RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part XIV] – I’m Not Isabella Swan, Jinki!”

03 Jul

 

Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XIV] – I’m Not Isabella Swan, Jinki!

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, and Jira’s mom.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

HATIKU tak pernah berhenti merasakan pedih. Terutama jika teringat hal-hal yang terkait dengan Minho. Pria itu sungguh-sungguh menyita pikiranku. Mengenang matanya yang besar, lekuk hidungnya yang panjang, bibirnya yang mungil, kedua tangan kekar yang kerap memeluk perutku, dan suara khasnya yang manja jika memanggilku dengan sapaan ‘Jira Sayang’. Semuanya menghilang, aku tak dapat merasakan dan mendengarnya lagi. Ia sudah berupa bintang bersinar yang jauh dari jangkauanku.

Aku seperti gila, setiap malam hanya memandangi langit, berbicara pada bintang-bintang, dan setelah itu air mata akan kembali terjatuh. Jujur saja kalau ini semua membuatku jengah. Ingin keluar dari lingkaran ini, namun aku sendiri pun tak sanggup.

Air mata lagi-lagi jatuh ketika Minho muncul. Bodoh, masih saja aku sanggup menonton dramanya dengan perasaan luluh lantak seperti ini.

Dua puluh November tepat pukul 11.15 PM drama yang dibintangi Minho, The Pianist, akhirnya tayang di KBS-2TV. Aktingnya sangat baik dan sangat disayangkan mengapa drama ini hanya dibuat satu episode. Inilah drama yang menurutnya dipersembahkan untukku. Tema yang hampir mirip dengan kisah kami―tokoh perempuannya seorang noona dan baik Minho maupun Oh Jero sama-sama tak mempermasalahkan umur.

Ponselku menyala, sebuah pesan masuk, dari Jinki.

Aku menyambar remote kemudian mematikan TV setelah drama selesai. Lalu berjalan ke sisi ruangan menekan tombol power pada music player dan lagu ‘SNSD – Star Star Star’ pun terputar. Lagi-lagi diam di sisi jendela. Tak peduli dinginnya kaca yang menusuk kulit, aku masih saja memandangi langit. Berharap ada bulan sabit malam ini, tapi sayangnya harapanku tak terkabul.

Tiap bait lagu masuk menyerap ke dalam hatiku. Lirik yang benar-benar melukiskan perasaanku saat ini. Dadaku tiba-tiba sesak, bayang-bayang Minho berputar dalam kepala. Seluruh kenangan kami selama ini berkelebat. Kau tahu? Ini sangat menyakitkan.

      Amuri chyeoda bwado niga boijil anha, oh baby

      (No matter how many times I look at you, I can’t see you, oh baby)

      Du nune gadeuk goin nunmul ttaemune, da neo ttaemune

      (Because of the tears in my eyes, all because of you)

      Beonjyeojin geulja wiro bichin uneun nae eolgeul, oh baby

      (My crying face that is reflecting above the spread letters, oh baby)

      Tto ulji mallago nal dajim haebwado, tto ureo

      (I promised myself I wouldn’t cry again, but I’m crying again)

Aku memeluk kedua lutut dan menenggelamkan kepala di atasnya. Bisakah kau bayangkan bagaimana sakitnya ditinggal seseorang yang disayangi? Bisakah kau melupakannya, melupakan pria yang selama bertahun-tahun tak pernah lepas dari pikiranmu, melupakan pria yang telah mengambil ciuman pertamamu? Bagiku, jawabannya adalah mustahil. Aku tak pernah memiliki keinginan untuk merubah perasaanku.

Lagu terus mengalun menghanyutkanku ke dalamnya. Bait-bait lirik itu terus merasuk ke dalam hati. Aku kembali mendongak dan menatap bintang-bintang.

Byeol, byeol, byeol, byeolman keum saranghae

      (Love you as much as the stars, stars, stars, stars)

      Watdeon geoya neoreul chaja jeo meolliseo neon shining star

      (I came for you to find you, you’re that far shining star)

Ya, benar. Aku kemari kembali ke Seoul untuk menemui Minho. Ingin sekali lagi mencoba meluluhkan hatinya. Namun, setelah semua yang kuinginkan kudapatkan, mengapa harus berakhir seperti ini? Aku ingin bertemu Minho. Benar-benar ingin melihatnya dia saat ini juga.

Ponsel kembali menyala. Aku baru ingat ada pesan dari Jinki.

LJOnew: Kau tak apa-apa?

Buzz

JiraKim: Apa?

LJOnew: Dramanya baru saja selesai, bukan? How u feeling?

Aku menghela napas, dada ini tidak pernah tidak berhenti sesak jika hal-hal menyangkut Minho diungkit orang lain.

JiraKim: I feel fine.

LJOnew: Fine’s not really a feeling though.

JiraKim: Fine’s a feeling!

JiraKim: ‘I feel fine’… U could say that. People say that.

LJOnew: Yeah, sure. U can say that. Um, ayo kencan!

JiraKim: It’s midnight. Mau kemana?

LJOnew: Kita diskusikan jika sudah bertemu. Er, aku tak bisa menjemputmu. Tak ada mobil.

JiraKim: Tak apa-apa, aku ke dorm sekarang.

LJOnew: Tidak usah. Kita bertemu di coffee shop dekat apartemenmu saja. Ini sudah pukul 12.15 malam.

JiraKim: Tidak. Aku ke dorm sekarang. Aku berangkat.

Aku buru-buru menata rambut dan berdandan sebaik mungkin. Lalu memilih baju dan coat yang menurutku baik dari dalam lemari. Setelah selesai, aku keluar kamar.

“Wah, Jinki daebak,” sindir eomma yang sedang tenggelam dengan novelnya.

“Aku pergi, Mom.”

“Selarut ini? Apa kau abnormal atau semacamnya?!”

Aku mengangguk malas didikte seperti itu. “Bye.”

+++++++

PONSEL kembali menyala dan aku tak memedulikannya. Entah sudah berapa belas kali Jinki menghubungiku, tetap tak kuacuhkan. Aku bersikukuh untuk tetap datang ke dorm. Mungkin terdengar sinting, tapi tujuanku kemari memang untuk melihat Minho. Aku sangat merindukannya.

Aku masih menaiki tangga saat pintu dorm SHINee terbuka. Seseorang berperawakan tinggi keluar dari sana menenteng trashbag hitam. Minho menghentikan langkahnya saat melihatku.

“Oh, annyeong,” sapaku kaku sambil setengah merunduk.

Dia hanya mengangguk. Aku melihat jari manisnya, cincin kami sudah tak berada lagi di sana. Hatiku serasa dicabut dari tempatnya. Perih…

“Onew-hyung menunggumu,” ujarnya sambil berjalan menuruni tangga melewatiku.

“Tapi…”

Ia menghentikan langkahnya dan kembali berbicara tanpa berbalik menatapku. “Jangan kecewakan dia, kumohon! Anggap ini permintaan terakhirku.”

Aku berbalik dan memandangi punggungnya.

“Berusahalah untuk menjadi orang yang bahagia jika sedang berada di sisinya. Jawablah pesan-pesannya dengan baik, jawablah panggilan-panggilan teleponnya. Dan katakanlah padanya kalau kau… mencintainya…”

Aku hanya diam. Dadaku semakin sakit.

Ia melanjutkan, “Jangan gunakan alasan konyol untuk menemuiku di sini. Hubungan kita sudah berakhir. Kita tak dapat memperbaikinya.”

Lirik lagu SNSD yang kudengarkan tadi kembali muncul ke permukaan. Membuat kesakitan yang mengendap di hatiku menyesak seperti akan meledak.

      Mot dahan yaegil kkeonae honjat malppun irado, oh baby

      (I couldn’t say everyting I wanted to, so I say them to myself, oh baby)

      Neol dollyeo dallago nal bonae dallago, ni gyeote

      (I want you back, I want to go back to your side)

Refleks, aku memeluknya dari belakang. Ini… punggung ini yang kurindukan. Aroma tubuh ini yang selalu ingin kuhirup. Postur tubuh seperti inilah yang kuinginkan. Demi Tuhan aku sangat merindukannya. Aku benar-benar tak peduli ia berakting tak acuh padaku saat ini. Itu hanya penampilan luar. Minho masih mencintaiku, aku meyakini hal itu.

“Aku percaya,” gumamku. “Aku percaya ucapanmu di mobil saat itu.”

Dia terdiam. Tak lama kemudian berkata, “Lepaskan!”

“Tak mau. Aku sangat merindukanmu.”

“Kau hanya akan menyakiti Onew-hyung jika terus seperti ini. Lepaskan!”

Mau tak mau aku melepasnya. “Aku juga tersakiti, tolong jangan lupakan hal itu!” isakku.

Ia terdiam cukup lama, lalu perlahan-lahan menjatuhkan trashbagnya dan berbalik menghadapku. Ia terkejut melihatku menangis, kemudian ia menaiki beberapa anak tangga dan tiba-tiba kedua tangannya menyeka air mata di wajahku. Wajah kami saling berdekatan, hanya menyisakan jarak beberapa senti. Sekarang aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menerpa wajahku. Bisa kembali merasakan tangannya yang hangat menyentuh kulit wajahku merupakan hal yang luar biasa. Aku sangat senang.

“Kumohon berhenti menangis!” pintanya. “Jangan temui Onew-hyung dengan wajah seperti ini! Aku tak ingin ia khawatir dan memikirkan banyak hal. Ayo cepat masuk temui dia!”

Jantungku seakan berhenti berdetak. Jadi ini tujuannya memperlakukanku kembali seperti ini?

Kutepis kedua tangannya dengan kasar hingga cukup membuatnya terkejut. Aku menangis tertahan dan ini sangat menyiksa. “Jadi ini yang kau inginkan?” tanyaku berang.

Dia hanya diam melihatku.

“Baik. Aku akan melakukan apa yang kau minta…”

“Noona…”

“Ya, aku kekanakkan, Choi Minho. Aku menjadi kekanakkan jika menyangkut hal-hal yang berhubungan denganmu.”

Aku berbalik meninggalkannya masuk ke dalam dorm. Setelah pintu menutup, aku bersandar lemas di baliknya. Kulihat Kim Jonghyun tengah berdiri di depanku. Sepertinya ia dari ruang TV dan hendak ke dapur, namun terhenti setelah melihatku muncul dalam keadaan kacau seperti ini.

“Jira-ya,” panggilnya. Ia meletakkan gelas ke meja makan kemudian menghampiriku. “Kau kenapa?”

Aku menariknya untuk masuk ke dalam toilet terdekat dan menutup pintu. Tangisku perlahan-lahan mengeras. Ia memandangiku bingung dan panik, lalu mendudukkanku di atas kloset yang tertutup.

“Ini salahnya…”

“Nugu?”

“Semua ini salahnya!”

Jjong berlutut di sampingku. Ia menarikku ke dalam pelukannya. “Aku mengerti maksudmu. Aku tak bisa berbuat banyak. Kau tahu sendiri seperti apa posisiku.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Tapi lakukanlah semuanya dengan bijak.”

Ia membantuku menyeka air mata kemudian bangkit dan membuka pintu. Di luar sudah ada Kibum yang berdiri mematung menunggui kami. “Aku sempat mendengar Jonghyun-hyung menyebut namamu, Noona,” ujarnya kaku. “Gwaenchanayo?”

Aku mengangguk.

“Onew-hyung baru saja keluar menungguimu di bawah. Ia pikir kau belum sampai.”

Aku segera mengeluarkan ponsel untuk mengabarinya. Setelah itu duduk di meja makan menunggunya kemari sambil menyesap minuman hangat yang dibuatkan Kibum. Tak lama kemudian pintu terbuka, aku memasang wajah ceria untuk menyambutnya, namun itu bukan Jinki melainkan Minho yang baru kembali membuang sampah. Lagi-lagi ia seperti terkejut saat melihatku. Kupalingkan wajah secepat mungkin karena dadaku kembali berdegup kencang. Ia dengan santai melepaskan sepatunya dan berjalan masuk menonton TV.

“Di mana Taemin?” tanyaku mencairkan suasana.

“Di perusahaan berlatih vokal,” sahut Kibum seraya menatap Jonghyun. Kurasa ia menyadari kecanggungan antara aku dan Minho.

“Selarut ini? Dia butuh istirahat…,” lirihku sambil terus memandangi cangkir.

Pintu kembali terbuka dan kali ini benar-benar Jinki. Dengan asal ia melepas sepatu dan berjalan menghampiriku. “Yaaa, bagaimana bisa kau ada di sini?”

“Surprise,” pekikku.

Ia tersenyum lembut. “Ayo, berangkat sekarang!”

“Hm, tunggu. Aku harus menghabiskan ini atau tamat riwayatku,” aku menunjuk cokelat panas buah karya sepupuku.

“Pintar,” puji Kibum―lebih terdengar seperti meremehkan.

Aku menenggaknya hingga tandas. “Okay, let’s go!” ajakku. Jinki tersenyum semakin lebar melihat tanggapan positif dariku. Jonghyun hanya menggelengkan kepalanya sok tua. Dan sebelum pergi, aku sempat melirik Minho, ia menonton pertandingan sepak bola tanpa gairah, seluruh tubuhnya kaku dengan tatapan mata yang kosong. Ini sangat tidak normal.

+++++++

JINKI mengajakku jalan-jalan mengelilingi kompleks dorm. Seharusnya aku sadar kalau hal ini membuatku kesal karena itu berarti usahaku berdandan sia-sia. Tapi entah kenapa aku senang. Setidaknya aku masih berada di sekitar Minho.

“Masih ingatkah dulu aku berniat mengajakmu pergi setelah melakukan debut di MuBank? Itu artinya seminggu setelah debut di Inkigayo.” (Baca part I)

Aku mengangguk.

“Inilah maksud tujuanku…,” ujarnya dengan kedua tangan terlentang.

“Ini?” tanyaku heran. Karena di hadapan kami saat ini hanyalah jalanan kosong di mana kiri-kanannya dipenuhi pohon yang berderet.

“Kemarilah,” Jinki menarik tanganku mendekati sebuah pohon, lalu mengeluarkan sekop kecil dari balik coatnya. Kemudian mulai menggali hingga ujung sekop mengenai sesuatu yang keras—sebuah kotak. Ia mengangkat kotak tersebut dari dalam tanah.

“A-apa ini? Harta karun?” godaku.

Dia tersenyum. “Ya. Bukalah!”

Aku membukanya dan menemukan enam buah gulung kertas di sana. “I-ini…”

“Kau masih ingat?”

Tentu saja. Kertas-kertas itu milik SHINee dan aku. Kami menulisnya saat masih trainee sekitar tiga tahun yang lalu. Di mana mereka telah dipersatukan dalam sebuah grup tetap oleh perusahaan. Tidak sepertiku, aku masih tergabung dalam grup-grup percobaan.

Jinki mengajakku duduk di atas bangku batang kayu. “Aku ingin kau membaca semuanya.”

“Tapi ini bukan hanya milik kita.”

“Tidak apa-apa. Bacalah!”

Aku menurut dan mengambil gulungan pertama lalu membacanya.

Aku ingin debut cepat!!! Tuhan, kabulkan doaku…

-Kibum 2007.02.14

Ya, benar. Kami semua menulis harapan-harapan ini di hari Valentine. Aku masih ingat mereka berlima menulis ini sambil mengunyah cokelat yang kuberikan. Aku mengambil gulungan kedua.

Semoga pertumbuhan tinggiku tidak berhenti sampai di sini. Dan ngomong-ngomong, apa Kim Jira ingin membunuh kami dengan cokelat pahit ini?

Aku tersenyum kecut. Lantas kenapa saat itu kalian semua memuji cokelatku enak?! Menyebalkan! Dan sayang sekali permohonanmu tidak terkabul, Jonghyun-ah.

“Cokelat itu memang sangat pahit, Jira-ya. Mianhae…,” celetuk Jinki.

Aku menyikut rusuknya dan ia terkekeh puas. Gulungan selanjutnya sudah berada di tanganku.

170 cm… Setiap hari aku banyak minum susu. Kuharap aku bisa setinggi Changmin-sunbaenim dan mendapatkan pacar secantik Jira-noona.

“Wah, anak ini benar-benar…”

“Aku sudah membaca semuanya. Sorry…,” Jinki sedikit salah tingkah, “…aku membacanya sebelum mengubur ini semua. Semoga kau tak lupa kalau kalian yang menyuruhku sendiri untuk menyimpannya,” jelasnya setelah mendapat tatapan tak percaya dariku.

Aku sudah memegang gulungan milik Jinki.

Aku ingin debut secepatnya dan menikahi Kim Jira di usia 27…

“Wah, Oppa…”

“Belum selesai. Bacalah milik Minho!”

Aku menurut dan membuka gulungan milik Minho.

Shim Chaesa… Kim Jira?

Hanya itu… dan sanggup membuat wajahku memanas di tengah angin dingin yang menusuk kulit. Itu artinya Minho sudah memperhatikanku sejak dulu? Baiklah ini terlalu percaya diri, tapi…

“Dia memilih Shim Chaesa,” celetuk Jinki. “Dia mencintai dua gadis sekaligus. Pria tamak!”

Aku diam.

“Tapi pada akhirnya dia memilihku…”

“Setelah ditinggalkan gadis itu, tepatnya. Jika Chaesa tak meninggalkannya, apa dia akan memilihmu?”

Aku kembali terdiam. Dadaku berdenyut. Pedih…

“Jangan bicarakan hal itu lagi. Cari topik lain!” dumalku sambil menaruh kembali kertas-kertas tersebut ke dalam kotak.

Jinki menatapku lekat. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan aku yakin sekali kalau itu cincin. Ia menarik tanganku, namun mengurungkan niatnya memasangkan cincin tersebut ketika melihat jari manisku sudah terpasang cincin pemberian Minho.

“Aku terlambat,” desahnya.

Aku melepas cincin dari jari manisku. “Maaf…”

“Tak perlu minta maaf. Jira-ya, jujurlah padaku. Apa kau baik-baik saja?”

“Y-ya.”

“Bodoh! Jangan bohong padaku, itu percuma.” Jinki mengantongi kembali cincinnya. “Sakitkah?” tanyanya sambil menatap mataku dalam.

Aku masih diam dan membalas tatapannya.

“Apa ini sakit?” tanyanya lagi sambil menunjuk dadanya. Tanpa terasa bulir air mata meluncur turun di pipiku. “Kumohon jangan katakan ‘aku baik-baik saja’ karena kalimat itu membuatku tak berhenti mencemaskanmu.”

“Sakit,” cicitku.

“Eh?” tanya Jinki.

“Sakit, Oppa,” isakku, kemudian memukul-mukul dadaku sendiri. “Di sini… sangat sakit.”

Jinki memelukku erat. “Mianhae.”

“Ini salahmu. Aku berpisah dengan Minho karenamu. Semua salahmu!” aku meracau tak jelas. “Dan sekarang aku dalam posisi seolah-olah gadis jahat yang menyakitimu karena tak membalas perasaanmu.”

“Mianhae, Jira-ya. Aku benar-benar minta maaf.”

“Aku bukan Bella yang juga mencintai Jacob, Oppa. Aku hanya mencintai satu pria.”

“Aku tahu…”

“Maaf, Oppa, maafkan aku…”

Kudengar suara Jinki memberat, sepertinya ia menangis juga. “Tidak. Akulah yang seharusnya meminta maaf.”

“Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, kita baik seperti ini. Aku takkan pernah bisa memastikan perasaanku akan berubah. Aku tahu ini sangat egois…”

“Tidak. Tidak apa-apa…”

Aku merosot di pangkuan Jinki. Dia semakin memelukku erat dan tak hentinya meminta maaf. Angin yang sangat dingin menusuk kulit kami. Entah berapa derajat tepatnya, Jinki memelukku erat untuk menghangatkan tubuh kami. Pukul 2 AM, aku kembali menangisinya…

      Tto ulji mallago nal dajim haebwado, tto ureo

      (I promised myself I wouldn’t cry again, but I’m crying again)

 

..to be continued..

 

 

#Annyeong^o^/ Aku bingung mau ngasih judul apa, jadi berakhir kayak gitu. Nyahahah~ Semoga part ini gak mengecewakan. Kalo iya pun, saya minta maaf. Keke~

#Buat yang kangen ama si Baby, next part dia ngeksis. Bocoran, judulnya “Lotte World”. Udah ketebak dia bakalan girang maen. Hehe~

#As usual, gimme ur comments, pelase! Sebagai suplemen untuk ngelanjut part selanjutnya. Sama buat penyemangat ‘semedi’ nentuin bakal sama siapa Jira nanti.

#Gomapta~ Bye-bye-bye… Pyeong-pyeong-syeong~~~*

 
6 Comments

Posted by on July 3, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , ,

6 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part XIV] – I’m Not Isabella Swan, Jinki!”

  1. vanny

    July 4, 2011 at 9:08 AM

    nyesek banget ya…..
    tapi ntah napa aku tetep pengen jira ama jinki kekekeke *maapminho*
    aku jg tapi mikir minho mau balikan lagi ama jira pas dipeluk ternyata cuma kasihan doang hehehe
    keknya minho POV perlu neh hehehe *maruk*

     
  2. tEa

    July 4, 2011 at 9:46 AM

    yah dah kelar…
    masih kurang panjang hehehe
    lanjutannya ya…
    keren banget ne…

     
  3. reenepott

    July 4, 2011 at 3:18 PM

    aih… aku masih bete sama minho….
    maksudku jira ama donghae itu, tambahin cast baru aja, yaitu donghae.. XD*ditabok diya eon*
    abis aku keki sumpah sama minho geh.. ama jinki juga… =3=
    keki bener aku ne, kaga ada minho pov sie… jadi ga tau perasaannya minho tuh kayak mana… coba kalo juga cinta ama jira, pasti kudukung deh!!!
    tapi kalo engga, nyesel aku pernah ngedoain jira ama minho… mending ama taemin aja….
    ama key ga mungkin… ama taemin… kaga mungkin juga… secara gitu taeminkan udah kaya anak sendiri (?) jjong apalagi, tambah nggak mungkin….==”
    tapi tetep kutunggu lanjutannya….
    ayo ayo…
    makin rame ceritanya… @_@

     
  4. ienav41

    July 10, 2011 at 12:20 AM

    Huweeeee….
    DIYAAAAAAAAAAAAA
    I’m coming…….
    *jingkrakjingkrakkk

    huwaaaaaaaa..
    aku udahh lma nih ga nongol di dunia maya
    kekeekkekek
    spertii biasaaaa,,, aku udahhh bca dri pas kluar sbnernyaaa
    tpiii ga bsaaa komennnn gragra OL di HP
    tpiii bennernya krna binguung jg mau komen apaaa
    sakingg bnyakknya protess dan kglauan akuuu sma ff kmu yang satuu ini
    rasanya pengen dehh terbang mnyusul kmu k bndungg bwat mencakmencak biar JINKI sma JIRA ajj
    hahahah
    *pliis dehh bndung-bogor aja pke terbagn sgaala
    kekkekekkk

    sblmmnya…
    CONGRATULATION !!!
    akhirnyaaa yahhhh..
    we wlk update juga dsiniii mskipun di SF3SI lbih updett
    ayyoo nenggg !!!
    smngat diuruss dong page nyaa..
    pdahal tiap hari aku bka page kmu lohhh bwat ngliad apakh ada yng bru dri page kmuuu
    ayyooo donggg …
    bhagiakan reader..
    Don’t let us go !! ^o^ —>> reader bnya maunya

    skrangg waktunya komenin ff muuu..
    drengdrengdrengg
    I’m not Isabella Swan,,jinki
    dariii judulnyaaa aja yahh aku udahh nebak isinya
    tuhhh kann bnerrrrr
    heyyy DIYAAA…..aku mnagihhh janjimuu untuk tidak membuat ayang jinki kuu mndrita
    tapia apppaaaa ???
    *pke nada sinetron

    huhuhuhu..ToT
    diyaaa…part ini seddihhh bngettt
    akuu jadi brasa jadi Jira dehh
    tpi klo aku jdi Jira mahh aku pilih Jinki lahhh
    *tendang minho jauh jauh

    aku ngliad komen reader d SF3Si jga pda galau mreka kyaa akuu
    kasiannn bngett si Dubuu…tpi minho jira jga kasiaannnn
    psti kmu snang krena kmi pra reader jdi galau ???
    gra gra ff ini yahhh diya…
    aku jdi lagi suka bnget sma lagunya snsd byeol..byeol
    jadi trhanyutt gtuuu
    *ingettt sedihnyaa jinki—–*loohh?

    oiyaa..pas jira ama jjong didlam kmar mndi sii jjong bilang ini salahnya mksudnya salh jinki yaa?
    ehhh pas bgian hrta kaaruunn jinki nya so sweet bngettt
    aku sukaaaa..tuh kan dia udah cinta sama jira dri lamaaaa
    ehhh tpi bête sama minhoo…dia ababil ahh…cintanya ga setia kya jinki yng tetp brthann

    tpii ku ngrasa kyanya ff ini bkal brakhir dengan minho sma jira
    bnerkannn??
    *ngacungin golok

    yaudahhlahhh diyaa….
    klo emang sedddiihh mulu blikin ajj si jira ama minhooo
    stresss aku di buat mrekaaa—–*loohh??

    tpii jinki dicriin cinta yng bruu yahhhh
    yang cintanya lbihhh dlm dri cinta dia ke jira
    msukinnnn tkoh bruuu dehhh
    aku ajj gmnaaaa??
    *tariktarik baju diya

     
  5. ienav41

    July 10, 2011 at 12:25 AM

    ihh diyaaa..komenn aku pnjangg bnget
    mapp yhhh
    nyamphh bginiii
    cma pngn crita prasaan aku sma ff muu
    *loohh???
    bingung mau crita sma syapa klo bkan kmu

     
  6. RRyyy

    July 15, 2011 at 5:07 PM

    onnie….
    entah napa ya, aku pengen jira ma jinki ajha…
    hhe….
    ntar jira harus ma jinki ya….
    HEHEHE

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: