RSS

SHINee Fanfiction: “Miracle Romance [Chapter II]”

30 Nov
SHINee Fanfiction: “Miracle Romance [Chapter II]”

 

 

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter II]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa, Park Chaeri, Hyeorin (imaginary cast), Lee Jinki, Choi Minho, dan Kim Jonghyun.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

 

 

CHAESA keluar dari ruang ganti, di kakinya tersemat sepatu balet berwarna peach, ia berjalan menuju ruang latihan. Di sana tidak kosong, melainkan ada banyak anggota klub dance sedang berlatih.

Eonni, ottokhae? Kenapa mereka ada di sini?” tanya seorang juniornya yang langsung datang menghampiri ketika melihat Chaesa masuk.

Chaesa geram, ia lantas berjalan mendatangi Lee Taemin yang sedang berlatih sendiri membuat koreografi di sudut ruangan, telinganya disumbat headset. Chaesa menarik lepas headset tersebut dan melipat kedua tangannya memelototi Taemin.

“Ini tempat latihan kami.”

“Ini juga tempat latihan kami,” sahut Taemin santai.

“Tapi ini jadwal klub kami, Lee Taemin!” ujar Chaesa tegas.

Taemin tersenyum tipis. Ia senang Chaesa mengingat namanya. Kemudian ia mengeluarkan selembar kertas dari kantong celananya dan memperlihatkannya pada Chaesa.

“Kami akan mengadakan showcase, pihak sekolah memberi kami izin untuk menggunakan ruang latihan.”

Chaesa membaca tulisan yang ada di surat tersebut dengan hati-hati dan memastikan kalau itu adalah asli. Ia berbalik dan meninggalkan Taemin. Di tengah jalan ia melepas sepatu baletnya dan memanggil seluruh anggota untuk membatalkan latihan rutin untuk hari ini.

Taemin mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya Chaesa menyerah begitu saja. Tiba-tiba ia merasa bersalah. Walaupun ini bukan kemauannya, namun tetap saja perasaan bersalah menjalar di hati.

Hyung, bagaimana gerakan barunya?” tanya anak tingkat satu.

Taemin menyematkan kembali headsetnya. “Beri aku waktu,” ujarnya kembali menari untuk menciptakan gerakan baru. Namun matanya sesekali melirik ke pintu masuk, berharap Chaesa kembali.

Di ruang ganti, Chaesa menekuk wajahnya. Karena masalah perjodohan semalam, ia bahkan sama sekali tak ada gairah untuk beradu mulut dengan Taemin. Pikirannya benar-benar kacau.

Sebatang es krim muncul di depan matanya, ia mendongak dan mendapati Kwon Hyeorin tengah tersenyum padanya.

“Hyeorin-ah,” pekik Chaesa, ekspresinya kembali ceria.

“Kudengar latihanmu mendapat sabotase hari ini,” cibirnya.

Chaesa dengan antusias merobek bungkus es krim. “Ya, si Lee Taemin itu lagi-lagi berulah.”

“Oh, kau sudah mengenal anak itu?”

“Tidak juga. Er… bagaimana dengan debat Inggrismu? Kudengar kau terpilih sebagai perwakilan sekolah.”

Hyeorin mengangkat bahunya. “Tak ada yang spesial. Hanya berbicara, apa yang harus dipersiapkan?” sahutnya angkuh.

“Cih~” Chaesa mendengus dan mereka tertawa.

Di sekolah ini, Chaesa mempunyai dua orang sahabat, Park Chaeri dan Kwon Hyeorin. Mereka bertiga memiliki kelebihan masing-masing. Chaeri dengan otak briliannya, Hyeorin dengan kepiawaiannya berbahasa Inggris, dan Chaesa dengan keluwesannya menari balet. Banyak siswi yang iri pada mereka, jika sedang berjalan bersama, nampak seperti ada cahaya yang mengikuti mereka. Benar-benar bersinar…

Chaesa memiliki sifat yang keras, ia terbiasa dimanja oleh harta, namun sangat mandiri hidup di Seoul bersama adiknya Changmin. Chaeri sangat periang namun sensitif, tahun lalu ia meraih juara nasional olimpiade fisika. Sedangkan Hyeorin, paling keibuan di antara mereka, selalu menjadi penengah, pendengar, dan pemberi nasihat yang baik.

“Hyeorin-ah, aku perlu vitamin…”

Hyeorin paham dengan kalimat tersebut, ia bangkit. “OkayChoi Minho’s time!”

CHAESA dan Hyeorin duduk santai di tribun penonton. Di lapangan ada beberapa anggota klubbasket yang sedang berlatih, namun tak ada Choi Minho di sana. Chaesa mendesah bosan, ia melipat tangannya dan bersandar.

      “Kemana dia? Kok tak ada?” tanya Hyeorin.

      Chaesa mengangkat bahunya. “Di mana Chaeri?”

      “Molla,” sahut Hyeorin singkat. Lantas ia menilik wajah Chaesa yang tak bersemangat. “Aku tahu Choi Minho tak ada, tapi aku tak pernah melihat wajah yang seperti itu. Chaesa-yawae?”

      Chaesa mendesah panjang. “Kau… lebih hebat dari ibuku, Hyeorin-ah, benar-benar…”

      Hyeorin tersenyum, bangga pada dirinya sendiri. “Jadi?”

      “Er… aku―”

      Suara derap sepatu terdengar semakin dekat. Chaeri berlarian mendekati mereka, ada yang berbeda, ia tak berhenti tersenyum. Tangan kanannya tak berhenti memegangi poni yang ikut bergoyang seirama dengan langkahnya.

      “Wah… daebak… wah…,” ujarnya tak jelas dengan napas tersengal-sengal.

      Chaesa mendorong bahu Chaeri. “Habis lihat hantu, hah?”

      “Cih, biarkan aku mengatur napas dulu!” ia menarik napas perlahan-lahan, berusaha membuat napasnya kembali stabil. “Ah, aku telat kemari karena Taemin meminta bantuanku menjelaskan tugas untuk besok. Hari ini dia terlalu sibuk dengan klubnya.”

      “Lee Taemin ketua klub dance baru itu?” tanya Hyeorin.

      Chaeri mengangguk riang. “Aku bahkan diperbolehkan memanggilnya ‘Taemin-ah’. Kyaaa~”

      Chaesa dan Hyeorin menutup kuping mereka.

      “Kalian satu kelas ‘kan?” tanya Hyeorin lagi.

      “Hm. Kau tahu, Hyeorin? Dia benar-benar tampan dan sejuta kali lebih tampan jika sedang menari. Otaknya juga patut diacungi jempol, dia juga jago memainkan piano. Saat pelajaran seni, rasanya aku mau pingsan mendengar suara dewanya. Dia benar-benar paket yang sempurna. Ah ya, dia juga sangat ramah.”

      “Ramah?!” protes Chaesa, lalu ia mendengus jijik.

      “Beberapa minggu terakhir ini aku terlalu sibuk dengan debat Inggrisku. Jadi belum lihat seperti apa Lee Taemin itu,” ujar Hyeorin.

      “Pokoknya dia sangat-sangat-sangat tampan.”

      Baik Hyeorin maupun Chaesa sama-sama membuang muka. Chaeri memang selalu seperti ini jika bertemu dengan pria yang menurutnya tampan. Tapi kali ini terlalu berlebihan. Sepertinya Taemin benar-benar sudah menyihirnya.

      “Kau belum melanjutkan ucapanmu, Chaesa-ya,” tagih Hyeorin.

      “Oh ya… Er, kalian harus janji tidak mengatakan hal ini pada siapapun, oke?” Hyeorin dan Chaeri mengangguk tak sabar, mereka diliputi rasa penasaran. “Kemarin orangtuaku pulang di tengah jadwalnya yang benar-benar padat hanya untuk menyampaikan kalau aku… akan dijodohkan.”

      “MWO?!” pekik Chaeri dan Hyeorin bersamaan, membuat Chaesa berjengit sebal.

      “Orangtuamu pikir kau Chunhyang?” cibir Chaeri.

      “Berisik, Park Chaeri!” omel Hyeorin. “Terus? Kau mau?”

      Chaesa mendesah. “Memang aku bisa apa? Mereka sangat otoriter. Sangat, Hyeorin-ah, sangat!”

      “Siapa pria itu? Apa dia tampan dan kaya?” tanya Chaeri.

      “Yah, Park Chaeri!” kali ini tak hanya Hyeorin, Chaesa pun ikut protes.

      Chaeri memajukan bibirnya sebal. “Jadi, dia seperti apa?”

      “Mana kutahu. Kami belum bertemu― Jangankan aku, orangtuaku pun belum…”

      “He? Astaga, Shim Chaesa, bagaimana kalau pria itu jelek dan idiot?” pekik Chaeri.

      “Itu juga yang kutakutkan…”

      “Kapan kalian bertemu?” tanya Hyeorin.

      Chaesa mendesah lagi. “Appa bilang minggu depan…”

      Hyeorin membelai pundak Chaesa dengan maksud memberinya kekuatan. Tiba-tiba saja ia menjadi lebih murung dari sebelumnya. Chaeri pun ikut memeluk mereka.

      “Chaesa-ya, tadi Taemin memintaku untuk menyampaikan permintaan maaf padamu…”

      “Maaf?”

      Chaeri mengangguk. “Karena ruang latihan dipakai oleh klubnya. Tolong maafkan dia, Chaesa-ya, kumohon!”

      “Yah, apa kau istrinya?” dumal Hyeorin sebal.

      Mata Chaesa menerawang. Ia benar-benar tak menyangka pria menyebalkan seperti Taemin bisa meminta maaf. Tapi hal itu tidak mengubah kesan Chaesa terhadap anak itu.

      Bukankah lebih gentle jika mengatakannya langsung? Kenapa harus lewat Chaeri? Pikirnya.

SEKOLAH berakhir satu jam lalu, namun Taemin masih sibuk dengan koreografinya di ruang latihan. Di sana hanya ada dia dan beberapa anak tingkat dua lainnya. Ia hanya membiarkan juniornya yang pulang. Sejak siang konsentrasinya terpecah.

“Taemin-ah, sudahlah! Wajahmu sudah sangat pucat. Lanjutkan saja besok, kau perlu istirahat,” ujar salah seorang temannya. “Lagipula kau bisa melanjutkannya di rumah.”

Taemin tak menghiraukan.

“Ya, benar. Rumahmu kan besar dan luas. Aku pernah lewat depan rumahmu,” timpal yang lain. “Tapi kenapa akhir-akhir ini kau dan Jinki-sunbae jarang terlihat pulang bersama? Kau bahkan selalu mengambil arah berlawanan dari rumahmu.”

Yang mereka maksud adalah rumah Jinki. Taemin memang menuliskan alamat rumah Jinki dalam informasi pribadinya. Lagipula hampir semua siswa di Goojung mengenali Taemin sebagai adik dari Lee Jinki, seseorang yang memiliki pengaruh besar dalam organisasi sekolah dan sangat disukai para guru.

“Kalian terlalu banyak bicara. Aku mandi dulu, kalian pulang saja!”

Yes!” sahut yang lain riang dan segera membereskan ruang latihan.

Taemin melepaskan pakaiannya ketika sampai di ruang ganti, lalu ia mengambil shower untuk membersihkan tubuhnya yang dipenuhi keringat. Ingatannya kembali melayang pada kejadian tadi siang.

“Kenapa dia?” gumamnya. “Kenapa tak melawanku?”

Hanya beberapa menit, setelah berpakaian ia berjalan keluar gedung C di mana ruang latihan berada. Saat akan berjalan menuju lahan parkir, ia melihat Chaesa sedang berjalan bersama kedua temannya. Taemin mempercepat langkahnya menuju motor, setelah menyalakan mesinnya, ia mengenakan helm dan melesat.

Ia mengendarai motornya perlahan di belakang ketiga gadis yang sedang asyik bercanda sambil berjalan. Taemin tak menemukan ada senyum di wajah Chaesa sekalipun kedua temannya tertawa riang. Ia lantas melajukan motornya mendekati mereka.

“Taemin-ah!” pekik Chaeri.

Taemin menghentikan laju motornya. “Oh, annyeong, Chaeri-ya,” sapanya balik pura-pura tak tahu ada mereka di sana.

Hyeorin menatap serius ke arah Taemin, ia tak bisa melihat wajahnya karena Taemin mengenakan helm yang menutupi seluruh wajah.

“Mau pulang? Apa aku boleh ikut?” tanya Chaeri tak tahu malu.

Taemin kembali tersenyum. “Tentu, silakan.”

Chaeri mengeluarkan suara seperti cicit tikus. Tentunya ia girang setengah mati. Bukankah ini yang selalu diidam-idamkannya?

Chaeri berpegangan pada pundak Taemin saat akan naik ke atas motor, di mana pria itu tak hentinya memandangi Chaesa. Ia masih bingung dengan perubahan sikap Chaesa hari ini. Bukankah kemarin mereka masih beradu mulut?

“Oke, ayo!” ajak Chaeri riang.

“Kami duluan,” pamit Taemin yang hanya disahut anggukan dari Hyeorin.

“Ba-bye~” Chaeri pamit dengan nada aegyo, membuat Hyeorin bergidik.

Di perjalanan, Chaeri tak berhenti mengoceh membahas ini dan itu yang sama sekali tak dimengerti Taemin. Kedua tangannya memeluk erat pinggang Taemin dan lebih mengeratkannya lagi jika Taemin menambah kecepatan.

“Er, Chaeri-ya, temanmu kenapa? Kelihatannya tak suka melihatku.”

“Hm, nugu?”

“Yang mengenakan bando biru.”

“Ah, Chaesa. Dia kehilangan semangatnya sejak― Ah, aku tak tahu boleh membicarakan hal ini dengan orang lain atau tidak…”

“Siapa yang kau maksud ‘orang lain’? Aku temanmu!”

Chaesa tersenyum. Pipinya bersemu merah.

“Semalam Chaesa diberitahu orangtuanya kalau dia akan dijodohkan. Mengenaskan bukan? Di zaman modern seperti ini masih saja ada perjodohan. Kupikir orangtuanya tidak sekolot itu.”

Taemin tersenyum. Jadi hanya karena perjodohan itu? Pikirnya lega.

“Di mana rumahmu, Chaeri-ya?”

“Dua blok lagi ke arah kanan.”

SESAMPAINYA di rumah, Chaesa langsung masuk ke dalam kamarnya. Hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah menghindari orangtuanya. Ia tak ingin lagi mendengar mengenai perjodohan itu. Sepertinya kepala akan meledak jika ia teringat kembali pada kejadian kemarin malam.

      Sebenarnya ia sangat marah saat mengetahui ruang latihannya dipakai oleh klub dance. Karena hal tersebut, ia dan kelompoknya harus mendapat kerugian kehilangan kesempatan berlatih. Namun entah kenapa, semua kata-kata cacian yang ingin ia tembakkan pada Taemin menguap. Semangatnya untuk ‘berperang’ lenyap hanya karena kabar buruk yang disampaikan Eomma danAppanya semalam. Dan alasan lain yang terselip di hati kecil Chaesa adalah mendapati kenyataan bahwa dirinya sedikit terpana melihat tarian Taemin.

      “Andwae!!!” teriaknya sambil menenggelamkan kepala ke dalam bantal.

      “Noona,” panggil Changmin disertai suara ketukan pintu.

      “Hm?” sahut Chaesa malas.

      “Ada yang datang mencarimu.”

      Chaesa mengangkat kepalanya dan berbicara pada pintu. “Siapa? Chaeri?” tanyanya. Ya, mungkin saja dia kemari untuk menjerit-jerit menceritakan kejadian saat diantar pulang Taemin.

      “Bukan. Dia lelaki.”

      Chaesa bangkit dan membuka pintu. “Siapa?”

      “Mana aku tahu. Kau lihat saja sendiri!” sungut Changmin, “Tapi, Noona, dia sangat tampan. Hanya saja ekspresinya menyebalkan!”

      Chaesa mengerutkan dahinya, tanpa membuang banyak waktu, ia berlari menuruni tangga menuju ruang tamu.

      “Kau?!” pekik Chaesa.

      Taemin tersenyum tipis. Benar apa kata Changmin, ekspresi wajahnya yang dingin sangat menyebalkan. Ia terlihat sangat angkuh. Taemin setengah mengangguk. “Malam…”

      “Dari mana kau tahu rumahku?”

      “Dari Park Chaeri.”

      Chaesa membuang wajahnya tak suka. Tangan kanannya mengepal, kesal dengan mulut besar temannya. Mati kau, Park Chaeri! Rutuk Chaesa dalam hati.

      “Ada perlu apa?”

      “Er… boleh aku duduk?”

      “Hm,” sahut Chaesa dingin dengan tangan terulur mempersilakan Taemin duduk.

      “Aku kemari untuk memberitahumu kalau ruang latihan sudah bisa digunakan oleh klub balet.”

      Chaesa mengangkat alisnya. Ia memandang Taemin meremehkan. “Hanya itu? Kau datang jauh-jauh kemari hanya untuk itu?”

      Lagi-lagi Taemin tersenyum tipis, air mukanya sangat tenang. “Ya, karena tadi siang kau terlihat sangat murung saat tahu ruang latihan kuambil alih. Cengeng sekali!”

      “Aku murung bukan karena itu―”

      “Ada siapa, Chaesa-ya?” terdengar suara Appa.

      Chaesa menoleh dan mendapati Appa sedang memelototi mereka berdua dari ruang tengah. Taemin langsung bangkit dan memperkenalkan diri.

      “Annyeonghaseyo, Lee Taemin im―”

      “Ah ya,” sahut Appa mengibaskan tangannya tak peduli sambil berlalu dari sana.

      Kini giliran suara Eomma yang terdengar, “Semoga bukan pacarmu ya, kan kamu sudah punya calon tunangan.”

      GLEK!

      Chaesa menelan ludah keras-keras, wajahnya memerah. Ia merasa malu sekali.

      “Tunangan?” tanya Taemin. Chaesa hanya diam menunduk. “Sudah tahu punya tunangan kenapa masih saja mengincar pria lain? Si siapa yang bermata besar itu… errr, Choi Minho?”

      “Bukan urusanmu!”

      “Kau harus tidur cepat, Chaesa-ya, tidur cukup dapat membuat kulitmu sehat. Jangan buat kami malu dengan calon tunanganmu kalau kulitmu keriput nanti!”

      Chaesa mencengkeram rok seragam yang masih dikenakannya. Tubuhnya bergetar menahan rasa malu. Kali ini Eomma sudah sangat keterlaluan!

      “Keriput?” tanya Taemin dengan ekspresi ingin tertawa.

      “Jangan dengarkan!” desis Chaesa. “Kapan kau pulang?” usirnya.

      Taemin melirik jam tangannya. “Sekarang saja kalau begitu.” Ia bangkit dan menaikkan retsleting jaket yang agak ketat di tubuhnya. “Sampaikan pada orangtuamu kalau aku pulang.”

      “Tak perlu. Mereka juga tak mengharapkan kehadiranmu!” ujar Chaesa ketus.

      “Galak sekali!”

      Taemin tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Chaesa. Eomma dan Appa yang mengawasi mereka dari ruang tengah langsung was-was.

      “Ehem…,” deham Appa.

      Taemin berbisik. “Aku kemari untuk menyampaikan hal tadi. Bukan sengaja ingin bertemu denganmu. Jadi, jangan terlalu percaya diri!”

      “Cih~ Kenapa tidak menyampaikannya melalui Chaeri? Bukankah kalian satu kelas dan baru saja pulang bersama tadi siang?” balas Chaesa berang.

      “Chaeri menyukaiku, dia selalu salah tingkah jika berada di dekatku dan selalu mengeluarkan suara-suara aneh jika sedang kegirangan. Jika aku terus-terusan mengajaknya berinteraksi, khawatir ia akan salah paham. Kalau kau takkan berpikir seperti itu kan? Atau jangan-jangan kalimatmu barusan menyiratkan kalau kau sedang cemburu?” goda Taemin.

      Chaesa melotot. Ini benar-benar keterlaluan…

      Ia mendorong tubuh Taemin. “Bukankah tadi kau sudah dengar? Aku sudah punya tunangan.”

      Taemin mendengus, senyum singkat terukir di wajahnya. “Bukankah masih terlalu muda?”

      “Apa maksudmu?! Aku dijodohkan!”

      “Apa kau tak bisa mencari jodohmu sendiri?” Taemin tak berhenti menyerangnya. Menurutnya, ini sangat menyenangkan.

      Chaesa gusar. “Yaaah! Jika tunanganku tahu, matilah kau!”

      Taemin tersenyum geli, ia berbalik dan beranjak menuju pintu keluar. Ia terus berjalan ke halaman menuju motornya dan memakai helm. Sedangkan Chaesa tanpa sadar mengikutinya keluar untuk mengantar.

      “Seperti apa dia, tunanganmu itu? Apa dia tampan sepertiku?” goda Taemin.

      Chaesa melipat kedua tangannya dan mendekap di dada. “Pastinya dia seribu kali lebih tampan darimu dan tidak idiot!”

      Pernyataannya kali ini 180° berbeda dengan kemarin.

      “Oke. Selamat menikmati hari-hari perjodohanmu kalau begitu. Aku pulang…,” Taemin menyalakan mesin motornya dan melambai singkat pada Chaesa, “…bye!”

      Setelah Taemin hilang dari pandangan, Chaesa kembali masuk ke dalam.

      “Eomma-Appa, apa yang kalian lakukan? Kenapa mengungkit-ungkit masalah tunangan?!” teriak Chaesa. “Memalukan!”

      “Siapa dia?” interogasi Appa.

      “Teman. Dia siswa baru yang langsung terpilih sebagai ketua klub dance,” jelas Chaesa yang tanpa sadar sedang memuji jati diri Taemin.

      “Wah, gawat! Dia bahkan sangat tampan. Aku khawatir Chaesa akan tergoda,” ujar Eomma.

      Appa mengangguk setuju.

      “Ya, tidak seperti pria yang akan dijodohkan denganku itu yang kemungkinan jelek dan idiot!” sahut Chaesa sambil berlalu menuju kamarnya dan lagi-lagi ia tak sadar sedang membela Taemin.

..to be continued..

Preview next part:

Minho: “Hyung, apa menurutmu aku bisa mengalahkan Lee Taemin?”

Jonghyun: “Yah, bodoh! Sudah kubilang kan kalau kau memang menyukainya! Aish~”

Sun Gyun: “…dia satu sekolah dengan Chaesa kok. Chaesa-ya, apa dia belum menyapamu?”

Chaesa: “Satu sekolah?! Be-belum… Apa dia berada di tingkat dua juga?”

Sun Gyun: “Ya, tapi dia bilang tidak satu kelas denganmu.”

Chaesa: “A-Abeonim… apa dia sudah mengenalku?”

Sun Gyun: “Hm, kami memberikannya fotomu sebelum akhirnya dia juga mutasi ke Goojung.”

Jung Ah: “Baru beberapa minggu sekolah di sana, dia sudah diangkat menjadi ketua klub. Dia sangat populer di sekolah. Selain itu, dia juga berada di kelas unggulan. Apa kau sudah mengenalnya, Chaesa-ya?”

      Chaesa menggeleng.

Jung Ah: “Anak kami bernama… Lee Taemin.”

      Di saat yang sama, Taemin muncul dan langsung membungkuk meminta maaf atas keterlambatannya.

Taemin: “Annyeonghaseyo, maaf terlambat… Chaesa-ssi, senang bertemu denganmu.”

      Chaesa menatap pria kurus di hadapannya itu dengan mulut sedikit terbuka, matanya sama sekali tidak berkedip, ia hanya diam dan lemas di tempat…

 
13 Comments

Posted by on November 30, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

13 responses to “SHINee Fanfiction: “Miracle Romance [Chapter II]”

  1. loPhLove_key

    December 3, 2011 at 2:23 AM

    first kah??? trnyata udah ada lanjutannya??? udah mulai seru nih… semoga chaesa jd berpaling ma taemin… minho biar cari jodoh sendiri aja

     
  2. greenee

    December 10, 2011 at 4:59 PM

    eonni, aq biasa “magkal” di onmitheeff .. jalan” kemari .. bagus eon ..
    tapi, kayaknya taemin kok pantes ya akting” gitu? ckckckc … lanjut ya eon,, aku rajin” jalan” kemari deeh .. ^^

     
  3. MegaSeptiana

    December 20, 2011 at 11:10 PM

    di tunggu lanjutannya🙂

     
  4. vania

    December 23, 2011 at 4:35 PM

    Taemin go..Taemin go…wkwkwkwk (sinting..)
    d tunggu lanjutannya….

     
  5. parkyounggeun

    December 26, 2011 at 7:08 PM

    Chaesa! Mau dong dijodohin sama Taeppa!!
    Gak idiot kok! Dia cakep!!

    part 3. Gak lamakan??

    Maaf bru buka blog diya eonni!!

     
  6. justaqill3598

    January 1, 2012 at 1:15 PM

    Ayo taemin!! Rebut hati chaesa!!(?)
    Aduh aku geregetan sendiri bacanya hahahaa

     
  7. Togel

    January 23, 2012 at 3:54 PM

    Hmmm😀

     
  8. Onna

    February 12, 2012 at 8:09 PM

    Jengdiyaaaa ..
    Di part ini nih trakhir baca ..
    Pundung komen udah pnjang2 ga msuk pula ..
    Menyisakan trauma
    mmbuat aku hiatus dr dunia perepepan . Lol .

    Ngeliat 3sjoli itu jd kya ngliat cerminan kmu .. Gatau knpa
    hahaha ..
    Bru nydr kalo si chaeri gatau dri ..
    Ninggalin 2tmenny yg jln kaki dmi nebeng tetem ..

    Orgtuany chaesa jg ganjeennn ..
    Yaolloh mkan ati bngett dicengin dpn cwo tmpan begitu ..
    DIYOTTT !!
    KAGA ADA JINKI DI PART INI ..
    PENTING ITU DIMASUKKIN

    satu lagi ..
    Sesungguhnya aku msh ktuker ihh si chaesa sm chaeri

     
    • Ienav41

      February 12, 2012 at 8:13 PM

      Apus ihh yg ini diy ..
      Ini id bwt perang . Lol

       
  9. Ienav41

    February 12, 2012 at 8:11 PM

    Jengdiyaaaa ..
    Di part ini nih trakhir baca ..
    Pundung komen udah pnjang2 ga msuk pula ..
    Menyisakan trauma
    mmbuat aku hiatus dr dunia perepepan . Lol .

    Ngeliat 3sjoli itu jd kya ngliat cerminan kmu .. Gatau knpa
    hahaha ..
    Bru nydr kalo si chaeri gatau dri ..
    Ninggalin 2tmenny yg jln kaki dmi nebeng tetem ..

    Orgtuany chaesa jg ganjeennn ..
    Yaolloh mkan ati bngett dicengin dpn cwo tmpan begitu ..
    DIYOTTT !!
    KAGA ADA JINKI DI PART INI ..
    PENTING ITU DIMASUKKIN

    satu lagi ..
    Sesungguhnya aku msh ktuker ihh si chaesa sm chaeri

     
  10. keyminki

    March 9, 2012 at 11:34 AM

    Semakin bagus nih.. Suka sma ide ceritanya yang msih jrg alias langka..

    Gk mau ksih komentar byk2 udh bgus kok, dilatih lagi mkin bgus tuh

     
  11. bnnst

    March 29, 2012 at 6:33 PM

    annyeong,aku reader baru.aku suka ceritanya.mm,taemin kok senyum” gitu sih?jangan2 tunangannya taemin?hmmm,penasaran.okedeh,lanjut ya chingu.salam kenal^^

     
  12. Miina Kim

    June 5, 2013 at 11:36 PM

    Tuh, kan, seru banget konflik2 awalnya…
    aaaaahhhhhh…… Siapapun yg jd chaesa, pasti dongkol kalo Taeminnya
    bertingkah kayak gitu… tapi tetep gak bisa menyagkal kelebihan2nya…
    hahahahhaaaa.a..

    Lho? Jinki mana Jinki…??? Gak ada…..???

    Part2 selanjutnya aku harap porsi Jinki bakal ada, ya, saengi….

    Waduh, keliatan tuh, di snapshotnya, Part berikutnya
    kedua sejoli yg dijodohin bakal ketemu….
    Chaesa…, siapkan mentalmu, nak…..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: