RSS

SHINee FanFiction: “We Walk [Part XVII] – Love Is Pain (Onew’s POV)”

30 Jul

 

Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part XVII] – Love Is Pain (Onew’s POV)

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, and Jira’s Mom.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

L’ ámoür Café. 14 Desember 2010. 06.45 PM.

HARI ini adalah ulang tahunku. Seperti biasa, penggemar selalu memberiku hadiah yang menakjubkan. Aku bahkan hampir tak pernah membeli barang-barang elektronik mahal, semuanya pemberian mereka. Dan saat ini, aku tengah duduk sendirian di sebuah café yang sepi. Di sini hanya ada beberapa pengunjung turis asing dan mereka sudah sangat berumur. Sengaja memilih café ini, aku membutuhkan privasi untuk saat ini.

Lonceng berdentang ketika pintu mengayun ke dalam. Bisa kulihat Jira menepuk-nepuk bahunya, mengenyahkan kepingan salju dari sana. Wajahnya tampak muram, namun masih terlihat sangat cantik. Ia membuka coatnya dan menggantungkannya di lengan kiri, ruangan ini sudah cukup hangat. Lalu ia menatap berkeliling mencariku. Tak membutuhkan banyak waktu, ia langsung mengenaliku―tentu saja, karena aku satu-satunya pria muda di sini.

“Menunggu lama?” tanyanya saat sampai di mejaku.

Aku menggeleng. “Tidak, kau terlalu pagi.”

Ia melirik jam tangannya dan memang, ia datang sebelum jam yang kami janjikan.

“Tapi oppa datang terlalu awal!” protesnya. “Maaf, membuatmu menunggu.”

Aku terkekeh. “Tidak perlu minta maaf, pada kenyataannya aku tak sabar untuk bertemu denganmu.”

Dia membenahi posisi duduknya, kemudian mengambil menu. Telunjuk kanannya mengaitkan rambut panjang yang menjuntai ke belakang telinga. Matanya begitu serius menatap daftar menu dari atas ke bawah.

“Hot chocolate dan strawberry short cake, aku sudah memesannya tadi.”

Ia mengalihkan pandangannya dari daftar menu padaku. Mungkin sedikit terkejut bahwa aku masih ingat apa yang menjadi favoritnya.

“Ini sudah malam. Aku tak bisa…”

“Tak ada diet! Kau sudah sangat kurus,” aku memandangnya prihatin. Ia memang menjadi semakin kurus semenjak berpisah dari Minho. “There’s die in diet!”

Ia tersenyum simpul dan pasrah. Mungkin baru saja ingat kalau ia kehilangan 7 kg bobot tubuhnya sejak malam itu.

“Apa yang kau bawa?” tanyaku penasaran dengan mata mencoba melongok ke bawah meja seberangku.

Ia mengikuti arah pandangku. “Oh, ini…,” ia menarik sebuah kantong berukuran sedang ke atas meja, “…hadiah untukmu, Oppa. Happy birthday.”

“Ah, gomawo.”

Ia menarik keluar sebuah kotak, namun ekspresinya berubah dan buru-buru memasukkannya lagi. “Ah, mianhae.”

Ia masih sibuk berkutat dengan tas itu, mengambil kotak lain dari dasar baru kemudian memberikannya padaku. Aku tersenyum senang, walau jujur saja, detak kesakitan itu muncul. Aku tahu, kotak lain yang dibawanya itu hadiah milik Minho. Lima hari yang lalu memang ulang tahunnya, mungkin Jira belum memberikan hadiah itu karena tanggal 9 kemarin kami masih berada di Taiwan. Dan aku yakin tidak ada bentuk komunikasi apapun di antara mereka hingga kini. Itulah mengapa kotak hadiah itu masih ada di tangan Jira.

“Aku bisa memberikannya jika kau mau.”

“Tidak perlu,” sahutnya, menunduk lesu.

Seorang pelayan datang membawakan pesanan. Kini hot chocolate, cappuccino, dan strawberry short cake sudah ada di meja. “Ayo dimakan!”

Dia melotot, menuntut. “Mana makanan milikmu?” tanyanya.

“Aku tak boleh makan di atas pukul enam.”

“Curang!” sungutnya. “Kau sendiri yang melarangku diet.”

Aku tertawa, kemudian menyesap cappuccino-nya dan segera membuka tutup kotak hadiah tersebut. Dari dalamnya aku menemukan sebuah botol parfum. Merk terkenal, dan aku yakin harganya pasti sangat mahal. Saat membukanya saja bau harum sudah tercium. Sebelumnya aku sudah sangat sering mendapat hadiah parfum dari penggemar-noona, namun baru kali ini aku mendapatkan yang lebih baik. Mungkin ia mendapatkannya dari ibunya. Kau tahu sendiri seperti apa ibunya… freak atas fashion, dan parfum sebagian dari fashion, bukan?

“Wah, gomawo, Jira-ya.”

Aku segera merogoh kantong celana untuk mendapatkan dompet. Dari sana aku mengeluarkan sekeping uang koin dan kuserahkan padanya.

“Hm? Ini untuk apa?” tanyanya bingung.

“Aku mendengar mitos, kalau mendapat parfum sebagai hadiah dari seseorang, kita harus memberikannya koin. Agar kita bisa bersama selamanya.”

Dia tersenyum lembut.

Aku melanjutkan, “Tapi maaf sebelumnya, aku takkan pernah memakai parfum ini.”

“Wae?” tanyanya, ada nada tersinggung di sana.

“Aku tak ingin ini habis. Akan kujadikan kenang-kenangan darimu.”

Dia terkekeh. “Aigoo, Oppa~”

“Terima kasih sudah datang. Melakukan ini bersamamu nyatanya lebih menyenangkan ketimbang mendapat banyak hadiah yang aku sendiri tak tahu siapa saja pengirimnya, yang kutahu mereka hanyalah penggemar. Tapi ini…,” aku memandangi takjub botol parfum yang masih tergeletak dalam kotak, “…ini lebih dari apapun. Gomawo.”

“Kau… berlebihan.”

“Tidak, tidak. Ini memang brilian. Aku sangat menyukai baunya.”

Dia tersenyum, kali ini lebih ceria. “Baguslah kalau oppa suka. Aku senang mendengarnya. Er, bukankah SHINee masih ada jadwal latihan malam ini?”

“Hm. Dari mana kau tahu?”

Dia menyesap hingga tandas minumannya. “Well, aku memiliki sepupu yang juga member SHINee,” ujarnya skeptis.

Aku lagi-lagi tergelak. Dia masih saja bisa membuatku tertawa meksipun aku tahu, hatinya masih sangat terluka. Lingkaran hitam masih menghiasi kantung matanya yang bengkak sembab karena dipakai  menangis mungkin. Dia masih saja sama, sulit terlepas dari masa lalu. Dan menurutku ini wajar, bukankah aku juga sama saja seperti dia?

“Baiklah, ayo pulang. Aku akan mengantarmu dulu―tolong jangan menolak!” imbuhku buru-buru ketika ia membuka mulutnya.

Dia memakai kembali coatnya dan menenteng tas berisi hadiah milik Minho. Kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Aku mengenakan fedora dan syal hingga separuh wajahku tertutup. Sangat mengecewakan saat mataku menangkap sesuatu yang berkilau di atas meja. Dia meninggalkan koinnya.

Aku menyambar koin tersebut lalu buru-buru keluar menyusulnya setelah membayar bill. Ia menungguku di sisi pintu di luar café. Dari napasnya keluar asap putih saat ia berbicara padaku. “Oppa, kaja!”

Dia menempatkan tubuhnya di sisiku hingga kami dapat berjalan berdampingan. Aku menyambar tasnya, “Biar aku saja yang bawa ini.”

Senyum manis lagi-lagi menghiasi wajahnya. Namun sayang, matanya tampak hampa. “Gomawo,” katanya.

“Bisakah berhenti mengatakan itu? Kita sudah bersama sejak lama, tak seharusnya kata-kata itu sering diucapkan.”

“Kau juga mengatakannya beberapa kali tadi.”

“Kalau begitu kita harus mengentikannya. Tak ada kata ‘terima kasih’ dan ‘maaf’ lagi. Apapun yang kulakukan adalah tulus untukmu.”

Dia menghentikan langkahnya. Begitupula aku.

“Wae?” tanyaku.

“Tidak. Hanya tersanjung mendengar perkataanmu,” ujarnya sambil melanjutkan kembali langkah kami.

Sisa perjalanan kami habiskan dalam diam. Dia masih tidak banyak bicara. Dan rasanya bosan juga jika aku terus yang memulai pembicaraan. Kesannya sangat memaksakan. Aku tak ingin ia menyahutiku dengan perasaan enggan.

Apartemennya sudah nampak di depan mata, ia berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku coat, kepalanya masih tetap menunduk, kadang ia juga menendang salju-salju yang berserakan.

“Semangat untuk latihannya,” ia mengatakannya dengan nada yang bahkan tidak menunjukkan ada rasa semangat sama sekali. Aku mendengus geli. Ia terus berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku menunggunya hingga ia menghilang masuk ke dalam.

Aku berbalik dan sadar kalau tas hadiahnya masih ada di tanganku, begitupula dengan koinnya…

+++++++

On The Way. 27 Desember 2010. 07.15 PM.

SEPANJANG perjalanan dari Lotte World menuju apartemen Jira, kami lalui dalam diam. Suhu tubuhnya sangat tinggi, ia berbaring di pangkuanku. Pandangan matanya sangat kosong. Sungguh, apa yang baru dikatakan Minho hingga membuatnya seperti ini? Mengapa anak itu begitu keras kepala? Mereka sungguh keras kepala!

Tak ada air mata di matanya yang sembab. Ia hanya mengatakan ‘gwaenchana’ jika kutanya keadaannya. Jawaban yang membosankan, bukan? Aku muak mendengarnya berkata seperti itu. Seperti tidak ada kalimat lain saja yang bisa dikatakan.

Tubuhnya tiba-tiba menggigil, giginya bergemeletukkan saling beradu. “Jira-ya, kau kenapa?” tanyaku panik.

Ia tak berkata ‘gwaenchana’ lagi kali ini, bahkan sama sekali tak menjawab. Sesuatu yang kusesalkan, kenyataan bahwa arti kata ‘gwaenchana’ sangat penting dibandingkan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Jira tak sadarkan diri meskipun matanya tetap terbuka.

Van membawa kami menuju rumah sakit kali ini. Sejak tadi aku menepuk perlahan pipinya, namun ia tetap tak bergeming.

“Kim Jira, kau mendengarku? Yaaa!”

Kepanikanku semakin besar ketika bulir-bulir air mata menetes jatuh dari sudut matanya. Ia terlihat sangat kesakitan―kau mengerti, bukan kesakitan fisik, melainkan batin. Aku memeluknya untuk memberikan kehangatan, kemudian kukeluarkan ponsel dan mulai menghubungi member satu per satu, tak terkecuali Minho.

“Kibum-ah, bisa kau hubungi ibunya? Aku terlalu panik, tak memiliki kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya.”

Kututup panggilan dan menggeser pintu van saat mobil sudah berhenti di mulut pintu rumah sakit. Beberapa perawat membantuku untuk menurunkan Jira menuju brancard. Aku turun dari van tergesa-gesa, namun driver-hyung menahanku untuk tetap di van menunggu yang lain datang. Aku menyetujuinya.

Beberapa menit kemudian dari sebuah taksi seseorang yang kukenal keluar dan berlari sangat kencang masuk ke dalam lobby gedung rumah sakit. Itu Minho. Aku tak bisa tinggal diam menunggu yang lain.

“Hyung, maaf, aku akan menyusul Minho.”

Setelah sampai di ruang emergency, aku bisa melihat Minho hanya duduk di ruang tunggu tanpa masuk ke dalam. Seluruh tubuhnya gemetar.

“Minho,” panggilku.

Dia mendongak. “Hyung…,” suaranya agak bergetar, “…aku yang membuatnya seperti ini.”

Aku diam. Tidak menyetujui perkataannya, tapi juga tidak ingin menyangkalnya. Dapat dikatakan 80% pengakuannya tadi adalah benar.

“Minho, ayo hentikan!”

Dia menggeleng. “Kau lebih layak untuk menjaganya…”

“Aku bukan pria yang dapat membahagiakannya!”

Dia terdiam sejenak. “Sudah sebesar apa aku membuatmu terluka, Hyung?” matanya mulai berkaca-kaca.

“Tidak. Kau tak melakukan apapun padaku.”

“Hyung, kumohon, jangan paksa aku!”

Aku sangat benci mendengarnya berbicara omong kosong seperti ini. “Bukankah sudah kukatakan, aku melakukan ini bukan demi kau, tapi demi Jira. Dialah korban dari kebodohanmu.”

Minho tetap diam. Dia bahkan tak menatap wajahku. Tanpa sadar tanganku sudah terkepal.

Dokter keluar dari ruangan, aku langsung menghampirinya. “Dia hanya demam dan agak sedikit syok. Jangan terlalu mencemaskannya.”

Aku merasa sedikit lega. Dan saat menoleh ke belakang, Minho sudah tak lagi di tempatnya. Ia berjalan pergi, aku bisa melihat punggungnya dari sini hingga ia berbelok menghilang. Sial!

+++++++

KEESOKANNYA kudengar Jira sudah diperbolehkan pulang. Aku belum menemuinya karena jadwal yang sangat padat―melakukan latihan untuk acara off-air maupun acara akhir tahun di ketiga stasiun TV, belum lagi latihan untuk konser kami awal tahun nanti. Itulah mengapa aku berdiri di sini―di hadapan pintu apartemen Kim Jira di tengah malam seperti ini, aku ingin menjenguknya.

“Oh, Onew-ya,” sambut nyonya Jung ketika ia membukakan pintu. Seperti biasa, ia selalu tampil cantik, inilah alasan mengapa anaknya pun begitu. Aku pernah melihat ayahnya sekali saat kami masih trainee dulu. Kedua orang tuanya mengantar Jira saat ia akan masuk asrama. Ayah muda yang sangat tampan. Garis genetik memang tak pernah bohong.

“Maaf mengganggu malam-malam begini.”

“Gwaenchana, ayo masuk!”

Aku menurut. Apartemen ini terasa sangat sepi, yang terdengar hanya suara TV yang menyala. Nyonya Jung mempersilakanku masuk lebih dalam.

“Bagaimana Jira?”

“Dia di kamar. Masuk saja…”

Aku mendekati kamarnya, namun hanya berdiri di ambang pintu. Masih tahu etika, tidak baik seorang pria memasuki kamar anak perempuan.

Bisa kulihat ia tengah tertidur pulas. Wajahnya terlihat sangat lelah dan pucat. Aku kesal pada diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya kehadiranku selama ini sangat tidak berguna. “Jira-ya, jika bukan karena aku, kau tak perlu semenderita ini,” gumamku lirih.

“Dia tidak mau makan sejak kemarin. Ada apa ini sebenarnya?”

Aku menoleh dan mendapati ekspresi kesedihan di wajah ibu muda tersebut. “Er, menurutku hanya Minho yang dapat mengembalikan keadaan menjadi normal. Saya sudah membujuknya berkali-kali, tapi dia sangat keras kepala. Jika Anda yang memintanya mungkin dia bersedia.”

Dia mengibaskan tangannya. “Aku tak suka mencampuri urusan anakku…,” ia diam sejenak, “…sepertinya aku memang harus melakukannya.”

Aku mengangguk setuju.

+++++++

DUA hari kemudian, sekitar pukul sebelas siang aku berkunjung ke café milik keluarga Jira. Ibunya mengatakan kalau Jira sudah sangat membaik. Jadi kupikir mungkin ia akan kemari untuk menghilangkan rasa sedihnya.

Saat pintu terbuka, suara-suara bising asal dari percakapan pengunjung menyambutku. Hari ini sangat ramai pengunjung―tentu saja, ini tanggal 29 Desember. Meskipun Natal berakhir, namun masih ada tahun baru yang membuat hari libur semakin panjang. Ah, aku sangat merindukan masa-masa sekolah. Biasanya aku pergi berlibur bersama keluarga.

Seorang pria paruh baya yang kutahu bernama Lee Janmin atau manajer Lee datang menghampiriku dan tersenyum. “Onew-ya, lama tak bertemu,” bisiknya.

Aku tercenung.

“Hyung, kau mengenaliku?”

“Tentu saja. Hanya kau yang berpakaian aneh di sini.” Ia menunjuk penyamaranku. “Jika harus dinilai, ini gagal!”

Aku terkekeh. “Er, di mana Jira? Biasanya dia berdiri seperti patung di meja kasir ataupun di bar.”

“Kau tak tahu? Dia sudah tak kemari lagi untuk bekerja.”

“Ne?” Apa ia masih sakit, hingga memutuskan untuk tidak bekerja lagi? Tapi tunggu… ini tidak ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Aku ingat kalau Jira pernah mengatakannya saat di gedung SBS beberapa waktu lalu. Ah, sungguh, bertambahnya umur membuatku menjadi pikun!

Janmin-hyung menarikku untuk berjalan masuk lebih dalam. Ia mengajakku ke kantornya yang ada di belakang dapur, hingga kami jauh dari keramaian.

“Kim Jira tak memberitahumu?”

“Dia pernah mengatakannya. Kukira ia hanya bercanda.”

Ia terlihat sangat serius dan ekspresinya berubah sedih. “Aku tahu selama ia di sini tak pernah mendapatkan perlakuan baik dariku. Selalu kuomeli habis-habisan hingga ia merasa frustrasi. Senang sekali melihatnya mengerucutkan bibir karena jengkel…,” ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit, mencoba mengenang apa yang telah terjadi selama ini, “…kau tahu untuk apa ia kembali ke Seoul?”

Aku menggeleng.

“Alasan utama adalah untuk mengerjakan penelitian tugas akhirnya dan alasan kedua karena teman satu grupmu itu.”

Mataku sama sekali tak berkedip dan rasanya tak sanggup untuk menelan ludah. “Jadi, dia belum menyelesaikan sekolahnya?”

“Belum.”

“I-itu artinya dia akan kembali ke sana?”

“Ya, kau benar.”

“Ta-tapi Jira tak pernah mengatakannya…”

“Dia memang tak pernah mengatakannya pada siapapun. Dia sangat membenci perpisahan, dia tak ingin kejadian dua tahun lalu terulang. Terlebih kini ia sudah bersama Minho…”

“Mereka sudah tak bersama…”

“Aku tahu.”

Kami terdiam cukup lama. Sungguh, apa-apaan ini? Mengapa ia tak pernah membicarakan hal ini, terlebih padaku… juga Minho? Ia benar-benar gadis yang sulit ditebak dan aku tak mengerti dengan jalan pikirannya.

“Hyung, kapan ia pergi?”

“Jung-sajangnim kembali tanggal tiga. Aku tak tahu apakah Jira ikut bersamanya atau tidak. Onew-ya, bisakah kau membuatnya kembali menjadi ‘makhluk normal’ sebelum pergi ke L.A.? Aku tak suka melihatnya tampak seperti orang putus harapan.”

“Tentu, Hyung, aku akan melakukan apapun untuknya.” Aku beranjak dari ruangan tersebut namun terhenti di ambang pintu ketika Janmin-hyung kembali memanggilku.

“Onew-ya, suatu saat kau akan menemukan yang lebih baik darinya,” ujarnya sambil tersenyum.

Mwo?! Ba-bagaimana ia tahu?

+++++++

MASIH ada waktu beberapa jam sebelum berangkat ke gedung MBC untuk rehearsal acara musik malam tahun baru nanti malam. Aku memutuskan untuk mencari Jira di apartemennya. Rasanya menyedihkan mengetahuinya akan pergi dari orang lain. Itulah mengapa aku kemari, ingin mendengarnya langsung dari mulutnya.

“Jinki-oppa,” sambutnya ketika membukakan pintu. Matanya yang bengkak sudah kembali normal. “Bukankah SHINee seharusnya ada di MBC?”

“SHINee memang ada di sana… kecuali aku. Er, boleh aku masuk?”

Ia mempersilakanku dan jelaslah ada beberapa koper yang terbuka di atas sofa dengan tumpukan baju di sampingnya. Ia pergi ke dapur membuatkanku minuman.

“Jira-ya, jadi kabar itu benar?”

“Apa?”

“Kau akan kembali ke L.A.?”

Dia mengangguk. “Hm. Aku ke sana untuk uji penelitianku, setelah itu selesai. Aku lulus.”

“Dan kau akan kembali kemari?”

Aku menerima minuman yang telah selesai dibuatnya. Secangkir cappuccino, ia masih ingat minuman favoritku.

“Aku tak tahu. Appa memintaku mengepalai salah satu café-nya di sana. Bukan mengepalai, mungkin maksudnya membantu menjalankan marketingnya.”

Aku menatapnya galak, marah. “Mengapa hal sepenting ini kau tak memberitahuku?!”

“Aku hanya tak ingin…”

“De javu… Aku tak suka kejadian dua tahun lalu kembali terulang. Kumohon kembalilah kemari!”

“Oppa…”

Aku bangkit dari duduk ketika menyadari air mataku hampir tumpah dan berdiri memunggunginya. “Er, Jira-ya, malam ini datanglah ke MBC! Kau harus melihat penampilan kami.”

“A-aku tidak bisa. Aku sibuk packing…”

“Kau pergi masih tiga hari lagi. Aku tak ingin dengar alasan-alasan konyolmu, kau harus datang!”

+++++++

TULANG-TULANGKU seperti akan lepas dari persendiannya. Tubuh terasa sangat letih dipaksa berlatih siang dan malam. Orang-orang tak pernah salah menyebutnya sebagai kerja rodi, karena memang itulah kenyataannya. Namun, inilah yang kuinginkan selama ini. Aku tahu hampir setiap hari mengeluh, tapi aku tak pernah menyesal memilih jalan menjadi seorang bintang.

Di seberangku ada Key yang sedang menerima tatanan di rambutnya. Aku adalah member pertama yang selesai didandani. Jadi duduk di sofa menunggu yang lain selesai.

Kelelahan yang tengah melanda, bukan berarti dengan selesainya aku dimake-up dapat beristirahat santai, aku harus menjaga kerapihan kostum panggung yang kukenakan―juga rambutku. Bersandar pada sofa hanya akan membuatnya kacau. Aku tak ingin mengecewakan coordi-noona dan hair stylist yang telah berpikir keras menentukan konsep untuk hari ini.

“Hyung,” Taemin sudah duduk di sampingku. “Mianhaeyo…”

“Mwo?”

“Beberapa waktu lalu aku ikut menyembunyikan hubungan Jira-noona dan Minho-hyung. Itu karena aku tahu kalau hyung menyukainya…”

“Mwo?!” aku sedikit berteriak, membuat beberapa orang termasuk Minho menoleh. “Siapa yang mengatakannya padamu?”

“Tak ada. Aku tahu sendiri. Karena hyung tampak sangat murung jika melihat Jira-noona sedang bersama Minho-hyung dan itu terjadi sejak kita masih trainee. Hah, bersyukurlah karena aku satu-satunya yang paling sensitif dari yang lain.”

“Jangan memuji diri sendiri! Justru pria sensitif susah mendapatkan pacar,” ucapku menohok perasaan Taemin. Wajahnya memerah dan terlihat sangat marah. Aku tertawa keras.

“Itu tak ada hubungannya. Ada juga pria tak sensitif yang masih belum memiliki pacar hingga saat ini,” ia melirikku.

“Mwoya?!”

Dia tertawa keras sedangkan aku menatapnya jengkel. Kemudian ia berkata, “Mau kukenalkan dengan seseorang, Hyung?”

“Cih, sejak kapan kau membuka biro jodoh?”

“Aku serius! Kudengar coordi dari Mblaq ada yang menjadi penggemar setiamu.”

“Kenapa harus aku? Bukankah dia menangani pria-pria tampan berotot?”

Taemin memandangku rendah dan ini membuatku sangat jengkel. Ia berjalan ke seberang ruangan untuk mengambil tasnya dan merogoh sesuatu dari sana, kemudian menyerahkan hasil foto polaroid padaku.

“Dengan berat hati harus kusampaikan kalau marganya juga ‘Kim’…,” dia memandangiku penuh arti. Ya, aku mengerti. Kim family lainnya, semoga kelanjutannya bukan Kim Jira juga.

Aku memandangi foto tersebut dan menemukan seorang gadis gemuk tengah tersenyum. “Kim Rumi?” tanyaku.

Taem mengangguk kuat-kuat dengan mata berbinar. “Benar. Hyung, kau sudah mengenalnya?”

“Apa kau lupa? Aku kan berteman dengan Joon-hyung. Dia sudah pernah mengenalkannya padaku.”

“Ah ya, aku lupa. Jadi, bagaimana?”

“Bagaimana apa? Tega sekali kau mengenalkanku padanya! Suruh dia menurunkan berat badannya dulu, baru aku akan memikirkannya lagi.”

“Cih, Hyung, kau sama saja dengan pria kebanyakan!”

“Yaa, Lee Taemin, kau pun lelaki!” dia menatapku sinis, mungkin kecewa mengetahui leadernya seperti apa. Aku tak peduli, saat ini aku sedang tak ingin memikirkan gadis lain kecuali Kim Jira. “Tae-ya, di samping tasku ada sebuah bungkusan. Berikan itu pada Minho dan katakan padanya kalau itu hadiah ulang tahunnya dari Jira…”

+++++++

SETELAH menghitung mundur, akhirnya kami memasuki awal tahun baru. Acara musik akhir tahun di MBC sudah selesai. Banyak artis yang merayakannya setelah acara berakhir, namun tidak bagi SHINee. Kami harus beristirahat untuk konser kami yang akan diselenggarakan selama dua hari berturut-turut nanti malam dan besok.

Selama berada di atas panggung, aku menyapukan pandangan mencari Jira di bangku penonton. Nihil, aku tak menemukannya sama sekali. Benar-benar anak itu…

“Hyung,” panggil Jonghyun di mana ada seseorang di balik punggungnya mencoba bersembunyi.

“Hm? Siapa itu? Noona-mu?”

“Mm,” Jjong menggeleng. “Dia…”

“Oppa~” pekiknya sambil menyodorkan sebuah bungkusan ke wajahku.

“Kim Jira?! Kau datang?” aku mengambil bungkusan itu. Ini dumpling dan ia hanya membawa satu porsi. “Gomawo.”

“Aku sudah datang, kau harus membayarku! Ngomong-ngomong, di mana Taemin? Aku ingin minta maaf karena ‘kencan’ kami yang rusak.”

“Kencan?!” pekik Jjong. “Kau… sungguh Kim Jira, aku akan menelanmu jika berani menggoda anakku!”

Jira memukul lengan Jjong. “Apa maksudmu dengan ‘menggoda’, hah?!”

“Lalu apa maksudmu dengan ‘kencan’?”

Aku tertawa. Keadaan kembali menjadi normal walaupun tidak sepenuhnya. Melihat tingkah Jira yang lebih bersemangat membuatku lega. Aku tahu, hatinya masih terluka, karena senyumnya masih tampak hampa. Tapi aku bersyukur…

“Jira-ya, tunggu aku di halaman belakang! Ada yang harus dibicarakan. Kau pergilah lebih dulu, aku harus berganti pakaian.”

“Hm? Oke.”

“Mau kuantar?” Jjong menawari diri, ia merangkul bahu Jira. “Go!”

Mereka berjalan menjauh. Aku berbalik, kembali masuk ke dalam ruang tunggu dan berjalan menghampiri Minho.

“Minho-ya, ikut aku!”

-end of Onew’s POV

..to be continued..

+++++++

#Hello~ Untuk part depan, kembali ke Jira’s POV ya~ Itu bakalan jadi last part dari FF ini…

#Makasih untuk yang selalu baca… baik yang nongol maupun yang gaib /plak!

#Sampai jumpa minggu depan^^/

 

 

 

 
10 Comments

Posted by on July 30, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

10 responses to “SHINee FanFiction: “We Walk [Part XVII] – Love Is Pain (Onew’s POV)”

  1. Chan.....

    July 30, 2011 at 3:48 PM

    huh……
    aq ga mau tau, pokokny jira harus sma onew…..
    hehehe
    maap yakh…!
    owh, ya….. De javu itu apha?

     
  2. Chan.....

    July 30, 2011 at 3:52 PM

    ikh…
    koq dah mau part trakhir agy sich???????
    huahhhh……….!!
    hiks… hiks…..

     
  3. dubuonew

    July 31, 2011 at 3:17 PM

    eon,kq we walk part ahr ga kluar2 c? Jadwalny minggu ni bukan c?
    Dtunggu y lanjutanny,sy pnasaran bgd ma ff ni,keren bgd dah

     
  4. vidy ajja

    July 31, 2011 at 7:46 PM

    mana nii Endingnya..? gag sabar..gag sabar..
    dari jumat uda aq tungguin blom kluar”..
    T_T

     
  5. diyawonnie

    August 1, 2011 at 11:05 AM

    tanggal 4 agust ya^^

     
  6. Inkania

    August 1, 2011 at 12:49 PM

    annyeong…
    aku manggilnya apa ya? *bingung*
    onnie salah satu author tetap di SJFF 2010 ya?
    aku mau minta tolong boleh gak?
    setelah ngubek2, akhirnya ketemu sama blog salah satu author disana😀
    aku udah ngirim FF ke SJFF judulnya 13 My Lucky Number part 1-12. nah karena salah pencet, part 9 nya kelewat dan dikirimnya setelah part yang 12. aku tahu kalau masalah ini bukan bagian onnie, tapi kalo ngomen disana takutnya gak kebaca dan nanti salah publish. bisa dibantu onnie? supaya nanti dipublishnya berurutan. hehe
    jeongmal gamsahamnida *bow* maaf kalo merepotkan….

     
  7. shaoshao

    August 2, 2011 at 1:34 AM

    ii dubu baik deh #cium plakk
    yah yah yaaah, apaapaan tuh si jira
    lari begitu aja
    minho pula -__-
    oh yeah, emaknya jira ikut campur
    minho, kau tersudutkan huahaha #ketawa setan (?)

    ok, ill waiting ^^

     
  8. vanny

    August 2, 2011 at 10:17 AM

    eh itu onew bilang apa ya ama minho??
    ternyata semua orang tau ya kalu onew dah suka ama jira hehehehe..
    ga krasa dah mau tamat aja neh FF ^^

     
  9. chaerybloosom

    August 2, 2011 at 12:23 PM

    anyeong,,,,
    jiranya pergi ajj deh,,,*iri sumpah*
    onew oppa jgn sdih nsh add aq ,,khekhe

     
  10. mima luv hyukk

    August 7, 2011 at 3:44 PM

    Uwaaa >,,< mkn syang sma abg ayam.. Hahahha XDD

    Dr onew pov tau klu onew gk prusak hubungan org hahahha XDD onie ak usul sequel ya gmana klu ga sequelny nanti si onew breng rumi? Gmna"? Stelah rumi kurus trus onew kget? Heheheh

    Nice ff onie😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: