RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VIII]”

29 Feb

 

 

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter VIII]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa (imaginary cast), and SHINee.

Genre : Friendship, Fantasy, Romance, and Life.

 

SUDAH dua minggu sejak Taemin berubah menjadi seorang perempuan. Selama ini pula ia belum berhasil menemukan orang yang telah mengubahnya, Almighty. Rasa putus asa sering hinggap, namun seseorang yang membuatnya bertahan pada keadaan adalah Chaesa. Gadis yang akhir-akhir ini sedikit ia jauhi. Menjaga jarak  lebih baik, ketimbang merasa sakit. Taemin selalu berpikir seperti itu.

Pembicaraan yang ia dengar di ruang latihan dua minggu lalu antara Chaesa dan Minho membuatnya sangat frustrasi. Ia belum tahu apa jawaban Chaesa atas pertanyaan Minho. Di sisi lain, ia takut menghadapi jawaban yang tak diinginkannya.

Hari ini ia tidak sekolah. Sudah pukul delapan, dan masih tetap bergulung di balik selimutnya. Sejak bangun tidur, ia tak berhenti meringis. Perutnya luar biasa sakit.

“Kenapa ini?” rintihnya.

Ponsel berdering. Taemin meraba meja kecil di samping tempat tidur dan menyambarnya.

“Taeni-ya, berhenti menjauhiku!” teriak seseorang di seberang sana. “Mau sampai kapan kau datang terlambat dan pulang lebih awal hanya untuk menjauhiku?!”

Taeni berdecak kesal.

“Aku sakit, Chaesa-ya. Tak bisa masuk hari ini…”

“Sa-sakit?”

“Hm.”

“Berikan aku alamatmu!”

“Untuk ap―” Taemin menjauhkan telinganya dari ponsel di saat Chaesa berteriak. “Baiklah. Aku akan mengirimkannya via pesan. Ah, sakit sekali sampai tak bisa bangun.”

“Sepulang sekolah aku ke sana. Kau istirahat saja!”

“Hm. Gomawo.” Taemin menggenggam erat ponselnya. Keringat dingin sebesar biji jagung bermunculan meluncur di wajah. “Sial!!!” umpatnya.

Dengan susah payah ia bangun, hendak mengambil air hangat. Namun kedua matanya terpaku pada noda merah di seprai.

“A-apa ini?” lirihnya syok. Ia buru-buru mengambil ponsel dan menekan sebuah nomor. “SHIM CHAESA, CEPAT KEMARI!!!”

“KAU ini lambat sekali!” dumal Chaesa.

Taeni mengkerut di balik pintu toilet, di mana Chaesa berdiri di luar menungguinya dengan kedua tangan terlipat.

“Jadi, ini yang namanya menstruasi?” tanya Taeni.

“Hm…,” sahut Chaesa malas. “Aku mengalaminya saat SMP, kau benar-benar sungguh-sungguh amat sangat terlambat!”

“Berhenti berbicara dengan penuh penekanan seperti itu!” protes Taeni, ia keluar dari toilet.

Chaesa menyerahkan segelas minuman hangat. “Ini membuat perutmu lebih baik.”

“Trims,” ia menyesapnya hingga habis setengah. “Apa kau selalu seperti ini?”

“Tidak selalu. Tapi aku pernah mengalaminya juga. Sama sepertimu, sulit bangun dan tidak bisa sekolah.”

“Mengerikan sekali jadi perempuan!” gumam Taeni lirih.

Chaesa berjalan mengelilingi kamar. Ia memandangi beberapa bingkai foto baik yang menggantung di dinding maupun yang terpajang di atas meja. Sesekali alisnya bertaut dan tersenyum lembut. “Ini orangtuamu?” tanyanya tiba-tiba, telunjuknya teracung pada sebuah bingkai foto.

Taeni berjalan mendekat. Ia ikut menautkan alisnya. Ia bahkan baru sadar ada foto-foto semacam itu di kamarnya ini. “Ah, ya.”

“Di mana mereka?”

“Eh? Er… Ma-masih di Afrika.”

Mulut Chaesa membentuk huruf O, ia kembali jalan, kali ini ke sisi lain ruangan. Jantungnya berdegup sangat kencang saat melihat tumpukan seragam pria di sudut ruangan. Ia meraihnya dan melihat tanda pengenal yang tersemat di dada kiri yang bertuliskan “Lee Taemin”.

“Taeni-ya, a-apa ini? Kenapa bisa ada di sini?”

Taeni terbelalak. Selama tinggal di sini, ia tidak pernah memedulikan apartemennya. Chaesa kembali bertanya dan Taeni buru-buru menghampiri. Tidak hanya seragam, di lantai itu pun terdapat sepatu dan tasnya.

Chaesa buru-buru menyambar tas Taeni dan membukanya dengan kasar.  Ia mengeluarkan semua isi tas dan sebuah trofi meluncur. Ia mengambilnya dan membaca tulisan yang terpahat disana.

“Ini trofi kemenangan debat Inggrisnya, hari terakhir kami bertemu. Taeni-ya, apa hubunganmu dengan Taemin? Di mana dia sekarang?”

Kepala Taeni pening, ia mundur beberapa langkah sambil memegangi belakang lehernya.

“Lee Taeni!” bentak Chaesa.

“Di-dia… dia sepupuku!”

“Di mana dia sekarang?”

“Dia…,” Taeni berusaha berpikir keras. “Dia bilang ada hal yang harus diselesaikan, dia butuh waktu agar bisa kembali.”

“Antar aku ke tempatnya!”

“Ti-tidak mungkin, itu… itu di luar negeri, aku tak tahu di mana tepatnya…”

Tubuh Chaesa lemas, ia terduduk di lantai dan mulai memukul-mukul seragam Taeni yang ada di ujung lututnya. “Pembohong! Dasar pembohong!” gumamnya.

Taeni tak dapat berkutik, ia tak mengerti dengan apa yang Chaesa lakukan. Gadis itu terus menggumamkan kata “pembohong” yang lambat laun menjadi sebuah isakan, ia menangis.

“Kau bilang akan menjemputku! Setiap hari aku selalu menunggu, berharap kau datang dan meminta maaf, tapi kau tak kunjung datang bahkan hingga hari ini. Berani-beraninya kau memperlakukanku seperti ini, Lee Taemin! Sudah berapa banyak Banana Milk yang kubuang hanya karena kau tak datang mengambilnya?! Taemin bodoh, sangat bodoh!”

Taeni mematung, jantungnya berdegup kencang.

“Aku tak pernah mengizinkanmu pergi, kenapa kau pergi?!” isak Chaesa, masih memukuli seragam Taemin. Ia menangis tersedu-sedu dan perlahan meraih seragam Taemin lalu mendekapnya erat. “Sudah dua minggu kau menghilang. Aku tak ingin menunggu lagi. Cepatlah pulang!”

“Er, Chaesa-ya. Kau tak apa-apa?”

“Tentu saja tidak!” jawabnya ketus. “Katakan padanya untuk pulang sekarang juga!”

“Ma-mana bisa― Yaaa! Mau kemana?”

“Menemui Jinki-oppa,” Chaesa sudah bangkit dan menyambar tas, namun Taeni menarik tangannya.

“Tolong, jangan seperti ini! Tenangkan dulu dirimu.”

Chaesa menurut. Ia menyeka air matanya dan duduk di sisi tempat tidur sesuai ajakan Taeni. Seragam itu masih dalam dekapannya.

“Kapan dia kembali?”

“Secepatnya. Lee Taemin pasti akan kembali.”

Ini pertama kalinya bagi Taemin melihat Chaesa menangis. Jantungnya berdegup kencang saat matanya dengan liar menelusuri tiap lekuk wajah Chaesa dan berhenti di bibirnya. Merasa akan gila, Taemin yang masih terjebak di tubuh Taeni buru-buru bangkit dan keluar kamar menuju dapur. Dalam perjalanan ia mengacak-acak rambutnya.

“Sial! Kalau saja tidak dalam tubuh ini, aku… argh!”

Chaesa rupanya mengikuti di belakang, ia duduk di sofa dengan kedua kakinya yang terlipat, menatap ke luar jendela. Taeni kembali dari dapur dengan sekaleng softdrink dan memberikannya pada Chaesa, di mana anak itu masih tetap diam dengan mata menerawang ke luar jendela.

“Er, Chaesa-ya, boleh kutahu alasanmu menangis?”

Chaesa menghentikan aktivitas melamunnya, lalu ia menarik kail kaleng dan menenggaknya.

“Aku… sedih merasa ditipu,” jawabnya tanpa menatap Taeni.

“Tapi Taemin tidak menipumu. Dia sendiri sebenarnya tak ingin pergi, ia terpaksa!”

Chaesa menatap tajam. “Benarkah?”

“Hm,” Taeni mengangguk mantap. “Jadi, hal apa lagi yang tak kuketahui?”

“A-aku menerima permintaan Minho untuk menjadi pacarnya.”

Mata Taeni membesar dua kali lipat, tubuhnya kini membeku. Kata-kata Chaesa terus berputar di kepalanya dan itu membuatnya sangat marah.

Chaesa kembali berbicara. “Kurasa keputusanku ini salah―”

“TENTU SAJA!!!” teriak Taeni lepas kendali, ia berdiri sambil berkacak pinggang. “Kau tunangan Lee Taemin―”

“Calon!” Chaesa mengoreksi.

“Apapun itu! Kau sama saja dengan mengkhianatiku, Shim Chaesa!”

“Kau? Apa hubunganmu dengan ini semua, Taeni-ya? Lagipula aku dengannya hanya berpura-pura menerima perjodohan ini!”

Taeni terdiam, ia menyadari kebodohannya. Kemudian ia rendahkan kembali nada suaranya. “Taemin menjalani perjodohan itu dengan sepenuh hati, bahkan tak pernah menganggap perjanjian konyol itu. Ku-kurasa ia menyayangimu, Chaesa-ya.”

Chaesa menyambar tasnya dan bangkit dari sofa. “Well, begitupula dengan Minho.”

“Apa kau menyukainya?”

“Minho? Tentu!”

“Bukan! Lee Taemin…”

Chaesa terdiam. Ia bahkan tak menemukan kata-kata yang tepat untuk mengatakannya. Taeni masih menatap lantai, kedua tangannya terkepal, ia tak berani memandang Chaesa.

“Bukan urusanmu!” jawab Chaesa dan buru-buru berjalan menuju pintu keluar. Namun Taeni menarik tangannya. “Lepaskan, Taeni-ya!”

“Bi-biar kuantar…”

“Tak usah, aku bisa pulang sendiri.”

“Aku takkan membiarkan seorang gadis berjalan sendirian ketika matahari sudah tenggelam.”

Chaesa berhenti meronta, ia menatap lekat Taeni dengan tatapan tak percaya. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat itu sangat familiar di telinganya. Kalimat yang pernah membuat perutnya seperti diaduk dan diserang ribuan ngengat.

“Ke-kenapa?” tanyanya gugup. “Kenapa kau mengatakan itu?”

Taeni mengerutkan dahinya. “Kenapa? Kau adalah tanggung jawabku setelah aku mengenalmu. Ayo, kuantar!”

Chaesa terduduk lemas. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis disana.

“Kau kenapa?” tanya Taeni, ikut duduk di lantai.

Chaesa membuka kedua tangannya dan beringsut memeluk tubuh Taeni. Ia menangis di sana. “Pertemukan aku dengannya, Taeni-ya, kumohon. Di mana Taemin saat ini? Antarkan aku padanya!”

Wajah Taeni merona merah, jantungnya pun berdegup sangat kencang. Ia membalas pelukan Chaesa.

“Dia akan kembali secepatnya, percayalah padaku!”

SETELAH mengantar Chaesa hingga mendapatkan taksi, Taeni tidak langsung kembali ke apartemen, ia melanjutkan berjalan. Di sepanjang jalan banyak sekali anak-anak lelaki seusianya yang melirik bahkan tak segan menggodanya. Namun, sesuai tabiat asli Lee Taemin, ia menanggapi mereka dengan otot. Tak berhenti ia meneriakkan kata-kata seperti, “Kau pikir aku gay!” atau “Aku bukan gay!” tiap kali diganggu.

Setelah dua puluh menit berjalan, ia berhenti di sebuah rumah besar di kawasan Kangnam. Meskipun baru dua minggu, tapi ia sudah merindukan rumah itu. Tanpa pikir panjang ia menekan interkom.

“Siapa?” tanya suara yang dikenalnya.

“Kau akan tahu jika membuka pintunya.”

“Maaf kami tak mengenalmu, Nona.”

Hyung, cepat buka pintunya!” jerit Taeni.

Gerbang besar yang terbuat dari kayu tebal terbuka. Taeni berlari masuk ke dalam dan berhenti di depan pintu masuk rumah. DisanaJinki sudah menunggu dengan tangan terlipat.

Nuguseyo?” tanya Jinki ramah.

Hyung, ini aku.”

Mata Jinki membulat. “Kau anak baru itu?”

Taeni melengos masuk ke dalam rumah. Jinki buru-buru menyusulnya, menarik tangan Taeni dan menyeretnya kembali keluar.

“Kau gadis yang tak tahu sopan santun. Apa perlu aku yang mengajari?!”

“Lepaskan!” Taeni menarik tangannya. “Hyung, kau tak mengenalku? A-aku… aku… aku Lee Taemin.”

Jinki terdiam, kedua alisnya bertaut. Ia menatap lekat mata Taeni dan…

“Hahaha, bodoh! Taemin benar-benar membuatmu gila. Kau memerlukan psikiater, Nona―”

“LEE JINKI!” jerit Taeni, membuat kerongkongannya perih. “Lihat mataku! Kau adalah hyung terbaik yang pernah kumiliki. Saat SD aku jatuh miskin karena usaha Appa bangkrut. Lalu ia bekerja pada ayahmu sebagai driver. Sejak saat itu kedua orangtuamu menganggapku seperti anak kandung dan sering memintaku menginap di sini untuk menemanimu karena kau anak tunggal. Saat kelas dua SMP kau pernah masuk rumah sakit karena kebodohanmu meminum detergen, lalu kelas tiga kau pernah terjun dari lantai dua hanya karena sebuah simulasi gempa. Apakah yang kukatakan ini belum cukup? Hyung, kumohon percayalah padaku. Aku Lee Taemin!”

“Apa keuntunganku mempercayai kata-katamu?” tanya Jinki dingin.

Taeni memutar bola matanya kesal. Ia menarik lengan Jinki dan menyeretnya menuju sebuah kamar, milik Jinki.

“Apa kau tak ingin bertanya kenapa aku hafal denah rumahmu?”

“Er, baiklah. Bagaimana kau bisa tahu kamarku di sini?”

“KARENA AKU LEE TAEMIN! Kau meletakkan pakaian dalammu di tempat teratas lemari dengan alasan agar aku tak dapat menjangkaunya, namun sayang usahamu sia-sia karena kini tinggiku sudah setara denganmu!!”

Jinki mengerjapkan matanya. Itu memang benar, yang mengetahui hal tersebut hanya dia dan Taemin. Lantas ia menarik rambut Taeni, di mana gadis itu menjerit kesakitan.

“Oh, bukan wig?” tanya Jinki polos.

Hyung, kau sudah percaya ini aku, Lee Taemin?” tanya Taeni sambil mengguncang-guncang lengan Jinki. “Hyung, ada seseorang yang mengubahku seperti ini. Aku tahu kau takkan pernah mempercayai hal-hal seperti ini, tapi ini benar-benar terjadi padaku.”

“Taemin-ah?”

Taeni mengangguk semangat.

“Taemin-ah, kau… benarkah ini kau?”

“Aku bersumpah demi langit dan neptunus!” ujar Taeni lantang.

Jinki mendekapnya erat, membuat Taeni sulit bernapas. Setelah beberapa saat, Jinki melepaskan pelukannya dan menarik Taeni duduk di sofa yang ada di sisi ruangan. “Siapa yang sudah mengubahmu seperti ini?”

“Aku tak tahu. Dia hanya meninggalkan secarik kertas atas nama ‘Almighty’. Aku kemari untuk meminta bantuanmu mencari orang itu, Hyung. Lelah sekali menjadi perempuan.”

Jinki tersenyum menggoda. “Tapi kau cantik sekali, Taemin-ah, sungguh!”

Taemin memandang ngeri, ia bahkan membuat jarak di antara mereka.

Yaaa! Kau bukan tipeku!” bentak Jinki, wajahnya merona. “Di mana kita bisa menemukan si Almighty itu?”

“Mana kutahu! Jika aku tahu, sudah kupatahkan lehernya!” sungut Taeni sebal, sedangkan Jinki hanya menggeleng dan tersenyum geli.

Aigoo, kyeopta!” gemasnya sambil mencubit kedua pipi Taeni.

Taeni menarik tubuhnya. Ia benar-benar membuat jarak di antara mereka.

“Selama aku seperti ini, bagaimana dengan sosokku yang asli?”

Jinki berubah muram. “Kau… ada di rumah sakit. Koma…”

Mwo?!” teriak Taeni.

“Kau sudah tak bergerak saat ibumu berusaha membuatmu bangun untuk sekolah. Ia menjerit ketakutan karena dipikirnya kau sudah mati. Kedua orangtuamu menghubungi kami meminta bantuan. Saat sampai di rumah sakit, dokter yang memeriksamu memvonis bahwa kau koma.”

Mulut Taemin terbuka lebar. Ia syok mendengarnya.

“A-apa keluarga Chaesa diberitahu?”

Jinki menggeleng. “Ayahmu melarang. Ia tak ingin perjodohan kalian dibatalkan.”

“Ja-jadi kalian berbohong apa?”

“Kau keluar negeri menemani ibumu bertemu sanak saudara. Ini alasan klasik, tapi syukurlah mereka mempercayainya. Ibumu tak pernah beranjak dari sisimu. Ia tinggal di rumah sakit sejak kau masuk ke sana―”

“Sudah dua minggu?” ujar Taeni tercenung. “Rumah sakit mana?”

“Jangan datang!” larang Jinki tegas. “Tak ada orang lain yang datang. Ayahmu tak ingin ada orang asing di sekitar ruanganmu. Jangan bikin masalah semakin rumit!”

“Aku hanya ingin menemui eomma…” lirih Taeni, suaranya hampir seperti bisikan.

“Yang harus kau lakukan adalah mencari orang yang telah mengubahmu. Adakah orang yang kau sakiti akhir-akhir ini?”

Taeni terlihat berpikir, lalu menggeleng perlahan.

Hyung, lantas bagaimana dengan gadis yang memiliki tubuh ini?”

Jinki menatap lekat mata Taeni yang ada di hadapannya. “Molla.”

“Gadis ini…,” Taeni menepuk dadanya, “…memiliki tabungan, mobil, dan apartemen. Itu artinya dia memang ada di dunia ini. Lalu bagaimana dengan nasibnya saat ini?”

Jinki meraih tanda pengenal yang Taeni berikan. Ia membacanya dengan teliti. Lantas kembali meraih buku tabungan dan kunci mobil.

“Kau kemari dengan mobil?”

Taeni menggeleng.

Yaaa! Untuk apa kau hanya membawa kuncinya?!”

“Kau tahu sendiri kemampuan menyetirku. Saat hari pertama aku memang terpaksa mengendarainya. Sekarang sih ke sekolah pakai transportasi umum!”

“Mau pinjam motorku?” goda Jinki. Taeni mendengus, dan terdengar suara Onew menelan ludah, “Taeni-ssi, kau benar-benar cantik!”

HYUNG!!!”

JINKI menyerahkan kuncil motornya pada Taeni, di mana anak itu tengah bersusah payah naik ke atas motor. Tubuhnya saat ini benar-benar brengsek, benar-benar pendek! Jinki maju untuk membantu, namun Taeni dengan keras menolaknya. Takut dengan tingkah Jinki yang menjadi aneh. Selama mereka mengobrol di kamar tadi, mata Jinki terus mengarah ke dadanya.

“Bagaimana rasanya jadi perempuan?” tanya Jinki dengan alis berkerut hebat.

Well, ini hari pertamaku menstruasi!” jawab Taeni polos.

Jinki membelalakkan matanya. “A-apa?! Me-menstruasi? Lee Taemin, bahkan kelaminmu pun berubah?”

“Kau pikir ini palsu?!” tanya Taeni sambil memegang kedua dadanya yang secara otomatis membuat Jinki menelan ludah. “Daebak! Kau sama saja dengan lelaki lain. Kukira kau berbeda… Nah, sepintar apapun, Lee Jinki tetaplah lelaki.”

Jinki tertawa renyah.

“Perlihatkan padaku lain waktu!”

Taeni menoleh di tengah kesibukannya menyalakan motor. “Apa?”

“Mereka,” Jinki menunjuk dada Taeni.

“MWO?! Tak mau!” teriak Taeni dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya. “Ah, bisa gila. Aku pergi sekarang…”

“Hati-hati, Taeni-ya, ngomong-ngomong bokongmu seksi sekali,” ujar Jinki tertawa.

Taeni memandangnya ngeri. Dalam balutan jaket kulit milik Taemin, ia melajukan motornya dengan hati-hati. Biar bagaimanapun ini tidak sama dengan sebelumnya, kakinya benar-benar pendek.

Bye, Hyung!”

Ia tidak langsung kembali ke apartemen, tapi menuju rumah Chaesa. Sesampainya disana, ia berhenti beberapa meter di depan gerbang rumah. Dari sini ia bisa melihat kamar gadis itu. Kegiatan ini membuatnya teringat beberapa waktu lalu ketika ia baru saja diberitahu memiliki calon tunangan. Memandangi jendela kamar Chaesa berharap gadis itu memperlihatkan parasnya. Namun sayang itu tak  pernah terjadi. Takdir mempertemukan mereka di ruang komite saat rapat tempo hari.

Ia mendongakkan kepalanya menatap jendela. Lampu kamar masih menyala, kemungkinan besar Chaesa belum tidur. Taeni mengeluarkan ponsel asli milik Taemin yang ia ambil dari ransel yang Chaesa temukan pagi tadi. Ia mengetik sesuatu.

      Taemin: Chaesa-ya, berdirilah di balik jendela kamarmu!

Tak perlu menunggu lama, gadis itu menyibakkan tirai dengan sebelah tangannya menutupi mulut.

Taemin: Jangan kemana-kemana, di situ saja. Jangan coba-coba turun ke bawah untuk menemuiku. Mengerti?!

Chaesa merunduk membaca pesan untuknya dan mulai mengetik.

Chaesa: YAAAH!!! KEMANA SAJA KAU SELAMA INI?! Aku akan turun sekarang.

      Taemin: Kalau kau turun, aku akan pergi.

      Chaesa mengertakkan giginya kesal. Ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti permintaan Taemin. Ia tempelkan dahinya ke kaca, berusaha melihat Taemin lebih jelas walaupun percuma. Anak itu mengenakan jaket kulit hitam yang agak besar di tubuh, tidak ketat seperti biasanya. Ditambah helm penuh yang menutupi wajahnya.

Taemin: Maaf…

      Chaesa: Untuk?

      Taemin: Tak menepati janjiku tempo hari. Maaf sudah membuatmu menunggu.

      Chaesa: Menunggu? Siapa yang menunggumu? Jangan terlalu percaya diri!

      Taeni mendongak, ia menaikkan kaca helm untuk melihat Chaesa lebih jelas. Gadis itu masih menempelkan dahinya di kaca dengan bahu berguncang. Ia menangis…

“Bodoh!” gumam Taeni. “Tinggi sekali harga dirimu, Shim Chaesa!”

Taemin: Kudengar kau menerima Minho menjadi pacarmu.

      Chaesa: Cepat sekali Taeni mengabarimu.

      Taemin: Lalu kau menganggapku apa sekarang, Shim Chaesa?

      Chaesa: Bukankah kita hanya berpura-pura menerima perjodohan?

Taemin: Terima kasih! Lebih baik aku pergi, sepertinya kau tak mengharapkan kehadiranku.

Chaesa memukul-mukul kaca jendela dan buru-buru menempelkan ponselnya ke telinga. Ponsel Taemin bergetar, degup jantung Taeni berpacu dua kali lebih cepat. Tak mungkin mengangkatnya karena kini suaranya sudah berubah.

Ponsel berhenti berdering dan digantikan dengan pesan.

Chaesa: Kumohon angkatlah, Taemin-ah!

Jantung Taeni kali ini seperti terangkat dari tempatnya, ia mendongak ke atas untuk melihat Chaesa. “Taemin-ah?” gumamnya.

Sekali lagi ponsel kembali bergetar, perlahan Taeni menjawab panggilannya dan mengaktifkanspeakerphone.

“Jangan ditutup, tolong dengarkan aku!” terdengar suara tarikan napas. “Aku bohong… aku menunggumu. Itu karena kau sudah janji, aku hanya berusaha mendapatkan hakku. Tae-Taemin-ah, er… bolehkah aku memanggilmu seperti ini?”

Taeni mengangguk dan Chaesa melihatnya.

“Aku tak peduli kau menganggapku bodoh atau tak tahu malu, tapi demi Tuhan Taemin-ah, kumohon jangan pergi! A-aku… aku ingin mengenalmu lebih jauh―”

Taeni memutus teleponnya dan buru-buru menuliskan pesan.

Taemin: Jangan ucapkan kata-kata itu selama kau masih bersama Choi Minho. Beri aku waktu untuk menyelesaikan masalahku. Well, Shim Chaesa, jangan menatap pria lain selama aku belum kembali. Itu kata-kata yang tepat sebagai seorang calon tunangan, bukan?! Aku akan segera kembali dan mengambilmu darinya.

Tangan Chaesa bergetar saat membacanya. Entah harus senang, sedih, marah atau jengkel. Lee Taemin memang menyebalkan dan hari ini jauh lebih menyebalkan.

Saat ia melihat Taemin tengah menyalakan motornya, ia buru-buru berlari ke bawah berusaha menyusul. Namun tepat saat pintu gerbang terbuka, motor Taemin melaju dengan cepat.

“Lee Taemin,” teriak Chaesa. “Yaaah, Lee Taemin!”

TAENI menghentikan motornya di sebuah taman sepi. Ia turun dan menendang-nendang batu di jalanan. Hatinya sangat kacau, ia memaki-maki kondisinya saat ini dan berakhir duduk di tepi jalan, menangis. Tak banyak bersuara, hanya merunduk dan membiarkan air matanya mengalir.

      Sebuah anak panah meluncur tepat di ujung sepatu Taeni. Ia cepat-cepat meraihnya dan menyambar kertas yang diikat oleh sebuah pita merah muda.

      Tiba-tiba saja merasa kasihan melihatmu. Kau bisa kembali, dengan syarat berlutut meminta maaf padaku. Bagaimana? ― Almighty

      Taeni meremas kertas tersebut dan melemparnya. Ia menjerit kesal dan berulang kali meneriakkan kata “brengsek”. Sedangkan beberapa meter darinya, seseorang yang mengaku dirinya Almighty tengah mengawasi. Seringaian mengerikan muncul di wajahnya.

…to be continued…

 

Preview next part:

Jinki: “Aku menyukaimu…”

Hyeorin: “Maaf, yang kusukai Lee Taemin.”

Taemin: “Hyung, kau bolos? Kau tak boleh melakukannya! Kau panutanku, Hyung.”

Jinki: “…aku iri padamu―”

Taemin: “―aku tidak memiliki perasaan apapun padanya…”

Jinki: “Kenapa kau sangat beruntung, Taemin-ah? Kau dilahirkan sangat tampan… banyak gadis menyukaimu.”

Taemin: “…setidaknya kau sangat beruntung tidak terjebak dalam tubuh perempuan saat ini.”

Jinki: “Taemin-ah, pelakunya adalah paman Chaesa.”

 
5 Comments

Posted by on February 29, 2012 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

5 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter VIII]”

  1. song hye sun

    March 1, 2012 at 7:19 AM

    wh key trnyta tkg shir y

     
  2. Fishyblue

    March 3, 2012 at 10:07 PM

    Aaaaaaa itu koplak banget si Jinki. Ternyata kau pervert juga , Jinki !! Lagi kangen ama Jinki nih sembari nunggu SHINee comeback segera🙂

    Taemin kasihan banget, dan untungnya Minho nggak muncul-muncul. Rada ketar-ketir mikirin nasibnya Taemin.

     
  3. Hani Emang Love Jepkor

    March 5, 2012 at 4:11 PM

    Waah… jadi kepengen lanjutan nya…
    nanti Chaesa itu sama Minho atau Taemin?
    Lanjut…

     
  4. Miina Kim

    June 6, 2013 at 2:24 AM

    Diya….!!!!!
    Eon mau gigit bantal deh disini…
    Jinki bisa mesum juga….
    tidaaakkkkk….
    tapi suka……
    heheheheee… itu menandakan Jinki sangat normal…!!!
    #digetok Jinki

    Tapi, gmn nih, tae blm berubah juga,
    pdahal Chaesa udah sampe nangis kayak gitu…

    Aku gak suka banget sm tindakan Key.
    Dia bener2 sdh mmpermainkan kehidupan orang!
    Karena dia punya kemampuan untuk itu, bkn berarti dia berhak!!

    Nha, itu, snapshot!!!
    andweee….!!!!!
    Jinki ditolak Hyeorin…
    ampun…. kesian banget Jinki…
    Hyeorin kok tega….

     
  5. Tiara Indah Olivia

    October 30, 2013 at 8:27 PM

    Haha..dasar onew..udah tau itu taemin masih juga digodain..ckck.. -_-

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: