RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VI]”

30 Jan
SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VI]”

 

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter VI]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa (imaginary cast), and SHINee.

Genre : Friendship, Fantasy, Romance, and Life.

 

TAEMIN berjalan menuju kantin dengan pikiran penuh. Belum pernah ada gadis yang begitu menyita pikirannya seperti Chaesa. Gadis itu benar-benar membuatnya penasaran. Selama ini banyak sekali gadis-gadis yang suka padanya dan tak henti mengejar. Semula, ia pikir Chaesa akan menjadi salah satu dari mereka. Namun, pendapatnya kali ini salah telak! Karena gadis itu sangat ketus padanya. Dan kejadian dua hari yang lalu membuatnya jengkel. Bagaimana mungkin Chaesa begitu gugup ketika berbicara dengan Choi Minho sedangkan jika sedang bicara dengannya, gadis itu lebih sering membuang muka.

Dash!

Sebuah batu yang ada di lantai jadi sasaran tendangan Taemin. Sudah lama ekspresi wajahnya tidak terisi emosi kemarahan. Ia menggerakkan kepalanya, membuat poninya sedikit menyingkir dari daerah mata. Lidahnya membasahi bibir, namun tetap saja pucat. Rahangnya mengeras. “Choi Minho,” gumamnya.

“Dor!” Suara yang mengagetkannya dari belakang membuat Taemin terlonjak. Hampir saja ia memaki orang tersebut, tapi saat menoleh dan melihat Hyeorin tersenyum padanya, ia mengurungkan hal itu.

“Hyeorin-ssi, kau mengagetkanku!”

Annyeong. Itu karena kau melamun. Aku hanya khawatir kau terantuk atau terbentur sesuatu. Sedang ada masalah? Ngomong-ngomong, aku pendengar yang baik,” ujar Hyeorin seraya mengaitkan rambutnya dan memperlihatkan daun telinga.

Taemin hanya tersenyum, ia kembali melangkahkan kakinya.

Hyeorin menumpangkan tangannya ke bahu Taemin, sok akrab, walau agak sulit karena tubuh lelaki itu jauh lebih tinggi. “Sudah makan?”

“Kakiku melangkah ke kantin, kau tahu apa jawabannya,” jawab Taemin diplomatis.

“Aku juga belum. Kita sama-sama saja kalau begitu.”

Taemin memesan nasi campur sedangkan Hyeorin hanya beberapa potong Kimbab berisi sayuran. Ia membatasi jumlah kalori yang masuk ke tubuhnya. Seperti yang dilakukan perempuan pada umumnya, diet untuk mendapatkan tubuh ideal adalah suatu keharusan!

“Apa temanmu itu membenciku?” tanya Taemin tiba-tiba.

Hyeorin mengerutkan kening, namun ia cepat tanggap. “Chaesa?” tanyanya, karena Chaeri tidak mungkin membenci Taemin ‘kan?

Taemin mengangguk, mulutnya dipenuhi nasi. “Dia… selalu membuang muka… jika aku muncul di hadapan kalian.”

“Mana mungkin. Chaesa itu gadis yang baik, hanya saja ia sedikit keras kepala dan―”

“Apa dia seperti itu hanya padaku? Apa dia sudah memiliki pacar?” tanya Taemin gencar.

“Pacar? Sepertinya belum. Namun akhir-akhir ini dia memang sedang memikirkan seseorang. Kau tahu Choi Minho ketua klub basket yang tinggi itu? Chaesa menaruh perhatian padanya, sudah lumayan lama.”

“Jadi gadis mengerikan seperti dia masih bisa menyukai pria,” gumam Taemin.

Hyeorin mendengar, ia mengernyit. “Kau salah, dia tidak semengerikan yang kau bayangkan! Mungkin moodnya sedang jelek saat bertemu denganmu. Tak ada alasan baginya untuk membencimu, Taemin-ssi!”

Taemin tersenyum tipis. Ia meraih botol minum dan menenggaknya.

“Oh, begitu…” Taemin mengangguk-angguk dan sedikit tenggelam dengan pikirannya. Kemarin ia sudah bertanya banyak mengenai Choi Minho pada Jinki. Dan semua yang dibicarakan adalah hal-hal positif. Minho adalah pria yang tampan, keren, pendiam, berjiwa kompetitif, sportif, dan dewasa. Jadi, Chaesa menyukai pria dengan tipe seperti itu? Pikirnya.

“Kenapa kau begitu takut Chaesa membencimu?”

“Hm? Ah, tak apa-apa. Aku hanya merasa tak enak jika sedang mengobrol denganmu atau Chaeri di hadapannya.”

“Chaesa memang sangat keras kepala,” tambah Hyeorin, “Ia bahkan tidak bisa melepaskan Minho, padahal sedikitpun tak pernah mendapatkan respon dari pria itu. Itulah mengapa hingga saat ini ia tidak pernah memiliki pacar!”

Taemin melongo.

“Hyeorin-ah, Kim-seonsaengnim mencarimu,” teriak salah seorang siswi dari arah pintu masuk kantin.

Hyeorin menoleh dan mengacungkan jempolnya. “Gomawo~ Er, Taemin-ssi, aku pergi dulu. Jangan lupa sepulang sekolah nanti kita ada kontes debat! Sampai nanti.”

Taemin mengangguk. “Mana mungkin aku lupa. Kita bertemu di ruang guru nanti. Bye!” Ia menenggak minumannya lagi, pikirannya kembali pada ucapan Hyeorin barusan.

“Tidak pernah memiliki pacar?” gumamnya, kemudian terkekeh mengejek.

Saat Taemin menenggak tandas minumannya, seseorang yang ia kenal sudah berdiri di hadapannya. “Annyeong,” sapa Chaeri, seperti biasa dengan kelima jari di tangan kanannya terbuka lebar.

“Oh, Chaeri-ya…”

“Aku baru saja dari perpustakaan. Kudengar hari ini Park-sonsaengnim akan menggunakan buku ini,” Chaeri menyodorkan buku berjudul “Dunia Sophie” karya Jostein Gaarder ke atas meja. “Buku ini akan mempermudah kita mempelajari Filsafat.”

Taemin masih terlihat bingung.

Chaeri melanjutkan, “Perpustakaan hanya memiliki sepuluh buku, sedangkan siswa di kelas hampir tiga puluh orang. Jadi, aku meminjam dua buku, yang satu ini untukmu. Kau tak perlu ke sana berdesakan untuk rebutan.”

“Bukankah kita tidak diperbolehkan meminjam dua buku dengan judul yang sama?”

“A-ah, aku kenal baik dengan penjaga perpustakaan.”

Taemin tersenyum lembut. “Terima kasih, Chaeri-yaYou’re the best!”

Pipi Chaeri bersemu merah, ia menundukkan kepalanya dan menyadari ada sebuah piring dan gelas lain di meja Taemin. “Kau makan dengan siapa barusan?”

“Hm? Kwon Hyeorin.”

Mendadak mimik wajah Chaeri muram. Taemin yang tidak menyadarinya segera menyambar buku tersebut dari atas meja dan bangkit dari bangku, lantas menarik lengan Chaeri ketika bel berbunyi.

“Sedang apa kau di sana? Ayo masuk kelas!” ajak Taemin.

Taemin dan Chaeri berjalan bersama menuju kelas mereka, tanpa mengetahui ada sepasang mata yang memerhatikan mereka.

 

SEPULANG sekolah, Chaesa tidak langsung ke rumah, melainkan duduk manis di tribun lapangan basket menikmati pertandingan yang sudah setengah jalan bermain. Hari ini mereka bertanding dengan sekolah tetangga.

Chaesa meninjukan kepalan tangannya ke udara dan berteriak sangat keras tiap kali Minho berhasil menembakkan bola ke dalam ring. Ia bahkan melompat-lompat tanpa memedulikan citranya. Sesekali Chaeri menariknya ketika ia mulai melompat tak terkendali.

“Ah, jincha. Kau benar-benar membuatku malu!” keluh Chaeri.

Chaesa kembali berteriak kencang ketika suara peluit berbunyi nyaring dan panjang pertanda permainan berakhir. Sekolah mereka mendapatkan skor yang tinggi. Mereka menang!

Daebak!” pekik Chaesa.

“Ayo pulang!” ajak Chaeri.

“Nanti. Aku masih ingin melihat Minho,” tolak Chaesa dengan tatapan memuja memandangi Minho yang tengah membasahi wajahnya dengan air mineral. “Omo~”

“Aku pulang duluan kalau begitu.”

“Hm,” sahut Chaesa tak peduli.

Chaeri sangat jengkel jika mulai tak diacuhkan seperti itu. Kali ini ia benar-benar meninggalkan Chaesa yang masih tergila-gila memandangi Minho, di mana pria itu berjalan ke sisi lapangan untuk mengambil tasnya. Setelah itu merogoh sesuatu dari sana.

Ponsel Chaesa berdering, sebuah panggilan, ia buru-buru menjawabnya meski nomor tersebut tidak dikenal.

“Terima kasih sudah mendukung kami,” ujar suara pria.

“Siapa ini?” tanya Chaesa hati-hati.

“Choi Minho,” jawab suara tersebut. Chaesa buru-buru menyapukan pandangannya ke lapangan dan menemukan Minho tengah melambaikan tangan padanya. “Aku memperhatikanmu sejak awal, juga mendengar teriakanmu.”

Wajah Chaesa memanas. Ketahuan! Pekiknya dalam hati.

“Er, se-selamat! Timmu menang.”

“Terima kasih. Chaesa-ssi, suaramu terdengar kering. Izinkan aku bertanggung jawab, kutraktir kau minum. Bagaimana?”

Chaesa terdiam sejenak. Mereka saling memandang meski jarak yang memisahkan cukup jauh. Minho masih menengadahkan kepalanya untuk melihat Chaesa di tribun atas.

“Bagaimana?” ulang Minho.

“Ya.”

 

“WOAAA~” pekik Chaesa ketika ia dan Minho sampai di sebuah tempat penampungan kucing. Suara bising yang berasal dari kucing-kucing tersebut menyambut kedatangan mereka. Seekor kucing berwarna jingga terang berlari dan menghambur ke pelukan Minho. Chaesa memekik kaget.

“Jangan takut, dia takkan menyerang siapapun,” ujar Minho tertawa.

Chaesa menjadi sedikit salah tingkah dan malu.

“Gemuk sekali,” ujar Chaesa, ia merasa sangat familiar dengan kucing yang kini tengah menjilati dagu Minho tersebut. “Ah!” Lagi-lagi Chaesa memekik, kali ini sambil menjentikkan jarinya. Ya, dia ingat sekarang. Kucing itu adalah kucing yang sama dengan yang ia lihat ketika pertama kali melihat Minho tersenyum. Itu adalah kucing yang diberi minum dan dipayungi pria itu saat musim panas satu setengah tahun lalu. Namun fisiknya terlihat sangat berbeda, kucing itu semakin gemuk!

“Aku menemukannya di jalanan. Ia dibuang oleh pemiliknya. Karena ibuku tidak suka ada hewan di rumah, aku membawanya kemari. Hampir setiap hari aku berkunjung ke sini. Mau coba gendong?”

Chaesa refleks mundur dan menampakkan ekspresi ngeri.

“Kenap―” kata-kata Minho terputus ketika mendapati wajah Chaesa. “Shim Chaesa, kau tak apa-apa?!” tanya Minho panik. Ia menurunkan kucingnya dan menghampiri gadis tersebut. “Ada apa dengan kulitmu?”

Chaesa menghela napas pasrah. “Aku alergi dengan bulu hewan…,” desahnya.

“He?! Kenapa tak bilang daritadi? Tahu begini, aku takkan mengajakmu kemari! Kau perlu dokter, mari kuantar. Dokter mana yang biasa kau kunjungi? Astaga, seharusnya kau bilang sejak awal!” omel Minho.

Astaga, ternyata dia sama cerewetnya seperti Taemin. Ngomong-ngomong, sedang apa anak itu sekarang? Batin Chaesa. Tunggu, kenapa tiba-tiba jadi memikirkan anak itu? Andwae! Andwae!

“Apa alergi ini mempengaruhi sikapmu?” tanya Minho hati-hati.

Chaesa yang tengah memukuli kepalanya sendiri langsung tersadar. “Ti-tidak! Aku hanya… pu… sing…”

Minho tertawa. “Kau lucu sekali, Chaesa-ssi!”

Melihat tawa itu, wajah Chaesa bersemu merah. Ia merunduk.

“Ayo, kita ke dokter!”

 

TAEMIN keluar dari sebuah gedung besar tempat diselenggarakannya kontes debat Inggris. Hari ini motor dipakai oleh Jinki, jadi terpaksa ia pulang menggunakan transportasi umum. Debat tadi sangat melelahkan, ada beberapa siswa rivalnya dari sekolah lain yang tak berhenti menyerang, menurutnya ini sangat menyebalkan. Tapi di luar itu semua, ia dan Hyeorin memenangkan debat ini.

Ia mengeluarkan ponsel dan mengeceknya. Tak ada panggilan maupun pesan sama sekali. Ingin rasanya menghubungi Chaesa, namun ia tidak memiliki nomornya. Tadi ia tidak melihat gadis itu di bangku penonton dan entah bagaimana harus mengatakannya, sepertinya ia mulai merindukan gadis itu.

“Changmin-ah, berikan aku nomor noonamu! Kirimkan lewat pesan. Gomawo~”

Tak sampai lima menit, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ia menyimpan nomor Chaesa dan langsung menghubunginya. Terdengar nada sambung, tapi tak ada jawaban.

Taemin mencoba menghubunginya berkali-kali, bahkan kembali menghubungi Changmin untuk memastikan kalau nomor itu benar.

“Shim Chaesa… benar-benar anak itu,” rutuk Taemin.

Ia mulai menendangi batu di tengah perjalanannya dan tanpa sengaja mengenai seseorang.

Si korban sambil menggosok-gosokkan kepalanya buru-buru mendatangi Taemin. “Yaaah! Kau…”

Dengan malas Taemin menoleh, “Jaesonghamnida.

“Kau si bocah menyebalkan itu!” pekik orang tersebut.

Taemin mengangkat sebelah alisnya. “Mwo?!” ia memandang rendah baju orang tersebut. “Pink? Cih!”

“Ada yang salah? Kurasa setiap lelaki memiliki hak untuk menyukai warna apapun. Warna adalah warna dan oranglah yang memaknai pesan yang ada.”

“Kau ini bicara apa? Minggir! Aku mau pulang,” usir Taemin dingin dan secara sengaja menabrak bahu pria yang ada di hadapannya hingga terjatuh. Taemin menepuk-nepuk pundaknya. “Auramu buruk sekali, Pria Tua!”

Pria di belakangnya hanya diam dengan kedua tangan mengepal. Tubuhnya bergetar, tatapannya berubah tajam dengan rahang mengeras.

“Akan kubalas kau, Lee Taemin…”

 

MINHO tak melepaskan tangannya yang mencengkeram erat bahu Chaesa. Setelah menebus resep, mereka memutuskan untuk pulang dan Minho bersikeras ingin mengantarkannya.

“Maaf, semua salahku!”

“Sudahlah, kau mengatakan itu lebih dari lima kali. Aku baik-baik saja. Ini sering terjadi. Changmin bahkan selalu membawa pulang hewan setiap pulang sekolah…”

Minho tersenyum tipis.

Well, kencan kita hari ini gagal karena ulahku,” celetuk Minho membuat Chaesa spontan menoleh dan itu membuat jarak pandang di antara keduanya semakin dekat.

“Ke-kencan?” lirih Chaesa.

Minho hanya merespon dengan senyuman.

“Sedang apa kalian?!”

Suara dingin itu mengejutkan mereka. Keduanya menoleh dan mendapati Taemin tengah berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangan terlipat. Tatapan matanya sangat tajam, rahangnya mengeras, ditambah deru napas yang tidak stabil.

“Tae-Taemin?!” pekik Chaesa dan entah kenapa ia buru-buru melepaskan rangkulan Minho. “Kenapa kau di sini?”

“Aku yang seharusnya berta― Astaga ada apa dengan wajahmu?” kemarahan Taemin menguap, seketika ia jadi panik. “Ikut aku!”

Taemin menarik lengan Chaesa, namun Minho melepasnya.

“Aku sudah membawanya ke dokter.”

“Kau pikir itu cukup? Dia butuh istirahat. Ikut aku!” Taemin kembali menarik lengan Chaesa.

“Aku yang akan mengantarnya, Taemin-ssi.”

Taemin mengabaikan Minho dan terus menyeret Chaesa. Hilang kesabaran, Minho menghampiri mereka dan menepis cengkeraman Taemin dari lengan Chaesa. Posisinya kini seperti sedang memeluk gadis itu, berusaha melindunginya.

“Bukankah kemarin kalian mengatakan tak saling kenal?” ujar Minho lantang. “Lalu mengapa sekarang seakan-akan kau sudah mengenalnya dekat, Lee Taemin? Apa kalian berkencan?”

“Tidak!” pekik Chaesa berusaha mengklarifikasi.

“Bukan urusanmu!” timpal Taemin, kembali mengambil lengan Chaesa dan buru-buru pergi dari sana.

 

JINKI duduk di atas motornya sambil memeluk helm. Sudah dua jam ia di sini sambil terus menatap sebuah gedung lembaga kursus bahasa Inggris yang ada di hadapannya. Ia melirik jam dan mendesah, lelah karena menunggu. Meskipun matahari sudah kembali ke peraduannya, namun senja kali ini sungguh panas dan ini benar-benar menyiksa. Berkali-kali Jinki menyeka keringatnya yang meluncur di pelipis. Seragam musim panasnya tidak membantu. Ia tetap kepanasan!

Sebelumnya, ia sempat mengunjungi toko cenderamata dan membeli sebuah gantungan tas boneka Eeyore―tokoh keledai yang ada dalam animasi Winnie The Pooh. Kemudian ia menitipkan boneka tersebut pada security  gedung untuk disampaikan pada seseorang.

Seorang haksaeng berpakaian sama seperti dirinya keluar dari gedung yang sejak tadi dipelototi Jinki. Ia buru-buru mengenakan helm dan menutup kacanya. Gadis tersebut menenteng sebuah tas, pertanda kalau pemberian Jinki telah sampai padanya.

Jinki tak melepas tatapannya hingga gadis itu menghilang ditelan keramaian pejalan kaki yang menyebrangi zebra cross. Ia tersenyum puas, lalu menyalakan mesin motor dan melesat dari sana.

Sedangkan si gadis setelah sampai di seberang jalan, sengaja berhenti untuk melongok isi tas. “Woaaa, Eeyore!” pekiknya, gembira mendapat hadiah tokoh favoritnya. Dari dasar tas tersebut terdapat sebuah kartu ucapan, ia membacanya.

Kwon Hyeorin, selamat atas kemenanganmu dalam kontes debat. –Lee

“Lee?” ulangnya dengan alis bertaut. “Apa itu Lee… Taemin?” Senyumnya mengembang. “Jadi, dia buru-buru pulang hanya untuk membelikanku ini?!” pekiknya.

Hyeorin melompat-lompat riang di tempat, membuat beberapa orang yang melewatinya menoleh. Ia berdeham, merapikan rambut serta seragamnya dan melanjutkan jalan sambil mengayun-ayunkan tasnya dan bersenandung riang.

 

“SAKIT,” pekik Chaesa. Ia menarik lengannya dari cengkeraman Taemin. Sudah separuh jalan ia hanya mengikuti kemanapun pria itu melangkah. Taemin tak peduli dengan rintihan Chaesa, ia kembali menyambar lengan gadis itu.

“Kau ini kenapa?!”

“Kau yang kenapa?!” teriak Taemin, membuat Chaesa sedikit terlonjak. “Kenapa kau pergi dengan pria itu?”

“Choi Minho? Memangnya ada yang salah?”

“Pergi dengannya berduaan saja di mana pria itu meletakkan tangannya di bahumu adalah suatu kesalahan besar!”

“Kenapa?”

“Karena kau calon tunanganku, Shim Chaesa, itu artinya kau sudah berselingkuh!”

Chaesa tercengang. Tertuduh seperti itu, tentu saja membuatnya sangat marah. “Selingkuh? Kenapa kau menyebut ini selingkuh? Bukankah kita hanya pura-pura menjalankan perjodohan ini?”

Taemin menyadari kebodohannya. Ia membuang muka.

“Jangan menuduhku sembarangan! Lagipula aku bertemu dengan Minho jauh lebih dulu dibandingkan denganmu. Kita tak pernah mengucapkan saling suka, jadi apa salahnya jika aku menyukai orang lain?”

Hati Taemin mencelos. Ia melirik Chaesa dan mendapati kulitnya semakin memerah. Taemin berjalan menghampiri dan menaruh jaketnya menutupi kepala dan wajah gadis itu.

“Angin malam tak bagus untuk kulitmu. Ayo pulang!” ajak Taemin lembut.

“Kau pulang lebih dulu. Aku mau ke café pamanku,” sahut Chaesa ketus, sebal dengan perubahan sikap Taemin yang seperti angin.

“Aku ikut!” Chaesa menatapnya tajam, tak suka. Namun Taemin menggenggam tangannya dan kembali berkata, “Aku takkan membiarkan seorang gadis berjalan sendirian ketika matahari sudah tenggelam. Sejak kita bertemu, kau sudah menjadi tanggung jawabku, Chaesa-ya.”

Sekonyong-konyong wajah Chaesa memanas. Bukan karena alerginya, melainkan karena hal lain. Kata-kata Taemin seperti sudah menyihirnya, begitu lembut dan bertanggung jawab.

Chaesa-ya… Chaesa-ya… Chaesa-ya Kata-kata itu terus berputar di kepala Chaesa. Ini pertama kalinya Taemin memanggilnya seperti itu. Kemudian tiba-tiba saja ia jadi teringat Chaeri. Bukankah Taemin juga selalu memanggilnya ‘Chaeri-ya’?

“Lepaskan!” Chaesa menarik tangannya, “Kau selalu seperti ini pada semua gadis. Jangan samakan aku dengan mereka!”

Alis Taemin berkerut. “Bagian mana? Kalau bagian ini…,” Taemin menggenggam kembali tangan Chaesa, “…kau gadis pertama yang kugenggam tangannya.”

Skak matt!

Chaesa tak bisa berkata-kata lagi. Kemarahannya atas perilaku Taemin tadi menguap begitu saja. Ini bukan pertama kalinya, ia juga pernah merasakan hal yang sama ketika Taemin sedang memperlakukannya dengan sangat baik.

Mereka terus berjalan menyusuri jalanan pertokoan. Lambat laun Chaesa mulai merasa nyaman dengan perlakuan Taemin. Genggaman yang saling mengait itu masing-masing memberikan kehangatan. Dan sesekali Taemin menaruh tangannya di puncak kepala Chaesa, memastikan agar jaketnya tak terlepas dari kepala gadis itu yang masih melindunginya dari angin malam.

“Sampai,” pekik Chaesa riang. Ia masuk lebih dulu, membuat lonceng berbunyi ketika pintu terbuka. Taemin terpaku di luar, mendongak menatap papan bertuliskan ‘Miracle Romance Café’ terpampang di atas pintu masuk.

“Aneh sekali namanya!”

Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Cahaya temaram menyambutnya disertai aroma terapi yang menyengat menusuk hidung membuatnya mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung. Suasana café yang sepi tanpa pengunjung memperkuat kesan mistik, ditambah seluruh karyawan yang mengenakan jubah.

Samcheon!” suara nyaring Chaesa memecah kesunyian. “Alergiku kambuh. Obati aku!”

Pria berkulit pucat dan berkacamata keluar dari dapur tertutup. “Sudah kubilang, hindari hewan berbulu! Hampir setiap hari kau kemari hanya untuk meminta ramuan―” kata-katanya terpotong saat matanya mendapati Taemin di ujung bar. “Kau… kenapa bocah tengik sepertimu bisa ada di caféku?”

Mata Taemin membulat. Pria yang ada di hadapan Chaesa itu ialah pria yang sama dengan yang ditemuinya di jalan. “Oh, jadi kau pemilik café ini? Pantas saja aneh.”

Taemin kembali berlaku menyebalkan.

“Kalian sudah saling kenal? Key-samcheon, ini Lee Taemin itu.”

“Aku sudah tau! Noona benar-benar payah memilih calon menantu,” ejek Key.

Taemin menggebrak meja bar. “Aku tak butuh pendapatmu, Pria Mesum!”

“Pria Mesum?!” pekik Key tak terima dipanggil seperti itu.

“Kau membuntuti Park Chaeri hingga sekolah. Kau pikir aku tak menyadarinya ketika kau mengawasi kami di kantin tadi siang? Benar-benar pria tua mengerikan!”

“Apa?!” sela Chaesa. “Samcheon, kau stalking Chaeri lagi?”

Key tidak menjawab, ia hanya mengepalkan kedua tangannya. Harga dirinya merasa diinjak-injak oleh anak yang lebih muda darinya. Tanpa berkata apapun, ia melengos ke dapur.

Taemin dengan santai berjalan ke sebuah meja dan duduk di sana. Ia menyambar daftar menu dan menautkan alisnya ketika membaca.

“Apa-apaan café ini?! Benar-benar aneh!” kicau Taemin masih terus memelototi daftarnya. “Rootbeer Kuku Naga? Kopi Rambut Unicorn? Latte Telinga Beruang Madu? Wiski Api? Sinting!”

Terdengar bunyi ‘tuk’ pelan pada meja. Taemin mendongak dan mendapati dua buah gelas tanah liat yang bentuknya sangat buruk berdiri timpang di atas meja. Chaesa mengambil salah satunya dan mulai meniupi isi gelas, membuat asap mengepul dari dalamnya.

“Apa ini?” tanya Taemin dengan ekspresi jijik mendapati gelas miliknya berisi cairan kental berwarna hijau.

“Minum saja! Mungkin jus alpukat.”

“Alpukat seperti ini? Ini sih lebih mirip seperti slime yang ada di Nickelodeon! Yang kau pesan apa, sih?” Taemin mulai sangsi. Namun ia tetap meraih gelas tersebut dan menciuminya. Baunya tidak buruk. Tapi anehnya, cairan hijau tersebut meletup-letup seperti mendidih padahal gelasnya tidak panas sama sekali.

“Ahhh~” desah Chaesa. Ia sudah menghabiskan minumannya yang berwarna merah muda terang. Seketika bintik-bintik kemerahan di wajahnya menghilang.

Yaaah, kulitmu…,” ujar Taemin takjub. Ia menyambar gelas Chaesa dan menciuminya. “Minuman apa yang kau minum? Café apa ini sebenarnya?”

Chaesa terkekeh geli.

“Ini café biasa seperti halnya café lain. Pamanku memang senang bereksperimen dengan warna-warna minuman. Ayo cepat minum punyamu! Sudah malam, kasihan Changmin menungguku.”

“Apa tak ada Banana Milk di sini?”

Chaesa memebelalakkan matanya. “Apa kau bayi?”

“Aku tak peduli ejekan orang-orang, aku selalu menyukainya.”

Chaesa menemukan wajah Taemin yang tiba-tiba muram. “Akan kubelikan kapan-kapan. Sekarang minum saja apa yang ada di ujung hidungmu!”

Tak ingin mengecewakan Chaesa, akhirnya Taemin menenggak tandas minuman tersebut.

Well, tak buruk,” ujarnya sambil membersihkan mulut dengan punggung tangannya. “Ayo, pulang!”

Keduanya bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar. Key yang bersandar di ambang pintu dapur tersenyum tipis dengan kedua tangan terlipat melihat keduanya pergi. Matanya tak lepas dari punggung Taemin.

Suara lonceng kembali terdengar saat pintu terbuka. Dan langsung saja angin kencang menyambut mereka, Taemin memegangi Chaesa erat.

“Kenapa?” tanya Chaesa bingung.

“Anginnya kencang sekali.”

“Angin? Di mana?” Chaesa menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. “Tak ada angin.”

“Barusan… kencang sekali… ah, lupakan!”

Namun saat mereka melangkahkan kaki keluar dari café, petir besar menggelegar menyambut. Chaesa teriak dan spontan memeluk Taemin. Pria itu membalas pelukannya, berusaha melindungi Chaesa.

Taemin mendongakkan kepalanya menatap langit. “Aneh sekali. Cuaca cerah kenapa ada petir? Bahkan bintang-bintang bertaburan memenuhi langit.”

“Ayo, cepat kita pulang,” bisik Chaesa, tanpa sadar mereka berjalan dalam keadaan masih berpelukan.

Setiap langkah, Taemin merasakan nyeri di dadanya. “Ah, dadaku….”

Wae?” tanya Chaesa panik, ia berhenti berjalan dan melepaskan pelukannya.

Gwaenchana. Mungkin cuma masuk angin. Kaja!” Taemin kembali menarik Chaesa dalam rangkulannya dan berjalan berdampingan. Sebelah tangannya masih mendekap dada. “Besok izinkan aku menjemputmu dan pergi sekolah bersama. Ottae?”

“Naik motor lagi? Aku tak mau!”

“Bukankah pangeran selalu berkuda putih?” canda Taemin dan Chaesa terkekeh. Tiba-tiba saja ia menarik kepala Chaesa dan menaruh bibirnya di puncak kepala. “Tunggu aku datang menjemputmu!”

Chaesa mengangguk perlahan. Wajahnya memanas disertai jantung yang berpacu tiga kali lipat.Well, meski Taemin memang menyebalkan, namun ada saat-saat di mana pria itu terlihat begitu manis.

 

..to be continued..

 

 

Preview next part:

      TAMPAK jelas dua buah gundukan menggantung ranum di dadanya, dan saat melihat ke bawah, organ tubuh yang selalu ia banggakan sebagai seorang lelaki lenyap sudah. Dan malah digantikan dengan organ vital lawan jenisnya. Ia kembali mendongak dan kali ini menemukan rambutnya tidak lagi pendek dengan warna merah menyala, melainkan panjang melewati pundak dan berwarna emas pirang.

                “Ini bukan mimpi… ini kenyataan…,” ia duduk frustrasi sambil memandangi tubuhnya melalui pantulan cermin. “…aku perempuan!”


 
5 Comments

Posted by on January 30, 2012 in Drama, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

5 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VI]”

  1. Hani Emang Love Jepkor

    January 30, 2012 at 5:28 PM

    Penasaran niiih… lanjut yah chingu.. >o<

     
  2. Ienav41

    February 12, 2012 at 11:05 PM

    DIYOTTT ..
    MANA JJONG ?
    *demo
    key datang jjong ngilang ..

    DAN TUH KANNN bner dugaanku ..
    Si abahh onyu sma hyeorin ..
    Pirasat bini nggak pernah salah
    *asah samurai
    yaudalahh ..
    Gapapaa kasih dia psangan dripda sndrian muluu
    *peluk rindu jinki

    DANN AKUU BENER BENER GA SUKA KHADRAN SI CHOI MINHO ITU
    untung ajah anak emak gayany dsni tengil jd bsa ngebabat si mino ..

    Si key ajibb deh ..
    Pengen kecupp ihh ..
    Biarpun nongol dikit jiwa rempong dan emakny ttep kliatan
    kekekek

    part slnjutny taem brubh jd cwe yaaa ??
    ANDWAEEEE ..
    Anak emakk kesiann ..
    *peluk KAI

    DIYOT AKU GMANA BCA KLNJUTANNYA ??
    TANGGUNG JWB HWOOY ..

     
  3. chii.jongwoon

    February 14, 2012 at 2:55 PM

    haaaaa~ SERUUUUUUUU /(^o^)\

     
  4. Miina Kim

    June 6, 2013 at 1:34 AM

    Diya…. gimana nih, Chaesa udah tambah salting sm Tae
    dikecup kepala aja, dia ngge aja…
    Eh, si Tae mulai berubah jd cewek…
    aaaahhhh…..
    #jambak Key….
    #dibekep Jinki
    #Getok Jinki
    Kau ternyata mengagumi Hyeorin….
    Aku cemburu….. TT TT
    Gpp deh…, yang penting Jinki hepi….

    Lanjut, Diya… Eon begadang nih….
    besok libur ini!

     
  5. Tiara Indah Olivia

    October 30, 2013 at 3:07 PM

    Akkk…nggak kebayang… >,<

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: