RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part XV] – Lotte World”

08 Jul

 

Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XV] – Lotte World

Cast : Kim Jira (imaginary cast), and SHINee.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

SEMAKIN hari Jinki memberiku banyak cinta. Namun entah kenapa kekeraskepalaanku belum dapat diruntuhkan. Hingga kini aku masih sering memperhatikan Minho atau mencuri-curi kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku tahu sikapku ini menjengkelkan dan terkesan murahan. Tapi, tak ada wanita di dunia ini yang dapat melupakan seseorang yang dicintainya selama bertahun-tahun dalam waktu singkat, bukan?

Malam itu aku dan Jinki menghabiskan malam hanya dengan berjalan-jalan hingga pagi. Kami mengobrol lebih intim dengan mencurahkan perasaan masing-masing. Dan di malam itu pula kudengar Minho mabuk berat. Belum sempat kutanyakan apa penyebabnya pada JongKey, karena mereka berdua kerap menghindariku.

“Noo~ naa~”

Aku menoleh dan mendapati si bayi raksasa tengah berlari menghampiriku dengan seringaian lebar. Ia merentangkan kedua tangannya.

“Annyeong,” sapaku sambil melambaikan tangan dan… BRUK! “Taeminnie!” protesku.

Ia melompat memelukku tanpa memedulikan setinggi apa tubuhnya sekarang. “Kau di sini?”

“Ya,” sahutku. “Aku mau mengantarkan ini.”

Mata Taem berbinar saat melihat tumpukan kotak makanan yang kubawa. Ia segera mengambil alih dengan dalih ingin membantuku. Kemudian kami kembali berjalan untuk memasuki gedung SBS lebih dalam.

“Noona-ya~ Tahukah kau kalau hasratku untuk memiliki pacar semakin besar?” ujarnya polos.

Aku tertawa. Aigoo~

“Lalu? Apa kau sudah menemukan gadis beruntung itu?”

Ia tersenyum dengan semburat merah di pipinya, kemudian menggeleng perlahan. “Aku tak memiliki banyak waktu untuk mendekati mereka. Apa kau punya kenalan?”

“Ya, banyak. Dan rata-rata seumur denganku,” godaku.

Dia memutar bola matanya jengkel. “Tak ada yang lebih muda ‘kah?”

“Mmm…,” aku mencoba berpikir, “…ada. Lebih muda beberapa bulan dariku.”

“Noo~ naa!” protesnya kesal dengan pipi menggembung. Aku mencubit sebelah pipinya dan menggelayut manja di lengan panjangnya. Ia terdiam sejenak, “Aha, noonaaa~”

“Hm?”

“Bagaimana kalau kau jadi pacarku?”

“M-mwo?!”

“Aku sungguh-sungguh-sungguh ingin merasakan hal yang dinamakan ‘kencan’,” matanya dua kali lebih berbinar. “Ottaeyo?”

Kulepaskan pelukanku dan menatapnya berang. Setelah Minho, Jinki, dan sekarang Taemin? Semuanya SHINee, ini tidak keren. Setidaknya berikan aku bonus dari TVXQ. Er, kidding…

“Ini fake ‘kan?”

“Tentu saja. Anggap kau memberiku sedikit pelajaran. Hm? Bagaimana?”

“Hanya satu hari…”

“Cool!” selanya dengan pronun Korea, seperti mengatakan ‘call’.

Kami terus berjalan menaiki tangga menuju ruang tunggu yang berderet di sepanjang koridor. Taemin menjadi guide-ku kali ini dengan memberikan service lelucon-tidak lucunya padaku sepanjang perjalanan. Ia membuatku tertawa lepas kontrol. Bukan karena ceritanya, melainkan ketidaklucuannya yang acapkali membuatku tergelitik ingin tertawa. Dan tentu saja aku tak berpura-pura. Aku memang benar-benar ingin tertawa.

“Sampai,” ucapnya riang.

Kami masuk dan mendapati para member SHINee tengah didandani. Jjong yang paling pertama melihatku.

“Annyeong,” sapanya, namun masih tetap di meja rias. Penata rambutnya tak membiarkan kepalanya bergoyang sedikit pun.

Aku melambaikan tangan padanya.

Ini malam Natal, dan hingga kini mereka masih disibukkan pekerjaan, jadi kecil kemungkinan untuk dapat berkumpul dengan keluarga. Benar-benar menyedihkan. Dan aku kemari karena eomma menghadiri undangan teman-temannya untuk merayakan malam Natal. Jadi, aku sama menyedihkannya seperti mereka.

“Wah, ini semua untuk kami?” tanya Choi Jin dengan mata berbinar melihat beberapa kotak makanan yang sudah dibuka oleh Taem dan dijajarkan di atas meja.

“Ya,” jawabku. “Hari ini adalah terakhir kalinya aku bekerja di café.”

Jinki menghampiriku dengan alis bertaut. “Wae?”

“Tak apa-apa.”

Ia memandangiku penuh selidik, sedangkan aku berusaha menghindarinya dengan membantu Taem membuka penutup kotak bekal. Kulirik Minho tengah duduk kaku di meja rias. Tak ada make up artis maupun penata rambut yang menanganinya. Kupikir ia telah selesai, namun tetap mempertahankan posisinya di sana karena ada aku di ruangan ini.

“Hyung, setelah konser di Jepang, tolong berikan aku libur satu hari,” rengek Taem.

Choi Jin memandangi si magnae dingin.

“Se-tu-ju,” timpal Kibum yang kini sudah bergabung dengan kami. Sebelah tangannya tak berhenti memilin rambutnya yang sudah rapi.

“Karena kami tidak memiliki libur di hari Natal, maka berikan kami libur di hari lain. Kumohon!” Taem lagi-lagi merengek.

“Aku juga sebenarnya berpikir seperti itu. Tapi harus ada yang mau membantu kita untuk berbicara pada perusahaan,” ujar Kyungshik yang diamini oleh seluruh kru SHINee. Mereka semua melirik Choi Jin.

“Naega wae (kenapa aku)?”

“Kau bekerja lebih lama dariku. Bukankah kau mantan manajer DBSK dan CSJH?” goda Kyungshik dan kami menikmati adu argumen kedua manajer ini.

“Oke, oke…,” ia mulai menyerah. “Tapi kau harus membelikanku makan siang lain waktu.”

“Setuju!”

Taem berteriak girang sambil memelukku. Sungguh anak ini… Aku bisa membaca pikirannya. Ia akan menggunakan hari itu untuk ‘berkencan’ denganku. Sesuai dengan perjanjian kami beberapa menit yang lalu di lantai dasar gedung SBS.

+++++++

PERMOHONAN Lee Taemin terwujud. Perusahaan memberikannya libur setelah selesai dengan konser perdana mereka di Jepang kemarin, begitu pula dengan member lain, mereka semua tampak sangat bahagia walaupun mendapatkan libur hanya satu hari.

Kini aku sedang melakukan kebodohan, lagi. Diam di balkon ditemani teh apel panas yang berubah cepat menjadi dingin di tengah cuaca yang semakin memburuk.

Van bergerung ketika berhenti di parkiran kawasan apartemenku. Aku bisa melihatnya dari balkon—juga melihat Taem keluar dari van.

Tak lama kemudian interkom berbunyi. Aku tak perlu melihat layar, karena sudah dipastikan kalau itu ‘bayiku’.

“Morning, Noona~~~” sapanya ceria.

Aku melompat menyambutnya dengan menaruh kedua tangan di wajahnya. “Astaga, kau tampan sekali hari ini, Tae-ya,” pujiku gemas.

Namun ia tak menampakkan ekspresi aegyonya seperti biasa ketika kupuji. Ia hanya menurunkan tanganku dari pipinya dan berkata, “Aku namjamu untuk hari ini.”

Sungguh aku melihat ada keseriusan di wajahnya. Ia menunjuk ke dalam, aku mengikuti arah telunjuknya dan jatuh pada tas cokelatku yang tergeletak di karpet ruang TV.

“Take your bag, please!” pintanya.

Aku hanya tersenyum dan mengikuti perintahnya. Baiklah, mungkin seharian ini aku harus berusaha ekstra menahan tawa melihat transformasi “from boy to man” si bayi raksasaku ini.

“Kaja!” ajakku.

 

+++++++

KAMI sudah berada di dalam van dan duduk di tengah berdampingan. Taem menautkan tangannya padaku dan tak ingin melepasnya. Jujur saja, tangan kami sudah sangat berkeringat saat ini.

“Er, Taem… Kencan tidak seperti ini,” aku menunjuk tangan kami yang saling bertaut. “Aku merasa seperti tahanan.”

Dia sedikit salah tingkah dan melepaskan tautannya.

“Maaf, aku tak tahu harus bagaimana saat berkencan.”

“Kau hanya harus melakukan hal-hal yang normal, seperti yang biasa kau lakukan padaku.”

Dia mengangguk. Kyeopta!

Taem bilang kami akan ke Lotte World. Perjalanan ke sana makan waktu lebih dari tiga puluh menit ke arah utara, menyusuri jalan bebas hambatan. Ia mengobrol tentang teman-teman trainee dan sekolahnya. Dan aku mendapati diriku mengajukan banyak pertanyaan, bahkan tanpa berpura-pura, tapi karena benar-benar ingin mengetahui jawabannya. Waktu berlalu tanpa terasa bila bersama si bayi.

“Dari tadi aku terus yang bicara,” protes Taem setelah selesai bercerita kalau ia akan ditransfer ke sekolah seni awal tahun ajaran nanti.

“Bagaimana kalau sekarang gantian? Apa saja kegiatanmu akhir-akhir ini, Noona? Kudengar kemarin kau menemani ahjumeoni ke Daegu. Hal itu pasti jauh lebih seru daripada jadwalku.”

“Salah,” aku mendesah. “Benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Jadwal gilamu jauh lebih menarik daripada Daegu. Aku suka teman-teman traineemu. Si Jongin itu lucu.”

Taem tersenyum. “Dia akan debut dengan M1 tahun depan.”

“Wah, good news.”

Kening Taem berkerut. “Noona naksir dia?”

Aku tertawa. “Dia terlalu muda untukku.”

Kerutan di kening Taem semakin dalam. “Aku juga muda ‘kan?”

Aku menjaga agar suaraku tetap ringan, menggoda. “Tentu. Kau dongsaengku tersayang. Tapi khusus untuk hari ini, kau adalah namjaku. Iya ‘kan?”

Taem tertawa dan mengangguk.

Kami saling bertukar cerita seperti itu hingga mencapai Lotte World. Cuaca di luar sepertinya tidak mendukung kami untuk ‘berkencan’. Aku tidak tahu pasti berapa derajat tepatnya, ini sangat-sangat dingin.

Perlu diingat, kencan ini tidak seserius yang kau bayangkan. Boleh dikatakan kalau aku sedang memberikan kursus pada Taem. Mengingat aku sudah mengenalnya sejak ia masih duduk di bangku SD saat trainee dulu. Jadi, sangat tidak mungkin kami saling menyukai. Anggap saja aku sedang mengasuh adikku dan ia sedang menghibur noonanya yang masih setengah zombie.

+++++++

TAEMIN mengajakku menaiki berbagai wahana. Tenagaku terkuras dan sepertinya ia masih memiliki banyak kekuatan untuk terus bermain. Perbedaan usia tiga tahun dapat terlihat jelas dalam situasi seperti ini. Aku tak dapat mengimbangi energinya, terlebih ia seorang anak lelaki.

Aku jalan tersaruk-saruk mencari tempat sampah. Cangkir-cangkir yang berputar tadi membuat perutku mual minta segera mengeluarkan isinya. Cairan berwarna jingga meluncur masuk ke dalam tong. Astaga, itu adalah jus wortel bercampur teh apel yang kuminum tadi pagi. Ini memalukan!

Taem terus memijat tengkukku. Ia terlihat sedikit panik. Sebenarnya tubuhku memang kurang sehat sejak tadi pagi. Mungkin ini efek dari kebodohan yang kulakukan untuk berdiam diri di balkon di saat salju turun. Aku jadi sedikit menyesal.

“Noona, sebaiknya kita istirahat dulu…”

“Tidak usah. Setelah muntah aku merasa lebih baik. Ayo kita naik wahana lain!”

“Benar?” Taemin agak sangsi.

“Yep!”

Taem menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar noona keras kepala!”

Namun begitu turun dari jet coaster, aku muntah lagi untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. Tubuhku memang sedang kurang sehat, ditambah lagi stress yang melanda akhir-akhir ini. Karena isi perutku sudah terkuras tadi, kini yang keluar tidak banyak, hanya berupa air. Perutku terasa sakit dan tenggorokan perih. Taemin menggiringku ke sebuah bangku santai dan pergi membelikan minum.

“Tunggu di sini, aku akan segera kembali.”

Aku mengangguk. Astaga, kenapa dia tak membawaku ke tempat yang lebih hangat? Di sini sangat dingin, seperti dalam freezer.

“Minum ini!” pinta seseorang yang baru duduk di sampingku. Aku menoleh dan terkejut.

“M-Minho?!”

Ia tak menyahut, langsung membebatkan syal panjang ke leherku dan menutupi tubuhku dengan sebuah selimut yang dibawanya. Niat sekali!

“Cepat minum ini!”

Dia memberiku sebuah obat dengan tumbler berisi air hangat. Aku segera meminumnya. “Gomawo… Er, apa yang kau lakukan di sini?”

“A-aku mengekori kalian,” akunya malu sambil menundukkan kepala.

“Wae?”

“Aku sendiri juga tak tahu.”

Kancing atas coat Minho terlepas. Aku bisa melihatnya mengenakan sweater pemberianku. Ingatanku melayang pada kejadian beberapa waktu lalu…

“Kalian tak bisa menghindar. Aku ingin bicara dengan kalian!” cegatku.

Jjong dan Kibum terkejut kemudian mereka mengedarkan pandangan dan menarik tanganku. Kami berbelok ke sebuah koridor, menyusuri jalan sempit dan memanjat tangga pendek untuk bisa masuk ke dalam celah kecil. Sampai! Tempat ini berukuran 2×3 meter. Sangat kecil dan dipenuhi barang-barang broadcast tak terpakai. Dari sini aku bisa melihat pemandangan indah kota Seoul.

“A-aku baru tahu ada tempat semacam ini di SBS,” ujarku takjub.

“Key yang menemukan tempat ini,” Jjong menyerahkan minuman kaleng hangat padaku. Sedangkan Kibum menegakkan kepalanya, bangga.

“Aku menemukan tempat ini saat membutuhkan privasi untuk berdua saja dengan Mikka.”

“Oh ya, bagaimana hubungan kalian?”

Kibum menyesap minumannya. “Hm, baik. Sangat baik!”

Cih, nadanya menyindir. Menyebalkan!

“Oke, ceritakan padaku hal apa yang menimpa Minho hingga ia mabuk?!”

Mereka terdiam. Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Aku gemas dan sontak mencubit lengan Kibum.

“Argh,” teriaknya. “Oke, oke. Jonghyun-hyung yang akan menceritakannya.”

“Kenapa aku?” protesnya. “Oh, baiklah.”

Aku memandangnya galak hingga ia menyerah. “Jadi, apa itu?”

“Sebenarnya… ia tak mabuk. Dia… hanya menangis hebat karena… merasa menyesal…”

“Menyesal telah meninggalkanmu, tepatnya. Biar aku saja yang berbicara. Kau terlalu banyak jeda, Hyung,” sela Kibum. Kepalaku beralih padanya. “Dia memutuskan untuk menyerahkanmu kembali pada Onew-hyung. Ia merasa sangat bersalah telah mengambilmu darinya. Tapi akhir-akhir ini ia menyadari bahwa ia tak sekuat itu untuk berpisah darimu. Ia masih sangat mencintaimu, tentu saja, kupikir ia tidak pernah tidak melakukannya. Dan kemarin saat kami mengajaknya karaoke—karena ia terlihat seperti mayat hidup ketika menonton sepak bola—ia menangis sangat keras di tengah lagu.”

“Wae?” tanyaku.

“Dia tak bisa berhenti memikirkan apa yang sedang kau dan Onew-hyung lakukan malam itu,” kali ini Jjong yang menyahut. “Bahkan jam sudah menunjukkan pukul empat pun Onew-hyung belum pulang.”

“Ka-kami hanya jalan-jalan mengitari dorm dan berakhir di sebuah coffee shop,” jelasku.

“Minho tak bisa berpikir hingga sejauh itu. Ia sangat tertekan akhir-akhir ini. Ingin mengambilmu kembali namun tak bisa menyakiti Onew-hyung. Lagipula Onew-hyung berkata kalau ia takkan mengalah lagi untuk kali ini. Jadi Minho pikir dialah yang harus mengalah. Ah, masalah kalian benar-benar pelik,” ujar Kibum.

Aku terdiam, merunduk. Dia telah berbohong dengan mengatakan tak lagi menginginkanku. Ternyata ini semua karena Jinki, bukan gadis itu.

“Kupikir ia meninggalkanku karena Shim Chaesa.”

“Aku juga sempat berpikir begitu,” ujar Jjong. “Gadis itu memang sempat membuat Minho frustrasi dengan mengabarkan bahwa ia akan kembali ke Seoul. Tapi tak lama, ia hanya menjenguk neneknya yang sakit. Bahkan mereka berdua tak saling bertemu.”

“Dari awal Chaesa memang tak mencintai Minho,” kali ini Kibum yang bersuara.

“Mwo?” tanyaku tak percaya.

“Itulah mengapa Minho menambatkan hatinya padamu lebih dalam.”

Kami terdiam cukup lama. Aku menarik kail kaleng dan menyesapnya hingga habis separuh. Jjong dan Kibum meminum kopinya saling bergantian. Jatah milik Jjong sudah diberikan padaku.

“Well, Jira-ya, terima kasih sweaternya. Kami sangat menyukainya.”

“Hm, tolong berikan ini pada Minho! Dia terlihat menghindariku tadi.”

+++++++

“Noona, kau baik-baik saja?” tanya Minho membuyarkan lamunanku.

“Hm, hanya sedikit lemas. Ngomong-ngomong di mana Taemin?”

“Aku sudah menyuruhnya pulang. Maaf merusak acara kalian.”

Aku diam. Jantungku berdebar keras.

“Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa mengekori kami? Apa tujuanmu?” aku memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Sudah kubilang, aku tak tahu.”

Aku mendengus, menatapnya tak percaya. “Bukankah kau memang selalu cemburu pada Taemin? Itulah mengapa kau mengekori kami.”

Dia merunduk.

“Kau… kau masih mencintaiku, Choi Minho.” Aku mengatur napas dan melanjutkan, “Kau masih menginginkanku, bukan?”

“Tidak,” jawabnya lambat-lambat, ada nada tidak yakin di sana.

Dia masih merunduk.

“Minho-ya, apa berbohong membuatmu sedikit membaik?” nadaku agak meninggi.

“Dengar…,” ucapnya datar, “…hubungan kita sudah berakhir, Noona. Sekalipun aku ataupun kau masih saling mencintai, hubungan kita tak dapat diselamatkan. Kumohon mengertilah!”

Kini giliranku yang merunduk. Air mata merembes begitu saja. Hatiku kembali tercabik-cabik untuk ke sekian kalinya.

Minho melihat ponselnya dan kembali berkata, “Aku sudah menyuruh Taemin untuk meminta Onew-hyung kemari menjemputmu.”

Aku menatapnya tak percaya. Dia bangkit dari bangku begitupula denganku.

“Kenapa bukan kau saja?!” tanyaku berang.

“Aku… tidak bisa.”

“Berhenti bertingkah bodoh, Choi Minho! Jangan korbankan hatimu!” teriakku, kata-kata keluar begitu saja dari mulut.

Dia berjalan menghampiriku, lalu memelukku erat. “Kim Jira, jika bukan karena kau, aku takkan mengenal cinta. Terima kasih telah mengajariku persahabatan, cinta… semuanya. Seperti yang kau tahu, aku sangat mencintaimu, namun keadaan memaksa kita untuk tidak memiliki satu sama lain. Kalian adalah orang yang kusayangi. Tidak ada pilihan di antara cinta dan persahabatan. Memilih keduanya atau tidak mendapatkannya sama sekali. Dan aku… secara sepihak memilih untuk melepaskanmu demi persahabatan kami. Mungkin ini terdengar egois di telingamu, tapi… hanya ini yang dapat kulakukan. Maafkan aku!”

Aku membalas pelukannya. Kucengkeram tubuhnya kuat-kuat. Aku merindukan momen berpelukan seperti ini, dan bagaimana ia menyebut namaku, juga mengatakan kalau ia sangat mencintaiku. Meskipun ini bukan dalam momen yang baik, menangis keras dengan menenggelamkan wajahku ke dadanya sedikit meringankan lukaku. Setidaknya sekarang Minho tahu bagaimana hatiku yang terluka.

Ia melepas lebih dulu pelukan kami. “Onew-hyung sudah tiba…,” ia membantuku menghapus air mata, “…jangan menangis lagi karenaku, kumohon!”

Aku melap hidungku dengan punggung tangan.

“Jika di lain waktu Tuhan kembali memberi kesempatan, aku akan menjagamu dengan baik dan takkan lagi melepasmu,” janjinya.

Minho menjauhkan tubuhku darinya. Ia tersenyum, senyum favoritku. Kemudian ia melambaikan tangannya ke belakangku. Saat aku berbalik untuk melihatnya, aku menemukan Jinki berdiri di seberang kami.

“Pergilah,” pintanya.

Saat itu beberapa keping salju turun berjatuhan di antara kami. Bahkan salju pertama kami pun harus dilewati dalam hubungan yang tak diinginkan seperti ini.

Sekali lagi Minho mengangguk, meyakinkanku untuk pergi menemui Jinki. Aku menurut. Perlahan-lahan berjalan menghampiri Jinki yang tengah tersenyum menyambutku. Aku kembali melirik Minho dan bergumam, “Aku mencintaimu.”

“Aku tahu,” sahutnya. “Begitupula aku…”

Ia meremas dadanya sambil tersenyum. Aku kembali berbalik hingga sampai di tempat Jinki. Ia menuntunku untuk keluar dari Lotte World dan menaiki mobil.

Aku pasrah sekarang. Minho sudah memutuskan untuk melepasku, jadi tak ada gunanya aku merengek meminta kembali. Apa aku bisa melewati semuanya tanpa dia?

 

..to be continued..

 

+++++++

#Gimana dengan part ini? Omo, alih-alih kasian ama MinJi, aku malah kasian ama si ‘Baby’. Kursus kencannya rusak. Keke~

Untuk next part, khusus Minho’s POV… Kidariseyo~

Makasih untuk yang selalu nunggu, baca, komen, dan like… See u next part^^/

 
7 Comments

Posted by on July 8, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , ,

7 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part XV] – Lotte World”

  1. vies123

    July 8, 2011 at 6:05 PM

    onnie, lanjutttt……..

     
  2. tEa

    July 11, 2011 at 1:16 PM

    ahh ga sabar nunggu lanjutannya
    kurang panjang #plakk…

     
  3. uuuwwwieee

    July 15, 2011 at 5:02 PM

    onnie…..
    aku pngen.a jira ma jinki ajha…
    hehehe
    ga sabar pngen baca part slanjutnya,,…
    part selanjutnya jngan lama2 Ya…….

     
  4. Chan.....

    July 24, 2011 at 12:41 PM

    onnie….
    koq part selanjutnya g muncul2….???
    ga sabar nich nunggu part selanjutnya…..
    moga2 part slnjutnya makin panjang…..
    oke…???
    Maap main nyosor…
    ok????

     
  5. Chan.....

    July 24, 2011 at 12:46 PM

    onnie….
    cepet ya………….
    yng panjang ok???
    #plakkk

     
    • Chan.....

      July 24, 2011 at 1:04 PM

      plakkk

       
  6. Chan.....

    July 24, 2011 at 12:59 PM

    part ini seru bgt dech….
    part selajutnya gmana ya????
    hehehehe

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: