di salon kecantikan. Ia memaksaku melakukan perawatan pada wajah dan rambut. Ini sungguh menjengkelkan. Hal yang paling tak kusukai jika memang tak ada moment penting untuk melakukannya.

“Eomma, ini berlebihan,” protesku. Kini kedua tanganku tengah menjalani pedicure.

Ia sama sekali tak mengacuhkanku.

“Dan kenapa rambutku harus ‘gold’ seperti ini?!” protesku lagi. Kini aku jadi terlihat seperti Jessica, BoA, Luna, Heechul dan… Taemin? Ck!

Aku melihat eomma memutarkan bola matanya dari pantulan cermin. “Itu lebih baik dari cokelat, Jira-ya.”

Aku mendengus pasrah. Itu adalah hal yang lazim kulakukan jika terjepit dalam keadaan seperti ini. Pada kenyataannya eomma tak dapat ditentang. Ia selalu melakukan apapun sesuka hatinya. Hampir mirip seperti Taem.

Dan ngomong-ngomong soal Taem, aku merindukan hyungnya. Aku sangat merindukan Minho. Apa yang sedang ia lakukan saat ini? Apa ia makan dengan baik dan tidur cukup? Aku sangat-sangat merindukannya. Dan itu membuat hatiku sakit.

“Kyungshik-hyung tak hentinya mencurigaiku…”

Perkataan Minho tiba-tiba berkelebat dalam pikiran. Tunggu, itu tak berarti apa-apa ‘kan? Kyungshik-oppa mengetahui semuanya pun kurasa tak masalah. Bukankah Soo Man-seonsaengnim sudah mengetahui semuanya? Lalu apa yang harus dikhawatirkan jika atasan sudah mengetahuinya?

Aku bangkit dan melepaskan baju khusus perawatan.

“Jira-ya,” panggil eomma. “Wae?”

“Ada hal penting. Aku harus pergi. Bertemu di rumah sebelum makan malam. Bye…”

“Yaaa, Kim Jira!”

Aku menyambar tas dan berlari keluar salon. Lalu menghentikan sebuah taksi dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Kibum.

JiraKim: Kibum-ah, apa kalian sedang bersama?

KimKey: Ya, waeyo?

JiraKim: Di mana?

KimKey: SM Academy.

 

+++++++

AKU berjalan memasuki gedung. Gila! Ini gila. Mengapa aku nekat dan begitu keras kepala? Sudah jelas bukan kalau Minho mencampakkanku. Jadi untuk apa kemari meminta kepastian―yep, itu dia, kepastian. Aku tak mengerti jalan pikiran Minho saat ini. Sejak awal memutuskan untuk menjalin hubungan, kami sudah kebal ditempa jadwalnya yang padat. Tak bertemu berhari-hari bahkan berminggu-minggu pun tak masalah. Lalu mengapa tiba-tiba ia mempermasalahkan hal itu? Ini ganjil.

Saat hendak berbelok ke ruang latihan vokal, beruntungnya aku berpapasan dengan Minho. Entah kenapa seluruh kata-kata yang telah kurancang sejak di taksi tadi menguap begitu saja ketika melihatnya. Lidahku kelu, jantung berdebar keras, dan kesakitan kembali muncul di dada. Kami sama-sama terkejut dengan mata membesar dua kali lipat. Namun air mukanya kembali dingin. Ia pintar mengendalikan ekspresi.

“Mi-Minho…”

“Ikut aku,” pintanya dingin. Ia berjalan ke arah kelas ‘composing’. Setelah sampai, ia menutup pintu dan berbalik menghadapku. “Ada apa?”

“A-aku…,” kuhela napas, “…aku ingin memastikan apa kau tidak mabuk saat itu.”

Dia tersenyum kecut.

“Sama sekali tidak. Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Hubungan kita memang harus diakhiri.”

Dadaku kembali sesak. Bagaimana bisa ia mengatakannya begitu tenang?

“Soo Man-seonsangnim sudah mengetahui hubungan kita. Jadi tak ada masalah jika Kyungshik-oppa juga mengetahuinya bukan?”

“Itu memang bukan permasalahan utama, Noona…,” perutku serasa terbalik saat panggilan itu kembali meluncur dari mulutnya, “…bukankah sudah kubilang, aku tak lagi menginginkanmu.”

Aku mendengus. Menyadari kebodohanku.

“Berhenti berakting. Jangan memakai topeng di depanku, Choi Minho. Itu percuma.”

Dia tertawa. Bukan tawa sebenarnya. Matanya tak menampakkan tawa itu.

“Kau benar-benar keras kepala. Aku juga pernah bilang kan, ‘kau memerlukan pria yang layak untukmu’…”

“Bukankah aku juga pernah mengatakannya kalau pria itu adalah kau?!”

Minho menatapku tajam, kemudian menarik napas panjang dan kembali melunak. Ia berjalan melewatiku menuju pintu.

“Kau akan mengetahuinya suatu saat nanti mengapa aku melakukan ini. Kumohon, jangan lakukan ini lagi! Sebaiknya kita bersikap biasa saja seperti dulu, sebelum kita memulai semua ini. Kau noona-ku, dan anggaplah kembali aku sebagai dongsaeng.”

“Aku tak pernah menganggapmu dongsaeng,” suaraku mengecil menahan tangis.

“Kalau begitu lakukanlah mulai saat ini.”

Ia memutar kenop pintu.

“Apa karena Shim Chaesa?” tanyaku bergetar.

Ia berhenti. Kemudian pergi tanpa menjawab pertanyaanku. Napasku mulai terengah-engah, tak tahan menahan dada yang sesak. Air mata meleleh begitu saja. Ini sangat sakit. Yang kutakutkan akhirnya terjadi. Minho meninggalkanku.

 

+++++++

      ”Kau mau pergi begitu saja tanpa menemuiku?”

Aku berbalik. “Jinki-oppa?!”

“Dasar anak nakal!” umpatnya sambil mendaratkan sentilan kecil di dahiku.

“Mian,” ucapku sambil menggosok dahi.

Ia tersenyum lembut dan menarikku kembali masuk gedung. Aku mencoba bertahan. Tak ingin lagi masuk dan bertemu Minho, karena hanya akan membuat hatiku semakin sakit.

“Wae?” tanyanya.

“Tak apa-apa. Aku sudah janji pada eomma untuk pulang sebelum makan malam. Ini sudah pukul enam.”

“Bukan, bukan itu. Apa kau habis menangis?” tanyanya lagi, kali ini sambil merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. Aku merunduk.

Ia melepaskan jaket dan memakaikannya padaku. Tanpa memasukkan kedua tanganku ke lengan jaket, ia menaikkan retsleting. Aku terjebak, kedua tanganku terjebak di dalam jaket. Secara harafiah jaket ketatnya besar untuk tubuhku. Kemudian ia menurunkan retsletingnya dan menaikkannya kembali.

“Yaaa, Oppa, berhenti bermain-main!” kataku. “Buka!”

Dia meletakkan tangannya di dagu. Berpura-pura berpikir. Menyebalkan!

“Salahmu sendiri mengapa tak mengenakan jaket di cuaca sedingin ini.”

“Aku buru-buru, jadi tidak sempat,” ujarku sambil berusaha melepaskan diri.

Ia menarik lengan jaket yang masih membungkus tubuhku untuk mengikutinya. Setelah mendapatkan kunci, Jinki membuka pintu sebuah mobil dan menyuruhku untuk masuk ke dalam. Aku menatapnya dengan pandangan menuntut. Ia terkekeh, kemudian melepaskan retsleting membebaskanku.

“Terima kasih,” ucapku skeptis. “Mobil siapa ini?”

“Trainee. Hahaha~”

“Wow, trainee yang kaya! Well, Choi Siwon juga seperti itu dulu.”

Ia menatapku lega. “Syukurlah kau sudah kembali. Aku sempat putus asa memikirkan cara-cara untuk membuatmu kembali ceria. Ngomong-ngomong, ada tujuan apa kemari?”

Jinki mulai menyalakan mesin mobil dan menginjak gas. Aku memalingkan wajah ke sisi jendela agar ia tak dapat melihat wajahku.

“Mencari kepastian.”

“Oh. Lalu?”

Aku mengangkat bahu. “Seperti yang kau lihat. Keputusannya tak berubah. Ia bersikeras untuk mengabaikanku. Kau tahu? Ini hari yang sangat panjang bagiku.”

Jinki sesekali menoleh ke arahku secara bergantian dengan konsentrasi tetap berjalan untuk mengemudi. “Kau marah?”

“Marah? Apa aku terlihat seperti Hulk saat ini?” candaku.

“Wow, Kim Jira, kau benar-benar sudah kembali.”

“Berhenti berkata seperti itu. Bahkan eomma menyebutku zombie pagi tadi.”

Dia terkekeh. “Itu sebutan yang kejam, namun sangat tepat.” Dia terdiam beberapa saat. “Er, aku sudah berusaha mengajaknya bicara, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ia tetap dengan pendiriannya. Dia membuatku gila dan benar-benar mengubahku menjadi pria seperti ini…”

“Hm? Seperti apa?”

“Penjahat. Aku telah merusak hubungan kalian.”

“Tolong jangan membahas hal itu. Aku sedang mencoba menerima situasi ini. Aku tahu Choi Minho bukan pria seperti itu. Ia pasti memiliki alasan lain mengapa memilih jalan seperti ini.”

Ia mengangguk setuju dan memarkirkan mobilnya di depan mini market. “Tunggu di sini!”

Aku menurut. Ia masuk ke mini market tersebut dan menghilang. Entah dorongan setan apa, aku menjadi tidak sopan seperti ini. Iseng, aku membuka laci dashboard dan menemukan foto-foto yang menunjukkan identitas si pemilik mobil.

“Choi Siwon. Ck!”

Jinki datang mendekat dengan wajahnya yang terus merunduk. Kemudian ia memberiku sebuah es krim.

“Supaya kepalamu dingin dan tidak lagi memikirkan hal-hal kemarin.”

“Gomawo.”

Mobil kembali berjalan. Tinggal beberapa blok lagi untuk sampai di apartemenku.

“Jira-ya, pernahkah aku mengatakannya padamu?” tanyanya setelah cukup lama kami terdiam karena asyik dengan es krim masing-masing.

“Apa?”

“Gomapta. Terima kasih karena tidak membenciku.”

Aku setengah tersenyum mengetahui maksudnya. Cukup transparan sekarang. Aku mengerti mengapa Minho melepasku. Itu semua semata-mata karena ia ingin menghormati leader kebanggannya, hyung kesayangannya. ‘Pria layak’ untukku yang ia maksud adalah Jinki, bukan dirinya ataupun orang lain. Minho mencoba mengatur ini semua agar kembali seperti semula. Kembali sebelum ia mengacaukan semuanya.

Hatiku paham sekarang. Bagaimana Minho merasa tersiksa dengan perasaan bersalah karena telah mengambilku dari Jinki. Aku tahu kalau Minho adalah pria bodoh. Apa yang dilakukannya akhir-akhir ini adalah kebodohan. Aku takkan pernah menghilangkan perasaanku padanya dan mengganti posisinya dengan orang lain. Itu sangat tidak mungkin. Apa yang telah kutetapkan sejak awal takkan mudah untuk mengubahnya. Seperti yang kau tahu, aku gadis yang keras kepala. Kuharap Minho menyerah dengan ini semua.

Mobil berhenti. Apartemenku sudah tampak di hadapan kami. Jinki membukakan pintu untukku dan mengantar hingga ke dalam.

Sunyi di dalam lift.

“Jira-ya,” panggilnya. Kemudian ia berbalik menghadapku dan memutar tubuhku supaya kami saling berhadapan. Dia memelukku, sementara lift secara perlahan terus merangkak naik. Ia membungkuk hingga dapat membenamkan wajahnya ke bahuku, ia lebih tinggi dariku, bahkan dengan boot tinggi yang kukenakan. “Aku Lee Jinki, bukan Onew ataupun Dubu. Seperti yang kau tahu, kau dapat mendengar dari banyak orang senyumku selalu baik seperti malaikat. Aku mungkin tidak bernyanyi sebaik Jonghyun, juga bukan leader sebaik Teuki-hyung. Tapi kau dapat mengandalkanku jika mendapat kesulitan. Dan aku akan selalu menunggumu untuk kembali membuka hati. Aku tak ingin melihatmu bersedih. Bahkan kau selalu berputar di kepalaku di saat menulis lirik. Dan kau… kau membuatku berbicara secara acak seperti ini.”

Aku tak dapat mengatakan dengan jelas apa yang kurasakan. Ingin tertawa, tapi kurasa itu tidak etis. Ia melanjutkan, “Aku selalu bertanya-tanya, apakah kau senang melihatku selalu ada di sisimu?”

“Apa?”

“Aku tak pernah memaksamu. Jika kau mengatakan ‘tidak’, aku akan menghilang dari sisimu setelah hari ini.”

Pintu lift terbuka. Jinki melepaskan pelukannya dan membiarkanku berjalan keluar. Seperti yang ia harapkan, aku melangkahkan kakiku meninggalkannya. Dan tanpa kusadari ia mengikutiku dari belakang.

“Mau mampir?” tanyaku mencoba mempertahankan nada untuk terdengar biasa saja.

“Tidak. Aku hanya menginginkan jawabanmu.”

Aku membasahi bibir dengan menjilatnya. Aneh, jantungku tidak menunjukkan tegang atau apapun. Ini terlalu biasa, bahkan dalam situasi seperti ini.

“Kupikir, aku yang baik untukmu saat ini,” katanya.

Aku tersenyum. “Kita baik seperti ini.”

Dia balas tersenyum. Entah mengerti maksudku atau tidak. Kemudian Jinki kembali menaikkan retsleting jaket yang masih melekat di tubuhku. Ia menarik kedua lengan jaket hingga aku jatuh dalam pelukannya. Ia memelukku girang. Well, seperti yang kuduga, ia salah paham dan aku tak berani mematahkan kebahagiaannya.

Sangat berat untuk mengatakan ‘tidak’ jika ia mengancam untuk menghilang dari sisiku, tapi hatiku juga tidak menerima jika aku mengatakan ‘iya’. Dan kalimat ‘kita baik seperti ini’ nyatanya jauh lebih berbahaya dibandingkan kata ‘iya’. Entah apa yang harus kulakukan, aku sendiri tak dapat menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Aku paham bagaimana perasaan Jinki. Ia sama sepertiku, mencintai seseorang selama bertahun-tahun. Itulah mengapa aku dapat merasakan cintanya yang besar.

Mulai saat ini aku akan membiarkan semuanya mengalir. Harus kuakui kalau aku masih menganggapnya oppa, meskipun ia berpikir lain.

“Bebaskan aku!” tuntutku.

Dia menurunkan retsleting dan menyuruhku masuk.

“Tak mampir?”

“Tidak. Aku masih ada jadwal…,” ia melirik jam tangannya, “…satu jam lagi.”

“Ya, sebaiknya kau kembalikan mobil itu sebelum Siwon-sunbae menagihnya.”

Jinki membeku dan aku buru-buru masuk ke dalam. “Annyeong.”

“Kau semakin cantik dengan warna pirang,” teriaknya, tepat saat pintu tertutup.

 

..to be continued..

 

+++++++

#Baiklah, Jinki salah paham -_______-

 
4 Comments

Posted by on June 24, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

4 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part XIII] – Jinki The Opportunist”

  1. reenepott

    June 25, 2011 at 10:54 AM

    eum… itu…
    Jinki salah paham, Jira pengennya Jinki jadi temennya doang, tapi Jinki ngira kalo Jira mau jadi yeoja chingunya dia???
    gitu???
    akkkhh…. pusiiing…
    yah, pokoknya lanjutannya ditunggu dah!!!!!

     
  2. thiaelfishy

    June 26, 2011 at 6:24 PM

    yah jinki salah paham. Jira juga gak mau ngejelasin maksud.a. Kasian ntar minho.a
    Minho rela berkorban demi hyung.a.

    Author bukan.a shim chaesa udah kembali. Aku pikir gara2 itu minho mutusin jira. Tpi kok shim chaesa.a gak muncul2 ya.

    Next part.a aku tunggu ya.

     
  3. vanny

    June 27, 2011 at 4:08 PM

    kasian ama jira en jinki.
    jira ga tegaan karna dia dulu pernah seperti jinki ke minho
    kasian ama jinki yg ga bisa ngertiin kata2nya jira
    dan aku masih penasaran ama alasannya minho
    keknya bukan sepenuhnya melepaskan jira untuk jinki

     
  4. shaolin

    June 27, 2011 at 8:39 PM

    apa apaan itu si choi minho -__-
    chaesa beneran udah balik ?
    sbenernya minho cinta ngga ya ama jira
    wkwk, elaaah jinki belom paham
    jiranya pula, dia ngga jujur
    daebak ^^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: