RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter III]”

28 Dec
SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter III]”

 

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter III]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa, Park Chaeri, Kwon Hyeorin (imaginary cast), Jinki, Choi Minho, Kim Jonghyun dan Key.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

SETIBANYA di sekolah, Chaesa langsung memburu Park Chaeri, teman yang menurutnya telah berkhianat karena memberikan alamat rumahnya pada Taemin.

      “Yah, Park Chaeri!” teriaknya sambil menggebrak meja, ia mendatangi Chaeri ke kelasnya.

      “Wae?” tanya Chaeri polos dan tenang.

      “Untuk apa kau memberikan alamat rumahku pada si Lee Taemin itu?”

      Chaeri menutup buku fisika yang sedang dibacanya dan menatap Chaesa. “Karena dia yang meminta. Dia bilang ada hal penting mengenai klub yang harus diselesaikan malam itu juga. Jadi, kemarin dia memang ke sana? ASTAGA, APA SAJA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

 

      Chaeri histeris sambil mencengkeram kerah seragam Chaesa, membuat seluruh siswa yang ada di kelas pandangannya tertumpu pada mereka. Chaesa menyingkirkan tangan Chaeri dan merapikan kerah seragamnya. Ia merasa malu karena pandangan orang-orang. Mereka semua adalah anak-anak pintar, kelas Chaeri adalah kelas unggulan yang berisi makhluk-makhluk jenius dalam setiap pelajaran. Mereka yang rata-rata sedang membaca buku merasa terganggu dengan kedatangannya.

      Chaesa mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan dan tidak menemukan Lee Taemin di sana. Ia benar-benar merasa bersyukur. Setidaknya rasa malu yang harus ditanggungnya tidak menjadi berlipat-lipat.

      “Yah! Kau benar-benar membuatku malu. Urusan kita belum berakhir. Kita selesaikan sepulang sekolah nanti. Ara?” ujar Chaesa tegas. “Mati kau! Aish~”

      Saat berbalik hendak kembali ke kelasnya, Chaesa teringat hari ini ada tugas matematika yang belum ia kerjakan. Sepulangnya Taemin dari rumahnya, Chaesa langsung mengurung diri di kamar dan tertidur, benar-benar lupa dengan tugasnya. Ia kembali berbalik.

      “Yah, Park Chaeri, apa kau sudah mengerjakan tugas matematika halaman 72?”

      “Hm. Wae?”

      “Aku pinjam punyamu! Kapan pelajarannya?”

      “Setelah istirahat.”

      Chaesa menyambar tas Chaeri dan mengambil buku yang dibutuhkannya. “Kumaafkan kesalahanmu. Istirahat nanti kukembalikan. Gomawo!”

      Chaeri mendengus dan menggelengkan kepala. “Bocah tengik!”

      Chaesa berlari menuju kelasnya. Lonceng pertanda pelajaran pertama hampir tiba, ia segera menyalin tugas milik Chaeri. Saat akan duduk, ia menoleh ke belakang dan mendapati Shindong tengah menikmati panekuk kimchi. Ia menyambar dan memasukkannya sekaligus ke dalam mulut, membuat pipinya menggembung.

“Ah~ Chaesa-ya, aku masih lapar.”

“Aku juga. Gomapta, Dong-ah!” ujarnya dengan mulut penuh dan susah payah mengunyah.

“Shim Chaesa!” Tiba-tiba terdengar sebuah suara di hadapan Chaesa yang membuatnya kaget. Ketika ia mendongak, ia menemukan Taemin sudah berdiri di hadapannya. Chaesa langsung tersedak dan memuntahkannya ke lantai.

Gwaenchana?” tanya Taemin yang ikut panik. Ia maju selangkah untuk membantu, namun Chaesa mengangkat tangan kirinya melarang Taemin mendekat. Karena malu dengan muntahan panekuk yang ada di lantai, ia menggesernya dengan kaki ke bawah kursi dengan maksud agar Taemin tak melihat. Shindong di belakang mengacung-acungkan botol minum. Chaesa menyambar dan menenggaknya hingga tandas.

“Dasar rakus!” cibir Taemin.

Chaesa memelototi Taemin yang tengah tersenyum mengejek.

“Aku tak butuh pendapatmu!” dumal Chaesa. “Sedang apa kau di sini? Mengagetkan saja!”

Taemin tertawa renyah, membuat Chaesa terpaku. Ini pertama kalinya ia melihat Taemin tertawa. Biasanya ia hanya disuguhi ekspresi dingin darinya.

“Aku juga risih harus datang kemari,” Taemin mengedarkan pandangan. Ini sangat wajar baginya.  ‘Mengerjakan tugas mendadak di kelas’ adalah pemandangan biasa di kelas Chaesa, tapi tidak di kelas Taemin, kelas unggulan dari seluruh kelas tingkat dua. “Kau sedang apa?”

Chaesa menarik buku milik Chaeri dan menyembunyikannya ke loker bawah meja. Wajahnya bersemu merah. “Mengerjakan tugas untuk besok.”

“Rajin sekali. Jangan terlalu memforsir pikiran, kerjakan saja di rumah!”

“Jangan sok peduli!”

“Aku bukan orang seperti itu! Aku memang orang yang peduli.”

Chaesa sedikit salah tingkah. Ia menundukkan kepalanya. “Mau apa kau kemari?”

“Kudengar tadi kau ke kelasku dan memarahi Chaeri…”

“Ah, dia mengadu padamu?”

“Tidak. Aku mendengarnya dari teman-teman yang lain. Mereka bilang seperti menonton layar lebar ketika kalian bertengkar,” Taemin melipat kedua tangannya dan kembali berbicara dengan tenang, “Jangan seperti itu padanya. Ia tak salah, akulah yang memaksanya untuk memberitahukan alamatmu padaku.”

Chaesa merasa semakin tertohok. Ia masih belum berani mengangkat kepalanya.

Well, aku kemari hanya ingin menyampaikan itu.” Taemin berjalan meninggalkan ruang kelas Chaesa. Kemudian sesampainya di pintu, ia kembali menoleh, “Chaesa, di bawah bibirmu masih ada panekuk.”

Chaesa segera menyentuh bawah bibirnya. Taemin tertawa mengejek seraya mengangkat tangannya untuk pamit.

“Errrrrrrr… Lee Taemin!!!”

Lonceng berbunyi. Chaesa terkejut, tugasnya belum selesai! Ia panik dan buru-buru menyalin kembali tugas milik Chaeri. Tanpa ia sadari, Taemin tengah tertawa geli memperhatikannya dari luar jendela.

“MINHO-YA, pusatkan pikiranmu! Jangan memandangi tribun terus!” protes Jonghyun.

“Si-siapa yang melihat tribun…,” elaknya.

Jonghyun berjalan mendekati Minho dan merangkulnya.

“Dia tak datang? Ini pertama kalinya kan? Bukankah sudah kubilang untuk cepat-cepat mendekatinya sebelum si Rambut Merah itu yang mendapatkannya duluan? Lagipula kau pasti menang, Shim Chaesa kan penguntit setiamu.”

“Sudahlah, ayo kita latihan!”

“Ei, ei, ei~ Wajahmu memerah tuh.”

Hyung!”

Wae?!” tantang Jonghyun. “Kau mengajak latihan tapi kau sendiri yang tak fokus. Memalukan!”

Minho jengkel dikatai seperti itu, ia membekuk leher Jonghyun dengan kedua tangannya. Di saat mereka sedang asyik adu kekuatan, Jinki datang dan memukul kepala mereka satu per satu. Tangan kanannya menenteng sebuah kantong plastik.

“Oh, Jinki-hyungannyeonghaseyo,” sapa Minho hormat sambil membungkuk.

Jinki tersenyum dan mengangguk.

Yah, Jinki-ya, sedang apa kau di sini? Lapangan basket tak cocok untukmu. Pergilah ke perpustakaan!” ejek Jonghyun.

Jinki mendengus, ia masih tersenyum. “Aku sedang bosan. Ingin bermain-main sebentar. Kalian berdua, temani aku mengobrol!”

“Tapi, kami harus latihan…,” sahut Minho.

“Kau kan ketua klub dan Jonghyun mantan ketua klub, jadi biarkan anak buah kalian saja yang berlatih. Tak masalah ‘kan?”

Jinki berjalan menuju tribun dan mau tak mau Jonghyun serta Minho pun mengikutinya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun. “Baru kali ini aku mendengarmu berbicara tentang ‘bosan’.”

Jinki membagikan softdrink dari kantong plastik yang dibawanya. “Bagaimana tidak, aku menjabat sebagai presiden siswa selama dua tahun berturut-turut. Menyebalkan! Aku kan harus fokus dengan ujian masuk universitas.”

“Itu salahmu. Citramu terlalu baik di mata semua siswa, bahkan guru-guru. Lagipula kau mengorganisir segala sesuatu dengan baik, ditambah lagi kemampuan bicaramu memang mengagumkan.”

“Woah, Kim Jonghyun, kau sedang memujiku?” goda Jinki puas. “Ah, aku ingin jadi badboysesekali. Bagaimana rasanya, Jjong-ah?”

Jonghyun melotot, tak rela disebut badboy.

Minho sedikit terkejut mengetahui seperti apa sebenarnya presiden siswa yang selalu ia banggakan di balik sikap wibawanya selama ini. “Jonghyun-hyung benar. Aku sangat iri padamu,Hyung.”

Jinki melotot tak percaya. “Wah, bahkan pria tertampan di sekolah ini bisa iri padaku?” Minho menyikut Jinki, malu dipuji seperti itu. “Justru aku yang iri padamu, Minho-ya.”

Waeyo?” tanya Minho tak percaya orang ‘sebesar’ Jinki iri padanya.

“Karena Shim Chaesa menyukaimu…”

“Aku amat sangat setuju!” Jonghyun bangkit seraya mengangkat tangannya. “Aku pernah mengajaknya bicara, tapi ujung-ujungnya sama seperti aku mengobrol dengan angin. Payah!”

Minho tersenyum puas.

“Jangan bangga dulu…,” sela Jonghyun, “Pamormu sudah kalah dari adiknya Jinki.”

“Kenapa dengan Taemin?” tanya Jinki tenang.

Jonghyun menyeringai. “Kuperhatikan sepertinya dia mengejar Chaesa juga.”

Jinki sedikit salah tingkah. Tanpa mengejar pun sepertinya Taemin dan Chaesa tetap akan bersama karena perjodohan itu. Pikirnya. Lalu ia mengalihkan situasi dengan menenggaksoftdrink.

Yah, Jjong-ah, kau tak mempersiapkan ujian masuk universitas? Selalu saja bermain-main di sini.”

Jonghyun tertawa keras, lalu ia kembali berdiri dan membusungkan dadanya. “Tak perlu. Aku langsung diterima di universitas karena kemampuan basketku. Setelah lulus aku akan masuk asrama. Aku ingin jadi pemain basket profesional.”

“Dengan tinggimu yang seperti itu?” ejek Jinki.

Yaaah! Tinggi tidak terlalu penting, yang harus diperhatikan itu skill!”

Mereka bertiga tertawa dan menenggak tandas softdrinknya masing-masing. Hari sudah sangat sore, sekolah sudah usai sedangkan Jinki menanti pelajaran tambahan yang baru selesai hingga malam. Ia merasa sangat senang, sudah lama tidak mengobrol bebas seperti ini karena harus menjaga wibawanya di hadapan seluruh siswa. Hanya Jonghyun yang membuatnya dapat berbicara nyaman, dan sekarang ditambah lagi Minho yang tahu seperti apa Jinki dibalik jabatannya.

Hyung, apa menurutmu aku bisa mengalahkan Taemin?” celetuk Minho tiba-tiba.

Jonghyun dan Jinki tercenung. Mereka memandang Minho tak percaya.

Yah, bodoh! Sudah kubilang kan kalau kau memang menyukainya! Aish~” Kini giliran Jonghyun yang membekuk leher Minho.

Jinki tersenyum geli. “Menyebalkan, buat iri saja!”

Satu minggu kemudian…

SAAT keluar dari gerbang sekolah, Chaesa sudah ditunggu eomma. Ia melihat ibunya itu tengah melambai riang di balik stir mobil. Dengan sunglass yang bertengger di atas hidung, membuatnya terlihat semakin cantik. Chaesa segera masuk ke dalam mobil. Di dalamnya sudah ada Changmin di kursi depan.

“Wah, tumben Eomma menjemput,” ujar Chaesa tak sopan.

“Membosankan diam di rumah. Aku sudah terbiasa sibuk, rasanya tubuh pegal-pegal. Lagipula hari ini kita akan pergi belanja membeli pakaian untuk acara pertemuan besok, Chaesa-ya.”

Ne? Kenapa harus beli pakaian segala sih, Eomma?”

“Tak usah banyak bicara. Kau ikuti saja perkataanku!”

Changmin mendengus mengejek dengan gameboy yang selalu setia di tangannya, sedangkan Chaesa menghenyakkan diri dengan wajah tanpa antusias sama sekali.

“Lho, bukankah anak itu yang kemarin malam datang ke rumah?” tanya eomma tiba-tiba saat ia melihat Taemin di taman samping sekolah. Di telinganya tersumbat headset dan ia sedang menari terpisah dari teman-temannya.

“Taemin? Sedang apa mereka menari di taman?” gumam Chaesa. “Kau mengingatnya, Eomma?”

“Hm, tentu, karena dia tampan.”

Chaesa memutar bola matanya jengkel. Changmin mau tak mau mendongak untuk melihat. “Wah, kupikir Hyung itu tak berotak. Ternyata kemampuan menarinya sangat hebat.”

“Apa maksudmu tak berotak?” tanya Chaesa sebal tanpa alasan. “Dia satu kelas dengan Chaeri tahu!”

“Chaeri-noona si pintar itu? Astaga, Noona, teman-temanmu sangat hebat. Kau pasti sangat minder.”

Aish~” Chaesa menyumpal mulut Changmin dengan tisu. “Aku sangat populer di sekolah―”

“―karena fisik? Oh, ayolah, itu sangat menyedihkan!”

YAAAAH, SHIM CHANGMIN!!!”

Eomma menginjak pedal gas. “Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Anak itu benar-benar di luar dugaan, itu artinya dia sangat hebat kalau bisa berada di kelas unggulan. Chaesa, aku tak ingin mendengar kalau kau sedang menggodanya!”

EOMMA!!!”

Selama perjalanan mereka habiskan dalam diam, kecuali eomma yang tak berhenti menyanyikan lagu-lagu SNSD. Menganggap mobil seperti ruang karaoke. Membuat Chaesa dan Changmin sukses menutup kuping mereka.

Setelah memarkirkan kendaraan, mereka keluar dan mulai berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan Apgujong, mencari butik yang baru saja mengeluarkan koleksi terbaru mereka.

“Tumben tak latihan balet,” ujar eomma saat ia menyerahkan beberapa gaun pada Chaesa untuk dicoba.

“Tentu saja ada. Tapi ada seseorang yang meneleponku dan mengancamku untuk segera menemuinya di gerbang sekolah,” sindir Chaesa.

“Ah, aku bosan. Aku pergi ke toko game!” gerutu Changmin.

“Hati-hati!” teriak eomma, lantas ia kembali memfokuskan diri pada Chaesa. “Ayo cepat dicoba!”

Chaesa melototi setumpuk gaun yang ada di tangannya. “Semuanya?”

Eomma mengangguk tegas. Chaesa pasrah dan masuk ke fitting room.

Setelah menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk mencoba beberapa gaun, akhirnya mereka memutuskan untuk membeli salah satu dari mereka. Chaesa menolak dibelikan lebih dengan alasan masih memiliki banyak gaun di dalam lemarinya.

“Kau susul Changmin, eomma tunggu di mobil.”

Chaesa menurut, ia pergi menuju toko game yang bertempat di ujung blok. Saat sampai di sana, ia menemukan Changmin tengah asyik bertarung main game dengan seseorang. Chaesa memerhatikan seragam anak itu. “Goojung?” gumamnya.

“Changmin-ah!”

Changmin menoleh. “Oh, Noona, sudah selesai?”

“Hm, Eomma memintaku menjemputmu. Kaja!”

Hyung, aku minta nomor teleponmu. Kita bisa bertemu kan lain waktu?” tanya Changmin.

Pria itu mengangguk, lantas ia berbalik. Jantung Chaesa hampir terlepas saat melihat pria tersebut.

Annyeonghaseyo,” sapa Minho.

“Oh, annyeonghaseyo,” Chaesa menyapanya balik. Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya menjadi kaku. “Maaf, adikku merepotkan.”

“Oh, tidak. Dia sangat menyenangkan,” sahut Minho, sedangkan Changmin mendelik. Sebal dituduh seperti itu oleh noonanya.

“Kami pulang dulu. Sampai jumpa!” Chaesa membungkuk dan buru-buru menarik tangan Changmin dari sana.

Hyung, nomormu…,” teriaknya namun sayang mereka sudah sangat berjauhan. “YaaahNoona, kau gila?! Kau menghilangkan kesempatanku hanya karena jantungmu lemah melihat pria tampan. Sungguh aku memiliki Noona yang kampungan!”

Chaesa memukul kepala Changmin. Ia terus menyeretnya hingga ke mobil. Eomma sudah menunggu di dalam.

Noona, aku membencimu!”

“Aku tak peduli!”

SELESAI latihan, Taemin berencana untuk kembali ke ruang latihan. Hari ini klubnya memilih taman samping sekolah karena merasa tak enak pada klub lain jika harus terus-menerus mengganggu jadwal latihan mereka dengan mengambil alih ruang latihan setiap hari.

Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Chaeri dan Hyeorin.

“Taemin-ah,” panggil Chaeri riang.

Hyeorin mematung, ia menyikut Chaeri dan berbisik. “Kenapa kau tak bilang kalau dia setampan ini?”

“Aku sudah mengatakannya!” desis Chaeri sebal.

“Kwon Hyeorin imnida,” Hyeorin langsung memperkenalkan diri tanpa diminta.

Taemin membungkuk. “Lee Taemin imnida. Kalian belum pulang?”

“Belum. Aku masih harus kembali ke laboratorium, sedangkan Hyeorin berlatih speech. Kau sendiri?”

“Aku akan pulang setelah ganti pakaian. Er… tumben hanya berdua…”

“Ah ya, tadi Chaesa dijemput ibunya,” sahut Hyeorin. “Kau kelas apa, Taemin-ssi?”

“Satu kelas denganku,” sela Chaeri sebal, “Bukankah kau sudah tahu, Hyeorin-ah?”

“Ah, benarkah? Aku lupa kau sudah pernah mengatakannya,” sahut Hyeorin dengan suara yang dimanis-maniskan.

Taemin hanya bisa tersenyum melihat kelakuan aneh dua gadis di hadapannya. “Er, aku ganti pakaian dulu kalau begitu. Sampai nanti, Chaeri-ya, Hyeorin-ssi.”

“Ya, sampai nanti,” sahut mereka berdua seperti sedang tersihir kata-kata Taemin.

Taemin kembali berjalan menuju ruang latihan, lalu ia masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya yang penuh keringat. Pikirannya penuh dengan absennya Chaesa kali ini di antara dua temannya. Dijemput ibunya hingga tak dapat berlatih balet? Apa itu sangat serius? Tanyanya pada dirinya sendiri.

Setelah selesai, ia bergegas keluar dan tak sengaja bertemu Jinki di persimpangan koridor. “Hyung,” panggilnya.

“Oh, Taemin-ah.”

“Aku ingin menginap di rumahmu. Boleh ‘kan?”

“Tidak! Aku mau belajar.”

Taemin merangkul bahu Jinki. Kini tinggi mereka sudah setara. “Ayolah, ini hari jumat. Besok tidak ada sekolah. Kau bisa mengistirahatkan otakmu dulu. Malam minggu kau bisa kembali belajar. Tidak punya pacar ‘kan?”

“Cih, rewel sekali seperti bayi. Oke, ayo!”

Call!”

Jinki menghubungi drivernya untuk tidak menjemput. Ia pulang bersama Taemin menggunakan motor miliknya yang sedang dalam masa ‘peminjaman’.

“Aku yang bawa! Sudah lama tidak mengendarainya,” sindir Jinki seraya mengusap-usap motor kesayangannya.

“Terserah. Ayo cepat, aku lapar!”

“Oke, pegangan yang kuat! Ah, sudah lama tak ngebut―”

Andwae!” larang Taemin, wajahnya tiba-tiba memucat.

Wae? Ini keren. Lagipula salahmu sendiri membiarkanku terlalu merindukannya seperti ini.”

Kaki kiri Jinki menginjak pedal gigi. Taemin melingkarkan tangannya di perut Jinki. Motor melesat dengan kecepatan tinggi.

Hyung, hentikan!” teriak Taemin di belakang. “Sungguh, aku baru tahu kau sebarbar ini!”

“Wohooo~” Jinki hanya tertawa, menikmati.

BEGITU turun dari motor, Taemin langsung membungkuk. Ia muntah.

Yah, kau mengotori halaman!” protes Jinki sambil tertawa jahil.

“Kau benar-benar tak memiliki image seperti itu, Hyung.”

Lagi-lagi Jinki hanya tersenyum. “Memang kau biasa menjalankannya di kecepatan berapa, sih? Ribut sekali!”

“Tidak segila kau!”

Jinki menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam rumah, begitupula dengan Taemin. Orangtua Jinki tak ada di rumah setiap akhir minggu. Ayahnya sebagai CEO sebuah resort di pulau Jeju sibuk mengurusi pekerjaan, sedangkan ibunya memilih menjaga nenek di Gwangmyeong, Gyeonggi-do. Mereka pulang hanya pada hari senin dan kembali ke kegiatannya masing-masing pada hari kamis.

“Ah, nyaman,” desah Taemin ketika ia menjatuhkan diri di kasur milik Jinki.

“Bagaimana perjodohanmu? Besok pertemuannya ‘kan?”

“Hm, itulah mengapa aku menginap di sini. Di rumah terlalu ribut menyiapkan hal-hal tak penting…”

Jinki mengambil pakaiannya dari dalam lemari, lantas berjalan menuju toilet. “‘Hal-hal tak penting’ seperti apa?”

“Apapun. Seperti pakaian, sepatu, bahkan obrolan. Appa sampai membuat konsep apa saja yang akan dibicarakan. Itu menggelikan!”

Terdengar tawa dari dalam toilet. Selang beberapa menit, Jinki keluar sudah dengan pakaian rumah santainya. “Sudah ada pakaiannya?”

“Ada dan aku takkan pernah memakainya.”

Wae?”

“Aku tak mau mengenakan Hanbok. Chaesa pasti mengenakan gaun atau semacamnya. Mau ditaruh di mana mukaku?!”

Jinki tertawa. “Pakai saja tuxedo-ku. Ada beberapa yang sudah tak muat. Kau kan kurus, pasti cukup.”

Call! Kalau begitu aku akan memakainya besok. Aku mau tidur, lelah sekali.”

“Yah, cuci dulu kakimu. Jangan menyebar kuman di kasurku! Yah, Lee Taemin! Yah!”

Taemin sudah tidur tanpa mengikuti permintaan si tuan rumah.

CHAESA dengan anggun duduk di atas sofa, wajahnya tidak memancarkan ekspresi bahagia sama sekali. Berkali-kali ia merapikan mini dress hitam bahu terbukanya dengan perasaan tak nyaman. Sesekali ia memandangi Changmin yang tengah berkutat dengan tuxedo mungilnya.

“Aku takkan mengancingkan jasnya dan dasi ini akan kupakai sembarang. Tidak usah terlalu rapi,” ujarnya santai berbicara pada diri sendiri sambil berputar di depan TV yang mati hingga merefleksikan bayangannya. “Wah, nappeun namjaeyo (badboy). Aku suka konsep seperti ini.”

Tanpa ia sadari, Chaesa memperhatikannya dan mendengus tiap kali mendengar komentar-komentar-terlalu-percaya-diri adiknya itu.

“Kau pikir semua gadis menyukai konsep itu? Kau… benar-benar labil, Changmin-ah, kau kolot!Aigoo~ Umurmu baru delapan, tapi pikiranmu benar-benar setaraf Appa!” cibir Chaesa.

Changmin berbalik dan memasang tampang kesal, namun sebelum ia menembakkan amarahnya,eomma berbicara lebih dulu. “Jangan lampiaskan kegelisahanmu padanya, Chaesa-ya! Ayo berangkat!”

Chaesa hanya merengut, sedangkan Changmin menyeringai puas.

“Ah, jincha! Aku tak ingin bertemu si idiot itu…”

“Calon tunanganmu tidak idiot, Shim Chaesa!” ujar appa tegas.

Mereka berjalan keluar rumah dan satu per satu masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Changmin tak hentinya mengejek Chaesa di mana ia hanya diam dengan pandangan menerawang keluar jendela mobil.

Sementara itu, dalam waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Taemin mematut dirinya di depan cermin. Ia merasa luar biasa dengan pakaian pemberian Jinki tersebut.

Ponsel berdering…

“Kau di mana? Jangan coba-coba kabur!” Appa mengultimatum dari seberang sana.

“Tak akan. Aku akan segera datang. Tenang saja!”

“Kami sudah sampai sejak tadi, cepat kemari!”

Ne, aku pergi sekarang.”

Taemin mengakhiri teleponnya dan kembali merapikan rambut. Lantas ia berbalik dan menemukan Jinki terlelap di atas meja belajarnya dengan beberapa buku dijadikan alas kepala. Ia menggeleng. “Sudah kubilang berhenti belajar. Masih saja… Ck!”

Ia menyambar ponsel dan bergegas berjalan keluar kamar.

“Taemin-ah,” panggil Jinki dengan suara parau.

Taemin berbalik. “Hyung, kau bangun?”

“Pergilah dengan driver-hyung! Naik motor hanya akan merusak penampilanmu.”

Call!” Taemin melompat ke atas kursi dan memeluk Jinki. “Gomawo, Hyung, kau benar-benar pengertian! Jinki-hyung jjang!”

“Aaah~ Sakit! Cepat pergi!”

SUASANA terasa hangat di mana appa sama sekali tidak berhenti membincangkan kisah-kisah masa kecilnya bersama pria yang ada di hadapan Chaesa. Gadis itu terlihat mengkerut di tempat duduknya. Baru kali ini ia merasa sangat tidak nyaman berada di sebuah restaurant mewah yang ada di kawasan Apgujong tersebut.

      Chaesa sedikit melenguh. Ia sama sekali tidak menyukai situasi ini, karena jujur saja kalau ia juga sangat gugup menantikan pria seperti apa yang akan dijodohkan dengannya.

      “Anak kalian cantik sekali, dia mirip sepertimu, Min Young-ah,” puji wanita muda yang sebenarnya juga sangat cantik.

      “Gomawo. Anak kalian juga pasti sangat tampan. Aku tak sabar melihat seperti apa calon menantuku,” cerocos eomma yang berhasil membuat Chaesa tersedak dan mengangkat kepalanya seraya menatap eomma ganas.

      Calon menantu?! Apa-apaan ini?! Amuk Chaesa dalam hati.

      “Jadi, kalian sama sekali belum melihat anak kami? Dia satu sekolah dengan Chaesa kok. Chaesa-ya, apa dia belum menyapamu?” tanya Lee Sun Gyun, ayah Taemin.

      “Satu sekolah?!” pekik Chaesa lepas kontrol, kemudian ia berdeham dan kembali anggun. “Be-belum… Apa dia berada di tingkat dua juga?”

      “Ya, tapi dia bilang tidak satu kelas denganmu.”

      Chaesa kembali menundukkan kepalanya, merenung. Pikirannya berkecamuk dan terjadi sedikit peperangan di sana.

      Dia di Goojung juga? Kami berada di tingkat yang sama namun dia sama sekali tidak pernah menyapaku. Tunggu, bukankah itu artinya dia sudah mengenalku? Pikir Chaesa.

      “A-abeonim…,” panggil Chaesa kaku, “…apa dia sudah mengenalku?”

      “Hm, kami memberikannya fotomu sebelum akhirnya dia juga mutasi ke Goojung.”

      Mutasi? Jadi dia siswa baru? Baiklah, Shim Chaesa, pikirkan dengan baik siapa dia. Berhenti memikirkan kalau itu adalah Choi Minho, pria yang dijodohkan denganmu ini bermarga Lee!

      “Baru beberapa minggu sekolah di sana, dia sudah diangkat menjadi ketua klub,” ujar ibu Taemin bangga.

      Ke-ketua clubBatinnya. Hati Chaesa semakin tidak tenang, ia terus mengingat-ingat para ketua dari seluruh klub yang ada di sekolahnya. Ia kembali berbicara pada dirinya sendiri. A-apa mungkin itu… Andwae, jangan berpikir kalau itu dia, Chaesa-ya, itu tidak mungkin! Tapi, siswa baru yang diangkat menjadi ketua club dan bermarga Lee

      “Dia sangat populer di sekolah. Selain itu, dia juga berada di kelas unggulan. Apa kau sudah mengenalnya, Chaesa-ya?”

      Chaesa menggeleng.

      Kelas unggulan? Baiklah, masih banyak anak bermarga Lee selain dia di kelas itu, Shim Chaesa, jadi berhenti berpikir kalau itu adalah…

      “Anak kami bernama… Lee Taemin.”

      Gotcha! Pekik Chaesa dalam hati.

      Di saat yang sama, Taemin muncul dan langsung membungkuk meminta maaf atas keterlambatannya. “Annyeonghaseyo, maaf terlambat. Lee Taemin imnida,” ia membungkuk ke berbagai arah dan berhenti saat menghadap Chaesa. “Chaesa-ssi, senang bertemu kembali denganmu.”

      Chaesa menatap pria kurus di hadapannya itu dengan mulut sedikit terbuka, matanya sama sekali tidak berkedip, ditambah ia menelan ludah dengan sangat keras. Ia tidak balas mengangguk atau menyambut kedatangan Taemin. Ia hanya diam dan lemas di tempat. Rasanya saat ini juga ia ingin mengecil dan menghilang dari tempat itu. Hatinya hancur menyakitkan mengetahui seseorang yang dibencinya menjadi pria yang dijodohkan dengannya.

..to be continued..

Preview next part:

Chaesa: “Kenapa kau menyembunyikan identitasmu dariku?”

Taemin: “Aku tak pernah menyembunyikannya, aku hanya tak bilang karena kau tak bertanya.

 

Taemin: “Kau adalah alasan mengapa aku pindah sekolah, Chaesa-ssi.”

 

Chaesa: “Eomma-Appa, mereka takkan pernah mengerti. Kita… menyerah saja!”

Taemin: “…ide bagus… Toh, kita tidak akan menikah cepat, iya ‘kan?”

 

 
8 Comments

Posted by on December 28, 2011 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

8 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter III]”

  1. thiaelfishy

    December 28, 2011 at 8:41 PM

    annyeong ^_^
    Aku kah yang pertama. Asyikk.
    Itu cerita.a agak mirip dengan novel yang pernah aku baca. Tapi gak sepenuhnya sama kok.
    Cerita.a bagus, aku suka karakter taeming disini🙂
    Di tunggu ya part selanjutnya.
    Maaf ya part kemaren gak komen.
    Gomawo.

     
  2. justaqill3598

    January 1, 2012 at 1:28 PM

    Keren keren! Akhirnya chaesa tau juga😀
    Ditunggu lanjutannya author~

     
  3. mila

    January 2, 2012 at 3:22 PM

    baguss jangan lama-lama ya untuk chapter lanjutannya………..

     
  4. naila.ch

    January 2, 2012 at 5:14 PM

    hehehe,mav baru komen di part ini,,hiks hiks kenapa g ada key T_______T nanti munculin yaaa
    heuuuh kenapa minho selalu begitu yaa karakternya,suka ma orang yg suka ma dy,tapi gengsi bgt😦

    ayo eonn semangat nulisnya yaaa \^O^/

    *btw kangen deh ma ff siwon eonnie >_< *

     
  5. chii.jongwoon

    January 3, 2012 at 9:07 AM

    HYAAA~ neomu neomu neomu joha >.<
    taem tokoh utama tapi tetep klepek2 ama jinki oppa , huuaaa~
    #hugonew
    keren bgt eonniiiii😄

    jgn lama2 atuh eonn next partnya , hehe ..^-^V

     
  6. Ienav41

    February 12, 2012 at 8:58 PM

    Nguahahahaha
    jengdiyyyy …
    Pelukk dan kecuppppp dasyattt ..
    Baca part ini bkin aku ngakakk bodohh
    huwee .. Sangat menaikkan mood dtengah krinduan pada abang onyu ..
    Diyaaa
    aku cintaa jong dsini tapi lbih cintaa onyu pastinyaa
    sukaaaa sukaaa bngt ih prckapn dtribun baskettt
    SUMPAHHH GAHOOL BANGETT
    *cipok onjjong

    perckapan emakny chaesa jugaa gahol bngt ..
    Muahahaha
    cerminan kmu di hari tua kayanya

    si changmin omooo~
    adek idamann bngett ituhh ..
    *pites changmin

    LANJUTTTT LAGII ..

    *kangen onyu ihhh –> TETEUP

     
  7. Miina Kim

    June 5, 2013 at 11:58 PM

    Waduh…. ada pecinta Onew juga tuh, di atas…..
    salam kenal….

    Sama kayak lenav41, Jinki disini bener2 wah…..
    Biar diajak ngebut segimananya juga, aku mau kok dibonceng….
    #dipites lena

    Nih, part seru, Diya…. seru banget!!!
    Akhirnya mereka ketemu…. kesian bgt Chaesa,

    Ibunya Chaesa nyentrik, iyalah,,, yang dinyanyiin SNSD!!!

    Yang aku gak habis pikir, kenapa, sih, si keroro sampe gak PDnya
    ngakuin perasaannya ke Chaesa, padahal semua orang di sekolah tau kalo
    Chaesa ngebet abiss sama dia…???
    Perbedaan status sosial,kah…????
    Eon jadi gregetan…

    udah, ah, mau lanjut baca…

     
  8. Tiara Indah Olivia

    October 30, 2013 at 2:26 PM

    Ahh..minho oppa sih..giliran dideketin malah nyuekin,nah sekarang udah diambil orang baru nyesel..udah ah minho oppa sama aku aja.. Kekek~😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: