RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter IV]”

10 Jan
SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter IV]”

 

 

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter IV]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa, Park Chaeri, Kwon Hyeorin (imaginary cast), Lee Jinki, Choi Minho, dan Kim Jonghyun.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

TAEMIN tersenyum hangat, tatapan matanya masih belum lepas dari Chaesa. Ia membungkuk sekali, memberi penghormatan pada gadis cantik yang ada di hadapannya. Sedangkan Chaesa tidak bersuara sama sekali, barulah kali ini ia bergerak, itu pun hanya membenahi posisi duduknya yang merosot.

      “Bu-bukankah kau…,” gagap Shim Jonghun, ayah Chaesa.

 

      Taemin menoleh, ia kembali membungkuk. “Annyeonghaseyo, Abeonim, senang bertemu kembali denganmu.”

      “Omo~ Kau teman Chaesa yang datang ke rumah malam itu ‘kan?” tanya Chaesa-eomma.

      “Ne, maaf sudah mengganggu.”

      “Ah, justru kami yang minta maaf sudah membuatmu tak nyaman dengan sindiran kekanakan kami…”

      Taemin kembali tersenyum. “Tak apa, Eomonim, aku senang itu artinya kalian mendukungku,” ujarnya menyebalkan.

      “Uri Taemin pernah ke rumah kalian?” tanya Sun Gyun. “Ah, dia benar-benar anak yang tidak sabaran!”

      “Bukan begitu! Saat itu aku ada urusan mengenai klub dengannya…”

      “Tak apa-apa. Bukankah itu bagus, berarti dia setuju dengan perjodohan ini?” sahut Chaesa-eomma.

      Mereka terus berbicara tanpa memedulikan Chaesa yang sejak tadi bungkam. Jantungnya masih berdebar keras. Bukan hanya karena gugup, tapi juga geram mengetahui bahwa pria itu adalah Taemin, pria yang benar-benar tidak ia sukai.

      Taemin melirik ke arah Chaesa, ia tersenyum tipis.

      “Er, aku akan mengajaknya mengobrol sebentar. Sepertinya dia masih syok setelah melihatku. Permisi…,” pamit Taemin, lantas ia menarik tangan Chaesa untuk pergi dari sana.

      “Ya, bersenang-senanglah,” teriak para orangtua.

      Sesampainya di luar, Taemin membuka kancing jas dan melonggarkan dasinya. “Ah, panas sekali di dalam.”

      Chaesa membuang muka, ia masih tak bisa menerima kenyataan ini.

      “Kau marah?” tanya Taemin. Ia menatap lekat tubuh Chaesa yang memunggunginya. Malam ini gadis itu benar-benar memesona. Tatapan Taemin yang jeli mengamati dengan teliti.

      Rambut cokelat ikal Chaesa tergerai hingga ujungnya menyentuh pundak yang telanjang. Kulitnya yang putih terlihat sangat kontras dengan gaun hitam mini yang tergantung setengah paha. Bagian bawah gaunnya berbentuk balon hingga tidak terlalu ketat membungkus bokongnya. Saat tatapan itu pindah ke bawah, Taemin bisa menemukan sepatu flat beledu hitam dengan masing-masing sebuah batu hitam kecil di tengahnya.

      “Kenapa membohongiku?”

      Taemin kembali mendongak, alisnya berkerut. “Hm? Aku pernah berbohong apa padamu?”

      “Kenapa kau menyembunyikan identitasmu dariku?”

      “Aku tak pernah menyembunyikannya, aku hanya tak bilang karena kau tak bertanya. Itu berbeda ‘kan?” nada suara dinginnya kembali muncul. Inilah yang Chaesa tak suka.

      “Sejak awal aku tak pernah setuju dengan perjodohan ini―”

      “Benarkah?” sela Taemin. “Bukankah saat di rumahmu kau membanggakan ‘tunanganmu’ itu?”

      Chaesa kembali membuang muka. “Karena kupikir itu bukan kau. Sejak kapan kau tahu kalau itu aku?”

      “Kau adalah alasan mengapa aku pindah sekolah, Chaesa-ssi.”

      Chaesa sedikit tersanjung dan salah tingkah, namun ia buru-buru menguasai diri. Ia kembali berbalik untuk berhadapan dengan Taemin. Pria itu, jujur saja, sangat tampan malam ini. Rambutnya sedikit berantakan ditambah tuxedonya yang sangat tidak rapi, kesan badboy sudah bisa didapat hanya dengan sekali melihatnya.

      “Kau setuju dengan perjodohan ini?”

      “Tidak,” sahut Taemin mantap. “Kau?”

      “Kau tahu jawabannya. Lalu sekarang kita harus bagaimana?”

      Taemin terkekeh. “Apalagi… tentu saja menuruti apa yang mereka inginkan. Orangtuaku sangat keras kepala, aku tak bisa membantah. Kalau orangtuamu mengerti perasaan kita―”

      “Tidak. Mereka takkan pernah mengerti. Kita… menyerah saja!”

      Taemin tersenyum puas. “Ya, ide bagus. Kita turuti saja apa yang mereka minta. Toh, kita tidak akan menikah cepat, iya ‘kan?”

      “Me-menikah?!” pekik Chaesa, ada semburat merah di pipinya.

      “Hm. Memang apa tujuan akhir dari sebuah perjodohan kalau bukan pernikahan?” goda Taemin. “Begini saja, kita pura-pura setuju dengan ide mereka, dengan begitu posisi kita aman. Jika kau menolak, siapa yang tahu kalau orangtuamu tetap ingin menjodohkanmu dengan orang lain. Kau seharusnya beruntung karena aku pria itu, takkan ada yang lebih baik dariku.”

      Chaesa mendengus. Ia benar-benar muak mendengarnya.

      “Aku memiliki syarat!”

      “Apa?”

      “Jangan beritahu siapapun di sekolah mengenai hal ini…”

      “Er… sayangnya Jinki-hyung sudah tahu…”

      “Tentu saja, dia kan hyungmu!” bentak Chaesa. “Aku tak siap memberitahu teman-temanku. Kau tahu sendiri Chaeri terobsesi denganmu sedangkan Hyeorin… pokoknya aku tak siap memberitahu mereka.”

      “Oke, setuju!”

 PAGI-PAGI sekali Chaesa sudah tiba di sekolah, ejekan Changmin membuatnya muak berlama-lama berada di rumah. Belum lagi pembicaraan eomma dan appa sejak pertemuan tadi malam tak berhenti membahas kelebihan-kelebihan Taemin. Mendengar namanya saja sudah cukup membuat Chaesa muak, apalagi membicarakannya secara detail, itu sama saja seperti membunuhnya secara perlahan.

Pagi ini ia tidak diam di kelas atau pergi ke lapangan basket guna menunggu lonceng tanda pelajaran dimulai, namun kali ini ia bersembunyi di perpustakaan. Tak ingin bertemu kedua sahabatnya untuk diinterogasi mengenai pertemuan semalam juga sangat tidak ingin bertemu dengan Taemin.

Chaesa duduk di lantai memeluk kedua lututnya sambil memandangi lapangan basket dari jendela. Ini tempat terujung di perpustakaan, rak buku paling akhir tentang sastra Korea. Jarang ada siswa yang mampir ke deretan rak-rak ini.

Ia menempelkan kepalanya ke kaca jendela. Rasanya kepala sangat berat dipenuhi hal-hal berbau kejadian semalam. Walaupun jujur saja ia cukup terpesona dengan ketampanan Taemin. Anak itu terlihat berbeda ketika mengenakan tuxedo dan Chaesa membenci itu. Ia pikir, tidak seharusnya Taemin terlihat tampan. Di dunia ini yang boleh menerima status tersebut hanyalah Choi Minho, pria yang sedang mendribel bola di lapangan basket saat ini.

“Chae-Chaesa?” sapa seseorang ragu.

Chaesa menoleh dan mendapati Hyeorin mengawasinya dari ujung rak dengan tangan dipenuhi buku.

Terdengar seseorang berlari mendekat, sebuah kepala muncul, itu Chaeri. “Sedang apa kau di sini?”

Chaesa menggeleng, ia sedikit kikuk. “Tak ada. Er, ternyata melihat lapangan basket dari sini lebih bagus.”

Chaeri berjalan mendekat dan ikut melihat lapangan basket melalui jendela. “Apanya? Justru Choi Minho lebih terlihat seperti semut!”

“Be-benarkah? Kupikir ini lumayan.”

Hyeorin masih berada di posisinya, ia sama sekali tak beranjak. Hanya menatap Chaesa penuh selidik. “Chaesa-ya, gwaenchana?”

“Hm? Er, ya tentu saja. Memangnya aku kenapa?” Chaesa berdiri dan dengan bodohnya langsung melakukan gerakan-gerakan pemanasan.

Yaah, bagaimana semalam?” tanya Chaeri. “Seperti apa pria itu?”

“Hm? Tidak buruk…,” gumamnya, namun ia langsung menyadari apa yang baru saja ia katakan dan buru-buru meralat, “Buruk! Sangat buruk. Dia tidak idiot, tapi… yeah dia idiot.”

Mwo?!” pekik Chaeri dan Hyeorin bersamaan, kali ini Hyeorin berjalan menghampiri.

“Jadi kau dijodohkan dengan pria seperti itu?” tanya Hyeorin tak percaya. “Woah, orangtuamudae~ bak!”

“Dia tidak sakit. Jangan salah paham! Dia pria normal, tapi aku boleh kan memanggilnya ’idiot’? Sejak awal aku tidak menyetujui perjodohan ini, kalian tahu itu. Jadi sah bagiku untuk membenci pria itu.”

Chaesa berjalan meninggalkan kedua temannya keluar perpustakaan. Hyeorin dan Chaeri mengikuti dari belakang.

“Setidaknya beritahu kami, Chaesa-ya, apa dia tampan?” tanya Chaeri.

Chaesa menghela napas jengkel lalu berbalik. “Tidak, Park Chaeri, sama sekali tidak!” ujar Chaesa tegas, ia juga sedang berusaha meyakinkan dirinya. Karena jauh di dalam benaknya, ia mengakui ketampanan Taemin.

“Oh, syukurlah tidak ada yang lebih tampan dari pria yang ada di belakangmu kalau begitu,” desis Chaeri.

Chaesa mengernyit bingung. Ia berbalik dan menemukan Taemin yang baru saja datang dengan tas Adidas hitam tersampir di bahu kanannya. Anak itu dengan abnormalnya mengenakan kacamata hitam di lingkungan sekolah, membuat kulit putihnya sangat kontras dengan warna kacamata dan rambut merahnya. Beberapa siswi yang melihatnya langsung berbisik dan sangat jelas terdengar kata-kata ‘tampan’ dari mereka.

Taemin tak memedulikan Chaesa, ia bahkan tak menoleh sama sekali. Pandangannya tetap lurus ke depan.

“Taemin-ah, baru datang?” sapa Chaeri riang.

“Ya. Pagi, Chaeri-ya,” sahut Taemin, lantas ia menoleh pada Hyeorin. “Hyeorin-ssi, ada yang ingin kubicarakan. Bisa ikut sebentar?”

“Y-ya, silakan.”

Taemin melepas sunglassnya dan berjalan menghampiri Hyeorin, di mana gadis itu sedikit tercengang dengan penampilan Taemin hari ini. Lengan Taemin sedikit menyenggol bahu Chaesa, hingga membuat gadis itu terdorong beberapa langkah.

Mereka berdua berjalan sedikit menjauh dari Chaesa dan Chaeri. Merasa tak diacuhkan, Chaesa mendengus kesal dan buru-buru pergi dari sana.

“Chaesa-ya, mau kemana?” teriak Chaeri.

“VITAMIN!” Chaesa balas berteriak.

 

PANDANGAN Chaesa terarah pada Minho yang sedang melakukan slam dunk. Bola tidak pernah tidak masuk ke dalam ring. Selalu berhasil dan meluncur mulus. Kekesalan yang tumbuh di dalam hatinya sedikit berkurang. Memang benar kalau Minho adalah vitamin terbaik bagi Chaesa.

“Pagi…”

Chaesa menoleh dan mendapati Jinki tengah berdiri di sampingnya. Kemudian ia duduk dan menyisakan jarak beberapa sentimeter di samping Chaesa.

“Oh, Sunbae…”

Jinki tersenyum lembut. Ia mengikuti arah pandang Chaesa. “Permainan Minho memang menakjubkan. Benar ‘kan?”

“N-ne? A… ah―”

“Bagaimana dengan pertemuan semalam? Taemin belum cerita padaku.”

“Biasa saja. Kenapa Sunbae tak ikut?”

“O-oh, aku belajar. Saat ini sedang sibuk mempersiapkan masuk universitas.”

Pandangan Chaesa masih lurus ke depan menatap Minho yang saat ini sedang duduk istirahat sambil menenggak air mineral dan tiba-tiba menatap ke arahnya, membuat Chaesa langsung menunduk salah tingkah. “U-universitas apa?” tanyanya sedikit bergetar.

Jinki menyadari apa yang terjadi antara Chaesa dan Minho, ia tersenyum geli. “Seoul University…”

Chaesa mendongak, dengan tatapan terkejut ia menatap Jinki. “Jinchayo? Wah, sulit sekali untuk bisa masuk ke sana.”

“Hm, itulah kenapa aku bekerja keras akhir-akhir ini―”

“Chaesa-ya…”

Chaesa menoleh. “Hm? Hyeorin-ah…”

Spontan Jinki langsung berdiri. “Er, Chaesa-ya, aku lupa harus pergi ke ruang komite. Sampai jumpa…”

“Hm…,” Chaesa melambai hingga Jinki benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Apa aku tak salah lihat, kau mengobrol dengan Jinki-sunbae?” tanya Hyeorin tak percaya.

Chaesa tersenyum. Ya, bisa dikatakan dia calon kakak iparku. Pikirnya. “Ah, micheosseo!” gumamnya frustrasi sambil mengacak rambutnya perlahan.

“Kau kenapa?” tanya Hyeorin yang dibalas gelengan dari Chaesa. Ia duduk di samping Chaesa dan seperti biasa mulai ikut-ikutan memperhatikan lapangan basket. “Kenapa pagi-pagi sekali Minho sudah main basket? Pantas aku tak melihatnya di kelas.”

“Hyeorin-ah, seperti apa Minho di kelas?”

“Kau sudah menanyakan hal ini berjuta-juta kali, Shim Chaesa, dan jawabanku yang ke sekian kalinya tetap sama, dia biasa saja! Minho lebih unggul dalam olahraga, tidak seperti Taemin, kurasa ia baik dalam segala bidang.”

Chaesa mengernyit. “Kenapa tiba-tiba membahasnya?!” sungutnya kesal.

“Itu kenyataan! Tadi Taemin menanyakan beberapa hal mengenai debat Inggris itu, ternyata Kim-seonsaengnim merekomendasikannya sebagai partnerku. Dan kau tahu? Kemampuan bahasa Inggrisnya bernilai outstanding! Dia jauh lebih baik dariku.”

“Benarkah?” tanya Chaesa, terdengar tak ada gairah dari nadanya.

“Hm. Saat ini aku belum menemukan kekurangannya. Selama ini yang kutahu dia memiliki banyak kelebihan seperti menari, unggul dalam pelajaran, hebat berbicara English, kaya, sopan, dan memiliki fisik yang sangat baik! Apa kau memperhatikan hidungnya yang mancung, matanya yang besar, kulitnya yang baik, dan tinggi tubuhnya yang menjulang?” oceh Hyeorin sangat antusias. “Itu sempurna, Chaesa-ya!”

Chaesa bangkit. “Kwon Hyeorin, mata Choi Minho lebih besar, hidungnya juga lebih mancung, kulitnya dua kali lebih baik, dan tingginya lebih-lebih-lebih menjulang dari Lee Taemin. Dan Minho seribu kali lipat lebih tampan dari si Taemin itu! Kenapa tiba-tiba kau memujinya seperti orang gila seperti ini? Apa kau menyukainya?!”

Hyeorin tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan terdapat semburat merah di pipinya. Chaesa mendengus dan memutarkan bola matanya.

“Lee Taemin benar-benar membuat kalian gila! Jika ada kesempatan, aku ingin sekali membuangnya ke sungai Han!” cerocos Chaesa dan buru-buru pergi dari sana.

CHAESA melempar tasnya ke sofa, di mana Changmin sedang asyik bermain game di ruang tengah. Anak itu memprotes dan meminta noonanya untuk segera masuk kamar sebelum…

“Kyaaaaaa~”

“Berisik!” balas Changmin berteriak. “Kau selalu melakukan itu. Sudah berapa kali kukatakan, selesaikan masalahmu di sekolah, jangan dibawa ke rumah!”

Chaesa menarik pipi Changmin. “Yaaah, kau pikir umurmu berapa berbicara seperti itu padanoonamu, hah?”

“Setidaknya aku lebih baik darimu, tidak hanya mengandalkan fisik!” Changmin buru-buru membereskan kaset-kaset gamesnya dan hendak pergi dari sana ketika seseorang masuk menyapa mereka.

Annyeong…,” Taemin tersenyum tipis, seperti biasa, “…aku sudah mengetuk pintu tadi, tapi berhubung tak ada yang menyahut dan pintu terbuka, jadi langsung masuk saja.”

Chaesa terkejut, ia buru-buru bangun dari sofa dan merapikan rok seragamnya yang tersibak. Wajahnya memerah. “Yaaah, tak tahu sopan santun! Sedang apa kau di rumahku?!” serangnya.

Eomma yang mengundangnya. Jangan galak seperti itu pada pacarmu, Chaesa-ya!” Eommakeluar dari dapur membawa sepiring penuh selada dan menaruhnya di meja makan.

Baik Chaesa maupun Taemin, wajah keduanya memerah.

“Jangan bicara sembarangan! Apa maksudnya pacar?” protes Chaesa, ia menyambar kembali tasnya.

“Kalian kan sudah menyetujui perjodohan ini, jadi saat ini status kalian ya pacaran!”

Chaesa terlihat hendak membuka mulut untuk meruntuhkan argumen ibunya, namun Taemin lebih dulu berbicara. Ia maju beberapa langkah dan merangkul bahu Chaesa.

Eomonim, mungkin Chaesa belum terbiasa. Kami kan baru kenal. Di sekolah jarang bertemu, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.”

Chaesa menoleh dan mendapati wajah Taemin sangat dekat dari pandangannya, ia buru-buru membuang muka, karena entah kenapa tiba-tiba ia merasa sedikit gugup. Berkali-kali ia menggerakkan bahunya, berusaha mengenyahkan lengan Taemin dari sana.

“Aku ganti pakaian dulu,” pamit Chaesa dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian semuanya sudah berkumpul di ruang makan, termasuk appayang baru pulang bekerja. Changmin mengakhiri permainan Winning Elevennya setelah kalah berkali-kali dari Taemin. Mereka memasuki ruang makan setelah sebelumnya eomma bersusah payah menghentikan mereka bermain.

“Bagaimana bisa permainanmu sebagus itu, Hyung?” tanya Changmin tak rela. “Kupikir hanya ada satu orang saja yang hebat memainkannya.”

“Hm? Nugu?” tanya Taemin sambil memasukkan sepotong daging ke mulutnya.

“Aku bertemu dengan seorang hyung di toko game, kurasa ia seumur denganmu, lagipula seragam kalian sama. Namanya Choi Minho, apa kau mengenalnya, Hyung?”

Saat itu juga Chaesa yang sedang menenggak minuman tersedak dan menyemburkannya keluar.

Yaaah!” protes eomma, buru-buru membersihkan meja.

“Tidak,” sahut Taemin singkat, masih dengan ekspresi tenang. “Siapa yang lebih baik memainkannya, aku atau dia?”

Changmin terlihat berpikir sejenak. “Tak tahu, aku tak bisa menilai. Dia baru memainkannya sebentar sebelum si Nenek ini muncul,” cibir Changmin, sumpitnya terarah pada Chaesa.

Mwoya?!” protes Chaesa, tak rela dirinya menjadi tersangka. Lantas ia memasukkan daging ke mulut untuk meredakan salah tingkahnya.

“Kurasa Noona terlalu salah tingkah hingga tak bisa berada di dekat Minho-hyung hanya untuk beberapa saat, jadi ia buru-buru membawaku keluar. Taemin-hyung, lebih baik kau masuki kamarnya sekarang dan lepaskan semua gambar Choi Minho di dinding kamarnya!” cerocos Changmin.

Chaesa tersentak. Daging yang ditelannya tersangkut di kerongkongan hingga ia tersedak. Tangannya menunjuk-nunjuk lehernya dengan wajah sedikit membiru. Taemin yang duduk di sampingnya langsung menariknya berdiri. Ia melingkarkan lengannya di sekitar pinggang Chaesa dan sekuat tenaga menyentakkan tubuhnya. Si daging tersebut keluar dari mulutnya dan jatuh menggelinding di lantai. Dengan napas tersengal-sengal Chaesa kembali duduk. Taemin memberikannya segelas air.

Semua yang ada di ruangan itu tampak panik, kecuali Changmin, ia lebih khusyuk melahap daging-daging favoritnya.

“Astaga, untunglah ada kau, Taemin-ah…,” ucap eomma sambil mengusap-usap lembut punggung Chaesa. “Gomawo.”

“Tak apa-apa, aku senang Chaesa baik-baik saja.”

Chaesa hanya bisa menempelkan mulutnya di bibir gelas. Hari ini ia benar-benar dibuat malu di depan Taemin. Pertama, insiden menyapa di sekolah tadi pagi. Taemin seolah-olah tidak mengenalnya dan memperlakukan Chaesa seperti orang lain. Kedua, rok seragam yang tersibak tadi, ketika ia sedang asyik tidur dengan posisi sembarang di atas sofa dan tiba-tiba Taemin masuk. Dan yang ketiga adalah insiden si daging terkutuk ini!

“Makanlah perlahan, Chaesa-ya,” kata appa, membuat Chaesa semakin malu.

Noona memang rakus, Appa!” timpal Changmin, membuat Chaesa semakin mengkerut di kursinya.

“Sudah, kalian membuat Chaesa semakin malu,” ujar eomma dan justru kata-kata inilah yang membuat Chaesa semakin mati kutu.

Dari sudut mata, Chaesa dapat melihat Taemin tengah menahan tawa. Rasanya ia benar-benar ingin mencekik anak itu.

“Kita lanjutkan lagi makannya kalau begitu,” ajak appa.

Mereka pun melanjutkan makan, kali ini tanpa banyak bicara, karena takut kejadian tersedak kembali terulang.

 

SEHABIS makan, sebagai penutup mereka menikmati minuman jahe kayu manis. Saat ini appasudah kembali memasuki ruang bacanya, eomma membimbing Changmin mengerjakan tugas sekolah di kamarnya. Tersisalah Taemin dan Chaesa di bangku halaman belakang menikmati langit bertabur bintang.

      “Jangan memandangiku seperti itu! Kau bisa saja jatuh cinta padaku,” ujar Chaesa dingin, pandangannya masih lurus ke depan.

      Taemin mendengus. “Yang kuperhatikan itu bulu matamu. Apa kau memang terbiasa memakai bulu mata palsu setiap hari atau sengaja memakainya karena aku kemari?”

      JLEB!

      “Tutup mulutmu!”

      “Tak mau,” Taemin menyeringai jahil, sedangkan Chaesa memajukan mulutnya, sebal. “Chaesa-ssi, bagaimana rasanya menjadi calon tunanganku?”

      “Hell!” sembur Chaesa tak sabar dan Taemin tertawa kecil.

      “Kudengar tadi siang kau mengobrol dengan Jinki-hyung?”

      “Hm, wae?”

      Taemin mengangkat bahunya. “Tak apa-apa…”

      Sunyi… Taemin tak tahu lagi harus membicarakan apa, Chaesa sejak tadi hanya menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan Taemin dan enggan memulai pembicaraan. Saat ini suasana canggung tiba-tiba menyelimuti mereka.

      “Taemin-ssi,” panggil Chaesa akhirnya, “Saat kau tahu yang akan dijodohkan denganmu itu aku, apa yang ada di pikiranmu?”

      Taemin membenahi posisi duduknya. “Tak tahu. Saat diberi fotomu pun aku tak langsung menjawab setuju. Foto bisa saja menipu ‘kan?” ia melirik Chaesa dengan tatapan jahil.

      “Tapi setelah melihatku kau langsung terkejut ‘kan?” tanya Chaesa penuh percaya diri dan Taemin mencebikkan bibirnya sebal. “Jangan mengelak! Kau pikir aku tak tahu kau memperhatikanku di ruang dewan perwakilan siswa saat rapat tempo hari?”

      “Kau sangat percaya diri sekali, Nona,” ujar Taemin, ia bangkit dan berjalan menuju lampu taman. Lalu berdiri di sampingnya sambil memandangi Chaesa. “Kupikir kau gadis angkuh. Well, walaupun pemikiranku ini benar, tapi setidaknya aku masih bisa melihat sisi lain darimu. Kau… ceroboh, tak sesempurna yang kupikirkan.”

      “Kau kecewa?” goda Chaesa. Ia menyipitkan matanya, sedikit silau melihat kilauan kulit putih Taemin yang terpantulkan lampu. “Aku berusaha menutupi kekuranganku dengan penampilan. Walaupun kedengarannya menyedihkan, kupikir ini cukup baik bagiku.”

      Taemin tercenung melihat perubahan ekspresi wajah Chaesa yang sendu, lantas ia berjalan mendekati gadis itu. “Maaf, tadi di sekolah aku tak mengacuhkanmu. Kupikir kau takkan suka jika aku menyapamu di hadapan Chaeri dan Hyeorin.”

      “Tak apa-apa, aku mengerti.”

      Taemin tersenyum lembut. “Ah ya, di sekolah aku jarang bicara. Tak ingin merusak citra Jinki-hyung jika terlalu banyak tingkah. Jadi maaf jika aku memperlakukanmu tak pantas di sekolah.”

      Chaesa menatap lekat Taemin, tak menyangka pria dingin di hadapannya terlihat seperti pria normal lainnya jika hanya berdua seperti ini.

      “Sudah malam, sebaiknya aku pulang.”

      Chaesa menunggui Taemin mengenakan jaket. Lantas ia mengantarkannya ke pintu gerbang. Taemin dua kali terlihat lebih keren dengan motor besar pinjamannya. Jaket kulit ketat hitamnya terlihat sangat pas di badan dan itu menambah kadar ketampanannya.

      “Hati-hati!”

      “Hm, sampaikan pamitku pada orangtuamu. Sampai jumpa besok!”

      “Er, Taemin-ssi, terima kasih sudah memberikan kesempatan pada klub balet untuk berlatih di ruang latihan. Klubmu pasti mengalami waktu yang sulit berlatih di taman saat musim panas seperti ini.”

      Taemin membuka kaca helmnya. “Tak apa, hitung-hitung menguji mental kami. Aku pulang,bye!”

      Tanpa sadar Chaesa melambaikan tangannya, lalu tiba-tiba ia berhenti dan buru-buru menurunkannya. “Kenapa aku jadi seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri. Ia buru-buru masuk ke dalam. “Astaga, semoga aku tak tertular Chaeri dan Hyeorin. Aku takkan pernah terpesona oleh Taemin. Tidak mungkin!”

..to be continued..

Preview next part:

Chaesa: “Kita mau kemana?”

Jinki: “Ke rumahku.”

 

Taemin: “Yaah, sedang apa kau di sini?”

Jinki: “Wajar Chaesa kemari, dia kan pacarmu sekarang…”

 

Jinki: “…pernikahan kalian sudah diambang mata.”

Taemin: “Itu terlalu terburu-buru!”

Chaesa: “Ba-bagaimana jika Taemin menemukan gadis yang lebih baik dariku? Mungkin kami masih bisa memutuskan hubungan. Aku juga bisa saja menemukan pria yang lebih baik dari Taemin―”

Taemin: “Tak mungkin ada… Choi Minho itu tak memiliki apapun jika dibandingkan denganku!”

 

Minho: “…sepertinya kalian sudah saling kenal.”

Chaesa: “Ti-tidak!”

Taemin: “Ya, aku mengenalnya…”

 
7 Comments

Posted by on January 10, 2012 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

7 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter IV]”

  1. loPhLove_key

    January 11, 2012 at 1:49 AM

    jd penasaran.. chaesa ntar jd nya ma taemin pa minho??? ga rela kynya kalo dia ma salah satu dari mrka b2. ga sreg aja. minho jual mahal, taemin ga jujur… kayanya kalo aku jd chaesa mau ma jinki aja!?! kayanya dia yg paling netral disini…

     
  2. chii.jongwoon

    January 13, 2012 at 10:43 PM

    huaa, penasaran ..
    jiki sungguh m’pes0na,
    jgn bilang tar jinki oppa bkal ma hyeorin,
    kenapa dia lgsung prgi cba pas hyeorin dteng? apa salting?

    tar chaesa ma spa?
    kyaknya ma taemin nih ..
    truz tar minho gmna?
    aduuhh ..
    #ribetsendiri

     
  3. Hani Emang Love Jepkor

    January 19, 2012 at 6:35 PM

    Wah.. wah.. lama pisan muncul chapter 4.. -_-‘
    Aku lebih setuju Chaesa dan Minho…
    Terus lanjut yah.. >o<

     
  4. Ienav41

    February 12, 2012 at 9:50 PM

    Nguahahaha
    jengdiyyy .. MANA JJONG ?? KOK GA NONGOL ?? HAREMMM KAGA ADA JJONG

    knpa aku mncium bau anehh jinki sm hyeorin ?
    Iss~ ONEW IS MINE

    jengdiyy .. Aku sukaaaa sukaaaa bnget sma karaktrny changmin ..
    Knpa ada makhluk semenggemaskn ituu >o<

    bca MR bkinn akuu makin bangga tlahh mlahirkan tetem ..
    *peluk KAI

    sukaaa ih moment si tetem ngbrol b2 sm chaesaa
    benerbnerr pass bngtt .. So sweet

    mkin ksni si jinki mkin bnyk yg ngira hyungny tetem .. Heyy jinki itu babehny tetem
    lnjut lg ahh ..
    *kecup

     
    • diyawonnie

      February 12, 2012 at 10:36 PM

      muahahaha~
      sejaka kpn dirimu ngelahirin c tetem?
      bangganya ama tetem, peluknya ke kai. poor tetem… *pukpuk*

      jinki kakeknya tetem *dibakar*

       
  5. Miina Kim

    June 6, 2013 at 12:31 AM

    Minho cm unggul di pelajaran olahraga….
    Naas banget kamu menggambarkan biasmu saengi….

    Jinki….!!!! Kok, kamu muncul seuprit tapi bikin aku klepek2 sih…???
    #dari dulu, kayaknya…

    Hahahaaa… Chaesa udah mulai tersihir Taemin..

    Tuh si adek, bisa dibawak pulang gak???
    ngegemesin banget!

    Nih, di prolog disebut kalo Taemin bkal berubah jadi cewek?
    Diya, eon khwatir, ntar ceritanya agak gimanaaa….. gitu
    Ini konflik2 yang udah ada, udah pas banget….
    Kalo diselingi oleh ‘kejadian sulap2an’ akayk gitu
    Ntar jadinya aneh….

    Molla….. Mau lanjut dulu aja!

     
  6. Tiara Indah Olivia

    October 30, 2013 at 2:39 PM

    Ahaha..
    Suka banget sama karakternya Changmin disini.. (y)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: