RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter IX]”

10 Mar

 

 

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter IX]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa (imaginary cast) and SHINee.

Genre : Friendship, Fantasy, Romance, and Life.

 

JINKI melangkah perlahan, membuntuti seseorang yang ada di hadapannya. Gantungan tas boneka berbentuk Eeyore bergoyang kesana kemari seiring dengan irama Hyeorin berjalan. Jinki tersenyum puas melihat hadiah pemberiannya diterima dengan baik. Ia mengekori gadis itu dari gerbang depan, saat ia berpatroli mengawasi jalannya pendisiplinan.

Hyeorin berbalik. “Ada yang bisa kubantu, Sunbae?”

Jinki menghentikan langkahnya dan itu membuatnya menjadi kikuk, mulutnya tiba-tiba saja seperti terkunci.

“Hanya perasaanku saja atau memang benar kalau sunbae mengikutiku?”

“Err…,” Jinki menjadi salah tingkah, ia malu sekali tertangkap basah seperti ini. “A-aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

“Hm?” Hyeorin mengerutkan dahinya.

“Ga-gantungan tas itu… kau sudah memakainya.”

Gadis itu membuka mulutnya beberapa sentimeter dan tak dapat menyembunyikan ekspresi kecewanya.

“Ini darimu?” tanya Hyeorin dan Jinki mengangguk semangat. “Jadi ‘Lee’ yang tertulis dalam kartu itu ‘Lee Jinki’ bukan ‘Lee Taemin’?

Senyum Jinki memudar. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencerna kata-kata. Ia sangat cerdas dalam mengolah kata, juga ekspresi wajah.

“Kau berpikir itu Taemin?” Hyeorin menunduk, wajahnya memerah. Jinki sedikit menekuk lututnya untuk merunduk dan berbisik sopan, “Bisa ikut aku sebentar? Ada yang ingin kubicarakan dan ini bukan tempat yang tepat untuk kita.”

Setelah mendapat persetujuan, Jinki berjalan lebih dulu di mana Hyeorin mengikutinya di belakang. Mereka menyusuri koridor hingga sampai di ruangan terujung, laboratorium.

“Hy-Hyeorin-ssi, aku tahu ini waktu dan tempat yang sangat tidak tepat. Tapi, aku tak ingin mengundurnya lagi.”

Hyeorin tak pernah melepas pandangannya dari Jinki. Jantungnya berpacu sangat cepat. Ia tahu sedang dalam situasi apa dirinya saat ini.

“Jinki-sunbae―”

“Aku menyukaimu…”

Hyeorin memejamkan matanya. Sesuai prediksi, Jinki memang akan mengatakan hal itu.

Dengan keringat sebesar biji jagung berjatuhan di pelipisnya, Jinki tetap menghunjamkan matanya pada Hyeorin. Di mana gadis itu masih saja menunduk. Ia memikirkan kapan waktu yang tepat untuk kembali berbicara dan menuntut haknya mendapatkan jawaban.

“Hyeo―”

Sunbae…,” Hyeorin mengangkat wajahnya, lantas ia berkutat melepaskan gantungan Eeyore dari tas dan mengembalikannya pada Jinki. “Maaf, yang kusukai Lee Taemin.”

“Ku-kurasa kau salah…”

“Tidak, itu sama sekali bukan kesalahan. Menyukainya bukan suatu kesalahan.”

“Tapi―”

Hyung!” teriak seseorang dari seberang koridor. Ia melambaikan tangannya pada Jinki dan berlari menghampirinya.

Hyeorin mendesah. “Perasaanku saja atau memang benar kalau dia semakin mirip Lee Taemin?”

Jinki menelan ludah dan tubuhnya menegang.

Hyung, ia mengirimiku tulisan lagi. Kau kan pintar menganalisis tulisan. Ayo, kita selidiki!” ajak Taeni, ia merangkul bahu Jinki dan menoleh ke samping. “Oh… hai, Hyeorin-ah!”

Hyeorin hanya mengangguk dan tak suka melihat sikap tidak sopan anak baru di hadapannya pada presiden siswa paling berpengaruh di Goojung. Taeni bahkan beberapa kali mendekatkan wajahnya ke pelipis Jinki saat menggodanya memohon bantuan.

Jinki hanya diam dan berjalan dengan pikiran kalut meninggalkan Hyeorin di belakang. Taeni yang jauh lebih pendek berusaha keras menggelayuti bahu Jinki hingga memasuki halaman belakang sekolah.

“Aku yakin ini tulisan tangan si Almighty itu. Hyung, jika kau berhasil melacaknya, aku akan kembali normal. Lee Taemin akan kembali!”

Lee Taemin akan kembali… Lee Taemin akan kembali…

      Kata-kata itu terus terulang di pikiran Jinki. Bukankah sebuah ancaman jika Taemin kembali? Dengan begitu Hyeorin akan semakin menjauh darinya dan merajut harapan-harapan untuk bisa bersama Taemin meskipun di satu sisi Taemin tidak akan goyah untuk terus mengejar Chaesa.

Jinki mengacak rambut dan membuka dua kancing seragamnya. Ia terlihat sangat kacau, sedangkan Taeni memandanginya bingung.

Hyung, waeyo?”

“Tinggalkan aku sendiri, Taemin-ah!”

Taeni menggerakkan mulutnya membentuk kata “oke” dan berjalan mundur meninggalkan Jinki yang menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan. Lonceng pertanda masuk berdentang dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, Jinki tidak menghadiri kelas.

SAAT istirahat berlangsung, Chaesa hanya diam di kelas. Ia membaringkan kepalanya ke atas meja dan menutupi wajahnya dengan buku. Ia masih memikirkan kejadian semalam saat Taemin mendatangi rumahnya.

Dia terlihat sangat kurus. Jaketnya terlihat lebih besar dari tubuhnya, bukankah itu jaket yang biasa ia kenakan? Apa masalah yang sedang ia hadapi saat ini sangat berat? Negara mana yang ia tinggali, kenapa begitu mudah datang dan pergi? Batin Chaesa.

Seseorang menurunkan buku yang menutupi wajahnya.

“Sedang apa di sini, kenapa tidak makan? Aku menunggumu di kantin.”

Chaesa bangun dan membenahi posisi duduknya. Ia menatap wajah Minho untuk mendapatkan suntikan vitamin dari senyumannya yang lembut. Lantas Minho menarik lengan Chaesa untuk ikut bersamanya menuju kantin.

“Aku tak ingin kau sakit. Kau harus makan, ayo!”

BRAK!

Taeni dengan sengaja membanting dua kotak makanan di atas meja Chaesa, beruntungnya itu tidak membuatnya rusak.

“Selamat makan!” ujar Taeni lantang, ia menarik kursi dari meja lain dan merapatkannya ke meja Chaesa. “Chaesa-ya, hargai niat baikku!”

Minho tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Baiklah, kau makan di sini saja. Habiskan!” Minho mengangkat jari telunjuknya pertanda mengancam. “Taeni-ssi, kuserahkan dia padamu. Terima kasih.”

Taeni mendelik sebal.

“Sudah kubilang kau ini tanggung jawabku, tanpa disuruh pun aku akan mengorbankan hidupku untuk melindungimu. Dan demi Tuhan aku melakukan ini tidak untukmu, Choi Min―”

BLEP!

Chaesa memasukkan segulung penuh telur dadar ke mulut Taeni.

“Diam dan makan saja, Taeni-ya!”

Taeni mendelik dan berusaha mengunyah telur yang memenuhi mulutnya. Ingin sekali saat ini ia mengejar Minho untuk memukulinya. Kalau saja ia tidak cepat-cepat kemari, anak itu sudah membawa pergi Chaesa untuk makan siang bersama di kantin. Kemungkinan-kemungkinan yang tak ia inginkan pasti akan terjadi kalau ia melepas pandangannya dari Chaesa meski hanya sedetik.

“Chaesa-yaottokhae~”

Hyeorin datang dan langsung berlutut di sisi meja sambil menempelkan kepalanya di sana. Baik Chaesa maupun Taeni sama-sama terkejut mendengar rengekannya.

Wae?” tanya Chaesa hati-hati, ini pertama kalinya ia melihat Hyeorin yang keibuan begitu kekanakkan.

Hyeorin mengangkat kepalanya dan menatap Chaesa. “Aku menolak Jinki-sunbae…”

Tak ada reaksi apapun, Chaesa menatap temannya tanpa ekspresi. Hyeorin mencoba mengguncang-guncang lengan Chaesa hingga ia tersadar.

“Oh, maaf. Yang benar saja, Hyeorin-ah― maksudku… YANG BENAR SAJA, BAGAIMANA MUNGKIN KAU MENOLAKNYA!” teriak Chaesa lepas kendali.

Taeni hanya menggeleng-gelengkan kepala dan terus melahap makanannya tanpa merasa terganggu.

“Memangnya kenapa?”

“Astaga,” Chaesa terlihat sangat tidak tenang, ia mengutuk perbuatan temannya itu. “Jinki-oppaadalah pria terbaik yang pernah kukenal!”

Oppa?” tanya Hyeorin, ada nada menuntut penjelasan di sana.

Chaesa diam, entah bagaimana harus menjelaskannya. Mana mungkin ia mengaku kalau Jinki akan menjadi kakak iparnya juga pernah ke rumah keluarga Lee dan melihatnya memasakkan sesuatu untuknya.

“Po-pokoknya dia terbaik! Pintar, cerdas, rajin, bertanggung jawab, memiliki banyak bakat, dia… sempurna, Hyeorin-ah! Dia bahkan jauh lebih baik dari Choi Minho dan Lee Taemin sekalipun,” ujar Chaesa berapi-api.

Taeni hanya berdeham mendengar namanya disebut.

Lantas Hyeorin kembali mencicit, “Aku harus bagaimana?”

“Bukankah kau dulu pernah menguntitnya juga, seperti halnya aku menguntit Minho?” bongkar Chaesa terang-terangan. “Apa alasanmu menolaknya?”

“Kubilang padanya kalau aku menyukai Lee Taemin.”

Saat itu juga Taeni menyemburkan makanannya ke meja dan terbatuk-batuk. Kedua gadis di hadapannya memandang jijik. Chaesa tak terlalu terkejut, ia sudah mengetahui isi hati Hyeorin dan Chaeri yang memiliki perasaan yang sama pada Taemin. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan mata sejenak.

Taeni buru-buru membuka kotak makanan Chaesa dan mendapati rumput laut kering yang dibentuk menjadi huruf-huruf bertuliskan ‘Kwon Hyeorin’ di atas nasi putih. Ia mendesah panjang. “Hyung…,” gumamnya.

“Lee Taeni, kau mendapatkan kotak bekal ini dari Jinki-sunbae?” tanya Chaesa tak kalah terkejut. “Yaaa, Kwon Hyeorin, lihat perbuatanmu!”

“Pantas dia membiarkanku mengambilnya,” lirih Taeni hampir tak terdengar. Ia menyingkirkan kursi dengan kasar dan buru-buru berlari keluar kelas menuju halaman belakang.

Di sana, Jinki masih tertidur lelap di atas rerumputan. Jalanan kosong, tak ada yang berani melewatinya karena Jinki sedang menguasai kawasan ini. Taeni berjalan menghampirinya dan memperhatikan wajah Jinki dari dekat. Terlihat begitu tenang dan sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang mengalami patah hati.

Jinki membuka kedua matanya dan terkejut mendapati seorang gadis tepat berada di depan wajahnya.

“Astaga, Taemin-ah…”

Hyung, kau bolos?” tanya Taeni, entah kenapa ia jadi merasa sangat bersalah. “Hyung, kau tak boleh melakukannya!”

“Aku hanya ingin merasakan seperti apa rasanya membolos…”

Taeni mendudukkan dirinya di atas rumput, masih menghadap Jinki. “Kau tak boleh melakukannya! Kau panutanku, Hyung.”

Jinki tertawa keras. “Justru aku iri padamu―”

“―aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, seluruh perhatianku hanya pada Shim Chaesa.”

Jinki menoleh dan menghunjamkan matanya yang tajam pada Taeni. Ia menarik napas panjang. “Kenapa kau sangat beruntung, Taemin-ah? Pintar menari, menyanyi, bermain piano, berbahasa Inggris, unggul dalam pelajaran dan olahraga… kau menguasai itu semua tanpa benar-benar belajar keras, kau melakukannya secara otodidak, itu jenius! Dan lebih beruntungnya lagi, kau dilahirkan sangat tampan hingga banyak gadis menyukaimu.”

Taeni tercenung.

“Tapi aku tidak sebaik dirimu, Hyung. Sikapku buruk, pemberontak, keras kepala, dan aku tidak kaya sepertimu…,” Taemin terdiam sejenak kemudian melanjutkan, “…setidaknya kau sangat beruntung tidak terjebak dalam tubuh perempuan saat ini.”

Jinki mendengus dan refleks memeluk Taeni. Ia merasa bersalah sudah memiliki niat untuk tidak membantunya menemukan Almighty. “Mianhae, Taemin-ah.” Taeni mengangguk dan membalas pelukannya. Namun, tanpa mereka sadari Hyeorin tengah mengawasi dari jauh. Ia datang untuk meminta maaf tetapi malah mendapatkan kejutan lain.

JONGHYUN melempar bola pada Minho, mereka saling melempar dan mengobrol santai. Hari ini Minho terlihat gelisah, itulah mengapa Jonghyun menginterogasinya.

“Aku tak berani bertanya, Hyung, akhir-akhir ini ia terlihat semakin muram.”

“Apa mungkin dia sedang… well, kau tahu maksudku.”

Minho menerima bola dari Jonghyun dan melemparnya kembali. “Mungkin saja. Tapi sudah lebih dari dua minggu ia seperti ini. Memang berapa lama itu terjadi?”

Molla!” mata Jonghyun membesar. “Noonaku mengalaminya selama kurang lebih seminggu. Apa semua perempuan mengalami siklus yang sama?”

Minho mengangkat bahunya dan tiba-tiba saja terkekeh.

“Kenapa kita jadi membahas ini? Ah, jincha…”

“Jadi, apa saja yang sudah kalian lakukan?”

Minho menggelindingkan bola ke sisi lapangan agar diambil juniornya, lantas berjalan keluar lapangan dan duduk di sebuah bangku panjang, begitupula dengan Jonghyun. Mereka saling berbagi minuman dan menumpahkannya ke wajah hingga tetes-tetes air meluncur dari dagu keduanya.

“Kami bahkan belum pernah berkencan setelah hari jadi. Dia tidak seperti dulu, tidak lagi menampakkan ekspresi-seperti-mendapat-hadiah saat melihatku, semua terlihat biasa. Aku seperti pecundang…”

“Hei, hei, hei. Itulah mengapa kau diciptakan, bantu dia! Bukan diam, merenung, gelisah, dan muram. Kau dipilih olehnya agar bisa melindunginya. Kulihat tadi siang kau makan sendirian lagi.”

“Hm. Dia di kelas, makan bersama Lee Taeni.”

Jonghyun seperti mendapat kekuatan ekstra saat mendengar namanya. “Ah, si cantik itu? Menurutmu apa dia sudah punya pacar?”

“Apa ada alasan gadis secantik dia tidak memiliki pacar?”

“Kau…,” Jonghyun meninju otot lengan Minho, “…kejam!”

Minho tertawa keras meskipun menerima tinjuan lainnya dari Jonghyun. Saat sedang asyik bergurau, seseorang datang. Ia menjatuhkan dirinya ke bangku dan bersandar sambil menatap langit. Minho dan Jonghyun saling pandang, mereka tak berani menegur orang tersebut.

“Apa biasanya yang dilakukan orang ketika sedang patah hati?” tanya Jinki to the point.

Minho dan Jonghyun kembali saling pandang.

“Siapa yang patah hati?” tanya Jonghyun.

“Aku!” jawab Jinki mantap.

Kedua pria di sampingnya hanya mengucapkan “Oh~”, namun sejurus kemudian mengerubungi Jinki.

“Kau patah hati? Apa aku tak salah dengar?” pekik Jonghyun. “Oleh siapa?”

Jinki tak menjawab. Ia hanya menarik napas dengan mata masih tak lepas menerawang jauh menatap langit. Cuaca sore ini begitu cerah, sangat sayang dilewatkan untuk dipakai bermain.

Noraebang?” sahut Minho ragu.

Call!” Jinki bangkit dan menyambar tasnya. “Apa yang kalian lakukan? Ayo!”

“Kita?!” pekik Minho dan Jonghyun bersamaan.

LAGU “Clock Work” mengalun lembut memenuhi ruangan berukuran kecil. Jinki bernyanyi sepenuh hati, sedangkan Minho dan Jonghyun hanya menonton di sofa bahkan sesekali melambaikan tangan mereka. Berhubung ini adalah acara milik Jinki, mereka membebaskan apa yang diinginkannya.

Saat lagu usai, Jinki menyerahkan mic pada Minho, namun pria itu menolak.

“Aku tak bisa nyanyi, Hyung. Maaf…”

“Aku saja!” Jonghyun menyambar micnya dan memilih lagu. Sebuah lagu milik DJ DOC – Run To You terputar. “Yeah~ 1,2,3,4 Bounce with, bounce with me… bounce with me bounce…

Jonghyun mulai menggila tenggelam dengan lagunya sedangkan Jinki terlihat kelelahan meskipun baru saja menyanyikan lagu balada. Minho menyodorkan minuman dan Jinki menerimanya, ia tenggak hingga habis. Setelah itu kembali diam, pikirannya masih kacau.

Hyung, tak apa-apa?” tanya Minho.

“Hm,” Jinki mengangguk dengan mata terpejam. Ia mencoba untuk tidur di tengah musik keras di mana Jonghyun dengan labilnya naik ke atas meja dan menyanyi dengan suara melengking. “Ya, ya, yaaa!” teriak Jinki.

Jonghyun menghentikan aksinya dan menoleh. “Wae?”

“Turun, turun. Berhenti bernyanyi! Kita keluar sekarang, aku lapar.”

Minho menyerahkan tas pada Jonghyun dan mereka mengikuti Jinki keluar ruangan. Di antara keduanya belum ada yang berani bertanya perihal patah hati Jinki hingga mereka meninggalkan gedung tempat karaoke dan berjalan menyusuri pertokoan di daerah Kangnam.

“Mau makan di mana?” tanya Jonghyun.

Molla,” sahut Jinki lesu. Ia bahkan tidak memperhatikan café di sisi kiri-kanannya, hanya menatap tanah. Rasanya seperti ingin menangis, namun air mata tak dapat keluar.

Di sisi lain, Minho menghela napas berat, seharusnya ia melakukan ini bersama kekasihnya. Tapi hingga saat ini masih belum berani mengajaknya berkencan. Gadis itu terlihat tidak normal, maksudnya tidak ceria seperti waktu-waktu sebelumnya. Dan ngomong-ngomong mengenai Chaesa, ia jadi teringat sesuatu…

“Astaga!” pekik Minho, membuat kedua sunbaenya menoleh.

Wae?” tanya Jonghyun.

“Latihan klub balet berakhir sepuluh menit yang lalu. Aku sudah janji pulang bersamanya. Jinki-hyung, maaf aku tidak bisa menemanimu lagi.”

“Tak apa-apa, pergilah!”

Minho membungkuk sangat rendah baik pada Jinki maupun Jonghyun, lantas ia bergegas kembali ke sekolah. Jinki merangkul Jonghyun dan menyeretnya untuk masuk ke sebuah café. Bel berdentang ketika pintu terbuka. Saat itu juga bau aroma terapi menyengat menusuk hidung keduanya, membuat mereka refleks mengibaskan tangan di depan hidung.

Setelah mendapatkan tempat, Jonghyun menarik sebuah menu dari atas meja. Ia terus membaca daftar makanan dan minuman dengan alis berkerut. “Lidah naga Nigeria?” katanya sambil berjengit.

Jinki memandang berkeliling. Ini kedua kalinya ia kemari setelah bersama Chaesa beberapa waktu lalu. Tak ada yang berubah, café ini tetap sepi pengunjung hingga membuat suasananya semakin mencekam.

“Jinki-ya, café macam apa ini?” protes Jonghyun setengah berbisik.

“Aku juga tak tahu. Sama sepertimu, aku juga bingung saat pertama kali melihat menu.”

“Jadi ini bukan pertama kalinya kau kemari?”

Jinki menggeleng.

Jonghyun kembali membuka-buka menu meskipun ia sendiri juga bingung ingin memesan apa. Tak ada menu normal di situ, sedangkan Jinki masih asyik mengamati interior ruangan dan papan tulis hitam bertuliskan menu-menu andalan yang kini menarik perhatiannya. Ia merogoh saku celana mengeluarkan secarik kertas berwarna merah muda dari sana. Kemudian menatap bergantian pada papan tulis dan kertas tersebut.

“Orang yang tegas, pekerja keras, dan sedikit kejam. Namun masih memiliki hati yang tulus ketika menyayangi seseorang. Tak diragukan lagi, dia orangnya,” gumam Jinki sambil menganalisis tulisan di antara papan dan kertas tersebut.

“Sedang apa kau?” tanya Jonghyun bingung.

Jinki mengabaikan pertanyaan Jonghyun dan bangkit menghampiri bar. “Maaf, boleh kutahu siapa yang menulis menu-menu itu?”

“Pemilik kami,” jawab seorang karyawan yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan jubah panjang. “Apa ada masalah?”

“Ah tidak. Aku menyukai tulisannya yang rapi. Boleh kutahu siapa nama pemiliknya?”

“Key-sajangnim.”

Gotcha! Batin Jinki. Ia kembali ke meja, di mana Jonghyun dengan bodohnya masih saja melototi menu.

“Jinki-ya, haruskah kita makan di sini?” tanyanya ngeri.

“Tidak, ayo kita pulang!”

Jonghyun memutar bola matanya. Entah karena kesal dengan keputusan sepihak Jinki atau malah bersyukur tidak harus memasukkan makanan mengerikan ke dalam perutnya.

Setelah keluar dari café, Jinki buru-buru mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.

“Taemin-ah, pelakunya adalah paman Chaesa!”

…to be continued…

 

 

Preview next part:

Taeni: “Kembalikan aku!”

Key: “…kau bisa saja takkan pernah kembali normal.”

Hyeorin: “Changmin-ah, apa hubungan Chaesa dengan Lee Taemin?”

Changmin: “Lho, memangnya Chaesa-noona tidak pernah cerita kalau dia sudah dijodohkan?”

Chaeri: “Pengkhianat!”

Hyeorin: “Kau menikam kami dari belakang!”

Chaesa: “….biar kujelaskan semuanya!”

 
8 Comments

Posted by on March 10, 2012 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

8 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter IX]”

  1. ujhee_jonghyn

    March 11, 2012 at 9:21 AM

    ak suka crita.a…
    ak tnggu lnjutannya chingu…..:))

     
  2. fishyblue

    March 11, 2012 at 11:21 PM

    Kyaaaa ~ lanjutannya udah ada🙂 Jinki, kasihan sekali kamu nak. Kamu sama aku aja #plak

    Ah ah ah Minho-ya sekarang jadi so sweet banget sama Chaesa. Dan Taemin yang lola masih terjebak dalam tubuh ‘Taeni’.

    Chapter dpan bakal seru nih !

     
  3. song hye sun

    March 12, 2012 at 8:34 PM

    Jiah previewny krg pnjg..
    Kekeke

     
  4. miss.vanpurple13

    March 23, 2012 at 8:51 AM

    lanjut thor..
    aku suka ceritanya…

     
  5. meida

    March 31, 2012 at 1:58 PM

    seru-seru .
    lanjutin author !!!!😀

     
  6. heedictator GF

    May 24, 2012 at 5:30 PM

    Mwo?? Lanjut… chayo!

     
  7. Miina Kim

    June 6, 2013 at 2:40 AM

    Diya… “transgendernya” taemin gak buat ceritanya aneh..
    malah tambah bumbu….!!!! (emang masakan?)
    Hyeorin kebangetan!!! Biar dia cemburu sama Taeni…
    Apalagi part berikutnya, dia n chaerin tau kalo
    taemin dan chaesa dijodohkan!!!

    Nah, Jinki yang pinterrr dengan analisa yang pinterrrr
    Kamu selamat, nak….
    #peyuk tae….

    Lanjutt

     
  8. Tiara Indah Olivia

    October 30, 2013 at 8:39 PM

    Aw..aw..kenapa jadi rumit gini

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: