RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VII]”

20 Feb
SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VII]”

 

 

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter VII]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa (imaginary cast), and SHinee.

Genre : Friendship, Fantasy, Romance, and Life.

 

 

SEBUAH jam weker berwarna merah muda berdering dan menggetarkan meja kecil yang menopangnya. Taemin menutup telinganya dengan bantal, berusaha meredam bunyi bising yang dihasilkan jam tersebut.  Namun, tanpa ampun jam itu masih terus berteriak nyaring. Membuat Taemin terpaksa menyingkirkan bantal dari telinganya dan mulai meraba-raba meja kecil di samping kasur untuk menemukan jam. Setelah berhasil mematikannya, ia kembali tidur. Tapi kali ini ada alarm lain yang berbunyi, itu berasal dari ponselnya.

“Ck!” decak Taemin kesal.

Ia kembali meraba meja dan menyambar ponselnya. Dengan mata setengah terpejam ia berusaha melihat catatan pengingat yang tertera pada ponsel. Di sana tertulis “Hari Pertama Sekolah”, ia mengerutkan dahinya dan menyadari ponsel itu berwarna merah muda, itu bukan miliknya!

Taemin memaksakan diri untuk bangun, menyingkap selimutnya dan turun dari kasur. Merasa ada yang ganjil, ia memandang sekeliling.

Ini bukan kamarku! Pekiknya dalam hati, saat mendapati seluruh ornamen kamar berwarna merah muda.

Ia terus memperhatikan sekeliling kamar dan berusaha mengingat kejadian semalam. Sebelumnya ia masih bersama Chaesa dalam perjalanan pulang. Lalu kenapa sekarang… tunggu, apa ini kamar Chaesa? Untuk apa Taemin berada di kamarnya?

Ia buru-buru melangkahkan kakinya keluar kamar, namun di sisi pintu ia menangkap pantulannya di sebuah cermin tinggi yang berdiri kokoh. Wajahnya memanas dengan degup jantung sangat kencang, matanya terbelalak lebar disertai mulut yang terbuka. Ia terkejut melihat bayangannya sendiri di cermin tanpa sehelai kain yang menutupi tubuhnya.

Tampak jelas dua buah gundukan menggantung ranum di dadanya, dan saat melihat ke bawah, organ tubuh yang selalu ia banggakan sebagai seorang lelaki lenyap sudah. Dan malah digantikan dengan organ vital lawan jenisnya. Ia kembali mendongak dan kali ini menemukan rambutnya tidak lagi pendek dengan warna merah menyala, melainkan panjang sebatas pundak dan berwarna emas pirang.

“Ada apa denganku?!” pekiknya dan kembali terkejut mendengar suaranya sendiri yang telah berubah menjadi suara perempuan.

Ia kembali ke kasur, naik ke atasnya dan merangkak untuk meraih ponsel di atas meja kecil. Ia memeriksa ponselnya dan mendapati wajahnya yang bergaya perempuan menghiasi wallpaperponsel.

“Apa-apaan ini?!” jeritnya.

Ia mengacak-acak isi ruangan untuk mencari petunjuk apapun yang dapat menjelaskan kondisi dirinya saat ini. Tangannya mulai gemetar saat membuka-buka laci lemari. Tak menemukan apa-apa, Taemin berlari ke ujung ruangan saat menyadari ada sesuatu yang ganjil di cermin. Di sana terdapat pesan yang ditulis dengan lipstick  merah terang. Saking terkejutnya, ia bahkan tidak menyadari ada sesuatu tertulis di sana saat bercermin tadi.

Ia membacanya.

Surprise! Bagaimana dengan penampilanmu sekarang? Kau bahkan menjadi maniak merah muda, Lee Taemin. Bersenang-senanglah! ―Almighty

“Almighty?” lirih Taemin. “Siapa?”

Taemin mengerang. Kesal, ia menarik-narik rambutnya frustrasi dan tanpa kendali memukul-mukul serta menendang cermin berusaha menghapus tulisan. Ia bahkan menyakiti dirinya sendiri.

“Ini bukan mimpi… ini kenyataan…,” ia duduk frustrasi sambil memandangi tubuhnya melalui pantulan cermin. “…aku perempuan!”

 

 

CHAESA menggenggam erat Banana Milk dan mendekapnya di dada. Matanya tak berhenti melirik pintu gerbang rumahnya, berharap seseorang datang.

Noona, aku tak ingin terlambat. Ayo cepat!” teriak Changmin dari kursi depan samping kemudi. Ia sudah siap di dalam mobil bersama drivernya.

“Duluan saja!”

Changmin mengangkat sebelah alisnya. “Wae?”

“Jangan banyak tanya, pergi saja!”

“Baguslah. Aku sudah bosan dengan rute kita sehari-hari. Selalu kau yang diantar pertama. Hyung,kaja!”

Perlahan-lahan mobil meluncur meninggalkan halaman dan menghilang setelah gerbang menutup otomatis. Chaesa masih berdiri di ambang pintu dan menatap gerbang yang berjarak kurang lebih 300 meter dari pandangannya.

“Kemana anak itu?”

Ia merogoh ponselnya dan menekan nomor enam sebagai panggilan cepat. Terhubung dengan nomor Taemin, tapi sayangnya ponsel anak itu tak aktif.

“Ah, jincha. Akan kutunggu hingga lima menit― tidak, lima belas menit. Kalau dia masih tak muncul, kutinggal!”

Chaesa melangkahkan kakinya dan berjalan mengelilingi teras rumah. Sesekali melirik ke gerbang dan selalu dengan hasil yang sama. Lee Taemin tak kunjung datang.

Lima menit berlalu… sepuluh menit… lima belas menit…

“Ah, benar-benar Lee Taemin!”

Ia melempar Banana Milknya ke tumbuhan rindang bersemak di sisi kanan, lalu mulai melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.

“Mati kau Lee Taemin!”

 

TAEMIN masih terduduk lemas di lantai sambil memeluk lututnya. “Ah, tak bisa seperti ini. Aku harus mencari tahu siapa yang telah mengubahku,” gumamnya. Ia bangkit dan sekali lagi menatap dirinya di cermin. Tercenung…

“Sial! Bagaimana bisa kau tergoda dengan tubuhmu sendiri, Lee Taemin!”

Ia memukuli kepalanya sendiri, dan mulai melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Pertama, berpakaian. Sebelumnya, ia diingatkan oleh catatan pengingat di ponselnya bahwa hari ini adalah hari pertama sekolah.

Ia bergegas ke lemari dan menemukan seragam musim panas perempuan tergantung di sana.

“Goojung High School?!” pekiknya. “Kenapa aku harus sekolah di sana juga?”

Dengan enggan ia menyambar seragam tersebut dan memakainya. “Tunggu, tubuhku bukan lelaki lagi. Jadi bagian atas memerlukan pakaian dalam.”

Ia membuka laci lemari dan menemukan tumpukan pakaian dalam wanita yang didominasi dengan warna merah muda. Wajahnya berjengit dan mengangkat sebuah bra dari tempatnya.

“Bagaimana cara mengenakannya?”

Taemin berlari menuju cermin dan mencoba memakainya. Sekitar sepuluh menit berkutat dengan itu, hasilnya hanya satu pengait yang berhasil ia kaitkan.

Setelah berpakaian selesai, ia mengambil sisir.

“Apa yang harus kulakukan dengan rambut ini?” tanyanya pada diri sendiri sambil menarik rambut panjangnya. “Urai saja!”

Taemin menyambar sebuah ransel merah muda di samping sofa dan menyampirkannya. Setelah itu, ia mencomot ponsel di atas kasur dan pergi.

Saat pintu terbuka, ia buru-buru berlari menuruni tangga. Saat sampai di loby apartemen, seorang petugas keamanan menyapanya.

“Taeni-agassi, selamat pagi!” Taemin yang tak merasa dipanggil melengos melewatinya. Petugas tersebut memanggil lagi, “Tae-agassi!”

Taemin menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, Anda. Kau terburu-buru karena terlambat? Cepat pergi kalau begitu!”

“Kau tadi memanggilku apa?” tanya Taemin tak sopan.

“Taeni-agassi, waeyo?

Taemin termangu, namun ia segera sadar dari lamunannya dan tersenyum seraya membungkukkan badannya. “Terima kasih,” ujarnya dan berlalu.

Agassi,” petugas itu pergi keluar menyusul Taemin. “Kau lupa kuncinya.”

Taemin kembali berbalik, alisnya bertaut. “Kunci?”

“Ya, kunci mobilmu.”

Lagi-lagi Taemin tercenung saat petugas itu mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan memberikannya pada Taemin. Selama ini ia hanya menggunakan motor, itu pun merupakan pinjaman dari Jinki. Tapi… petugas tersebut baru saja mengatakan Taemin memiliki mobil?

“Ah, aku tak bisa mengendarai mobil…”

“Eii~ Jangan bercanda! Setiap hari kau menggunakan mobil ke sekolah. Ayo, cepat pergi sebelum benar-benar terlambat!”

Pria setengah baya itu mendorong Taemin untuk masuk ke dalam mobil. Taemin benar-benar bingung harus bagaimana, ia hanya sekali berlatih mengendarai mobil. Itu pun Jinki menyerah mengajarinya, karena Taemin kerap menyamakan mobil dengan motor.

Ia mencengkeram erat stir dan menatap lurus ke depan. Mobil sudah menyala, ia menelan air liur. “Fighting!” gumamnya tegang.  Saat menginjak pelan pedal gas, mobil bergerak. Meskipun ini adalah mobil matic, tapi tetap saja butuh keterampilan untuk mengendarainya.

Mobil melaju dengan kecepatan 20 km/jam, ia merasa sangat bersyukur, tak peduli meskipun sangat lamban. Keringat dingin meluncur di pelipisnya. Membasahi wajah licinnya yang cantik. Sesekali ia bersiul dan menggerakkan kepalanya mengikuti irama musik dari music player yang ia nyalakan.

“Kyaaaaaaa~~~” Taemin menjerit dan menginjak rem mendadak. “Kucing sialan!”

 

LONCENG pertanda masuk kelas sudah berdentang nyaring. Chaesa menyempatkan jalan-jalan mengelilingi kelas sebelum lonceng berikutnya kembali berdentang untuk memulai pelajaran. Ia melongokkan kepalanya saat melewati kelas Chaeri dan mendapati gadis itu tengah sibuk membaca buku.

“Belum datang. Kemana dia?” gumamnya pada diri sendiri.

Chaesa berdiri beberapa meter di depan kelas tersebut, berharap bertemu Taemin di sini. Ia ingin menjambak rambut pria itu ketika bertemu.

“Sedang apa di sini?”

Mendengar suara seorang pria, Chaesa buru-buru berbalik. “Oh, Minho,” nada kecewanya tak dapat disembunyikan.

“Sepertinya kau tak senang melihatku―”

“Bu-bukan begitu!” sela Chaesa buru-buru, “Aku hanya terkejut. Kau memanggilku tiba-tiba.”

Minho memamerkan senyum khasnya yang hangat.

“Pulang sekolah nanti apa ada waktu?”

“Er, aku ada latihan balet…”

“Aku juga ada latihan basket. Sampai bertemu nanti kalau begitu,” Minho menepuk pelan bahu Chaesa dan melengos masuk ke kelasnya.

Chaesa mendesah. Ia menyentuh dadanya. “Kenapa tak berdegup kencang? Kemarin masih berdetak gila-gilaan waktu bertemu dia.”

“Oi, Chaesa-ya,” panggil Chaeri dari ambang pintu kelasnya. “Hari ini tak ada tugas ‘kan? Sedang apa kau di depan kelasku?”

Chaesa berdecak jengkel. “Aku takkan menyandera bukumu lagi. Masuk sana!”

“Tak mau. Aku akan menunggu Taemin,” ekspresi Chaeri naik beberapa tingkat.

DEG!

Chaesa buru-buru memegangi dadanya. Kenapa? Kenapa degupnya tak normal? Batinnya.

Gwaenchana?” tanya Chaeri.

Chaesa bergegas pergi, tak memedulikan Chaeri yang memanggil-manggil namanya.

 

SETELAH memarkirkan mobil di depan sebuah ruko samping sekolah, Taemin berlari menuju gerbang yang tertutup. Naasnya, ia benar-benar sudah terlambat. Teriak minta dibukakan pun percuma. Petugas keamanan sudah bekerja sama dengan pihak kesiswaan untuk menegakkan kedisiplinan.

Taemin berlari ke sisi sekolah. Tak ada jalan masuk, sekolah dikelilingi oleh tembok tinggi. Ia berjalan mondar-mandir, bingung. Tak ada pilihan lain, harus memanjat.

Ia melemparkan tasnya ke dalam sekolah dan mulai memanjat tembok.

“Rok ini… benar-benar terkutuk!” dumalnya. Setelah bersusah payah mencapai puncak tembok, ia berpegang pada pohon dan turun melaluinya. Terdengar bunyi ‘duk’ pelan saat kakinya berhasil mendarat di tanah. “Ah, selamat~”

“Kurasa tidak,” celetuk seseorang.

Jinki dengan tangan terlipat menatap angkuh padanya. Ia benar-benar membenci siswa yang melanggar aturan sekolah.

Hy-hyung!” pekik Taemin. Ia bangkit dan menghambur memeluk Jinki.

Yaaah!” Jinki mendorong Taemin. “Kenapa ada perempuan bar-bar sepertimu?!”

Taemin terbelalak. Ia lupa kalau raganya telah berubah menjadi perempuan. Kakinya mundur beberapa langkah menjauhi hyungnya. Sedangkan Jinki mulai mengeluarkan sebuah catatan kecil: Buku Pelanggaran.

Hyung―”

“Berhenti memanggilku seperti itu! Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Kau kelas berapa?”

“Dua,” sahut Taemin malas. “Aku… murid baru.”

Tatapan Jinki dari catatannya teralihkan ke wajah cantik Taemin. “Kenapa tak bilang dari tadi?”

Hyung, kau selalu memotong ucapanku. Bagaimana aku bisa menjelaskan! Aku mengendarai mobil kemari dan menggunakan kecepatan yang rendah. Kau dengar, Hyung, mengendarai mobil! Itulah mengapa aku telat. Kau tahu sendiri aku tak bisa mengendarai mobil. Hyung, kau harus membantuku! Entah kenapa aku menjadi seperti ini saat terbangun. Kemarin aku masih baik-baik saja―”

“Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Ayo kuantar ke ruang kepala sekolah!”

Jinki menyambar ransel merah muda yang tergeletak di tanah dan memberikannya pada Taemin. Jengkel dengan respon Jinki, Taemin menutup mulutnya. Ekspresinya suram.

“Siapa namamu? Pindahan dari mana?”

“Lee Taemin, dari Goojung High School.”

Jinki menghentikan langkahnya, membuat Taemin yang berjalan di belakangnya juga mendadak berhenti saat wajahnya membentur dada Jinki.

“Kau…,” Jinki menatap lekat wajah gadis di depannya, alisnya bertaut. Ekspresi Taemin berubah ceria, berharap Jinki mengenali dirinya. Jinki kembali membuka mulut, “…kau suka padanya hingga menguntit kemari ya?”

Taemin memutar bola matanya, jengkel lima kali lipat.

Hyung, aku Lee Taemin!”

“Cih, Taemin benar-benar sudah membutakanmu!” ejek Jinki sambil terkekeh, lantas ia berbalik dan kembali berjalan. “Di mana kalian bertemu?”

“Terserah kau!”

 

PERTANDA pelajaran dimulai berdentang dua puluh menit yang lalu, namun guru Sastra Korea belum masuk untuk mengajar. Suara ribut riuh memenuhi kelas, beberapa anak lelaki berkumpul di belakang kelas menonton sesuatu di layar galaxy tab Eunhyuk. Sedangkan beberapa anak perempuan lebih sibuk menentukan jadwal yang tepat kapan mereka bisa melakukan sesuatu pada hidung atau mata mereka. Chaesa hanya satu-satunya orang yang masih diam di tempat, menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangan yang terlipat di meja.

“Apa dia sudah sampai?” gumamnya gelisah, lalu melirik jam tangan. “Seharusnya sudah!”

Suara pintu bergeser, suara celotehan anak-anak berhenti dan digantikan oleh gemuruh derap sepatu dan deritan kursi. Semua sibuk kembali duduk di tempat masing-masing. Shin-seonsaengnimmemasuki ruangan, disusul wali kelas, Lee-seonsaengnim. Di belakangnya ada seorang siswi mengikuti.

“Kalian kedatangan teman baru. Ia pindahan dari…,” Lee-seonsaengnim melirik siswi tersebut.

Dengan percaya diri siswi itu mengambil alih perhatian. Ia melirik kartu pengenalnya yang baru saja digunakan saat memperkenalkan diri di depan kepala sekolah. “Lee Taeni imnida. Pindahan dari… Afrika!” jawab Taemin asal.

Sontak seluruh siswa menahan tawa.

“Tapi kau tak hitam, Cantik!” celetuk Eunhyuk.

“Baiklah, aku dari Jepang,” sahut Taemin malas.

“Eii~ Jangan main-main!” timpal satu-satunya siswa bertubuh gemuk. Itu Shindong.

Taemin melipat kedua tangannya. “Kalau begitu terima saja kalau aku dari Afrika!” bentaknya galak.

Lee-seonsaengnim melerai mereka. “Bantu Taeni jika ia mendapat kesulitan. Jangan bertengkar dan jangan berlaku yang tidak-tidak pada murid baru! Sampai jumpa di pelajaranku nanti siang, Anak-anak. Shin-seonsaengnim, silakan mulai pelajaran Anda!”

“Terima kasih.”

Taemin melangkah ringan dan berhenti di sebuah meja. “Apa aku bolah duduk di sini?”  tanyanya.

Hidung Eunhyuk merembes mengeluarkan darah. “Ah, ya. Selama kau cantik, aku rela memberikan tempat berhargaku untukmu,” ujarnya dan pindah ke belakang. Maksud dari ‘tempat berharga’, karena orang yang duduk di sampingnya adalah…

“Shim Chaesa! Jangan tidur saat pelajaranku!” Shin-seonsaengnim memperingatkan dengan tegas. Guru wanita ini anti-siswi-cantik, karena ia masih belum menikah di umurnya yang ke-33 saat ini.

Chaesa mengangkat wajahnya. Taemin yang duduk di samping tak henti memandangi. Merasa aneh, Chaesa menoleh. “Di mana Hyukkie?” tanyanya bingung.

“Di sini, Sayang,” panggil Eunhyuk dari belakang, tangannya melambai. Chaesa menoleh dan melemparkan pandangan jijik. Lantas ia kembali memandangi Taeni dari bawah hingga atas.

“Kau siapa?” tanyanya ramah.

“Aku Lee Taeni. Kau masih tidur saat aku datang.”

“Maaf, aku tak bisa tidur semalam.”

“Tak apa. Kau bisa teruskan tidurmu. Aku akan mengalihkan perhatian Shin-saem.”

Chaesa tersenyum riang. “Trims,” gumamnya dan kembali menundukkan wajah.

Taeni alias Taemin terpengarah. Ia belum pernah melihat senyum Chaesa semanis itu. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Ia mencengkeram dadanya erat.

Rasanya aneh sekali aku melakukan ini. Tidak sebebas dulu, di bagian ini ada yang mengganjal! Lagipula, tidakkah ini aneh? Tersipu karena seorang gadis di saat tubuhku sedang menjadi perempuan. Kesannya seperti penyuka sesama. Benar-benar harus cepat mencaritahu siapa Almighty yang telah mengubahku. Batin Taemin.

Taemin tidak melanggar janjinya. Selama pelajaran berlangsung, ia sungguh-sungguh mengalihkan perhatian Shin-seonsaengnim dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan dan menjawab soal-soal lisan yang diberikan. Seluruh siswa berdecak kagum, sedangkan Taemin hanya menganggapnya biasa. Itu soal mudah, di kelasnya dulu, ia sudah mempelajari ini beberapa minggu yang lalu. Kelas Chaesa benar-benar tertinggal!

Saat istirahat tiba, Chaesa menguap lebar-lebar dan meregangkan tubuhnya. Saat menoleh ke samping, ia melihat Taeni tengah memasang ‘ekspresi anak anjing’ menatapnya.

“Ah, kau benar-benar mengalihkan perhatian Shin-saem? Hebat! Tidurku nyenyak. Terima kasih.”

“Chaesa-ya― err… boleh aku memanggilmu itu? Apa kita bisa berteman?”

Chaesa mengangguk riang. “Hm, tentu. Ayo, akan kukenalkan dengan Chaeri dan Hyeorin!”

Chaesa menarik tangan Taeni. Jiwa Taemin yang ada di dalamnya serasa akan meledak. Ia girang setengah mati! Menjadi seorang perempuan ternyata tidak semuanya merugikan. Justru untuk hal-hal seperti ini ia bisa mendapat sebuah keuntungan. Ia bisa lebih dekat dengan Chaesa.

Kebetulan saat ini Hyeorin sedang berada di kelas Chaeri ketika Taeni dan Chaesa datang. Tapi sayang, atmosfer sedang tidak baik. Chaeri terlihat sangat muram.

“Chaeri-ya, kau kenapa?” tanya Chaesa.

“Taemin tak masuk dan tak ada kabar. Aku sudah menghubungi ponselnya, tapi tak ada jawaban. Jinki-sunbae susah ditemui, aku belum bertanya padanya.”

Jantung Chaesa kembali berdenyut kencang, ia memeganginya.

“Ini kan baru satu hari. Kita tunggu saja besok…,” celetuk Taeni, membuat ketiganya menoleh.

Hyeorin menyikut lengan Chaesa, meminta penjelasan.

“Ah, hampir lupa tujuan utamaku kemari. Ini Lee Taeni, dia baru mutasi kemari dan ditempatkan di kelasku. Dia sangat membantu, terutama saat aku tertidur di kelas.”

Hyeorin mengerutkan alisnya. “Kau tak pernah tertidur di kelas, Chaesa-ya!”

“Ya, memang. Err… semalam tidurku tidak terlalu baik.”

Tidak tidur semalaman karena memikirkan apa yang harus dilakukannya ketika Taemin datang menjemput, itulah alasan yang tepat. Untuk memutuskan akan memberikan Banana Milk atau tidak saja ia butuh membolak-balik pikiran. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan Minho. Pria itu tidak pernah membuatnya sesulit ini. Itulah mengapa Chaesa sangat marah atas ketidakhadiran Taemin di rumahnya tadi pagi. Ia merasa sangat dipermainkan.

“Ah, aku rindu Taemin,” desah Chaeri.

Yaa! Kenapa bicara keras-keras? Memalukan!” tegur Hyeorin.

Chaeri menatapnya sengit. “Sengaja! Supaya semua orang tau kalau aku menyukainya,” sindir Chaeri dan berhasil menohok hati Hyeorin. Gadis pendiam berkacamata itu memalingkan muka. Sedangkan Chaesa hanya menelan ludah dan memegangi dahinya, merasa kalau tulisan berbunyi “Tunangan Taemin” terpahat di sana.

“Kalian memalukan sekali di depan Taeni!” sungut Chaesa dan kembali menarik tangan Taeni. “Ayo!”

 

HARI sudah semakin sore, terlihat siswa-siswa yang baru saja selesai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler memenuhi gerbang untuk pulang. Sedangkan beberapa anak kelas tiga pilihan yang digabungkan dalam beberapa kelas masih sibuk berkutat dengan soal-soal pelajaran sampai jam tambahan berakhir nanti malam.

Suara pintu diketuk ketika Chaesa sedang merapikan ruangan selesai berlatih.

“Oh, Minho. Masuk!”

Minho melangkah masuk. Ia sudah kembali mengenakan seragam. Terdapat titik-titik air di bahunya yang jatuh dari rambut yang masih basah. Otot lengan kirinya sangat jelas menonjol ketika memegangi pegangan ransel yang tersampir hanya di sebelah bahu.

“Rambutmu masih basah,” ujar chaesa. Terkekeh.

Minho mengusap rambutnya. “Ya, aku mandi tergesa-gesa. Takut kau pulang lebih dulu.”

“Aku bukan orang seperti itu, meskipun tadi pagi kau yang memutuskan sepihak. Well, mau pulang?”

“Hm. Tapi bagaimana kalau kita makan dulu? Ada yang ingin―”

“Chaesa-ya, ini ditaruh di mana?” Taeni muncul dari ruang penyimpanan peralatan. Hatinya mencelos saat melihat Minho.

“Itu di lemari sudut. Kuncinya ada di atas lemari gantung. Kau bisa menggunakan kursi lipat di belakang pintu untuk mengambilnya,” tutur Chaesa. Ia kembali fokus pada Minho.

Taeni kembali masuk ke dalam ruang penyimpanan, namun seluruh perhatiannya ada pada kedua orang tersebut.

“Atmosfernya benar-benar hangat. Kenapa Chaesa terlihat begitu berbeda saat bersamaku?” gumamnya, lantas menendang lemari. “Sedang apa sebenarnya aku di sini?”

Ia buru-buru berbalik, kembali ke ruang latihan. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar pembicaraan mereka.

“…aku menyukaimu…,” ujar Minho.

Chaesa mengerjapkan matanya berkali-kali. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Minho meraih tangannya dan menyematkan sebuket mawar putih ke genggaman Chaesa.

“Mi-Minho…”

“Selama ini aku selalu takut untuk mengungkapkannya. Kau terlalu indah untuk didekati. Itulah mengapa aku berusaha tak mengacuhkanmu selama kau berada di dekatku.” Minho menarik napas dan menatap lekat mata gadis yang ada di hadapannya. “Ketika Lee Taemin datang mengusikmu, barulah aku sadar, aku takut kau menghilang dari pandanganku.”

Hati Chaesa mencelos.

Minho melanjutkan, “Aku bukan tipe pria romantis. Aku tidak dilahirkan menjadi seorang yang mahir merangkai kata-kata indah. Bagiku, aku dilahirkan untuk mendampingimu.”

Chaesa terkekeh. “Pada kenyataannya kau sedang berusaha merangkai kata-kata itu, Minho.”

“Yeah,” wajah Minho berubah merah padam. “Ah, aku malu.”

Chaesa tertawa geli. Ia memukul pelan dada Minho. Entah kenapa ia merasa bingung. Bukankah ini adalah suasana yang selama ini ia dambakan? Menjadi kekasih Minho adalah impiannya!

Chaesa menjilati bibirnya. “Aku… Minho, aku…”

Terdengar suara derap kaki, Taeni berlari kencang keluar. Chaesa menoleh dan teriak memanggilnya, namun tak ada respon sama sekali. Gadis berambut emas terang itu berlari kencang sambil menutup telinganya. Ia terlihat sangat marah, juga kecewa.

“Aku tak mau dengar. Tak ingin dengar kelanjutannya. Kenapa aku harus melihat ini?! Memalukan!” ia terus berlari kencang hingga keluar dari gerbang dan memasuki mobilnya yang terparkir depan ruko. Di dalam, ia memukul stir berulang kali. “Sial! Aku tak dapat berbuat apa-apa dalam keadaan seperti ini.”

Taeni melempar tasnya ke kursi samping dan baru sadar ada secarik kertas tertempel di dashboard.

Hari pertamamu sebagai perempuan. Menyenangkan, bukan? ―Almighty

“Brengsek!!!” teriaknya sambil mencabut kertas tersebut dan meremasnya. “Akan kubunuh kau!!!”

 

..to be continued..

 

 

Preview next part:

Chaesa: “…Taeni-ya, apa hubunganmu dengan Taemin? Di mana dia sekarang?”

Taeni: “Di-dia…”

Taeni: “Hyung, ini aku… ada seseorang yang mengubahku seperti ini. Aku tahu kau takkan pernah mempercayai hal-hal seperti ini, tapi ini benar-benar terjadi padaku.”

Jinki: “Taemin-ah?”

Jinki: “Bagaimana rasanya jadi perempuan?”

Taeni: “Well, ini hari pertamaku menstruasi!”

Chaesa: “…a-aku… aku ingin mengenalmu lebih jauh―”

Taemin: “Jangan ucapkan kata-kata itu selama kau masih bersama Choi Minho…aku akan segera kembali dan mengambilmu darinya.”

 
5 Comments

Posted by on February 20, 2012 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , ,

5 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VII]”

  1. chiijongwoon

    February 24, 2012 at 10:39 AM

    haaaa jinchaaaaa (>.<)
    eonni, igeo neomu daebak !! kenapa ga dibikin drama k0rea aja? swear, ini bagus bgt, bisa bgt dijadiin skenari0 drama k0rea .. huhu T.T , eonni k0k bisa bkin FF sebagus ini, aku yg gagal mulu jadi iri nih, hiks
    #curhatgaje

    huuaaa btw part yg ini, LOL !
    ada hyuk ma shind0ng numpang ngelewat, kkkk
    lg n0nt0n yad0ng pula, ck!

    smuaa pas bgt ama karakternya,
    hyaaa eonni daebaak !! e0n emang penulis yah??

    maaf yah, saya bnyak cakap, hehe ^-^V

     
  2. Fishyblue

    February 27, 2012 at 4:43 PM

    Bagusssss ! Bener deh… Taemin rada nakal disini. Gak imut-imut kayak biasanya. Dan kaget banget tau Chaesa ditembak sama Minho ! Astaga !

    Onnie , lanjutkan terus yah ! FIGHTING~

     
  3. qizil

    May 3, 2012 at 12:17 AM

    kyaaaaaa…..aku suka banget ceritanya.
    Lanjut thor😀

     
  4. Miina Kim

    June 6, 2013 at 1:58 AM

    gak mauuuu…. Diya….
    Kesian banget Taemin….
    Stress akut, tuh, dia!
    Cepetan balikin taemin, saengii kesian…
    #wink di depan key…
    ditinggal Jinki

     
  5. Tiara Indah Olivia

    October 30, 2013 at 3:20 PM

    *merayap.ke.part.selanjutnya*

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: