RSS

SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter XII – Last Chapter]”

01 Sep

 

TAEMIN menyapukan pandangannya ke seluruh pelosok ruangan, kedua alisnya bertaut. Inikah dasar dari pusaran itu? Pertanyaan semacam itu terus berputar di dalam kepala. Ia mengangkat kedua tangannya dan mendapati kalau mereka normal, tidak lagi memudar seperti sebelumnya. Lantas ia menyentuh dua dadanya yang bidang. Napas memburu berikut keringat sebesar biji jagung tak berhenti bercucuran dari ujung dagunya.

“Taemin-ah…”

Suara selembut beledu menelusup ke dalam telinganya. Ia berpikir kalau itu adalah suara malaikat. Apa ia benar-benar sudah mati sekarang?

Taemin menoleh dan mendapati wajah ibunya yang sumringah hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Ekspresinya senang bukan kepalang. Matanya berkaca-kaca…

Eomma?!”

Wanita yang dipanggilnya itu mengangguk-angguk keras dan segera memeluk putra semata wayangnya tersebut. “Akhirnya kau sadar…”

“A-apa aku masih hidup?”

“Tentu saja!”

Taemin termenung sejenak, ia mengontrol napasnya untuk kembali stabil. Di ruangan tersebut tak hanya mereka berdua, di belakang ibunya ada seseorang. Itu Jinki… Pria itu tersenyum lembut padanya, ekspresi syukur tergambar jelas dari wajahnya. Lantas, tiba-tiba saja ingatannya melayang pada sosok Taeni. Sebelumnya Taemin menenggak banyak Americano agar bisa pulih menggunakan raga gadis itu. Lalu bagaimana dengan nasibnya saat ini?

Ia melepaskan pelukan ibunya, menyingkirkan selimut, mencabut selang oksigen dari hidung serta tusukan infus dari lengan kirinya dan melompat dari kasur. Tapi bukannya berdiri, ia malah ambruk di lantai. Kedua kakinya tak dapat diandalkan, mereka tak mampu menopang berat tubuhnya meskipun ia yakin sekali selama koma sudah kehilangan banyak berat badan.

“Kau terbaring selama kurang lebih dua bulan, kakimu sudah lama tak dipakai,” ujar Jinki tenang, ia datang menghampiri Taemin untuk membantunya bangkit. Sudah dibantu pun tetap saja anak itu tak mampu berdiri, membuat Jinki terpaksa menggendongnya ke atas kasur dan memijat-mijat kakinya.

“Kau mau kemana?” tanya Eomma khawatir.

Taemin tak menjawab, ia terlalu syok mengira dirinya lumpuh total.

SUDAH dua minggu Taemin terbaring di rumah sakit sejak masa sadarnya. Ia berguling-guling bosan di atas kasur, berulang kali memohon pada ibunya untuk diizinkan pulang pun tetap saja penolakan mentah-mentah yang ia selalu terima.

      Hari ini Jinki datang menjenguk, ia selalu datang dengan berbagai berita yang Taemin butuhkan, terutama mengenai Shim Chaesa. Ia benar-benar merindukan gadis itu. Baru dua minggu rasa rindunya sudah membuncah seperti ini, bagaimana dengan Chaesa yang menunggunya selama lebih dari dua bulan?

Memikirkan hal itu saja sudah membuatnya senyum-senyum sendiri dengan jantung berdebar keras. Wajahnya agak memanas, membuatnya menelungkup di atas kasur, takut Jinki melihatnya.

“Dia kembali berdamai dengan Minho. Jangan berharap banyak!” ujar Jinki mematahkan semangat.

Taemin berbalik dan melemparkan bantal yang berhasil ditangkis oleh Jinki.

Nappeun!” umpatnya.

Jinki hanya tertawa, ia duduk di sofa sambil memeluk bantal. “Itu kenyataan. Aku selalu melihat mereka makan di kantin berdua. Ngomong-ngomong, aku jarang melihatnya bersama Hyeorin dan Chaeri lagi. Apa mereka ada masalah?”

Taemin mengangguk. “Mereka mengetahui hubungan kami. Kau tahu sendiri kalau mereka… yeah…,” Taemin tak berani melanjutkan kata-katanya namun Jinki menaikkan alisnya menunggu, “…me-mereka berdua menyukaiku, bukan? Itulah kenapa mereka marah.”

“Jadi mereka tak tahu kalau kalian berdua dijodohkan?”

“Chaesa yang memintaku merahasiakannya. Kurasa itu karena ia sudah tahu bagaimana perasaan mereka. Tenang saja, aku akan membereskannya. Itulah kenapa aku perlu keluar secepatnya dari sini. Hyung, bantu aku bicara padaEomma. Oke?”

“Hm.”

Taemin meregangkan tubuhnya dan mendesah panjang. “Ah, aku sangat merindukannya~”

“Siapa? Chaesa?” tiba-tiba Eomma masuk dengan beberapa lembar bukti pembayaran di tangannya. Jangankan Taemin sebagai pelaku, Jinki saja yang masih asyik memeluk bantal di sofa sangat syok atas kehadirannya. Dua anak laki-laki itu merunduk malu. “Doamu terkabul, Taemin-ah, ayo kita pulang!”

“Benarkah?”

Eomma mengangguk. “Tapi kau masih harus istirahat, masuk sekolah mulai hari senin saja!”

“Terlalu lama. Aku bisa jamuran di rumah! Ini masih hari Rabu.”

“Oke, kalau begitu kau boleh ‘berkeliaran’ sore ini,” gumam Eomma namun masih bisa didengar.

“Yeah. CALL!” teriak Taemin.

ANGIN berembus agak kencang. Ini sudah memasuki musim gugur yang dingin. Taemin merapatkan coatnya dan menerjang angin yang sedari tadi menghancurkan tatanan rambutnya. Hairspray merk mahal pun takkan bisa melawan ganasnya angin sore ini.

Ia berhenti di sebuah rumah dengan pagar kayu rendah. Rumah di hadapannya berbentuk seperti botol, kecil tampak luar dan meluas ke belakang. Ia menekan interkom dan seseorang dengan suara sendu menyahut.

“Aku Lee Taemin.”

Tanpa menunggu waktu yang lama, pintu terbuka. Chaeri berdiri dengan napas terengah-engah, bibirnya merekah. “Taemin-ah~”

Annyeong…”

“Kau… kemana saja?”

Taemin hanya tersenyum. Selanjutnya ia menarik lengan Chaeri dan mengajaknya ke seberang, berdiri di samping pagar pembatas sungai kecil yang melintas di depan rumahnya. Taemin menatap lurus ke depan, pandangannya menyebrangi sungai. Sedangkan Chaeri sibuk memuaskan diri memandangi Taemin, namun sekejap kemudian merunduk, wajahnya muram.

“Jadi gadis yang kau ceritakan waktu itu adalah Chaesa? Calon tunanganmu itu Chaesa?” tanya Chaeri.

Taemin mengangguk. “Itu tujuanku datang kemari.”

“Kalau begitu pergilah!” Chaeri merapatkan mantelnya dan hendak masuk ke rumah, tetapi Taemin menariknya. “Lebih baik jika aku tidak lagi ada di antara kalian, bukan?”

“Kumohon jangan begini, Chaeri-ya!” Taemin melepaskan pegangannya. “Apa yang harus kulakukan agar kau melepasku?”

Chaeri berbalik, ia menatap Taemin berang. “Berani sekali kau, Taemin! Ini hatiku!”

“Chaesa memang memintaku merahasiakan perjodohan kami padamu dan Hyeorin. Itu karena ia sudah tahu perasaan kalian. Kami tidak benar-benar berhubungan baik selama ini. Ia bahkan menjalin hubungan dengan Choi Minho, berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.”

“Maksudmu… Chaesa menyukaimu?”

“Aku tak bilang seperti itu. Tapi aku dapat merasakannya. Kau boleh marah padaku, tapi kumohon maafkanlah dia!”

Chaeri menatapnya hampa. Ia kembali berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. Tak ada yang bisa Taemin lakukan, ia hanya memandangi punggung gadis itu.

Taemin meninggalkan rumah Chaeri, kali ini ia berjalan ke arah timur mengikuti aliran anak sungai Han. Angin kembali bertiup kencang menghancurkan tatanan rambutnya. Ia berdecak sebal dan berbelok di tikungan depan. Hanya berjalan beberapa ratus meter lagi, ia akan sampai di sebuah apartemen.

Bangunan tinggi menjulang kini sudah ada di hadapan Taemin. Entah kenapa ia sama sekali tidak merindukannya. Kembali kemari hanya ingin tahu seperti apa kabar Lee Taeni yang asli.

Ia memasuki gedung, menghampiri sebuah meja setengah oval yang didiami seorang penjaga. Taemin tidak mengenalnya, itu bukan penjaga tua yang selalu ia temui selama ini.

“Permisi, apa Jonguk-ahjussi tidak masuk hari ini?”

Pria muda itu mengerutkan dahinya. “Siapa?”

“Jonguk-ahjussi, Kim Jonguk… Dia penjaga di sini, apa hari ini tidak masuk?”

“Kim Jonguk?” ekspresi pria itu terlihat bingung. “Sudah dua tahun aku bekerja di sini dan tidak ada pegawai bernama itu.”

Taemin mengerutkan dahinya dan berlari keluar apartemen untuk memastikan kalau ia tidak salah masuk. Well, ini memang apartemennya. Lebih dari dua bulan ia tinggal di sini, mana mungkin lupa! Taemin kembali masuk dan mengajukan pertanyaan pada penjaga tadi.

“Apa ada penghuni bernama Lee Taeni di sini?”

“Maaf, kami memiliki peraturan merahasiakan identitas penghuni―”

“Aku mohon!” sela Taemin dengan kedua tangan terkatup di depan mulut dan mengeluarkan ekspresi ‘puppy eyes’. Kebiasaannya menjadi Lee Taeni belum menghilang!

Sebuah batu melayang cukup jauh, Taemin menendangnya berkali-kali di mana anak itu terus menekuk wajahnya. Dahinya berkerut, terlihat berpikir keras.

“Tidak ada nama Lee Taeni? Yang benar saja! Lalu tubuh siapa yang selama ini kutinggali?”

DUK! Taemin menggosok-gosok bahunya dan meneruskan perjalanan tanpa memedulikan orang di belakangnya.

Welcome back, Taemin-ah!”

Taemin berhenti melangkah, ia menoleh dan mendapati Key berdiri tak jauh darinya. Tersenyum.

“Kebetulan sekali. Ada yang ingin kutanyakan…”

“Yeah, itulah mengapa aku di sini.”

Taemin mendengus. “Dasar penyihir!”

“JADI tidak ada Lee Taeni di dunia ini?”

Key mengangguk sambil menenggak Cola-nya. “Bukan tidak ada, tapi belumlahir ke dunia ini. Jika kau menikah dan memiliki anak nanti, kau pasti paham.”

WTH! Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau maksud! Lalu penjaga di apartemen tadi―”

“Aku sempat menghapus memorinya untuk jangka waktu sementara. Selama itu pula ia bekerja di caféku dan tidak akan pernah mengingatnya. Kasus yang sama dengan ahjussi penjaga apartemen yang kau kenal selama ini. Sebenarnya dia hanya pengemis yang kutemukan di jalan.”

Mulut Taemin sedikit terbuka. Takjub mendengar semua cerita Key.

“Niat sekali mengerjaiku!” dengusnya.

Key tertawa melengking. “Itu adalah hukuman untuk anak kurang ajar sepertimu…,” ia melirik Taemin dan menatapnya lekat, “…kurasa sikapmu tidak lagi seburuk dulu. Dengan adanya hal ini kau harus lebih menghargai kehidupanmu dan yang terpenting, menghargai perempuan! Sulit sekali menjalani hidup sebagai mereka, bukan?”

“Hm. Menstruasi hampir membunuhku!”

“Hahaha… babo!”

“Maaf… sikapku sangat buruk dulu padamu.”

Lagi-lagi Key menenggak Cola-nya. “No probWell, Taemin-ah, sekarang aku benar-benar merestui perjodohanmu dengan keponakanku.”

“Wah…,” Taemin tersenyum lebar, “…trims!”

“Mau kemana kau?” tanya Key saat melihat Taemin bangkit dari bangku.

Anak itu meregangkan tubuhnya dan menoleh. “Ada yang harus kuselesaikan.”

“Jangan bunuh siapapun, Taemin-ah!” seru Key memperingatkan.

Mata Taemin membulat, ia terkekeh. “Kau bisa membaca pikiranku?!”

MINHO mengenakan kembali seragamnya sehabis mandi akibat banjir keringat seusai latihan basket tadi sore. Sudah pukul tujuh saat ini, ia harus bergegas ke ruang latihan balet untuk menjemput Chaesa. Ia berjalan ke arah cermin dan terkejut menemukan pantulan bayangan Taemin di sana.

“Lama tak bertemu, Choi Minho,” sapa Taemin angkuh, ia bersandar pada sebuah lemari dengan kedua tangan terlipat. Minho berbalik dan menatapnya tajam. “Kenapa? Terkejut… atau takut?”

“Takut?”

“Bukankah kau sedikit was-was melihat calon suami pacarmu telah kembali?”

Minho mengepalkan tangannya. “Kau takkan pernah―”

“Aku kemari untuk mengambilnya kembali,” sela Taemin.

“Kembali? Kau bahkan tak pernah memilikinya, Lee Taemin!”

Taemin menyeringai menakutkan. “Kau mengejarnya hingga mati pun seumur hidup takkan pernah memilikinya. Jadi mundur saja!”

Minho melompat menghampiri Taemin dan menarik kerah mantelnya, jarak wajah di antara mereka hanya berkisar beberapa senti, keduanya saling menatap tajam. “Aku takkan pernah menyerah,” gumam Minho lambat-lambat.

“Kalau begitu bersiaplah untuk terpuruk karena Chaesa takkan pernah memilihmu!”

Minho lepas kendali, ia memukul wajah Taemin. Anak itu terlempar dan terjerembab di lantai. Kekuatannya belum sepenuhnya pulih. Dua bulan tak sadarkan diri dan tak terkena sinar matahari membuatnya sangat lemah.

“Sial!” umpat Taemin.

Minho mendekatinya dan menarik kerah mantel Taemin hingga membuatnya hampir tercekik. “Kenapa tak melawan, Taemin? Kudengar kau memiliki sabuk hitam.”

Taemin mendengus. “Cara itu terlalu kotor untuk bisa mendapatkan Chaesa.”

Perlahan-lahan Minho melepaskan cengkeramannya. “Baik, biarkan dia yang memilih.”

“Ide bagus! Siapapun yang kalah, menjauhlah dari kehidupannya!”

Call!”

MALAM ini gerimis agak lebat. Penghujung musim gugur yang sangat dingin. Chaesa berjalan menyusuri pepohonan menuju halte bus. Drivernya tidak menjemput karena menemani Changmin yang sedang mengikuti kompetisi sepak bola antar sekolah di Incheon.

Seseorang mencengkeram erat tangannya. Chaesa menoleh dan mendapati Minho melemparkan senyum hangat padanya. Titik-titik air berjatuhan dari ujung rambutnya, entah karena efek hujan atau mandi terburu-buru tanpa mengeringkan rambut setelah latihan basket.

“Kenapa tak menungguku? Kita pulang sama-sama ya!”

Chaesa menjilat bibirnya dan buru-buru melepas cengkeraman Minho. “Minho, perlu kuluruskan…”

“Tidak perlu. Aku tak mau dengar,” potong Minho, kembali menggenggam tangan Chaesa di mana gadis itu berkutat berusaha melepaskannya.

“Kita tidak bisa bersama lagi. Kumohon lepaskan aku!”

Minho melepasnya. “Apa?”

“Dalam tiga bulan ini aku mencoba kembali menyukaimu, tapi tak bisa. Ini sama saja seperti menipumu, aku tak bisa berada lagi di sisimu. Kita seharusnya sudah benar-benar berakhir sejak dulu.”

“Kau hanya perlu waktu―”

“Tidak. Ini perasaanku, aku tahu apa yang kurasakan. Maaf!”

Minho mendengus. “Apa kau masih menunggu Lee Taemin? Anak itu bahkan tidak kembali sampai sekarang. Apa kau pikir dia peduli padamu?”

“Aku tidak peduli dia memikirkanku atau tidak.”

“Shim Chaesa!”

“Di-dia calon tunanganku, kan?” tanya Chaesa bergetar. Jantungnya berdegup sangat kencang. “Aku akan menunggunya. Dia sudah janji akan kembali.”

Minho menatap mata Chaesa yang dibalas tajam oleh gadis itu. “Aku kalah,” ujarnya pada deretan pohon yang berjajar di sepanjang jalan. Ia tertawa bodoh dan perlahan berjalan mundur menjauhi gadis yang ada di hadapannya. “Ambil dia!” teriaknya.

Mianhae,” lirih Chaesa, tak henti memandangi punggung Minho. Saat ia berbalik untuk melanjutkan jalan, seseorang memayunginya dengan jaket. Ia menengadahkan kepalanya.

Good job!” ujar Taemin, tersenyum hangat. “Terima kasih sudah menendang keluar pria itu dari kehidupan kita.”

Chaesa luar biasa terkejut dengan mata dua kali membesar. Mulutnya terbuka lebar, namun tak ada kata-kata apapun keluar dari sana selain kedua tangannya yang tak berhenti meraba wajah Taemin, memastikan bahwa itu bukan halusinasi.

“Aku sangat merindukanmu.” Taemin memeluknya sedangkan Chaesa masih belum bisa berbicara. Ia terlalu syok menerima situasi ini. Matanya berkaca-kaca. “Maaf membuatmu menunggu lama.”

“Taemin-ah!” Ia membalas pelukan Taemin, bahkan lebih erat. Napasnya terengah-engah karena berusaha menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh Taemin. Ia tidak sadar saat napasnya yang terengah-engah berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia sadar bahwa ia menangis tersedu-sedu ketika Taemin membelai lembut kepalanya. “Aku… maafkan aku! Aku hanya… sangat bahagia… bertemu denganmu!”

Sunyi sejenak.

“Apa kau merasa sakit selama aku tak ada? Apa kau senang sekarang melihatku? Apa kau merindukanku?” tanya Taemin beruntun.

Chaesa diam. Hanya ada satu jawaban di kepalanya saat ini: YA.

“Chaesa-ya, maukah menikah denganku?” tanya Taemin lagi.

Pertanyaan tersebut sontak membuat Chaesa terkejut dan langsung menghentikan sedu-sedannya. Ia melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Taemin.

Pria itu tersenyum.

“Maukah kau menikah denganku?” ulang Taemin.

Chaesa menelan ludah dengan suara keras. Taemin setia menunggui jawabannya dengan tatapan hangat. Perpaduan antara tawa dan tangis, tanpa ragu Chaesa mengangguk keras. Meneriakkan kata “IYA” dan kembali memeluk Taemin, di mana pria itu tertawa puas penuh kemenangan.

Satu Tahun Kemudian…

      “Shim Chaesa!” desah Taemin sambil menarik dasi seragamnya dan melompat ke atas tempat tidur Jinki, sedangkan si pemilik rumah hanya asyik bermain games seharian ini.

Onew hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sok tua. “Ah, aku bosan mendengar kalian bertengkar.”

Taemin membenamkan wajahnya di atas bantal. “AAAAHHH!!!” teriaknya frustrasi, ia membalik tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.

“Bagaimana tadi upacara kelulusannya?”

Taemin berdiri dan memperlihatkan jas seragamnya, di mana seluruh kancing telah menghilang. Ia menjilat bibirnya mencoba menenangkan diri dengan berjalan mondar-mandir di sekitar kasur.

“Gadis-gadis itu mencuri semua kancing seragamku. Aku tak mengerti kenapa mereka melakukannya. Bukankah itu tradisi Jepang? Well, Chaesa datang berlari menghampiriku dan mengamuk saat mengetahui kancing seragamku lenyap. Dia marah karena aku tidak menyisakan satu kancing untuknya. Ah, jeongmal… mereka terlalu terobsesi dorama dan komik Jepang!”

Jinki terkekeh.

“Sudah sampai mana persiapan pernikahan kalian?” tanya Jinki tenang.

“80% mungkin. Tak tahu lah, aku tak ikut-ikutan mengurus!” sungut Taemin sambil menarik beberapa komik dari rak kecil di sampingnya. “Hyung, mentang-mentang sudah kuliah sekarang kau jadi maniak games!”

Jinki mengeluarkan batang es krim dari mulutnya dan menyahut, “Ini pembalasan dendam karena terlalu muak bercumbu dengan buku selama persiapan ujian―”

Mwo?! Tapi itu sudah setahun yang lalu!”

“Taemin-ah, kenapa kau tidak langsung pulang ke rumahmu saja?” usir Jinki halus.

“Oke, aku diam,” ujar Taemin dengan tangan bergerak seperti mengunci mulutnya. Namun beberapa menit kemudian ia kembali membuka mulutnya. “Hyung, tadi Hyeorin menanyakanmu.”

“Apa?” sahut Jinki dingin.

“Pertanyaan bodoh seperti biasanya, dia bertanya kenapa kau tak datang. Well, kami sudah tidak membutuhkan presiden siswa sempurna lagi sepertimu, kan? Maksudku, kau sudah lulus!”

Jinki menyeringai.

Hyung, kau tak peduli?”

“Ada baiknya kau memikirkan bagaimana cara agar Chaesa tidak membatalkan pernikahan hanya karena sebuah kancing, Taemin-ah!”

Taemin mengabaikan omongan Jinki. “Aku tak mengerti kenapa kau menyerah seperti ini. Dia sudah menunjukkan rasa menyesalnya sudah menolakmu dulu―”

“Lee Taemin!”

“Oke, oke. Aku pulang.” Taemin bangkit dari kasur dan memakai jaketnya. Lalu menyampirkan ransel ke bahu dan keluar dari sana. Tetapi ia kembali melongokkan kepalanya di ambang pintu. “Hyung, temui dia!”

YAAAH!!!”

CHAESA menghujamkan tatapan mematikan pada Taemin ketika pria itu keluar dari mobil untuk menjemputnya. Dengan tangan terlipat ia berdiri angkuh di ambang pintu rumahnya. Taemin menyeringai, mengitari mobil menghampiri Chaesa dengan kedua tangan terselip di dalam saku celana dan ini cukup membuat Chaesa limbung.

Damn! Kenapa dia bisa sekeren itu?! Batin Chaesa.

“Ayo!” ajak Taemin, tangannya terulur.

Chaesa membuang muka, tak menghiraukan uluran tangan Taemin dan jalan duluan menuju mobil. Taemin mendengus dan menggelengkan kepalanya, lantas ia berlari menuju mobil, membukakan pintu untuk Chaesa sebelum gadis itu sempat meraihnya.

Tak ada obrolan sepanjang perjalanan, keduanya bungkam. Chaesa tak berhenti membuang muka ke luar jendela mobil, pandangannya menerawang langit.

“Chaesa-ya,” panggil Taemin dengan konsentrasi masih pada kemudinya. “Aku tak mengerti hanya karena kancing seragam kau bisa semarah ini.”

Chaesa menoleh.

“Aku tahu kau menganggapku bodoh, jadi telan lagi saja kata-katamu!” serunya dan atmosfer pun makin kelabu.

Hari ini adalah jadwal mereka menemui tim Wedding Organizer (WO) membahas sentuhan akhir konsep pernikahan. Kedua orangtua mereka sudah berada di sana. Bisnis ayah Taemin yang dibantu ayah Chaesa sebagai investor utama membuahkan hasil. Dalam kurun waktu setahun, mereka sudah mengarungi keuntungan berlipat ganda. Itulah darimana mobil yang Taemin kendarai ini berasal. Dan mengenai mobil, ia belajar dengan giat. Tidak lagi memalukan ketika masih berada dalam tubuh Lee Taeni.

Taemin menoleh ke samping di mana Chaesa masih menggembungkan kedua pipinya.

Yeobo~” panggil Taemin.

“Aku bukan istrimu!”

“Belum~”

Saat itu juga wajah Chaesa merona, jauh di dalam hatinya bahkan merasa terbakar. Ia memalingkan wajahnya agar tak terlihat Taemin.

Taemin tersenyum geli dan mulai menggodanya. “Jangankan kancing seragam, hidup pun akan kuberikan untukmu.”

Rahang Chaesa melunak, wajahnya benar-benar merah. Taemin memang pintar mengambil hati wanita.

“Maaf, aku memang konyol.”

“Tidak. Kau tidak konyol. Aku paham apa yang perempuan rasakan, kalian memang menyukai hal-hal seperti itu. Aku memakluminya dan aku minta maaf tidak menyisakannya untukmu.”

“‘Paham apa yang perempuan rasakan’? Wah, apa yang kau pelajari saat menghilang dulu, Taemin-ah?”

Taemin terbatuk dan memarkirkan mobilnya dengan kasar saat sampai di tujuan.

“Oh, maaf.”

“Aku benar-benar ragu dari mana kau mendapatkan izin mengemudimu?!” Chaesa keluar dari mobil tanpa menunggu Taemin membukakan pintu untuknya.

Yeobo, tunggu!”

“Aku bukan istrimu!” pekik Chaesa dan berjalan semakin cepat. Taemin menyusulnya di belakang.

“Belum!!!” balas Taemin.

Saat sampai di dalam, mereka menempati kursi yang telah disediakan. Dengan antusias tinggi orangtua kedua belah pihak menyambut mereka. Pembicaraan mengenai pernikahan pun dimulai dan berakhir tiga puluh menit kemudian. Chaesa memasukkan agenda dan puas dengan pekerjaan WO yang sudah menyiapkan gaun sesuai permintaannya. Ini sepertinya akan menjadi Royal Wedding.

“Mengenai honeymoon…,” ujar salah seorang tim, “…kalian ingin di mana?”

Baik Taemin maupun Chaesa keduanya tersedak ketika menyesap minuman.

Chaesa menyahut, “Tidak usah! Kami harus siap-siap memasuki universitas―”

“Apa yang harus disiapkan? Kalian sudah diterima di universitas terbaik. Lagipula libur kan masih panjang,” ujar Min Young, ibu Chaesa, yang diamini lainnya.

“Tapi kami benar-benar tidak butuh honeymoon, Eomma!” seru Chaesa sambil melirik Taemin meminta bantuan.

“Jeju, call!” ujar Taemin berkhianat, memalingkan wajahnya menghindari tatapan mematikan Chaesa.

“Taemin-ah, pastikan Chaesa sudah hamil saat menempati rumah baru kalian yang sedang kami siapkan!” titah ibunya Taemin.

“H-ha-hamil?” Wajah Chaesa berubah pucat.

“Ah, benar! Segera berikan kami cucu!” tuntut para appa.

“A-aku tak bisa menjanjikan itu secepatnya,” ujar Taemin malu-malu dengan semburat merah di pipinya. “Tapi aku akan berusaha.”

“Oh, my son!” ujar ayah Taemin takjub.

Chaesa menoleh dengan mata membulat empat kali lipat. Jantungnya berdegup kencang dan tiba-tiba saja sulit berbicara. Taemin bangkit dari kursinya dan mencengkeram lengan Chaesa.

“Kurasa sudah selesai. Tolong berikan kami penginapan di pinggir pantai, Chaesa pasti menyukainya. Eomma, Appa, Eomonim, Abeonim, kami pamit. Sampai nanti.”

HYEORIN mengedarkan pandangannya ke penjuru gedung. Ia menghela napas panjang dan tersenyum girang. Seoul University di depan mata, ia dan Chaeri berhasil lolos ujian dan diterima di sana. Kali ini Hyeorin datang sendiri, ia hanya ingin melihat-lihat kampusnya agar tidak canggung saat perkuliahan dimulai nanti.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya seseorang di belakang.

Hyeorin melompat kaget. “Jinki-sunbae?!”

“Lama tak bertemu. Apa kabar?”

“B-baik. Sunbae?”

“Hm,” Jinki mengangguk, matanya membentuk bukit saat tersenyum. “Sedang apa di sini?”

“Hanya melihat-lihat. Er… aku diterima di sini.”

Mata Jinki membulat. “Jincha? Bagus kalau begitu. Kita bisa lebih sering bertemu.”

Wajah Hyeorin memanas. Tak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Ia tahu bahwa ia menyesal sudah menolak Jinki. Apa yang Taemin katakan padanya memang benar. Ia tidak benar-benar menyukai Taemin, itu hanya rasa kagum atau semacamnya.

Su-sunbae, aku minta maaf. Sikapku dulu sangat buruk. Aku benar-benar menyesal, maaf…”

Gwaenchana!”

“Hmm… bagaimana hubunganmu dengan Lee Taeni?”

Jinki kembali membulatkan matanya, kali ini disertai tawa keras. Hyeorin menatapnya bingung sekaligus kesal. “Jadi selama ini kau berpikir aku memiliki hubungan dengan Taeni?”

Hyeorin mengangguk perlahan. “Kalian sangat dekat. Aku sering melihat kalian berpelukan.”

Jinki kembali tertawa keras. “Di-dia… Err, bisa dibilang… sepupu mungkin. Yah, semacam itu.” Jinki meraih tangan Hyeorin dan menggenggamnya. “Sudah satu tahun. Apa kau sudah bisa melupakan Taemin?”

“Mengapa aku harus melupakannya? Dia temanku. Aku tidak benar-benar suka dia. Mungkin itu cuma rasa kagum karena ia mahir di segala bidang.”

“Sejak kapan kau menyadarinya?”

“Saat aku melihatmu dan Taeni keluar dari mobil yang sama setahun lalu di halaman sekolah.”

Damn!” umpat Jinki. “Kalau begitu percuma aku menjauhimu setahun ini.”

Waeyo?”

“Kupikir kau membutuhkan waktu untuk bisa terlepas dari Taemin.”

Hyeorin tertawa. Ia memukul pelan dada Jinki. “Jadi?”

“Jadi apa?” Jinki balik bertanya. Ia menatap lekat mata Hyeorin lalu merangkul bahunya. “Datanglah ke pernikahan Chaesa-Taemin bersamaku!”

Hyeorin mengangguk riang. “Dengan senang hati.”

Wedding Day…

TAEMIN memijat-mijat jari tangannya, kakinya sedikit bergetar, ia tahu sedang sangat gugup saat ini. Berkali-kali menoleh ke arah pintu masuk menanti calon istrinya datang. Tiba-tiba ruangan bising, terdengar para tamu terkesiap dan benar saja saat Taemin berbalik, mempelai wanita memasuki gedung. Matanya membesar, takjub melihat kecantikan Chaesa yang berjalan anggun didampingi ayahnya dengan balutan gaun putih berekor panjang yang menjuntai menyapu lantai di belakangnya.

Chaesa sampai di tempat Taemin, ia mengulurkan tangan menyambut calon istrinya tersebut.

“Aku tahu aku sangat cantik hari ini. Berhenti menatapku seperti itu,” bisik Chaesa.

Taemin terkekeh. “Tidak hanya hari ini. Kau selalu cantik,” puji Taemin yang membuat pipi Chaesa memanas.

Mereka berbalik, menghadap ke depan dan menghela napas bersamaan. Rasa gugup rupanya benar-benar membuat mereka tercekat. Seperti ada sesuatu yang memaksa keluar dari dada menuju kerongkongan. Taemin tak berhenti melirik Chaesa untuk memberikan ketenangan padanya.

Pengucapan sumpah selesai.

“Taemin-ssi, kau boleh mencium istrimu!”

Ne?!” sahut Taemin terkejut, begitupula dengan Chaesa. Meskipun hubungan keduanya sudah berjalan selama setahun, mereka sama sekali belum pernah melakukannya. Meskipun ini bukan yang pertama untuk Taemin, tapi tidak bagi Chaesa, dia benar-benar belum pernah melakukannya dengan siapapun. Taemin maju selangkah, ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang Chaesa dan menaruh tangan kanannya di sekitar wajah. “Jangan gugup!” bisiknya lembut.

Chaesa menelan ludah di mana wajah Taemin perlahan-lahan semakin mendekat. Ia bisa melihat ketampanan Taemin lebih jelas. Rambutnya yang kini berwarna cokelat terang dibuat naik ke atas, sepertinya mulai saat ini kita bisa memanggilnya dengan sebutan “Asian Edward Cullen”, mungkin. Dan bibirnya… bibirnya selalu tampak pucat. Chaesa memejamkan matanya… bibir Taemin menekan bibirnya dengan lembut. Jantungnya berpacu seribu kali lipat.

Tidak lama dan tidak terlalu intim. Taemin melepas ciumannya, membelai lembut pipi Chaesa, tersenyum hangat dan menggenggam erat tangannya. Mereka berbalik menghadap para tamu yang disambut tepukan riuh memenuhi ruangan.

Taemin menuntun Chaesa menuruni undakan untuk berbaur dengan para tamu.

“Chaesa-ya~” panggil Hyeorin dan Chaeri yang langsung menghambur ke pelukan Chaesa. “Selamat atas pernikahan kalian. Kau luar biasa cantik hari ini… Kami benar-benar minta maaf, kami benar-benar bodoh…”

“Lupakan, itu masa lalu! Terima kasih sudah datang, Hyeorin-ah, Chaeri-ya. Maaf aku membohongi kalian.”

“Kami terlalu kekanakkan. Seharusnya kami yang minta maaf!”

“Baiklah, kalian berdua memang kekanakkan,” sela Jinki, ia tersenyum hangat dan memeluk singkat Taemin-Chaesa. “Selamat… ah, aku iri!”

“Susul saja kalau begitu!” celetuk Taemin seraya melirik Hyeorin, tak memedulikan wajah gadis itu yang sudah seperti kepiting asap.

“Lihat saja nanti!” tantang Jinki.

PESTA usai. Taemin sempat memainkan beberapa lagu dengan piano sambil menyanyi, suara indahnya menyihir semua orang. Kini kedua mempelai sudah berganti pakaian, Chaesa berdiri di sisi panggung dan melemparkan bunga.

Dua orang pria melompat bersamaan meraih bunganya.

“Wow!!!” teriak Taemin.

Chaesa menoleh dan mendapati Jinki dan Key memegang bunga. Mereka bersorak girang, sedangkan di sisi ruangan Hyeorin dan Chaeri berdiri dengan wajah berasap. Chaesa berlari menghampiri kedua sahabatnya hendak merangkul mereka. Tetapi Taemin menarik lengan Chaesa untuk mengikutinya keluar gedung. Di luar sudah ada mobil lengkap dengan driver. Semua orang mengikuti mereka keluar.

“Nikmati honeymoon kalian!” ujar Hyeorin yang diamini Chaeri.

“Bersenang-senanglah! Matikan ponsel jika perlu,” goda Jinki. Ia tertawa lebar.

Taemin meninju dadanya dan memeluk hyung kesayangannya tersebut. “Terima kasih untuk semuanya, Hyung.”

Chaesa sudah masuk ke dalam mobil. Ia melipat tangannya di sepanjang pintu yang kacanya terbuka dan sesekali melambaikan tangan. Taemin menghampiri mobil ketika ibunya berteriak, “Jangan lupa pesanan kami!”

Ia berbalik dan mendapati ibunya tengah menggoyang-goyangkan kedua tangan seolah-olah sedang menggendong bayi. Wajah Taemin bukan main memanas.

Eomma!” protesnya malu-malu dan buru-buru masuk ke dalam mobil.

MOBIL berhenti di depan sebuah pension. Taemin keluar dan berdiri di sisi mobil menunggu Chaesa keluar. Driver tanpa diminta mengeluarkan koper-koper dari bagasi dan membawanya masuk ke dalam.

“Wuah~” pekik Chaesa takjub oleh berbagai lampu warna-warni yang terpasang di tiap jengkal pension. Bangunan kayu yang didominasi warna cokelat tersebut berdiri kokoh, terlihat ramah dan nyaman. Untuk dapat sampai di depan pintu, mereka harus melewati beberapa anak tangga. “Kita menginap di sini?”

“Hm,” sahut Taemin lantas melirik istrinya.

Merasa diperhatikan, Chaesa menoleh. “Wae?” tanyanya galak. Tanpa menjawab, Taemin mengangkat Chaesa dan menggendongnya masuk ke dalam. “YAAAHHH!!! Turunkan!!! LEE TAEMIN!!!”

Taemin mempercepat langkahnya dan menendang sebuah pintu ketika sampai di dalam pension. Kamar berukuran besar dengan tempat tidur berseprai putih menyambut mereka. Di atas tempat tidur tersebut terdapat banyak taburan kelopak mawar merah. Taemin menurunkan Chaesa dan melipat kedua tangannya.

“Lapar tidak? Mau makan dulu atau―”

“Lapar!” jawab Chaesa tegas. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Taemin saat ini.

Call! Aku juga butuh asupan tenaga.”

Yah!” protes Chaesa malu, wajanya luar biasa memerah.

Taemin menoleh, kedua alisnya berkerut, bingung. “Kenapa? Kita kan mau jalan-jalan.”

JLEB! Seperti orang bodoh. Chaesa hanya membuka dan menutup mulutnya, tak tahu akan membalas apa. Harapan kedua orangtua mereka benar-benar sudah membuatnya kalang-kabut. Bayi? Di umur 19? Yang benar saja!

Tiba-tiba ia merasakan ada sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Taemin memeluknya dari belakang dan mengarahkan bibirnya tepat di telinga. Chaesa menelan ludah.

“Jangan gugup!” bisik Taemin cukup membuat Chaesa bergidik.

“Siapa yang gugup? Sudah kubilang aku lapar!” sahut Chaesa seraya melepaskan diri dari terkaman Taemin. “Ayo, makan!”

Taemin terkekeh dan menggelengkan kepalanya.

SEUSAI makan, mereka mengurung diri di pension. Niat jalan-jalan malam batal karena di luar hujan sangat deras. Chaesa berdiri di depan jendela memandangi situasi luar. Taemin menyeret kopernya untuk dibawa ke dalam kamar.

“Besok saja. Mereka bilang hujan takkan berhenti sampai tengah malam,” teriak Taemin dari dalam kamar.

“Kalau begitu kita tunggu saja sampai tengah malam.”

Mwo?!” Taemin melongokkan kepalanya di ambang pintu, kedua alisnya bertaut hebat. “Jangan keras kepala! Ganti pakaianmu dan tidur!”

Lagi-lagi Chaesa menelan ludah. “Pension ini punya berapa kamar?”

Taemin berdecak kesal. Ia berjalan menghampiri Chaesa dan memanggulnya ke atas bahu. Chaesa menjerit minta diturunkan dengan tangan tak berhenti memukul-mukul punggung Taemin.

“Aku tahu kau gugup, Shim Chaesa. Kau pikir aku tidak? Jika ini yang pertama kalinya untukmu, begitupula denganku. Kehidupan rumah tangga kita takkan berhasil jika seperti ini. Jadi, bekerjasamalah!”

Chaesa mendarat di atas kasur, Taemin sengaja melemparnya. Anak itu berjalan mondar-mandir.

“Taemin-ah,” panggil Chaesa.

Taemin ikut menjatuhkan dirinya di atas kasur, tepatnya di atas tubuh Chaesa. Jarak mereka cukup jauh karena Taemin menopangnya menggunakan tangan. Ia memandang Chaesa dengan tatapan sendu. Sedangkan gadis itu hanya menatapnya penuh ngeri dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Perlahan-lahan Taemin merapatkan tubuhnya, wajah mereka sudah sangat dekat. Chaesa menutup rapat-rapat kedua matanya di mana Taemin mulai asyik menjelajahi leher gadis itu.

“TAEMIN-AH!” pekik Chaesa, ia mendorong tubuh Taemin dan duduk di sisi kasur.

Wae?!” tanya Taemin kesal aktivitasnya diganggu.

“Kau dengar? Hujan sudah berhenti. Ayo, kita jalan-jalan! Sayang sekali cuaca sebagus ini kalau tidak dimanfaatkan.”

Taemin mendengus kesal. “Bukankah tadi aku juga mau memanfaatkannya? Ayolah, Shim Chaesa, kembali kemari!”

Chaesa melempar jaket milik Taemin. “Ayo! Kuajak kau ke tempat bagus.”

BRAK! Dengan kesal Taemin menendang lemari dan tak berhenti menggerutu selama mengenakan jaketnya. Chaesa pura-pura tak acuh dan pergi duluan menuju pintu keluar.

CHAESA tak berhenti menggelayuti lengan Taemin, di mana pria itu memilih bungkam. Ia marah, tentu saja. Ia merasa keinginannya yang satu itu wajib Chaesa penuhi, tapi mengingat mereka berdua masih muda, mau tak mau ia berusaha untuk memakluminya.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak taman di mana sisi kiri-kanan terhampar rumput-rumput hijau. Beberapa lampu taman berdiri kokoh dan memancarkan sinarnya yang indah. Langit memang muram, tapi itu tak membuat semangat Chaesa untuk jalan-jalan mengendur.

Taemin melepaskan diri dari pelukan Chaesa dan melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu.

“Oh, sudah tak marah?”

“Hm,” sahut Taemin dingin.

Mereka tampak sangat menikmati udara sejuk malam ini dan mengikuti kemana pun kaki melangkah hingga akhirnya tiba di pantai Jungmun. Pantai yang memiliki tiga warna pasir yaitu putih, hitam, dan merah. Suasana pantai tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasangan yang datang berkunjung mengingat hujan baru saja usai.

Taemin memeluk Chaesa dari belakang.

“Bagaimana rasanya menikah denganku?”

Molla,” jawab Chaesa. “Kita baru menikah beberapa jam yang lalu, Taemin-ah!”

“Untuk itulah kau harus merasakannya! Lain kali jangan menolak kalau aku―”

Chaesa melepaskan tautan tangan Taemin dari perutnya dan berbalik. “Kenapa hanya itu yang ada di kepalamu?”

Yah!” Taemin menarik Chaesa dan kembali memeluknya. “Aku bukan byuntae(pervy)! Tapi ingat kan harapan kedua orangtua kita?”

Sunyi sejenak. “Ah ya!”

“Cucu…”

“Bayi…”

“Bagaimana menurutmu?” tanya Taemin dengan bibir sudah bergerilya di leher Chaesa.

“Haruskah malam ini?”

Taemin tertawa keras, kegiatannya otomatis terhenti. “Tidak, tidak. Lakukan kapan-kapan jika kau sudah siap tapi harus di sini, di Jeju! Aku tak ingin kita kembali sebelum kau hamil.”

Chaesa menelan ludah dengan suara keras. Ia menarik napas panjang dan merasakan nyamannya dua lengan Taemin yang mengalung di sepanjang lehernya. Mereka tenggelam dalam obrolan-obrolan…

“Aku merindukan seseorang,” ujar Chaesa.

“Pria?!” tanya Taemin, ada nada cemburu di sana.

“Teman sekelasku, Lee Taeni.” Spontan Taemin melepaskan pelukannya dan mengalihkan tatapannya pada ombak-ombak yang bergulung. “Aku baru menceritakan ini padamu, kan? Selama kau tak ada, dialah yang ada di sampingku selain Chaeri dan Hyeorin. Tapi ia menghilang tanpa kabar. Taemin-ah, bukankah ia sepupumu? Bisakah kau hubungi dia?”

Taemin menoleh dan mendapati istrinya menatap lekat kedua matanya.

“Err, Chaesa-ya…,” Taemin menarik tangan Chaesa dan kembali mengalungkan lengannya di sepanjang leher gadis itu, “…bagaimana ini… aku banyak berbohong…”

Mwo?”

“Dua orangtua yang ada di samping ayah-ibuku apa kau lihat?” tanya Taemin dan Chaesa mengangguk. “Itu orangtua Jinki-hyung, kami bukan saudara kandung. Appa pernah bekerja padanya saat keadaan ekonomi keluarga kami memburuk. Itulah mengapa mereka menganggapku seperti anaknya juga.”

Chaesa hanya diam. Taemin menariknya untuk kembali ke pension. Tak ada obrolan sepanjang perjalanan, ia membiarkan Chaesa tenggelam dengan pemikiran mengenai dirinya. Saat masuk ke dalam pension, Taemin menyergap Chaesa dalam pelukannya. Ia menekan bibirnya pada gadis itu.

Tak adanya perlawanan dari Chaesa, membuat Taemin semakin leluasa melakukan apapun padanya. Ia menyentuh tiap jengkal yang ada di hadapannya, memeluk gadis itu erat-erat, mendorongnya ke tembok, menciumi telinganya dan membisikkan sesuatu di sana.

“Lee Taeni itu… AKU!”

 

-end of Miracle Romance story

 

+ Selesai… Akhirnyaaaa…

+ Well, pasti jengkel endingnya gantung kayak gitu. Haha. Di bawah ini masih ada epilog walo singkatnya naudzubillah. LOL.

+ TERIMA KASIH!!! Sampai jumpa lain waktu dengan FF baru ^o^/ I LOVE YOU ALL ~

 

Flash Epilog:

CHAESA mengaitkan rambutnya ke belakang telinga. Memicingkan mata pada alat yang sedang dipegangnya. Dadanya sesak sekali. Air mata menggenang di pelupuk mata. Tak percaya sampai di situ, ia mengambil tester pack lainnya dan menyentuhkannya ke air seni. Hasilnya tetap sama, “POSITIF

Napasnya terengah-engah bersamaan dengan air mata yang terus mengalir. Ia memakai lagi celananya. Meraup seluruh tester pack yang berserakan di porselen dan membuangnya ke tempat sampah. Ia hanya mengambil satu dan menggenggamnya erat-erat. Ditariknya pintu toilet dan berlari ke kamar, di mana Taemin yang bertelanjang dada masih asyik bergulung di atas kasur

Dada Chaesa naik turun menahan amarah.

“Lee Taemin!” teriaknya.

Taemin terbangun, ia mengerjapkan matanya dan tersenyum saat melihat Chaesa. “Oh, Yeobo. Kenapa teriak?!” Chaesa tak menghiraukan pertanyaannya. Ia melompat ke kasur dan Taemin berhasil menangkapnya, ia memeluk erat istrinya tersebut dan berguling di kasur. “Wahaha… Pagiku kali ini akan sama sempurnanya seperti pagi-pagi sebelumnya kalau…”

Taemin mendekatkan wajahnya pada Chaesa, namun gadis itu menjauhkan diri dari terkaman Taemin.

“KAU LIHAT PERBUATANMU!!!”

Alis Taemin bertaut. “Apa?”

Chaesa melempar testpack, Taemin menangkap dan memperhatikannya. Matanya membesar dan ada ekspresi puas di wajahnya. Ia duduk dan memeluk Chaesa. “Kau… ha-hamil?” tanyanya bodoh. Sedangkan Chaesa menangis sekencang-kencangnya. “Chaesa-ya, kenapa menangis?”

“Bukannya aku tidak senang. Aku bersyukur kita akan memiliki anak. Tapi… LEE TAEMIN AKU MASIH 19 DAN KULIAH!!!”

“Memangnya kenapa? Jangan dengarkan orang lain kalau ada yang mengejek! Selama aku ada di sisimu, kau tak perlu khawatir. Ngomong-ngomong sudah berapa lama sejak kita menikah? Sebulan?”

Taemin bangkit meninggalkan kasur dan berjalan menuju meja kecil di seberang.

“Mau apa kau?”

“Mau pamer sama Jinki-hyung.”

“YAAAH! Pikirkan dulu aku!!!”

Taemin tidak memedulikan Chaesa, ia tetap ingin menghubungi Jinki. Merasa jengkel, Chaesa berjalan menjauh ke sisi ruangan dan membuka jendela. “Ottokhaeee~” teriaknya frustrasi, dan saat Chaesa berbalik untuk kembali naik ke atas kasur, sebuah anak panah masuk melalui jendela dan meluncur di samping Chaesa. “KYAAA!!!”

Taemin menoleh dan menghampiri istrinya. “Wae?” tanyanya. Matanya menangkap anak panah tersebut dan memungutnya. Di sana terdapat secarik kertas berwarna merah muda.

Saat anak kalian lahir, beri ia nama “Lee Taeni” – Almighty

 

+ Ngerti gak? Intinya, Lee Taeni itu anak Taemin-Chaesa di masa depan. LOLOLOLOL

 
16 Comments

Posted by on September 1, 2012 in Fanfiction, SHINee

 

Tags: , , , , , ,

16 responses to “SHINee FanFiction: “Miracle Romance [Chapter XII – Last Chapter]”

  1. Kan Rin Rin

    September 1, 2012 at 4:47 PM

    WOW!!! o_o

    ini udah berakhir yah?

    terus gimana dengan MinHo? o_o

     
    • diyawonnie

      October 4, 2012 at 12:09 PM

      Minho pasrah aja cukup🙂

       
      • Kan Rin Rin

        October 4, 2012 at 12:12 PM

        lanjut yah thor

        FF baru nya kutunggu😀

         
  2. mellgomel

    September 2, 2012 at 4:42 PM

    Whoaaa, keren sumpah!!
    suka suka suka
    Taemin rawrrr banget, sequel dong qaqa!! jebal

     
    • diyawonnie

      October 4, 2012 at 12:06 PM

      “Taemin rawrrr banget” LOL ngakak aku. Thanks yaaah ^^

       
  3. chii.jongwoon

    September 7, 2012 at 11:12 PM

    aiiigoooo daebaaaak >_<
    speechless eonni, keren banget .. tp gantuuung aaaaarggh ~😄

     
    • diyawonnie

      October 4, 2012 at 12:05 PM

      hahaha sengaja digantung (?)
      makasih yaaaa~

       
  4. Lalaland

    December 23, 2012 at 5:30 PM

    Daebakkkk

     
  5. Boo Boo

    March 4, 2013 at 4:19 PM

    keren eonni! lanjut bikin yg baru dong~
    eh, kalo minta email eonni buat ngobrol” soal ff eonni gitu, boleh ngga?
    makasih yaa eonni😀

     
  6. Miina Kim

    June 6, 2013 at 3:44 AM

    getrollll abisss!!!!!
    Aku gak berasa endingnya gantung, kok…
    Ni pas banget!!!
    Hahahahahaaaaa….
    Lee taeni ternyata anak mrk d masa datang…
    hahahhaaaa..a……
    Key menakutkan!!!!!
    Jinki, berbahagialah, ne…….

    Diya, kutunggu kelanjutan Beautiful Strangernya ya…..
    Cepetan………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Love ya….!!!!

     
  7. olgaaa

    June 14, 2013 at 11:25 AM

    Daebakk!! Keren bngt ffnya, lucu!! Hahaha. Eonnie, itu epilognya bakal dibikin chapter baru apa stop di sini?? Qlo bs, please buatin sequel, daebak banget ffnyaaaaaaa. Aku sukaaaaaaa (>̯┌┐<)

     
  8. AudreyLovina

    June 26, 2013 at 10:35 PM

    Annyeonghaseyo…
    Waktu pertama kali baca ff eonni nih suka banget (:
    Maaf ya eonni baru komen soalnya baru baca ff eonni akhir2 ini

    Ffnya eonni yang baru ‘Beautiful Stanger’ itu kok ga dipost di blog eonni ya?
    Kelanjutannya kok belum dipost juga?
    Capek nunggunya nih, penasaran banget sih!
    Eonni sih bikin ff kok bagus banget, bener2 buat aku dapet feelnya banget :p

    Kalo sudah dipost langsung aku komen! Pasti!
    Kelanjutannya jangan lama2 pokoknya wkwkwk
    Sekali lagi salam kenal eonni

    Annyeong….😀

     
  9. Fadilah Dina Putri

    July 11, 2013 at 1:59 PM

    Kak Diyaaa, akhirnya aku mampir lagi di blog ini. Kapan rencana nulis lagi, eonn? Sudah kangen baca tulisan kakak~🙂

     
  10. Yaya Chaca

    August 14, 2013 at 9:52 PM

    Asli keren banget ini mha. Taemin juga romantis banget :* paling suka part ini

     
  11. Tiara Indah Olivia

    October 30, 2013 at 9:39 PM

    Ahh..keyenn..daebak..good..great..bravo…udah gatau mau ngomong apa lagi buat ni epep.. Fuuiihh*lap.keringet

     
  12. Lieny Sarifah

    April 18, 2015 at 1:03 AM

    thor
    udah vakum y sama blog ini
    dari jaman smp ampe udah tamat sma author ngak pernah buat ff lagi
    thor aku rindu akan ff mu thor
    please come back
    제발좀 도라와

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: