RSS

Super Junior Fanfiction: “Am I Marrying The Right Man? (Siwon’s Diary 3)”

05 Jul

 

AKU sedang meeting bersama member dan para petinggi SM membicarakan masa depan Super Junior ketika ponsel tak henti-hentinya bergetar. Shindong-hyung yang berada di sampingku merasa terganggu dan menyuruhku untuk keluar dan mengangkatnya.

      “Choi Jiwon, ada apa?” tanyaku sebal.

      “Oppa, cepat pulang sekarang juga!” ia memerintah seenaknya.

      “Tak bisa, aku sedang meeting penting…”

      “Aku tak mau tahu. Kami memiliki kabar gembira mengenai masa depanmu. Ayo cepat pulang! Aku juga sudah meminta eomma-appa untuk segera pulang.”

      “Tapi…”

      TUTS! Telepon di tutup. Sungguh menyebalkan. Ia kembali ke wataknya semula, seperti sebelum menikah dengan Changmin.


 

      Aku kembali ke dalam dan meminta izin pada mereka semua. Dan beruntung, aku diizinkan. Selama mengendarai mobil, aku tak berhenti berpikir. Kabar gembira apa yang ingin disampaikan Jiwon?

      Sesampainya di rumah, aku bisa mendengar Jiwon sedang beradu mulut dengan appa. Dan ketika melihatku, dengan mata berbinar ia menyambutku. “Oppa, terima kasih telah datang di tengah-tengah kesibukanmu.”

      “Adaapa sebenarnya?” tanyaku penasaran.

      Kulihat Jiwon menarik lengan Chaesa, di mana ia mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas dan memberikannya padaku. Aku mengerutkan dahi, bingung. Setelah terbuka, kutarik secarik kertas yang kutahu hasil dari laboratorium. Aku tak terlalu paham dengan bahasa ilmiah, namun ada beberapa kata bercetak tebal yang berhasil menarik perhatianku:POSITIF HAMIL.

      Jantungku berdebar keras. Aku tersenyum girang mendapat kabar baik ini. Kulempar kertasnya dan berlari melompati sofa lalu memeluk erat Chaesa. Ini adalah sebuah anugerah terindah yang  pernah hadir dalam kehidupanku. Aku akan menjadi seorang ayah. Chaesa akan memberiku anak.

___

Dua minggu kemudian…

      “Oppa.”

      Aku menoleh dan mendapati Heebon tengah melongokkan kepalanya dari pintu. Ia tersenyum riang seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Semudah itukah ia melupakan kata-kataku tempo hari?

      “Wae?” sahutku.

      “Ayo jalan-jalan denganku!”

      “Tidak bisa, aku sedang berdiskusi membicarakan filmku.”

      Heebon mengerucutkan bibirnya sebal. Aku tersenyum melihatnya. Dasar anak nakal!

      “Baiklah,” aku menyetujuinya dan bangkit menyambar jaket dan menarik kepala Heebon seraya mengacak rambutnya.

      “Hyung.” Aku menoleh dan mendapati Kyuhyun di belakangku. “Hyung, mau pergi? Apa aku boleh ikut? Aku mau ke toko buku di kawasan Gwangjin.”

      “Kami tidak akan kesana, Kyuhyun-ah,” sahut Heebon seraya menarik Siwon untuk segera pergi darisana.

      “Astaga, hantu wanita ini pelit sekali.”

      Aku tertawa mendengar mereka yang selalu bertengkar jika bertemu. “Kyuhyun-ah, mianhae. Aku akan mengantarmu lain waktu.”

      “Tidak perlu,” sahutnya ketus. Sungguh magnae yang sensitif!

HEEBON memintaku untuk pergi naik kendaraan umum. Kami menanggung resiko besar dan bodohnya entah mengapa aku menyetujui ide gilanya ini. Kami menyamar, seperti biasa, dan ia selalu berusaha menggandeng tanganku walaupun aku tak mau.

      “Oppa, sudah kuputuskan, aku takkan menyerah padamu.”

      “Keras kepala!”

      “Memang…”

      Aku memutar bola mata jengkel. “Yaa, Chaesa akan memberiku anak. Saat ini kami sedang menantikan anak pertama kami. Menyerahlah!”

      “Aish,” ia melepaskan gandengannya. “Sebelum oppa mati, aku takkan pernah menyerah.”

      “Ya, ya, ya! Jangan berbicara sembarangan. Kau benar-benar anak yang keras kepala.”

      Kupalingkan wajah ke sisi lain jendela. Samar-samar aku seperti melihat Chaesa bersama pria yang kukenal. Hey, bukankah itu Kyuhyun? Sedang apa mereka di sini?

      Bus berhenti. Kami turun di halte dan Heebon menarikku untuk masuk ke sebuah toko es krim. Karena penuh, aku menunggu di luar membiarkan dia mengantri berdesakan di dalam. Sebuah mobil berhenti tak jauh dariku. Tak seperti biasanya, saat ini aku sedang senang mencampuri masalah orang lain. Maka dari itu, aku tak berhenti memperhatikan si pengemudi yang sedang memeluk seseorang di sampingnya. Tapi… tunggu, bukankah itu Donghae? Dan… Chaesa?

      Tanpa sadar aku mengepalkan kedua tangan. Jadi inikah yang mereka lakukan selama ini di belakangku?

      Heebon keluar membawa dua buah es krim di kedua tangannya. Aku berjalan menghampiri mobil itu dan tak sengaja menabrak Heebon hingga es krimnya terjatuh. Kupukul kaca mobilnya dan mendapati Chaesa terkejut melihatku.

      “SIWON?!” pekiknya, sambil menurunkan kaca.

      Aku berteriak. “Untuk apa kalian berpelukan? Kalian pikir aku tak tahu? Chaesa, jadi ini yang kau lakukan selama aku tak ada?”

“Aniyo. Siwon, kau salah paham!”

      Aku menendang ban mobil lalu pergi meninggalkan mereka dengan Heebon yang terus mengikutiku. Kudengar Chaesa berteriak di belakang memanggilku.

      “Oppa, berhenti, jangan seperti ini!” pinta Heebon.

      “Jangan ikut campur masalahku, Heebon-ah!”

      “Oppa, bukankah Chaesa-eonni tengah mengandung? Tidak baik jika ia terus berlari seperti itu. Oppa!”

      Aku kesal mendengarnya sok peduli seperti itu. Bukankah beberapa waktu lalu ia mengatakan takkan menyerah untuk mendapatkanku, mengapa sekarang berusaha untuk bersimpatik? Kurasakan Heebon mencengkeram lengan kananku, itulah mengapa aku tak peduli dan terus berjalan membiarkannya terseret. Sungguh aku tak peduli. Lambat laun cengkeramannya itu semakin dalam hingga kuku-kukunya menancap di lenganku. Buru-buru kutepis. Namun yang kudengar adalah suara Chaesa. Barulah aku sadar kalau yang mencengkeram tanganku tadi adalah dia, bukan Heebon.

      Ia terjungkal dan jatuh ke jalan dengan keras. Beruntung Donghae segera berlari ke arahnya melindungi kepalanya hingga terbebas dari benturan. Kulihat ada sesuatu yang mengalir di sela-sela pahanya. Ia mulai merintih kesakitan. Donghae menyentuh pahanya, dan kulihat telunjuknya dipenuhi darah.

      “ANDWAE! Chaesa-ya, maafkan aku!” aku mulai berteriak gila dan tanpa pikir panjang langsung menggendongnya dan berlari menuju rumah sakit.

      “Kita pergi dengan mobilku,” teriak Donghae. Aku tak menyahutnya. Yang kuinginkan adalah segera sampai di rumah sakit.

      Chaesa pingsan di pangkuanku. Sesering apapun aku memanggilnya, ia tetap tak membuka matanya. Aku sungguh menyesal dan benar-benar idiot. Sungguh idiot! Lagi-lagi Chaesa menderita karenaku.

      Sesampainya di rumah sakit, Chaesa segera dibawa ke emergency, sedangkan aku menerima bantuan oksigen dan tak sadarkan diri.

Beberapa minggu kemudian…

Kaleng-kaleng softdrink berserakan di sisiku dan sebagian lagi kulempar ke bawah gedung, aku sedang di atap sekarang. Entah sudah menghabiskan berapa kaleng, aku masih belum puas menenggaknya lagi dan lagi. Kebodohan beberapa minggu lalu yang kulakukan terus berputar di kepala. Mengapa memoriku begitu kuat menyimpan kejadian itu dibandingkan kejadian-kejadian lainnya yang menurutku lebih penting? Aku terpuruk saat ini. Menjadi peminum memang tak menyelesaikan masalah. Dan menenggak tandas minuman berkarbonat juga sama-sama tidak menyelesaikan perkara. Siwon yang idiot ini benar-benar pengecut dan menjadi pecundang di hadapan rivalnya…

      “Masih seperti ini,” sebuah suara yang membuatku muak muncul dari belakang. Ya, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae. Dia semakin menginjak-injak harga diriku setelah kejadian itu. “Belum menemui Shim Chaesa?”

      Aku tak memedulikannya. Hanya mengalihkan perhatian dengan menenggak softdrink. Ini lebih nyaman daripada harus beradu argumen dengan orang sok polos seperti dia.

      “Hei, aku benar-benar bersimpati padamu…”

      Belum selesai ia dengan kalimatnya, aku sudah berbalik dan menyerangnya dengan mencengkeram kerah jasnya kuat-kuat.

      Dia tersenyum meremehkan dan ini membuatku semakin muak. “Habisi aku sekarang, Choi Siwon, sebelum istrimu jatuh ke tanganku.”

      Aku mendorongnya hingga ia terguling. Tak melanjutkan pertikaian, aku malah menangis layaknya pecundang. Hatiku terlalu sakit untuk melanjutkan hidup seperti ini. Calon anakku pergi karena perbuatanku sendiri dan kini istriku pergi entah kemana. Ini benar-benar kebodohan paling menjijikkan yang pernah kulakukan seumur hidup.

      Aku berjongkok membiarkan air mata terjatuh dan ini membuatku sedikit lebih nyaman. Setidaknya aku bisa melampiaskan rasa sakit yang ada di hati. Donghae sudah berada di sisiku sekarang dan ia menarik kail kaleng dan menenggaknya hingga tandas.

      “Mianhae,” ujarnya santai.

      “Ini yang kau inginkan, bukan?” tanyaku muak.

      Dia hanya diam dan membuka kaleng kedua.

      “Tak habis pikir persahabatan kita rusak hanya karena seorang wanita,” ujarku lagi. “Ini yang kau inginkan?”

      “Aku tak pernah mengharapkan persahabatan yang seperti ini. Tapi kuharap ini bukanlah akhir. Aku kemari ingin memberitahu kalau Chaesa sudah kembali. Dia sudah ada di rumahmu.”

      Dia pergi dan aku kesal mendapat kabar baik dari mulutnya…

AKU kembali ke rumah setelah ikut menghilang seperti Chaesa yang pergi karena tak ingin bertemu denganku. Aku tahu dia marah dan kali ini sepertinya kesalahan fatalku takkan termaafkan, aku menyadari hal itu. Namun tahukah kau kalau hatiku tersiksa? Batin tersiksa nyatanya lebih lelah dibandingkan latihan menari selama 10 jam non-stop.

      Chaesa menunduk menghindar untuk menatapku ketika hampir seluruh anggota keluarga menyambut kedatanganku. Semuanya mengira aku pergi dan tinggal bersama Chaesa. Itu tidak benar, itu hanya alibi. Aku meninggalkan rumah karena malu dan merasa jijik pada diriku sendiri. Mungkin kedengaran masuk akal bagimu, namun kalimat ‘akulah penyebab anakku mati’ benar-benar menyiksa dan tak berhenti berputar di kepala. Jadi kuputuskan untuk menginap di dorm dan berkata menyusul akan Chaesa pada keluarga.

      Aku masih belum berani mengatakan sejujurnya apa yang telah terjadi pada mereka. Kesehatan eomma menurun setelah perjodohan konyol yang menimpa Jiwon tahun lalu. Ia masih sangat terpukul dengan kematian Changmin dan kedua calon cucunya. Jadi, aku tak ingin menambah beban hidupnya lagi.

      Kutarik tangan Chaesa dan mengajaknya ke kamar. Ia menurut.  “Adaapa ini?” tanyanya saat kami sudah berada di kamar.

      Aku menghela napas berat dan menatapnya lekat-lekat. “Mereka tak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Setelah kau pergi, aku juga meninggalkan rumah dan mengatakan pada mereka bahwa kita tinggal bersama…”

      “Ne?!” tanyanya terkejut.

      “Mereka pikir kau jatuh dan kehilangan janinnya…”

      “Apa?” ia mendengus tak percaya. “Mengapa kau tak mengakuinya? Apa kau takut? Pria macam apa kau?”

      “Ya. Aku takut, sangat takut. Kesehatan eomma mulai terganggu sejak kami kehilangan Changmin juga janin yang dikandung Jiwon. Aku juga tak ingin ia mengalami hal yang sama, walaupun memang sulit karena eomma selalu saja menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Jadi, kumohon bantu aku untuk menyembunyikannya!”

      Air matanya mengalir membentuk aliran sungai kecil. Sungguh menyakitkan menyaksikannya seperti ini. Dadaku mulai sesak. Apa yang harus kulakukan? Aku tahu sikapku ini benar-benar pengecut!

      “Setelah mendengar kabar bahwa kau pulang, aku langsung kemari. Kumohon demi kesehatan eomma, simpan rahasia ini ba…”

      “Kau telah membunuh anakmu sendiri,” pekiknya seraya memukul-mukul dadaku, “Selama ini aku sangat menantikan kehadirannya. Mengapa malah kau yang melepasnya pergi?!”

      Hatiku mencelos dan merasa mual. Bahkan dia pun berpikir hal yang sama denganku. “Chaesa,” panggilku.

      “Kau tak berperasaan! Kau menuduhku berselingkuh padahal kau sendiri yang selingkuh. Dan kau juga membunuh janinnya. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?! Jika kau membenciku, aku akan pergi selamanya dari kehidupanmu.”

      “Chaesa…”

      “Aku rela menyerahkanmu pada Cho Heebon. Jika itu maumu, aku bersiap cerai darimu…”

      Hentikan!

      Aku memeluknya erat. Sangat erat. Demi Tuhan bukan seperti ini yang kuinginkan. Permintaannya benar-benar membuatku frustasi dan cukup berhasil membuatku ketakutan. Jika kita berpisah, aku harus bagaimana? Apa yang akan terjadi denganku jika kita berpisah? Aku bahkan tak sanggup membayangkan harus kehilangan dia. Aku tak ingin berpisah jauh dengannya.

      “Jika kita berpisah, apa yang akan terjadi pada…,” aku menarik napas, rasanya sulit untuk mengakui perasaanku, sulit sekali menambahkan kata ‘aku’ di belakangnya. “…eomma?” gumamku dan seketika setelah itu, rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri. Bodoh!

      “Lepaskan!” pintanya kasar.

      “Tak mau.” Aku mempertahankan posisi kami.

      “Kubilang lepaskan!” ia mendorongku keras. “Kau…tidur di kasur saja. Biar aku di sofa…”

      “Mana mungkin aku…”

      “TIDUR SAJA DI KASUR!” teriaknya membuatku terkejut. Aku tak pernah melihatnya sekasar ini. Ini berbanding terbalik dari kepribadiannya yang lemah lembut. Dan yang menyakitkan, aku harus mengakui kalau akulah yang menyebabkannya seperti ini.

KEESOKAN paginya aku terbangun dan tak menemukan Chaesa di sofa. Dia sudah bangun lebih dulu. Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat ia berbalik untuk kembali keluar kamar dan kembali ke bawah, namun aku bergerak cepat dan memeluknya dari belakang. Berharap perlakuanku ini dapat mengubah perkataannya semalam yang meminta berpisah dariku.

      “Lepaskan!” pintanya dingin.

      Kuletakkan kepala di bahu kanannya dan mengeratkan pelukanku pada perutnya, “Tak mau.”

      Ia melepas paksa kaitan tanganku dari perutnya, “Eomonim sudah menunggu kita di bawah.”

      “Oh ya, apa ia sehat? Kulihat kemarin ia sangat pucat…”

      “Sangat sehat!”

      Aku melepaskannya dan ia buru-buru melangkah keluar kamar. Setelah berpakaian, aku menyusulnya ke bawah dan duduk di kursi meja makan di sampingnya. Aku menyapa riang seluruh anggota keluarga. Kami saling bercengkrama, hanya Chaesa sendiri yang makan dalam diam. Dia tak pernah luput dari pandanganku.

      “Chaesa-ya, hari ini kau mau kemana?” tanya appa riang.

      “Seperti biasa, studio balet. Kami sudah mendapatkan murid sekarang…,” kudengar Jiwon tersedak.

      “Bukankah murid baletmu memang sudah ada sedari dulu?”

      “Ah?” pekiknya tak wajar. Aku terus memperhatikannya. Wajahnya berubah merona dan terlihat sangat gugup. Sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu, ia bukan penipu handal, jadi percuma melakukan itu di hadapanku. Ia melanjutkan, “Oh, ne. Maksudku, kini haksaengnya semakin bertambah banyak.”

      Appa mengangguk dan melanjutkan sarapannya. Chaesa bernapas lega. Sudah kuduga, dia menyembunyikan sesuatu. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, tidak terkecuali aku. Ia baru sadar kalau aku memperhatikannya sedari tadi. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dan terlihat sangat tidak nyaman.

      “Kami pergi…,” pamitnya seraya menarik lengan Jiwon.

      “Hati-hati!” teriak appa dan eomma bersamaan.

      Aku buru-buru menghabiskan sarapan dan pamit pergi. Setelah masuk ke dalam mobil, aku menancap gas dan tak memedulikan kecepatannya. Yang kuinginkan adalah lebih dulu sampai di studio sebelum mereka.

      Harapanku tercapai, mereka belum sampai. Setelah mobil terparkir, aku langsung masuk ke dalam studio menuju ruang kerja mereka.

      Apa yang mereka sembunyikan? Ini membuatku penasaran. Aku mulai membuka-buka lemari dan menarik keluar beberapa berkas di dalamnya. Setelah beberapa menit berkutat, aku menemukan sesuatu. Beberapa surat perjanjian penyewaan gedung. Well, mengapa harus dibuat dalam beberapa salinan dan dalam tanggal yang berbeda?

      Kemudian aku menemukan beberapa brosur mengenai pencarian siswa. Jadi, mereka sempat ‘jatuh’? Mengapa hal sedarurat ini tak memberitahukannya padaku? Kehilangan siswa karena menikah denganku? Sangat tidak lucu.

      Aku meremas brosur tersebut dan mendengar seseorang datang di belakangku.

      Di tangan kanannya teremas sebuah kertas. Seluruh tubuhnya bergetar.

      “Oppa,” kudengar suara Jiwon.

      Aku menoleh. “Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa kalian tak memberitahuku?” protesku kesal.

      “Apanya?” tanyanya polos.

      “Mengapa kalian tak memberitahuku kalau kemarin keadaan kalian terjepit?!” teriakku lepas kendali membuat mereka mundur beberapa langkah.

      “Itu…itu…,” Jiwon mulai kelabakan.

      “Kami tak ingin membuatmu memikirkan hal ini. Kau juga mempunyai pekerjaan, kan?” sahut Chaesa tenang.

      Aku melemaskan rahang dan sedikit melunak setelah mendengar suara lembutnya, “Chaesa-ya, aku suamimu. Aku juga berhak tahu.”

      Jiwon pergi keluar meninggalkan kami.

      “Sudahlah. Masa kritis itu sudah lewat. Lagipula kau datang di saat sesuatu yang buruk telah terjadi. Sepertinya kau takkan mempedulikanku jika hal itu tak ada. Iyakan? Apa ini sebuah sogokan agar aku tutup mulut?”

       “Kau tak adil. Kau hanya cukup memberitahuku…”

      “Apa kau mengangkat teleponku? Saat di China kau bahkan melupakanku. Kau bersenang-senang bersama Heebon, padahal kau bilang terlalu sibuk sehingga tak memiliki waktu untuk menghubungiku. Lalu apakah ini pantas disebut adil?”

      Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Sebagian perkataannya benar. Aku berjalan mendekatinya dan memeluknya erat. Semua kenangan kami berkelebat di kepalaku. Aku sadar, sudah sangat sering menyakitinya. Meminta ‘maaf’ berkali-kali pun takkan cukup menebus semua kesalahanku.

      Kulepaskan pelukan dan merengkuh wajahnya. “Mianhae…”

      Ia memejamkan matanya dan menunduk. Kurasa ini adalah saat yang tepat untuk menyatakan seluruh isi hatiku. “Aku…”

      ~Oppaaaaa…~

      Ponselku berbunyi dan terkejut mendapati nada deringnya yang berubah. Sial, Heebon!

      Aku mundur menjauhinya untuk menerima panggilan. “Tak bisa. Aku sibuk,” ujarku lalu menutup teleponnya.

      “Heebon?” tanyanya.

      Aku terdiam, masih mengutak-atik ponsel untuk mengubah kembali nada dering seperti semula.             “Iya,” jawabku. “Dia memintaku menemaninya latihan. Kubilang tak bisa karena…”

      “Karena aku? Tak apa-apa jika kau mau…”

      “Aku tak mau!”

      Dia tersenyum simpul. “Aku harus mengajar.”

      “Chaesa-ya…,” panggilku dan berjalan mendekatinya, “…kumohon jangan membenciku. Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa menghubungiku. Jangan lupakan bahwa aku suamimu. Kumohon!”

                Dia kembali tersenyum, namun bukan senyum yang biasanya. Lantas dia pergi tanpa mengatakan apapun…

 

..to be continued..

 

Tags: , , ,

19 responses to “Super Junior Fanfiction: “Am I Marrying The Right Man? (Siwon’s Diary 3)”

  1. vies123

    July 5, 2011 at 10:23 PM

    onnie… lanjuttt…………

     
  2. erikaputridhiwanti

    July 6, 2011 at 7:39 PM

    wohoooooooooooooo~~~~.. akhirnya kluar jg eon… aku nunggu banget ni kelanjutan.kekeke… baca dulu yaaa…

     
  3. chitra elizha

    July 7, 2011 at 1:21 PM

    wah..keren

    d’tunggu next part’ny yaw..
    smoga tdk lama..hehehehe

     
  4. RA

    July 8, 2011 at 2:36 AM

    akhirnya part 3 muncul jg ..
    gomawo diya dah dlanjut ..
    tp aku ga ngerti alesan siwon yg ngbayangin heebon pas lg tdr ma chaesa koq ga dbahas ya?!bayangin heebon pas lg tdr ma chaesa koq ga dbahas ya?!

     
  5. toptoptop

    July 17, 2011 at 3:52 PM

    onnie lanjutin dong yang ke 4 please please banget how curious am i for knowing this story and unnn aku suka ff yang we walk juga tapi tolong unn yang siwon diary dulu ya makasih😀

     
  6. loPhLove_key

    July 21, 2011 at 1:00 AM

    siwon jahat,,,

     
  7. Hyo Jin

    July 23, 2011 at 12:54 AM

    Asiiiiiiik udah ada lanjutannya! Haaaa ini siwon beda banget deh sama yang selama ini aku pikirin pas baca chaesa’s pov😥 oppa hwaiting!
    Lanjut eonni😀

     
  8. Lala Sparkyu

    July 26, 2011 at 12:47 PM

    huaaaaaaaaaah…….
    ff ini benar2 membuatku meluap2

    huuuffff……penasaran bangeett ama kelanjutannya

    ayooo onnie hwaiting !!!!

    (reader baru :D)

     
  9. dweemalopkyuwon

    August 8, 2011 at 10:32 PM

    mana lanjutanya…..??? BTW slam knal nih …… walah diya…. gimana suami lo nih emak aku bisa ngebunuh aku ko dapetin album MR SIMPLE pas SIWON pi pengen bisa2 di bejek2 aku ma emake walah

     
  10. Ai

    September 26, 2011 at 10:50 PM

    pengen cepet2 baca kelanjutannya

     
  11. KyuVie SpaiChi

    November 14, 2011 at 8:28 PM

    lanjutannya kapan?

     
  12. ELF

    January 8, 2012 at 7:26 PM

    Kok yang diary 4 nya lama banget ya? Penasaran nih ehehhehe😀

     
  13. elisafemm

    January 14, 2012 at 9:11 PM

    please….
    ini di lanjut! Penasaran tingkat aku ><
    Soalnya Siwon Diary disini bener-bener beda dengan yang kemarin. Mungkin karna kurangnya penjelasan dari perasaan siwon. Tapi untung ada diary ini, aku jadi makin ngerti.
    Author, dilanjut ya… aku tunggu diary 4-nya ^^

     
  14. Zebaa

    January 18, 2012 at 6:14 AM

    Ceritanya keren,, ayo dilanjut,,🙂

     
  15. ana_minnie

    May 27, 2012 at 6:48 PM

    lanjutt dund eon,
    jebal..

    aq slallu menantii..

     
  16. haejisung

    June 16, 2012 at 10:18 PM

    udh hmpir 1 th nggu klnjutanx tp tryta gak d lnjut2,.hiks2..
    author,knp kau tga skli mmbwtq pnsran spti ini???

     
  17. seojinahn

    August 23, 2012 at 1:54 AM

    Ini ffnya ga dilanjutin ya thor? Penasaran banget ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ

     
  18. zuliaevilmagne

    December 3, 2012 at 2:56 PM

    eonnie lanjutin partnya dong..udah penasaran tingkat dewa nie..hahah
    oya critanya bagus banget akKu suka…??

     
  19. lunaawis

    August 7, 2014 at 6:39 PM

    penasaran banget sama lanjutan ceritanya. kemarin pas baca Chaesa versionnya, gregetaaaannnn banget sama siwon. berasa dia itu cowok yang gak gentle, plin-plan, gak tegas. tapi memang kita harus melihat dari sudut pandang lain ya? hehehe. dan inilah ternyata ungkapan hati siwon. #lebay

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: