RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter X]”

08 Aug

CHAESA duduk di atas tumpukan level di depan ruang latihan. Kegiatan klubnya sudah selesai setengah jam yang lalu. Ia masih di sini karena pesan Minho yang memintanya untuk pulang bersama saat istirahat tadi siang. Namun, hingga saat ini pria tinggi itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.

Ada beberapa hal yang menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini. Memikirkan kepergian Taemin adalah salah satunya, sedangkan hal lain yang selalu ia pikirkan adalah mengenai perasaannya. Semuanya sudah berbeda, tidak lagi seperti dulu saat Taemin belum muncul di hadapannya. Hatinya pada Minho tidak sekuat dulu, detak jantung tidak lagi berpacu kencang saat melihatnya. Ini membuatnya bingung. Sedang apa sebenarnya ia saat ini?!

“Chaesa-ssi, maaf…,” Minho datang menghampiri setelah berlari jauh. Penampilannya sangat kacau. “Maaf, maafkan aku!”

Tak ada jawaban.

Minho terus menunduk, merasa sangat bersalah. Terdengar suara langkah, Chaesa menghampirinya. Lantas ia merasa sesuatu menyentuh wajahnya.

“Kenapa belum mandi? Kau terlalu keras berlatih,” ujar Chaesa sambil menyeka keringat Minho menggunakan saputangannya.

Hati Minho mencelos. “Bu-bukan. Aku tidak berlatih hari ini.” Chaesa menghentikan aktivitasnya dan memandang Minho dengan tatapan menuntut. “Jinki-hyung minta ditemani. Dia terlihat kurang baik hari ini.”

“Tak apa-apa. Aku tidak marah,” sahut Chaesa lembut. Ia tahu apa yang menimpa Jinki hari ini tidak lain adalah hasil perbuatan sahabatnya, Kwon Hyeorin,  yang sudah menolak cinta pria itu. “Ayo, pulang!”

“Kau… tidak marah?”

Chaesa tersenyum lembut dan menggeleng. Minho membalas senyumnya dan bernapas lega. Ia menggenggam tangan gadis itu dan mengajaknya pulang, berjalan perlahan menuju gerbang. Cuaca sore ini sangat bagus bagi mereka untuk menghabiskan waktu bersama.

“Pergi kemana tadi?”

“Aku hanya menemaninya karaoke dan pergi saat ia mengajak kami makan.”

“Kami?”

“Aku dan Jonghyun-hyung,” jawab Minho tenang, ia mengeratkan genggamannya. “Maaf, membuatmu jalan seperti ini. Kencan denganku hanya membuatmu membesarkan betis. Aku tidak memiliki kendaraan bagus seperti yang lainnya. Choi Minho tidak dilahirkan dari keluarga berada. Sekolah pun aku mengandalkan beasiswa yang kuperoleh melalui basket.”

Chaesa menoleh dan mendapati wajah Minho sedikit muram.

“Kenapa… kenapa kau menceritakan ini semua?”

Minho buru-buru menarik Chaesa saat sebuah bus berhenti di halte tempat mereka menunggu. Setelah berada di dalam, mereka menduduki dua buah bangku kosong.

“Karena hal itulah aku sempat tidak memiliki kepercayaan diri untuk mendekatimu. Mendengar orang ramai berceloteh mengenai Shim Chaesa yang menyukai Choi Minho membuatku takut. Keadaanku ini… aku takut kau tak bisa menerimanya.”

“Aku… bukan orang seperti itu. Justru aku senang kau menceritakannya langsung, Minho-ssi. Hal-hal tentangmu… aku sudah tahu semuanya.”

“Benarkah?” tanya Minho tak percaya.

“Aku stalker yang handal, by the way.”

Mereka tertawa. Minho masih tidak ingin melepaskan genggamannya dari Chaesa. Ketakutannya selama ini sia-sia dan sedikit menyesal mengapa tidak melakukannya sejak dulu. Ketidakhadiran Lee Taemin belum menghapus kekhawatirannya, meskipun sudah hampir sebulan anak itu tak menunjukkan batang hidungnya. Ia tahu perasaan Chaesa sedikit berubah, itulah mengapa kini ia berusaha menjaga apa yang ada di hadapannya.

“Oh,” pekik Chaesa, tatapannya mengarah keluar jendela. “Itu Lee Taeni. Kenapa dia berlari sekencang itu?”

Minho ikut melihat. “Gadis itu… Jonghyun-hyung menyukainya…”

“Benarkah? Akan kusampaikan pada Taeni kalau begitu.”

“Ya, mohon bantuannya.”

Chaesa tersenyum tipis. “Er, Minho-ssi, se-sebenarnya hubungan antara aku dan Tae―”

“Wah, lihat mereka perang air, aku sering melakukan itu saat kecil,” ujar Minho riang saat melihat beberapa anak kecil saling menembakkan water gun dan tertawa riang. “Tadi kau mau bilang apa?”

“Aku dan Tae―”

Bus berhenti. Minho buru-buru menggamit tangan Chaesa dan menuntunnya turun. Lagi-lagi kata-kata Chaesa terputus. Padahal ia ingin membeberkan jati diri Taemin pada pacarnya itu. Niatnya urung sudah, terpaksa ia mengikuti kemanapun Minho membawanya.

SETELAH mendapat panggilan dari Jinki, Taeni bergegas mendatanginya. Pikirannya penuh dengan nama “Key” dan “Almighty”, hingga membuatnya kuat berlari kencang. Mereka sepakat bertemu di Yeouido Park. Menurut Jinki, kini Key sedang ada di sana, dan inilah waktu yang tepat untuk meminta pertanggung jawabannya.

Jinki melambaikan tangan, memberitahu keberadaannya saat Taeni memasuki kawasan taman. Ia menghampiri hyungnya dan berusaha mengatur napas agar kembali stabil. Jinki bersembunyi di balik pohon rindang, ransel hitamnya ia taruh di depan badan seperti perisai.

“Di mana dia?” tanya Taeni tak sabar. Jinki membalik tubuh gadis itu agar dapat melihat Key sedang asyik bermain air di kolam bersama seseorang. “Hyung, ayo kita ke sana!”

“Sabar!” cegah Jinki saat Taeni hendak melangkah pergi. “Biarkan Chaeri pergi dulu. Urusanmu hanya dengan Key, jangan libatkan Chaeri juga.”

Jinki benar, mau tak mau Taeni menurut.

CHAERI menengadah menatap langit dan menghela napas panjang. Ia memasukkan kedua kakinya ke dalam air dan berjalan menuju tengah kolam. “Dia bilang sudah dijodohkan. Apa itu masuk akal di zaman seperti ini?” keluhnya.

Key yang berjalan di belakangnya menyahut, “Masuk akal. Toh, keponakanku juga mengalaminya.”

“Ah ya,” Chaeri buru-buru berbalik dan membuatnya hampir terpeleset. Beruntungnya, Key berhasil menyelamatkannya.

Ei~ Hati-hati!”

Dekatnya jarak di antara mereka membuat wajah Chaeri tiba-tiba saja memerah. Ia baru sadar kalau Key tidak kalah menarik dari Taemin. Tiba-tiba saja Key mengecup kilat bibir Chaeri, di mana gadis itu hanya membelalakkan matanya tanpa melakukan perlawanan.

“Tolong pikirkan lagi permintaanku, Chaeri-ya!”

“Ba-bagaimana mungkin…,” Chaeri melepaskan diri dari pelukan Key, “…aku, aku menyukai Lee Taemin.”

Key tersenyum tipis. “Apa kau tahu siapa yang dijodohkan Taemin?”

“Tidak. Siapa?”

“Kau akan mengetahuinya nanti, Chaeri-ya. Dan jika itu menyakitimu, datanglah padaku! Kau hanya boleh menangis di hadapanku. Kau bisa datang padaku.”

Kata-kata itu seperti mantra, Chaeri tak bisa mengalihkan tatapannya dari Key. Pria itu menarik lengannya dan mengajak menepi. Hari sudah sore dan cuaca masih tetap panas, tidak baik terlalu lama berada di dalam air.

“Ayo, kuantar pulang.”

Chaeri mengangguk menurut. “Er, Samcheon―”

“Chaeri-ya! Tolong jangan memanggilku seperti itu! Aku bukan pamanmu. Kau bisa memanggilku ‘oppa’, mengerti?!”

Lagi-lagi Chaeri mengangguk.

TAENI dan Jinki menunggu lebih dari setengah jam sampai Chaeri diantar pulang. Mereka mengekor dan tepat setelah Chaeri masuk ke dalam rumah, Key berbalik kemudian berkata, “Kalian berdua, keluarlah!”

Baik Taeni maupun Jinki keduanya terbelalak.

“Aku tahu kalian di sini. Lee Taemin, Lee Jinki, keluarlah!”

Terpancing emosi, Taeni keluar. Berlari menghambur Key dan dengan kasar menarik kerah pakaiannya. Ia menghunjamkan matanya penuh kebencian pada pria itu. Di belakang, Jinki merasa putus asa memanggil Taeni berulang kali untuk melepaskan Key.

“Kembalikan aku!” teriak Taeni.

Key mendengus. Ia memegang kedua tangan Taeni dan berusaha melepaskan diri. Bagaimana pun Taeni memberontak, ia tetap kalah. Kekuatannya kini tidak seberapa jika dibandingkan Key. Sekuat apapun perempuan, lelaki tetaplah lebih kuat dari mereka.

“Tidak pantas seorang gadis berlaku kasar, Lee Taeni.”

Mendengar hal itu justru membangkitkan kemarahan Taeni, kali ini ia memukul wajah Key. Jinki menarik dan menyeretnya menjauhi Key.

“Lepaskan, Hyung!”

“Dia sengaja memancing emosimu. Hentikan, Taemin-ah! Kau harus tenang jika ingin menghadapinya. Dia bukan orang yang menyukai kekerasan.”

Perkataan Jinki membuat Taeni melunak. Napasnya sudah tak memburu, namun tidak mengurangi kemarahannya.

Hyung-nim,” panggil Jinki dan itu membuat Taeni jengkel. “Apa alasanmu mengubah adikku menjadi perempuan?”

Key tersenyum kecut, ia melipat tangannya.

“Dia sudah berlaku tak sopan padaku… juga pada seseorang.”

Jinki tak melepaskan cengkeramannya dari lengan Taeni, takut anak itu kembali menyerang. Setidaknya Key adalah kunci utama, orang yang bisa mengembalikan adiknya menjadi normal. Jika Taeni menghajarnya, bagaimana mungkin Key akan membantu.

“Aku memang pernah berlaku kasar padamu, tapi tidak pada orang lain! Itu pun karena kau yang memulai,” teriak Taeni.

“Jangan terlalu percaya diri, Lee Taemin! Kesalahanmu fatal di mataku―”

“Lalu apa alasan konkretnya?” sela Jinki tak sabar.

“Pertama, dia telah menghinaku, berlaku kasar, dan mengambil milikku.” Key memperbaiki letak kacamatanya dan kembali bicara, “Kau menyebutku ‘Pria Mesum’ dan ‘Pria Tua’, juga menabrakku hingga jatuh. Tapi itu masih bisa kumaafkan. Kesalahan fatal yang menggangguku adalah… kau menyakiti Park Chaeri.”

Taeni mengernyit. “Park Chaeri?”

“Ya. Pastinya sudah menjadi rahasia umum Chaeri menyukaimu. Kau juga mengetahuinya ‘kan? Lantas mengapa kau harus mengatakan padanya kalau kau sudah dijodohkan?”

“A-aku hanya…”

“Mencurahkan hatimu? Ya, Chaeri tidak hanya pendengar yang baik, ia juga mampu memberikan solusi dengan gaya penyampaian yang menyenangkan, itulah mengapa kau memutuskan untuk mempercayainya menyimpan rahasia. Namun, hal itulah yang membuatnya perlahan-lahan menjadi terpuruk.”

“Aku tidak mengatakan gadis itu Shim Chaesa. Aku hanya mengatakan sudah dijodohkan!”

Rahang Key mengeras. “Berapa IQ-mu, Lee Taemin? Atau kau memiliki IQ tinggi tapi perasaanmu nol mutlak? Mengatakan sudah memiliki seseorang pada gadis yang menyukaimu sama saja seperti membunuhnya secara perlahan. Apa kau sengaja melakukannya?!”

Taeni terdiam, pikirannya berkecamuk dan menyadari kebodohannya.

Key melanjutkan, “Bahkan hingga aku mengatakan hal ini pun kau masih berdiri angkuh? Cih!”

“Kumohon kembalikan dia seperti semula!” pinta Jinki.

Key menoleh. “Kenapa kau membantunya? Bukankah gadis yang kau sukai juga jatuh cinta pada anak ini?”

“A-aku…,” rasa sakit itu kembali datang, hatinya seperti diremas. Namun Jinki berusaha menguasai diri, “…lebih baik kehilangan seorang gadis daripada adikku!”

Hati Taemin mencelos. Ia menoleh ke samping dan menemukan Jinki tersenyum hangat padanya.

“Aku tak mau. Kuubah kapan-kapan jika moodku sedang baik,” ujar Key dan bergegas dari sana.

Jinki memanggilnya berulang kali namun tak mendapat respons. Key terus berjalan meninggalkan mereka, hingga akhirnya…

BRUK!

Taeni berlutut dan hal itu berhasil membuat Key menghentikan langkahnya.

“Maafkan aku! Maaf sudah menyakiti hatimu, Key― hyung. Kumohon jadikan aku kembali normal, masa depanku saat ini bergantung padamu. Kumohon maafkan aku! Aku tahu permintaan maafku ini mungkin tidak dapat mengobati rasa kecewamu, tapi kumohon… kumohon…,” Taeni tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.

Key mendengus, ia berbalik.

“Ramuan itu hanya ada di café. Ikut aku!”

TAENI menatap bergilir dua gelas medium berisi Americano Ice dan Macchiato Caramel di mejanya dan Jinki. Key berdiri di samping meja sambil memeluk nampan dan memandang sebal Taeni.

“Ma-mana minuman penawarnya?” tanya Taeni tak sabar.

“Di depan hidungmu, Nak!”

Taeni menunjuk Americano Ice dengan ekspresi meremehkan. “Ini?”

Well, yeah. Penawar ramuan yang kau butuhkan itu hanya segelas Americano. Aku tahu kau jarang minum kopi, itulah mengapa aku memilih Americano,” jelas Key dan menyeringai mengerikan.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Taeni segera menyambar Americano tersebut dan menenggaknya. Baik Jinki maupun Key menatap mengawasinya. Tiba pada tetes terakhir, Taeni menaruh kembali gelas ke meja dan membersihkan mulutnya dengan punggung tangan.

Selama beberapa menit tak ada yang terjadi. Semuanya tampak normal dan ini membuat Key menyambar gelas dan menciuminya.

“Tak ada yang aneh,” gumamnya pada diri sendiri.

Waeyo?” tanya Jinki curiga.

“Minuman penawar ini memiliki reaksi yang berbeda dengan ramuan pengubah. Seharusnya tak membutuhkan banyak waktu untuk mengubahmu kembali, Lee Taemin, tapi…,” Key melirik jam tangannya, “…sudah lebih dari lima belas menit masih tak ada perubahan. Apa yang kau minum selama ini?”

Taeni terlihat sangat gugup. “Er, aku minum Banana Milk tiga kali sehari…”

Key mendengus. “Kalau begitu bersabarlah hingga beberapa hari ke depan, karena susu bersifat menguatkan mantra yang ada dalam ramuan pengubah. Apalagi kau meminumnya secara intensif seperti itu. Aku tak tahu pasti berapa tambahan waktu di setiap tegukan susu yang kau minum. Semakin banyak kau meminumnya, maka semakin kuat pula mantra itu bereaksi. Fatalnya, kau bisa saja takkan pernah kembali normal.”

MWO?!”

DASH!

Sebuah batu di jalan menjadi sasaran tendang Taeni. Ia merengut, baru kali ini merasa sangat menyesal meminum susu favoritnya. Kata-kata terakhir Key tadi membuatnya sangat takut dan berusaha keras tidak mempercayainya itu sangat sulit karena Key memang tidak sedang bercanda. Sedangkan Jinki yang sedari tadi bungkam, hanya berjalan dengan kepala merunduk. Angin malam di musim panas kali ini tidak terlalu baik. Sangat panas dan lembab, ini membuat siapapun merasa sangat tidak nyaman.

Hyung, apa aku boleh ke rumah sakit? Aku rindu eomma,” tanya Taeni dan Jinki menggeleng lemah. Merasa aneh, Taeni ikut merunduk dan menemukan wajah Jinki yang pucat. “Jinki-hyung, kau kenapa?”

Taeni menaruh tangannya di kening Jinki.

“Astaga, Hyung, kau demam. Ayo, kugendong. Cepat naik!”

“Badanmu kecil, Taemin-ah!” gumam Jinki sambil menendang bokong Taeni yang sudah berjongkok.

“Aku lupa. Ah, sial!” umpat Taeni dan dengan cekatan meraih lengan Jinki lantas menopangnya.

Jinki melingkarkan kedua lengannya di leher Taeni, posisi mereka kini sudah seperti berpelukan.

“Kepalaku seperti mau pecah.”

“Jangan khawatir, kita ke dokter sekarang.”

“Tidak, kita pulang saja. Aku ingin tidur,” suara Jinki semakin mengecil, kepalanya ia sandarkan ke kepala Taeni di mana posisi mulutnya berada di leher gadis itu. “Jika orang melihat ini, mereka akan salah paham, benar?”

Taeni mendengus. “Hyung, jangan banyak bicara! Pejamkan saja matamu!”

“Hm.”

LANGKAH Hyeorin terhenti saat melihat sebuah pemandangan tak mengenakkan di hadapannya. Begitupula dengan Chaeri, ia ikut berhenti. “Wae?” tanyanya bingung.

“Bu-bukankah itu Jinki-sunbae dan si anak baru?”

Chaeri mengikuti arah pandang Hyeorin dan mendapati Jinki tengah memeluk Taeni sambil berjalan. Ia menutup mulutnya dengan tangan.

Suara Hyeorin bergetar, “Bukankah tadi pagi ia baru saja mengungkapkan perasaannya padaku?”

“Lalu kau tolak. Begitulah lelaki…”

“Apa maksudmu?”

“Lee Taeni itu pasti menjadi pelariannya. Sudahlah, mana mungkin Jinki-sunbaebisa mengubah perasaannya dalam waktu kurang dari sehari. Ayo cepat sudah malam! Bukankah tadi kau menyeretku keluar rumah untuk menginap di rumah Chaesa?”

“Tapi…,” pandangan Hyeorin masih tak lepas dari Jinki dan Taeni. Entah bagaimana harus melukiskan perasaannya saat ini. Ia begitu marah, kesal, ada perasaan tak rela, juga sedih. Tak tahu dari mana hal-hal itu berasal.

“Hyeorin-ah, kalau kau cemburu, cepat ambil dia sekarang sebelum terlambat!”

“Apa?! A-aku sudah menyukai orang lain,” pekik Hyeorin sambil membuang muka.

Chaeri mencelos. Suasana tiba-tiba saja menjadi canggung.

“Jadi tidak acara menginapnya? Kalau tidak aku mau pulang,” ancam Chaeri.

Tanpa banyak bicara, Hyeorin mencengkeram tangan Chaeri dan menariknya untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di rumah Chaesa, Changmin membuka pintu dan mendapati Chaeri serta Hyeorin tersenyum riang menyapanya. Ia mempersilakan mereka masuk dan menunggu di ruang tengah. Rumah nampak sangat sunyi, kecuali suara TV yang dibiarkan menyala meskipun Changmin berdiam di kamarnya.

“Di mana noonamu?”

“Belum pulang,” sahut Changmin dan duduk di antara kedua gadis tersebut. “Kukira barusan Chaesa-noona.”

“Kemana dia?” tanya Chaeri.

Changmin menaikkan bahunya pertanda tak tahu.

“Mungkin sedang bersama Minho…”

“Minho, Choi Minho-hyung?” tanya Changmin ceria.

“Kau kenal?” tanya Chaeri.

“Hm. Aku pernah bertemu dia dua kali. Permainan Winning Elevennya hebat sekali!” tutur Changmin, sedangkan Hyeorin berjalan menghampiri sebuah lemari yang menyimpan banyak sekali penghargaan. Sejak tadi matanya menangkap sesuatu dari sana dan mengambil trofi yang sangat dikenalnya. Changmin melihat hal itu.

“Ini…”

“Itu milik Taemin-hyung. Aku menemukannya di tas Chaesa-noona, khawatir rusak jadi kusimpan saja di situ. Keren sekali Taemin-hyung memenangkan debat Inggris, benar dugaanku kalau dia bukan siswa biasa. Dia jenius! Tarian dan permainan Winning Elevennya juga bagus sekali. Kudengar dia berada di kelas unggulan bersamamu, Chaeri-noona? Wah, Taemin-hyung benar-benar…,” ujar Taemin antusias.

“C-Changmin-ah,” panggil Chaeri dan melirik Hyeorin yang juga menatapnya. “Kenapa kau bisa mengenal Lee Taemin?”

“Taemin-hyung pernah diundang makan malam oleh eomma. Tunggu, Noona, tadi kau bilang Chaesa-noona sedang bersama Minho-hyung? Apa mereka sangat dekat?”

“Mereka sedang menjalin hubungan, Changmin-ah,” sahut Hyeorin dan entah kenapa jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang.

“Pacaran? Eeei~ Tidak mungkin! Lalu mau dikemanakan Taemin-hyung?―”

“Apa maksudmu?!” pekik Chaeri.

“Changmin-ah…,” sela Hyeorin, “…apa hubungan Chaesa dengan Lee Taemin?”

“Tidak, jangan dijawab, Changmin-ah!” seru Chaeri sambil menutup kedua telinganya, ia tak ingin dugaannya benar.

“Changmin-ah, beritahu aku!” paksa Hyeorin yang membuat anak itu bingung setengah mati.

“Jangan! Kumohon jangan!”

“Changmin-ah!” desak Hyeorin lagi.

“Lho, memangnya Chaesa-noona tidak pernah cerita, ya? Bukannya kalian teman-teman dekatnya? Memangnya noona tidak pernah cerita kalau dia sudah dijodohkan?”

“Kalau itu dia sudah cerita. Tapi… astaga…”

Trofi terlepas dari jari-jari kurus Hyeorin dan meluncur begitu saja ke lantai. Beberapa patahan trofi tersebut menyebar. Chaeri menutup kedua telinganya dengan tubuh membungkuk, menempelkan wajahnya pada paha. Saat itu juga pintu terbuka.

“Aku pulang. Changmin-ah, kenapa pintu tidak dikunci? Oh, Chaeri-ya, Hyeorin-ah, sedang apa kalian di si―” kata-kata Chaesa terputus saat melihat trofi milik Taemin hancur di lantai. Ia mulai menyadari suasana di ruangan tersebut sangat buruk.

Changmin menyadari kesalahannya. “Er, a-aku lupa ada PR,” ujarnya sambil berlari menuju kamarnya di lantai dua.

Chaeri yang lebih dulu bereaksi, ia berdiri dan berkacak pinggang. “Senang sudah mempermainkan kami?”

“Chae-Chaeri-ya, apa maksudmu?”

“Jangan berpura-pura bodoh, Shim Chaesa!” seru Hyeorin. “Apa selama ini kau menertawakan kami dari belakang karena berusaha mendekati Lee Taemin yang jelas-jelas adalah calon tunanganmu?”

Wajah Chaesa memucat. “Ka-kalian sudah tahu?”

“Pengkhianat!” desis Chaeri.

“Kau menikam kami dari belakang!” timpal Hyeorin.

Chaesa mendekati teman-temannya dan berusaha menenangkan.

“Tenang, sabar! Biar kujelaskan semuanya! Begini, semula aku tak tahu kalau pria yang akan dipertemukan itu adalah Lee Taemin. Park Chaeri, kau selalu memujanya jadi mana mungkin aku berterus terang. Aku takut kau kecewa…”

“Tapi ini jauh lebih mengecewakan!” bentak Chaeri.

Chaesa tak memedulikan dan meneruskan penjelasannya, “Lalu kau, Kwon Hyeorin, secara terang-terangan menyebutkan menyukai Lee Taemin padaku. Lalu bagaimana bisa aku berterus terang pada kalian?! Itulah mengapa aku dan Taemin memutuskan untuk menyembunyikan perjodohan ini dan berpura-pura akur di hadapan kedua orangtua kami, karena―”

“Rupanya kau sudah lupa dengan janji kita…,” gumam Hyeorin, “…saling jujur itu sudah tidak ada lagi. Terima kasih sudah mau berteman denganku dalam beberapa tahun ini. Aku takkan pernah melupakan kebaikan kalian. Cukup sampai di sini saja.”

“Aku juga,” ujar Chaeri. “Kau pastinya tertawa melihat tingkahku yang tergila-gila pada calon tunanganmu.”

“Tidak, tidak sama sekali. Ayolah, jangan seperti ini! Aku bahkan sudah memiliki Minho…,” kata-kata Chaesa terputus, ia baru ingat kalau Minho juga ikut mengantarnya pulang. Saat berbalik hendak ke teras, ia menemukan Minho sudah berdiri di hadapannya.

“Mi-Minho-ssi…”

 

..to be continued..

 

Preview next part:

Key: “…mantra itu tidak boleh digunakan lebih dari bulan purnama… Saat bulan purnama tiba, perlahan-lahan kau akan menghilang. Rohmu secara teknis terpisah dari tubuhmu. Saat itulah alat di rumah sakit berdengung menandakan kalau kau… mati!”

Taeni: “…tunggu, bukankah malam ini ada bulan purnama?”

Sesuatu terjadi, ia merasa ada yang mendorong paksa rohnya untuk terjun dari balkon apartemen. Seperti sehelai kertas, dengan ringan ia meluncur ke bawah. Tekanan udara yang menerpa menyakiti wajahnya… ia melihat sesuatu di hadapannya. Terang dan menyilaukan, menyakitkan matanya. Bersamaan dengan itu, kepalanya membentur dasar pusaran dengan keras dan rasanya seperti ada ribuan anak panah menghunus tubuhnya…

 “AAAAAAAAAHHHHHHH!!!”

 

# KYAAAAAA ~~~~ Maaf jarang update >/\< By the way, saya sudah lulus. Muahaha ~ ^o^

 
5 Comments

Posted by on August 8, 2012 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

5 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter X]”

  1. Ikke

    August 15, 2012 at 2:15 PM

    Johhaa…. Au Suka, LanJut,,, SEAngat Buat Authornya… Maaf JaraNg Coment, Salam Kenal

     
  2. Kan Rin Rin

    August 15, 2012 at 2:27 PM

    Lanjut dong….

    udah nunggu berbulan-bulan kenapa gk nge-post FF??

    ternyata… -_-

    Lanjut yaah!!! ^^

     
  3. chii.jongwoon

    August 24, 2012 at 12:53 AM

    kyaaaaaa >_< eonni daebak, ia ni kemana aja, aku nunggu tau, huhu

    wah, chukkahae atas kelulusannya ^_^

     
  4. iyane DongKyuchul

    May 15, 2013 at 7:17 PM

    aku rasa kata pertama buat author ini adalah… ‘daebak coi’ ya ampuuuuuuuuuuuuuuuun aku tunggu karya kamu berikutnya. .. aku udah baca serial 2 , yang si won ama yang ini. and dua-duanya buat aku kebayang ama tulisan kamu. menurutku ‘amazing’. terus berkarya ya…. please

     
  5. Miina Kim

    June 6, 2013 at 2:56 AM

    Jinki kerreennnnn, lebih baik kehilangan seorang gadis daripada kehilangan adik..!!!
    Diya, ni ceritanya bagus banget,,,,
    Eon kira, Tae bakal balik lg d part ini, trnyta belom,
    gara2 Banana Milk kesayangan…
    kebangetan dah, hidup mmg kadang tidak adil…
    kekekekekekeeeeeeeee……………

    Nah, tuh, snapshop, tambah buat eon gak mau tidur ni, lanjut aja, deh

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: